Showing posts with label sharing. Show all posts
Showing posts with label sharing. Show all posts

January 20, 2012

Para Pemula



“Saya mau menjilbabi hati saya dulu.”

Jawaban senada dalam komposisi kalimat berbeda sering saya temui saat bertanya soal komitmen menutup aurat pada sesama muslimah. Tidak ada penolakan dalam benak saya saat itu. Saya justru mempertanyakan kepribadian yang melekat pada banyak muslimah yang menutup kepalanya atas nama tren. Daripada kayak gitu, demikian mereka yang enggan menutup aurat kemudian berkilah.

Mereka yang menunda kewajiban aas nama persiapan kemudian menjadi lebih keren di mata saya. Saya pun merasa sangat berdosa telah membandingkan mereka yang secara akhlak jauh lebih baik tetapi terlihat buruk hanya karena mereka menunda penetapan salah satu kewajibannya. Lantas saya menyadari lubang besar dalam prinsip baru penerimaan ini.

Hal yang ditunda tersebut adalah kewajiban, dengan derajat pahala dan dosa yang senada dengan kewajiban-kewajiban lain dalam sistem keagamaan. Dan sekali lagi, berbincang mengenai sistem keagamaan berarti berbicara mengenai konsep utuh layaknya sebuah sistem yang sehat.

Tidak ada pembedaan kewajiban dalam sistem yang saya kenal ini. Konsep wajib, sunnah, mubah, dan haram yang saya dapatkan sejak pertama kali belajar agama pun masih belum berubah hingga detik ini. Sesuau yang dinamakan wajib akan menemui pahala saat dipenuhi dan menimba dosa saat dihindari, bahkan ditunda – karena itu berarti tidak ada pelaksanaan. Termasuk dalam hal yang menurut beberapa orang bisa ditunda ini, meskipun nyata ayatnya tercetak dalam kitab yang masih mereka percayai sebagai pedoman hidup.

“Saya nggak mungkin mikirin perubahan kalau saya belum mencoba berubah,” kata seseorang sangat mengejutkan. Dia baru saja menetapi kewajibannya sebagai muslimah.

Secara logika, pendapat ini sangat masuk akal. Kain penutup itu seharusnya menjaga sikap seseorang yang menggunakannya – jika benar dia memaknai pemakaiannya. Penjagaan itu berupa pikiran-pikiran penolakan saat pengguna hendak melakukan sesuatu yang bertentangan dengan aturan. Setipis apapun kain itu, sekecil apapun dia menutupi, setidaknya dia telah mencoba menutupi. Terlebih beberapa orang tergerak melakukan perubahan-perubahan besar setelah sebelumnya mengusahakan perubahan kecil. Maka saat hisab itu dimulai, dari mereka telah tercipta usaha bumi untuk penilaian langit.

Saya tentu tidak bermaksud mewarnai lukisan ‘mereka yang menunda’ dengan sepenuhnya warna-warna suram yang tidak menjual. Saya hanya ingin mengapresiasi mereka yang memulai. Para pioneer, sekecil apapun yang telah mereka usahakan, karena sejatinya mereka mencoba meniti jalan yang telah dicontohkan pemimpin mereka.

Ajaran wajib lain yang kini ke-wajib-annya mulai terbiaskan adalah perihal menyampaikan. Banyak yang beranggapan perbaikan diri sendiri menempati prioritas terdepan untuk dilaksanakan, tanpa perlu berpusing diri untuk perbaikan orang lain. Maka, konsep kebenaran dan kebaikan untuk diri sendiri kian populer dewasa ini. Jangan sok menasihati orang lain jika diri sendiri belum benar.

Jika Muhammad masih dipercaya sebagai pengemban risalah sekaligus contoh terbaik hingga saat ini, ada baiknya kitab sejarah putra Abdullah itu terbuka kembali pada halaman awal penerimaan wahyunya. Sebagai seorang yang buta aksara, akan banyak alasan untuk Muhammad tidak menyampaikan pesan Tuhan melalui Jibril tersebut. Dia tentu memilih untuk belajar membaca dan menulis terlebih dahulu hingga mahir untuk kemudian menyampaikan pesan besar yang dibebankan padanya. Tetapi kita semua tahu dia tidak memilih berhenti untuk belajar, melainkan belajar seraya menyampaikan pembelajaran.

