April 8, 2013

#6 Bukan Same Sex Relationship


6 Ramadhan 1433 H :: 25 Juli 2012 M

Dia tidak berjenis kelamin. Bukan androgini. Tapi konsep lain di luar citraan manusia. Dia tidak maskulin. Tidak juga feminin. Dia punya keduanya. Dia tidak hanya Maha Mengatur dengan segenap hukum dan sanksi tegas. Dia (juga) sangat lembut, pemaaf, penuh rahmat, ampunan.

Dari buku-buku Islam berlabel liberal yang saya baca, banyak dari mereka yang kecewa pada Islam saat ini karena pengunggulan satu sisi ketuhanan. Maskulin saja. Tapi menurut saya, mereka juga tidak akan mencapai keadilan ketuhanan jika yang mereka inginkan adalah citraan Tuhan yang feminin saja. Buku yang saya baca bercerita tentang proses pencarian iman beberapa tokoh (yang mostly pekerja seni budaya) hingga mereka ‘berhasil’ mendesain agama mereka masing-masing. Saya sampai pada titik temu pengalaman orang-orang itu; mereka yang berontak biasanya lahir dan besar dalam lingkungan agama yang mengikat. Konsep ketuhanan yang maskulin saja.

Dalam lingkungan Tuhan yang Maskulin, seseorang disuntik dogma ancaman-ancaman Tuhan, konsep neraka yang menyeramkan, adzab Tuhan, dahsyatnya kemurkaan Tuhan, dan ajaran lain yang mengerucut pada pemahaman ‘aplikasi agama secara menyeluruh berarti ekstremis’. Tanpa prolog, ajaran jihad yang disampaikan pada anak kecil tentu akan mental. Bukannya patuh, anak itu justru akan berlari dan menganggap Tuhannya menyeramkan sekali.

Tetapi proposal yang mereka ajukan juga –menurut saya– tidak benar-benar merepresentasikan citraan Tuhan. Mereka percaya dan ingin mengunggulkan sisi Tuhan sebagai pemaaf, yang memaklumi ketidaksiapan mereka (jika tak ingin dibilang enggan) melakukan ajaran-Nya. Mereka mengampanyekan Ar Rahman Ar Rahim sebagai Tuhan yang tidak menyusahkan hamba-Nya, yang berarti membolehkan mereka customize agama yang mereka pilih. Ibarat pasar, agama bagi mereka adalah pasar tradisional yang mereka bebas pilih sendiri barang-barang untuk dimasukkan ke keranjang, dengan harga yang bahkan melalui proses tawar-menawar terlebih dahulu. Well, niaga memang dipercaya sebagai jalur rezeki dengan pintu terbanyak dalam ajaran-Nya. Tetapi saya tidak menyangka keyakinan berniaga mereka bisa sampai sejauh ini.

Tuhan tidak berjenis kelamin atau gender. Saya tidak menyukai kedua golongan (sebenarnya banyak, tapi saya generalisasikan soal pengerucutan gender saja) yang masing-masing vote for Tuhan maskulin atau Tuhan feminine saja. Tuhan memang tidak punya gender, tetapi kalaupun harus mengisi daftar kepantasan yang manusia ciptakan, Tuhan tidak berat sebelah untuk menjadi Penyiksa saja atau Penyayang saja. Al Qur’an sebagai representasi ajaran-Nya telah dibumikan dengan baik oleh Muhammad, utusan-Nya. Melalui Rasulullah pula saya belajar, Islam tidak Maskulin atau Feminin saja.

Jika Barat mengenal Islam sebagai Teroris (maskulin saja), saya rasa media benar-benar tidak adil soal pencitraan golongan tertentu. Atau mungkin golongan-golongan Islam (yang sengaja mengunggulkan satu sisi) yang semakin berbangga dengan jaket mereka lah yang mempermudah media menggambar citraan Islam atas kepentingan mereka. Padahal menurut saya, seharusnya Islam tidak begitu. Islam itu tegas sekaligus penyayang. Kepribadian Tuhan dalam ayat-Nya yang dibumikan Rasulullah yang seharusnya dijadikan tolak ukur, bukan harokah garis keras A atau organisasi liberal B.

