April 8, 2013

#7 Anti-bohong


7 Ramadhan 1433 H :: 26 Juli 2012 M

Berhubung saya mau pindah kos, agenda liburan di rantau belakangan ini adalah 3B: bongkar, beres, bersih. Agenda 3B ini berlaku di dua tempat, mantan kos dan kos baru, dan saya sengaja menyediakan waktu khusus untuk kegiatan bersih-bersih ini, terutama beres-beres kos baru. Paska direnovasi, kami bersih-bersih kos baru biar nantinya lebih nyaman. Plus, saat beres-beres kami jadi lebih memahami kondisi fisik kos –yang nantinya pengetahuan ini penting untuk kebijakan penempatan barang dan lain-lain. Agenda beres-beres yang mungkin tidak penting (untuk kalian) ini saya tuliskan karena 3B mengingatkan saya pada konsep tazkiyat an nafs.

Kalau tidak salah mengingat, saya pertama dengar konsep ini saat SMA. Intinya tentang pembersihan jiwa. Kalau kata kakak teman saya, “Kosongkan dulu cawannya.” Saat itu saya yang ABG sedang on fire menanyainya soal isu seputar ajaran golongannya. Karena saya yang dulu adalah ABG yang gampang termakan gosip dan suka lebay kalau cari informasi, niat saya untuk menginterogasinya jadi ketahuan. Sambil tertawa, katanya, ”Kalau memang niat belajar, kosongkan dulu cawannya. Biar tidak tumpah sia-sia air yang saya tuangkan.” Sekak. Akhirnya cawan saya kosongkan (isinya disimpan) agar air darinya dapat masuk. Setelah itu, filterisasi dimulai.

Sebenarnya saya bukan ingin menulis tentang tazkiyat an nafs hari ini, tapi saya ambil poinnya saja: sebagaimana saya harus beres-beres di tiap hunian baru, saya harus beres-beres hati tiap menerima ajaran baru. Kalau kata Dia, hanya hati yang bersih yang bisa lapang menerima ajaran-Nya. Kalau kata saya, hanya kos bersih dan lapang yang bisa nyaman terima furnitur dan penghuni baru.

Belakangan ini saya mendapat banyak keajaiban dari Dia. Teman-teman di sekitar saya selalu sebal melihat saya: santai, nggak ngapa-ngapain, tiba-tiba nilainya A, tiba-tiba dapat uang, tiba-tiba menang lomba. Padahal kerjaannya cuma tidur, main, baca buku non-kuliah atau komik, dan ketidakjelasan lain. Tapi sebenarnya saya tidak seajaib itu. Saya bukannya tidak melakukan apa-apa dan mendadak dapat anugerah sebanyak itu. Pikir saya, semua pemberian ini adalah balasan dari perbuatan positif masa lalu saya yang baru bisa saya dapatkan balasannya saat ini.

Dia sangat adil, kan? Dia berjanji akan balas semua kebaikan dengan kebaikan, sekecil zarah pun. Oh ya, teman saya (dari Ustadz-nya) pernah menginfokan kalau zarrah lebih kecil dari bunga sawi, yakni butir-butir debu (?) yang terlihat dari celah superkecil saat sinar matahari menerobos melaluinya. Sekecil itu, seadil itu. Dia bukan tak menepati janji. Saya hanya tidak tahu kapan janji itu berlaku, kapan doa-doa itu dijawab, juga hukuman itu terlaksana.

Saya percaya ada janji-janji yang ditangguhkan dan disegerakan. Tapi tidak ada yang diingkari. Saya mau curhat tentang waktu dan anugerah. Beberapa bulan lalu saya berniat ikut LKTI tentang MDGs (waktu baca pengumumannya, saya bahkan tidak tahu apa MDGs). Saya terlalu ribet persiapan materi dan partner, cari info tentang juri (nggak penting) dan aktivitas gaje lain. Tapi tidak segera menulis hingga deadline menyapa #kebiasaan.
Akhirnya, saya memutuskan batal ikut. Tapi mendadak tiga hari sebelum deadline saya dapat topik baru. Sebenarnya itu topik yang tidak sengaja saya temukan untuk kegiatan lain. Tapi kata kakak saya, “Buat MDGs saja.” Dalam 2 malam, kami kerja rodi. Tapi pikiran saya bercabang saat saya tiba-tiba harus ke Malang lomba debat. Saya mau fokus LKTI, tapi teman saya yang kecelakaan benar-benar tidak bisa berangkat. Berbekal bismillah dan pasrah (karena sudah 6 bulan nggak debat dan no matter search), saya berangkat. Saat itu janji-Nya terlaksana: dengan tim-tim monster tua sebagai lawan, tim kami alhamdulillah masuk top ten. Kalau di parliamentary debate, it’s really something. Apalagi dapat jackpot menang LKTI.