Sampaikanlah, meskipun hanya satu ayat. Sepenting itu penyampaian kalimatNya hingga bahkan satu ayat pun memiliki hak untuk tersampaikan. Jika memang agama masih diyakini sebagai pedoman hidup yang ajarannya layak untuk disampaikan, maka sesulit apapun jalan ditempuh dan sehina apapun diri untuk menyampaikan, lakukanlah. Apa yang dibebankan pada lisan kita terlampau penting untuk sebuah penundaan. Bukan tidak mungkin agama ini berhenti pada usaha Jibril di Gua Hira jika Muhammad menunda – bahkan tidak melanjutkan – penyebaranya.
Tulisan ini dibuat bukan dalam rangka menolak ayat yang melarang penyampaian tanpa pelaksanaan. Karena penekanan kewaiban ini berada pada dua kata tersebut. Karena bahkan Muhammad menjadi teladan yang baik karena aplikasinya, bukan semata kata-katanya. Pun saya tidak berusaha munafik dengan menyegerakan siapapun memaksakan diri membumikan ayatNya meskipun separuh lebih isi bumi meragukan keimanannya.
Saya hanya ingin menghargai para pemula. Tentu mereka paham keberadaan Tuhan sebagai penjaga tunggal ajaran langit. Dalam kitab yang diyakini itu pun tertulis, dengan atau pun tanpa para pemula ini, Dia akan memenangkan ajaran langit. Namun, manusia menetapi hakikatnya untuk memperjuangkan apa yang mereka yakini dan cintai. Pada titik ini, perbedaan orang sukses dan gagal nyata terurai. Mereka yang sukses merencanakan dan bergerak meskipun satu langkah kecil. Mereka yang gagal sibuk merencanakan langkah-langkah besar tanpa pernah benar-benar melangkah.
Saat hati dan lisan meyakini ajaran ini tetapi langkah terhenti untuk berbagi, rasanya bukan sebuah dosa untuk bertanya pada hati: apakah saya benar-benar meyakininya?

koran dan kain



Suatu hari seorang teman memasang status di akun jejaring sosialnya: menulis adalah dakwahku. Beberapa komentar datang menyemangati niatan teman tersebut dalam rangka berdakwah melalui pena, sebelum satu kalimat muncul: dakwah tidak sekedar kata!

Woles. Jujur saya berulangkali menahan nafas demi menyelesaikan tulisan ini. Saya adalah golongan pengguna tinta sebagai senjata. Saat kawan saya dilempari komentar seperti itu sudah sewajarnya saya bereaksi sebagai sesama penggerak pena. Menurut komentator itu, berdakwah bukan sekedar kata atau tulisan, tapi tindak nyata atau perbuatan. Baik, anggaplah tulisan ini adalah counter proposal kami sebagai pejuang tinta.

Sampaikanlah, walau satu ayat. Rasanya tidak ada spesifikasi media khusus untuk digunakan dalam penyampaian ayat tersebut. Penyampai risalah saya begitu bijak dengan tidak mempermasalahkan jalan apa dan melalui apa kau sampai pada tujuan yang diajarkannya. Dia tidak banyak berkotbah melainkan bekerja sebagai teladan. Keterbukaan beliau pula yang memungkinkan lahirnya para ilmuwan dan sastrawan Islam masa itu. Jika kita digariskan meniti jalan sejarah yang sama dengannya, alangkah indahnya jika pengetahuan kita akan perintah ‘membaca dan menulis’ sebagai dasar pendidikan dalam Islam kembali kita ingat.

Bukankah sebuah pisau yang berlumuran darah tidak dapat serta merta dinyatakan berdosa? Alasan sampai darah itu membasahi pisau lah yang seharusnya kita pelajari. Bukan ketajaman pisau itu.

