April 8, 2013

#10 Karena Dia (Paling) Setia


10 Ramadhan 1433 H :: 29 Juli 2012 M

Apa yang menjadikan seseorang pada akhirnya luluh menerima Cinta?

Sosok yang lembut dan penyayang? Ketegasannya sebagai pemimpin? Kekayaan materinya? Jaminan kebahagiaan bersamanya? Atau hal-hal kecil seperti kiriman coklat dan seikat bunga (deposito) setiap hari? Perhatian tanpa putus melalui surat dan pesan ulang tahun setahun sekali, atau yang lebih kekinian: saat dia dengan setia megikuti perkembanganmu di timeline-nya meskipun sudah dua tahun tidak ada follback darimu?

Sosok seperti itu bukannya bodoh. Dia hanya terlampau baik. Mungkin kalau manusia, seorang akan sinis menyebut, “Soalnya, makin nggak ada peluang kalau sama yang lain.” Tapi jika sosok itu adalah Pencipta, saya lah yang akan mohon-mohon Dia kembali jika pernah Dia tinggalkan saya. Tetapi alhamdulillah skenario itu tidak pernah dimainkan. Dia sering ditinggal, di-nomorsekian-kan, bahkan dilupakan oleh saya yang merupakan salah satu dari sekian ciptaan-Nya yang biasa-biasa saja. Tetapi Dia tidak pernah meninggalkan saya atau meniadakan kebaikan untuk saya. Dengan banyaknya manusia yang jauh lebih baik dibandingkan saya, Dia masih mau menoleh dan meraih saya.

Dia selalu angkat saya setelah saya jatuh (oke, saya jatuh pun adalah skenario-Nya, tetapi Dia bisa memilih untuk tidak mengangkat saya, kan?). Ternyata setelah diangkat, Dia kembali jatuhkan saya untuk diangkat kembali. Begitu seterusnya. Memang tampak menyebalkan, tetapi akhirnya saya jadi kenyal. Karena saya adalah adonan donat. Bahkan setelah kenyal dan Dia bentuk sesukanya, saya dimasukkan ke minyak panas. Sakit? Tentu saja. Tetapi akhirnya ‘penderitaan’ saya berakhir dengan dijadikannya saya cantik oleh lumuran cokelat cair. Mungkin orang akan berkata “Penderitaanmu baru akan dimulai karena kamu akan dimakan!” Tetapi menurut saya, tidak juga.

Bagi yang sedang jatuh cinta, tentu mereka paham kebahagiaan yang dilahirkan oleh pertemuan dengan yang dicinta. Jika saya adonan donat, saat di mana saya berakhir di perut pencipta saya adalah saat terindah. Karena poin kemanfaatan saya sebagai donat baru dimulai saat itu. Mungkin analoginya aneh, tetapi mereka yang benar-benar mencintai Penciptanya bisa benar-benar merasakan rindu bertemu dengan Rabb mereka, kekasih mereka.

Ada yang saya syukuri dari kos baru saya. Letaknya yang hanya tiga meter dari nisan terdekat kuburan Cina memaksa saya memperbanyak dzikrul maut. Mengingatkan saya pada pertemuan yang dirindukan para pecinta Pencipta. Jujur, kalau ditanya, saat ini saya memang masih takut mati. Saya takut tidak termasuk barisan yang berkumpul bersama Rasulullah. Saya takut pada akhirnya Dia menunjukkan kejahatan-kejahatan saya selama ini, hingga mungkin kawan di neraka pun tak mau dekat-dekat. Saya takut kalau penyesalan saya begitu terlambat datang. Saya takut belum merasakan kecintaan dan kerinduan bertemu dengan-Nya saat waktu itu tiba.

Mungkin cokelat dan bunga dan pesan dan twit dan DM dan segala perhatian pengagum itu tidak seketika menjadikan seseorang tiba-tiba mencintainya. Tetapi orang itu akan berusaha membuka hati untuk pengagum itu. Tentu saja dengan fakta pengagum itu nggak payah-payah banget dan seseorang itu belum berpasangan. Saya percaya saya dapat belajar mencintai dan membenci orang, sekaligus menetralkan rasa pada orang-orang. Ini adalah konsep manajemen hati ala saya, dan selama 19 tahun saya hidup, konsep ini alhamdulillah berjalan sukses.

Satu pelajaran dari sekian drama apapun yang saya tonton tentang resep ‘jatuh hati’ tokoh utama adalah kesetiaan. Karakter apapun yang diciptakan penulis dan sineas dan musisi dan pekerja seni lain selalu jatuh dengan karakter lain yang setia. Dan demi semua janji dalam Kitab-Nya, bukankah Dia adalah sosok paling setia di semesta?
Saat sedang menghapus pesan-pesan di inbox ponsel yang sangat sempit, pesan itu terbaca lagi.

Abdullah bin Syaddad berkata: “Aku mendengar isak tangisan Umar, padahal aku berada di shaf terakhir. Umar membaca ayat, ‘Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku [12:86]’.”

Hasbunnallah wani’mal wakiil. Ni’mal maulaa wani’man nashiir. Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung [3:173]. Dialah sebaik-baik Pelindung dan Penolong [22:78]. Dia selalu setia mendengar keluh tanpa peluh saya, kan?

Hari ini adalah akhir dari sepuluh bagian pertama di bulan penuh Cinta-Nya. Alhamdulillah . Hari ini Dia masih menerbitkan matahari dari timur. Hari ini Dia masih beri saya kesempatan berbicara dan bercanda dengan keluarga saya. Hari ini Dia masih izinkan saya mengingat ayah saya. Hari ini Dia masih ada untuk saya. Dan seperti hari-hari kemarin, saya yakin Dia masih setia dalam hidup saya. Semoga saya dapat belajar kesetiaan dari-Nya, hingga hari terakhir saat Dia masih memperkenankan saya berterima kasih dalam nama-Nya. Bukan yang lain. Biidzinillah.

No comments:

Post a Comment