Kejaiban kedua hampir tipikal. Pada hari di saat kami seharusnya sudah KHS-an, seorang dosen menugaskan kami membuat individual paper dalam satu minggu. Padahal satu minggu itu sudah saya niatkan untuk persiapan debat PIMNAS. Mengingat perkuliahan seharusnya berakhir seminggu lalu dan baru kemarin saya meminta tanda tangan dosen tersebut untuk proposal PIMNAS (yang berarti beliau tahu saya mungkin akan fokus persiapan itu) saya benar-benar speechless.

Sekali lagi saya rempong. Idealisme saya menyuruh saya analisis film tentang keluarga lesbian, meskipun masih bingung mau fokus ke konstruksi keluarga yang ‘luarbiasa’, peran gender pasangan, atau efek pada psikologi anak. Belasan e-book sudah terdaftar di endnote saya, tetapi baru baca tiga, saya sudah capek. Karena saya masih mengurus proposal PIMNAS yang dananya belum cair (sampai sekarang), belum pesan hotel, belum cek pendaftaran dan keribetan pra-lomba lain. Bacaan saya mental semua. Alasan saya, “Udah waktu liburan, baca teori juga mental” padahal saya hanya sibuk mengeluh. Tidak benar-benar membaca.

Malam sebelum berangkat PIMNAS, saya memutuskan ganti topik paper. Analisis psikologi karakter dalam cerpen menjadi pilihan saya. Tapi saya curang. Sebenarnya saya berniat tidak mengumpulkan paper dan mengulang mata kuliah ini tahun depan. Tapi mengingat huruf E dalam KHS akan sangat dipertanyakan, akhirnya saya sak-sakan bikin tulisan. Oke, ralat, saya tidak benar-benar menulis karena inti paper saya sudah ada sejak satu tahun lalu. Saya pakai tugas analisis prosa di semester satu dengan hanya membagi esai tersebut sesuai sistematika paper. Saya bahkan tidak membacanya lagi untuk sekedar edit ketikan. Niatnya sih, diperbaiki pas PIMNAS karena deadline masih dua hari lagi.

Das solen dan das sein sering tidak akur di hidup saya. Dengan alasan kondisi yang tidak fit dan suasana yang tidak kondusif, saya batal memperbaiki ‘paper’ saya. Seharusnya, kalau tahu saya selalu pusing di atas jam 12 siang, saya akan memaksimalkan waktu subuh sebelum lomba untuk menulis. Kalau tahu saya tidak bisa ikut diskusi atau sekedar main di malam hari, seharusnya saya segera tidur biar besok benar-benar sehat. Tapi saya tidak begitu, kan? Dengan hanya menambah kutipan, saya mengirimkan ‘paper’ itu ke email teman saya untuk dikumpulkan.

Saya hanya bisa bersyukur mendapati tim kami menjadi quarter-finalist PIMNAS dengan tanpa persiapan seperti itu. Tetapi saya hampir memaki saat ternyata hanya 7 paper yang diterima dosen saya sebagai ‘calon nilai B’, yang lain revisi. Saya pun kembali berkutat dengan laptop di saat teman-teman sudah dua minggu libur dengan KHS tercetak. Sebenarnya saya hanya harus dipaksa. Dipaksa membaca referensi, menulis yang benar, tidak mengopi (bahkan tulisan sendiri), dan tidak mengeluh. Paper yang mendingan pun jadi. Submitted dengan alhamdulillah hasil A. Tanpa revisi itu, mungkin saya bahkan tidak pantas berharap mendapat D untuk paper ‘jiplakan’ tanpa introduction.

Then, which favors of Your Lord will you deny? Saya hanya kurang bersyukur karena waktu saya habis untuk mengeluh, karena saya sibuk melihat dari sisi negatif daripada positif. Saya pernah memilih untuk tidak terlalu khusnudzon, tetapi seorang kakak mengingatkan. “Allah itu sesuai prasangka hamba-Nya.” Tetapi saya merasa terlalu khusnudzon tidak baik, pun dalam rangka kebaikan. Saya pikir itu siasah, agar tidak berkhusnudzon terhadap musuh-Nya. Tetapi apakah Muhammad berburuk sangka pada para pejabat yang memusuhinya? Tanpa khusnudzon dalam doa, Rasulullah tidak akan mampu mendoakan mereka menerima ajaran Allah, hingga mereka benar-benar menerimanya.

Dia mencintai saya seperti orang tua saya. Mereka (parents) sering berjanji “nanti” pada setiap keinginan saya. Saya sempat berpikir mereka pembohong yang ingkar janji sebelum saya paham konsep mereka. Jika itu baik untuk saya, tanpa meminta pun akan diberi. Tetapi kalau itu tidak baik (atau tidak begitu penting saat ini), sampai menangis gulung-gulung pun tidak akan diberikan. Mungkin nanti, atau tidak sama sekali. Tapi mereka tidak pernah ingkar janji.

Saya percaya ada janji-janji yang ditangguhkan dan disegerakan. Tapi tidak ada yang diingkari. Untuk semua perbuatan, ada anugerah dan musibah sebagai balasan. Dan sebagai ummat Muhammad yang adzabnya ditangguhkan dalam janji-Nya, bukannya seharusnya saya lebih waspada? Astaghfirullah.

No comments:

Post a Comment