Bukankah dikatakan banyak jalan menuju Roma? Kita bahkan mengenal beberapa tempat pemberangkatan menuju Baitullah dalam ibadah haji. Bukankah perbedaan adalah sunatullah? Kita diberi banyak pilihan jalan bukan untuk saling berperang dan tercerai berai melainkan untuk mempelajari makna persaudaran. Sepertinya pengertian ukhuwah islamiyah kita benar-benar telah menyempit pada batas pintu organisasi. Semua di luar rumahmu adalah salah adanya. Kau lah yang terbenar. Lantas di mana letak kebenaran langit saat semua penduduk bumi saling meneriakkan kebenaran masing-masing?

Perbedaan cara memperkaya solusi, bukan mengoleksi masalah. Jika Umar ra adalah sosok petarung sejati sementara Abu Bakar ra adalah penasihat sejati dan Ali ra adalah ilmuwan sejati, haruskah perbedaan minat itu terpukul rata atas nama persatuan Islam? Dengan perspektif berbeda dalam payung tujuan yang sama, Rasul tentu bahagia memiliki banyak warna dalam kepemimpinannya. Bukan persamaan yang menguatkan persatuan. Perbedaan yang memahami dan meyakini lah yang menjaga persatuan. Bukankah telah nyata Dia ciptakan pelangi sebagai ayatNya?

Kita seringkali terjebak dalam fanatisme berbahaya yang melahirkan anggapan kebenaran mutlak berada di tangan mereka para ikhwah. Saat Muhammad dikenal sebagai pebisnis handal dan para ikhwah meniti jalan keberhasilan yang sama, parameter kesuksesan syar’I pun beralih menjadi mereka yang pandai berbisnis ala Rasul. Jika saat itu Muhammad bukanlah seorang ummi melainkan penulis nasihat bijak terbaik sepanjang masa, akankah parameter kesuksesan syar’I beralih?

Perang ego antarrumah seperti ini tidak akan memenangkan rumah-rumah dengan pemahaman tertinggi maupun penghuni terbanyak. Para penonton yang tidak menghuni rumah manapun yang akan berkuasa sebagai pemenang. Mendirikan apartemen-apartemen mewah di atas reruntuhan rumah, iman, ideologi, dan ukhuwah. Para outsider lah yang akan menang di atas perang keluarga ini.

Jika tujuan perjalanan keluarga ini adalah rumah orang tua kita, lantas kenapa sesama saudara tak henti kita bertikai? Fokus kita telah berubah, orientasi kita telah dibiaskan. Segenap prasangka dan senjata mengarah pada saudara-saudara kita. Hanya karena mereka tidak lahir dan hidup di bawah atap yang sama dengan kita. Sesubur apapun halaman mereka, tanah gersang kita lah yang terbaik. Sekuat apapun bangunan mereka, tembok keropos kita tetap yang terhebat. Pada akhirnya, sekali lagi, para kontraktor apartemen itu lah yang akan tertawa senang paska-hujan deras merobohkan perumahan keluarga kita.

Ada yang menggunakan koran basah untuk membersihkan jendela. Ada yang menggunakan kain basah untuk membersihkannya. Koran dan kain, manakah yang terbaik saat kita dapati kedua jendela sama-sama bersih?

Ada yang menggunakan lisan untuk menyampaikan. Ada yang menggunakan tulisan untuk menyampaikan. Saat kedua pesan sama-sama tersampaikan, manakah yang lebih baik?

Rumah orang tua kita semakin dekat sementara perang saudara masih terasa dingin. Kita tidak akan sampai kecuali pembunuhan saudara terjadi. Satu keluarga sebagai pemenang dan para kontraktor tersenyum bangga. Atau kita mencoba terbuka pada persaudaraan besar ini dan menjadi orang tua yang lebih demokratis untuk membiarkan koran dan kain bekerja beriringan.