Islam bukan hanya tentang perintah memerangi mereka yang menghina agama Allah. Islam lah yang mengakhiri praktik perbudakan, yang menghilangkan rasis kulit dan kebangsaan, yang menjamin kehidupan orang miskin. Abu Bakar terkenal lembut sementara Umar bin Khatab dikenal tegas. Jika saya kesulitan menemukan sisi tegas Abu Bakar atau kelembutan Umar, kenapa saya tidak belajar pada paket lengkap Muhammad? Apakah karena Muhammad bukanlah pejabat Quraisy yang bahkan buta huruf, maka saya tidak mau menerima kebenarannya?

Belakangan saya belajar sedikit tentang same sex marriage, dan pasangan sejenis ini mostly lahir dari kekecewaan atas stigma gender. Maka, bagi mereka yang lesbian, mereka tidak butuh sosok maskulin dalam keluarga mereka. Beberapa yang ekstrim bahkan mengecam eksistensi “femme” dan “butch” dalam keluarga lesbian. Menurut mereka, jika sudah berkomitmen untuk being a lesbian family, dua stereotip gender itu tak lagi dibutuhkan. Begitu juga pada keluarga homoseksual. Tapi saya bukan pendukung –kalau saya boleh memakai istilah Qur’an– kaum Nabi Luth ini.

Saat saya menerima Islam sebagai agama saya, yang saya harapkan darinya adalah paket lengkap ajaran tegas sekaligus penyayang. Jika Islam adalah keluarga tempat saya tumbuh dan berkembang, yang saya inginkan adalah figur Ayah dan Ibu, bukan ibu saja atau ayah saja. Saya akan tumbuh sebagai anak manja jika dua ibu saya terlalu menyayangi saya tanpa aturan. Tetapi hidup dengan hanya aturan tanpa kasih sayang pun menjadikan saya hadir sebagai pribadi pemberontak. Karena Islam bukanlah keluarga dengan same sex marriage, saya inginkan Tuhan sebagai sosok maskulin sekaligus feminin.

Ajaran-ajaran yang di-customize itu, menurut saya apalah. Tuhan bukan pedagang di pasar tradisional yang ajarannya bebas dipilih pakai harga tawar menawar. Saat mereka berkata, “Yang penting pakaian taqwa, yang penting menjilbabi hati dulu,” saya tidak lagi akan tanya ‘sampai kapan?’ atau pertanyakan pengetahuan mereka tentang batas taubat dan kedatangan maut. Saya hanya tidak habis pikir, dengan konsep ‘hati’ itu, kenapa mereka tidak “Yang penting puasa hati dulu, yang penting sholat hati dulu, yang penting haji hati dulu?” Dalam kehidupan manusia, apa yang dapat dilihat manusia menjadi penentu kesungguhan keyakinan seseorang.

“Keyakinan saja tidak cukup,” kata seseorang. Iya banget, kata saya. Mengaku yakin atas kebaikan ajaran-ajaran tanpa pernah melakukannya, untuk apa? Mungkin karena saya hidup di zaman ketika berislam tidak mendapat ancaman kematian, maka semua menjadi terlalu santai dan biasa bagi saya. To be honest, saya mungkin tidak pernah bersyukur atas keimanan ini. Apakah saya harus dikembalikan pada zaman di saat belajar agama dianggap berbahaya? Karena dengan begitu saya mungkin akan hargai keimanan. Dan pada saat itu pula, lidah yang mengaku Islam tanpa merealisasikannya akan menunjukkan derajat saya sebagai pengecut. Hanya mengaku beriman, tapi tidak bergerak.

Atau mungkin sebenarnya kondisi itu masih berlaku saat ini. Karena setiap mengajak teman belajar agama, saya sering ditolak. Karena menurut mereka, apa lagi yang harus dipelajari? Karena mereka bahkan tertawa pada para pejuang keyakinan. Karena bagi mereka, setelah Muhammad tiada, “Apa lagi yang mau dibela?” Karena mereka mengaku yakin pada ajaran-Nya, tapi tidak melakukan apa-apa untuk itu. Dan saya terbawa arus. Termakan headline media. Terlanjur percaya bahwa belajar agama harusnya biasa-biasa saja. Karena berislam di KTP tanpa ingat kapan menyatakan Islam saja sudah cukup.

Kalau kata Spongebob, “No free rides”. Tetapi doktrin “yang biasa-biasa saja” sudah merasuki saya. Padahal saya sadar, saat ingin dapat capaian bagus di kuliah, di lomba debat, di menulis, di organisasi, semua yang biasa-biasa saja tidak pernah cukup. Dan mungkin saya lupa, Dia tidak ciptakan surga untuk orang yang biasa-biasa saja. Astaghfirullah.

No comments:

Post a Comment