Buku yang Berbeda



“Kenapa harus lalat?” tanya seorang mahasiswa pada suatu siang dalam sebuah diskusi di kelas sastra. Saat itu kelas sedang mendiskusikan bagaimana plot berkontribusi dalam penentuan kualitas sebuah karya sastra. Pertanyaan-pertanyaan lain kemudian menyusul: kenapa tidak lebah? Bukankah lebah lebih bermanfaat bagi manusia?

Dalam hitungan menit, kualitas diskusi di kelas tersebut meluncur tajam, dan dapat dipastikan tidak adanya titik temu sebagai acuan diskusi. Mahasiswa tersebut lalu ditugaskan menulis paper tentang analisis lalat dan lebah dalam kepantasannya sebagai karakter yang dimunculkan dalam cerpen The Fly karya Katherine Mansfield. Tentu saja penugasan tersebut lebih bermaksud untuk mengakhiri perdebatan beda pendekatan itu.

Konsep obrolan tidak menyenangkan di atas semakin terasa mewarnai kehidupan saat ini. Kehadirannya serupa bunglon yang menyatu dengan warna yang ditempatinya. Begitu lembut hingga eksistensi dan serangannya tidak terdeteksi. Berbagai ragam komunikasi jenis ini perlahan mengikis nilai persatuan (unity) dan toleransi atas nama kebebasan dan demokrasi. Hal ini akan mencapai titik bahaya puncak saat hasil komunikasi justru menjauhkan simbol dari esensi, mengaburkan pemahaman, mengacaukan konsep dasar, bahkan memecah belah umat dalam batas yang kadang tak terjamah. Ironisnya, bentuk komunikasi berupa perdebatan beda pendekatan ini tidak jarang terjadi dalam ranah wacana religiusitas.

Beberapa waktu lalu sempat populer tayangan debat tanpa payung bahasan yang jelas dengan perbedaan pendekatan yang digunakan. Jadilah acara tersebut kacau oleh teriakan dalam nada bermuatan emosoi dari para narasumber yang notabene para public figure, bahkan tokoh keagamaan itu. Tak sedikit penonton yang juga merupakan pendukung masing-masing kelompok kemudian terseret arus kemarahan yang hanya akan teredam setelah pembawa acara membunyikan lonceng saktinya.

Kemampuan berkomunikasi dalam nada tinggi dan gestur penyalur emosi juga terlihat cukup jelas pada rapat-rapat pemakan anggaran akbar yang diadakan di gedung hijau Senayan. Seringkali perdebatan yang berakhir dengan aksi gebrak dan banting tersebut disebabkan perbedaan pendekatan maupun dusut pandang yang digunakan bersamaan dalam menyelesaikan suatu masalah.

Saat para ulama dengan berbagai pendekatan berdebat tentang penetapan Idul Fitri pada waktu bersamaan untuk kemudian menyatukan begitu saja bagaimana Idul Adha ditetapkan, adalah masyarakat awam sebagai korbannya. Perdebatan-perdebatan tak berujung mengenai tokoh-tokoh keagamaan paling berpengaruh dan terpercaya hingga pertanyaan saling menjatuhkan mengenai kebenaran dan kesesatan suatu ajaran justru semakin menambah nominal spasi antargolongan di dalam kelompok besar ini.

“Hindarilah perdebatan sekalipun engkau tahu kebenaran menyertaimu,” sabda Rasulullah. Dengan pemahaman pada konsep awal perdebatan seperti ini, kondisi ideal yang kemudian diharapkan hadir adalah kedamaian tanpa perdebatan. Damai bukan berarti tanpa berpikir, tanpa menganalisa. Karena pengikut tanpa ilmu tidak pernah dikisahkan dalam daftar cerita teladan. Kondisi di mana adanya pemikiran dan pertanyaan yang kemudian membawa kita pada pemahaman beralasan lah yang kemudian menjadikan otak dan hati kita sehat. Pemikiran untuk jiwa.

Namun bentuk kesehatan otak tersebut yang pada kondisi ideal tidak tertuang dalam gestur dan kalimat penuh emosi dengan visi dan misi penghancuran. Berdebat, terlebih dengan pendekatan yang samasekali tidak sama. Saat memecahkan masalah, akan lebih baik jika masing-masing kepala yang berada di ruang tersebut memiliki tiap pemikiran dan sudut pandang berbeda sebagai perwakilan pribadi mereka. Demi menghasilkan rumusan terbaik pemecahan masalah, sistem seperti ini tentu menjadi alternatif paling ideal sekaligus sulit untuk diterapkan: memiliki beberapa gagasan cemerlang sekaligus untuk penyelesaian satu masalah. Tetapi keberadaan gagasan-gagasan tersebut menjadi salah dalam waktu kelahirannya di dalam forum.

Saat kelompok mendiskusikan pengaruh buruk tayangan televisi bagi tumbuh kembang anak, sangat tidak tepat jika anggota forum mengusulkan pelarangan internet bagi anak dengan setumpuk analisis lanjutan. Kedua hal tersebut berada pada payung argumen yang sama, yakni pengaruh negatif teknologi terhadap tumbuh kembang anak. Namun penjelasan keburukan internet di saat pembahasan pengaruh tayangan televisi lah yang menjadikan perdebatan dalam perbedaan pendekatan terjadi.

Perkembangan perdebatan seperti ini yang kemudian menjadi tersangka bayangan atas perpecahan umat yang belakangan ini semakin dimaklumi di atas sunatullah. Namun, jika Allah telah menetapkan kematian seseorang sebagai rahasia yang pasti, akankah manusia tak merugi akan membiarkan hidupnya berakhir di meja judi dengan bersahabat dengan alkohol?

Mengijinkan diri membuat perubahan dengan meminimalisasi keadaan buruk bukan merupakan suatu aib. Saat ketetapan untuk membagi umat besar ini menjadi kelompok-kelompok kecil pengusung masing-masing kebenaran yang dinilaikan dalam ajaran mereka, berusaha mengurangi percikan-percikan yang akan semakin membakar jarak antargolongan masih menjadi tindakan mulia untuk dilakukan.

Jangan berdebat mengenai Saman dengan seseorang yang membaca Ayat-Ayat Cinta. Ini bukan mengenai usaha mendiskreditkan golongan tertentu, melainkan pencarian titik tolak dalam perjalanan diskusi. Saat forum berusaha mendiskusikan value (nilai moral) mana yang terbaik antara novel komunis dan atheis, relativitas menjadi mutlak di atas segalanya. Terlebih saat tiba-tiba seseorang memasukkan analisis penokohan dan setting sebagai bahan kajian pembanding pada waktu bersamaan. Memikirkan banyak hal secara bersamaan memang baik, tetapi menuangkannya dengan bersamaan bukanlah tindakan bijak.

nomaden



“Kenapa Anda Islam?”

Saat saya berusaha menutup celah pemikiran dengan berkata bahwa keislaman saya semata-mata karena takdir dan keturunan, saya tahu ada lubang besar di hati saya. Islam kemudian hanyalah menjadi sebuah kebenaran yang kebetulan bagi saya, bukan sesuatu yang dengan sadar saya peroleh dan perjuangkan. Bahkan jika kemudian pengetahuan keagamaan saya dibandingkan dengan para mualaf Amerika, bukan tidak mungkin angka yang lebih kecil menjadi milik saya dalam skala perbandingan kami.

Ada perasaan lega mendapati fakta bahwa saya terlahir dari keluarga penganut ajaran ini. Bukan karena mayoritas selalu ‘berkuasa’, tetapi setidaknya saya tidak perlu berpusing ria untuk mencari. Cukup mendalaminya jika berminat, pikir saya. Tetapi kemudian ada banyak alasan untuk tidak melakukan pendalaman itu, karena pada awalnya saya tidak pernah benar-benar meyakini kebenaran ajaran ini sebagai sesuatu yang mutlak.

Meyakini sesuatu yang tidak disampaikan secara langsung oleh perintis keyakinan tentu tidak mudah bagi saya. Seperti halnya meyakini sejarah di mana kita tidak terlibat di dalamnya, sementara kita tahu terkadang kepentingan golongan memegang peran dalam penyusunan cerita. Jika saya hidup di zaman nabi tentu akan berbeda keadaannya. Saya yang melihat aplikasi ajaran mulia pada sosoknya tentu tidak akan ragu akan keberadaan manusia pilihan. Tetapi bukan tidak mungkin saya justru takut untuk mengenal ajarannya, mengingat konsekuensi berat yang akan langsung mengakhiri kehidupan saya jika identitas muslim saya terungkap saat itu.

Tetapi pada kenyataannya, kita mempercayai ajaran, bukan penyampai ajaran. Saat seorang pemabuk mengatakan minuman keras dilarang dalam agama, terlepas dari keberadaannya sebagai pengingkaran, kita percaya bahwa segala sesuatu yang memabukkan dan mengantar kita pada maksiat adalah haram. Jika saya memilih ajaran ini karena terlahir dari orang tua dengan pemahaman religius tinggi, saat kemudian Dia membalikkan hati mereka, akan sangat mudah bagi saya untuk mengikuti jejak mereka. “Mereka yang keren saja seperti itu.” Maka, keberadaan siapapun sebagai penyampai kebenaran tidak menjadi fokus utama saya. Kalaupun di kemudian hari ada pemikiran gila bahwa nabi SAW tidak pernah ada, saya tetap meyakini kekuatan superior sebagai Pencipta saya dan nabi SAW pernah, masih, dan selalu ada. Sayangnya, selama ini saya terlalu nyaman dalam limpahan kebaikan ajaran ini, tanpa pernah mempertanyakan kenapa Dia menempatkan saya di koridor keyakinan ini. Apalagi untuk memikirkan ajaran lain.

Lingkungan yang kemudian memperluas pandangan saya. Bahwa ternyata memilih keyakinan menjadi opsi yang sangat terbuka dariNya, bahkan untuk tidak memillih. Rasanya sangat tidak pantas memandang rendah ajaran lain sementara saya tidak dapat menjelaskan alasan saya berdiri di jalur ini. Mereka yang kemudian memilih untuk tidak terikat mungkin masih menjadi nomaden dalam perjalanan batin mereka. Itu lebih baik, bagi saya, daripada tidak pernah memilih atau memikirkan pilihanNya.

Bagaimana jika saya tidak terlahir dari keluarga Islam? Akankah saya percaya pada jalan ini sebagai suatu kebenaran dan berminat mempelajarinya?

Saya bersyukur atas fitrah kebaikan ini. Tetapi sebagai nomaden keyakinan yang hanya berpindah dalam hati, saya akan merasa bersalah untuk begitu saja meyakini fitrah ini tanpa pernah mengetahui sebabnya. Perihal eksistensi Tuhan, saya menempatkan kenyataan kebutuhan atas kekuatan superior Pencipta sebagai dasar keyakinan. Kalau pun dalam perkembangannya banyak pihak yang menyebut kekuatan superior itu sebagai tuhan atau dewa dalam berbagai penamaan, fakta bahwa eksistensi kekuatan superior itu ada adalah yang terpenting.

Dapatkah kau melihat Tuhan? Tidak. Lantas, bagaimana kau yakin Dia benar-benar ada?

Saya percaya bahwa sesuatu tidak harus terlihat untuk menjadi ada. Sesuatu dianggap ada karena eksistensi ketiadaan. Maka, sesungguhnya ketiadaan itu telah ada bersamaan dengan konsep keberadaan. Saya tidak dapat melihat kesedihan sekalipun saya dapat menyaksikan air mata. Tetapi kita semua tahu bahwa air mata adalah partikel kesedihan, bukan kesedihan itu sendiri. Tetapi saya meyakini keberadaan kesedihan sebagai rasa yang menggerakkan. Jika saya harus menunggu Tuhan turun dari langit demi menampakkan sosokNya pada manusia peragu, rasanya saya sudah menyia-nyiakan otak dan hakikat manusia sebagai pemikir.

Jika keberadaan semesta diyakini sebagai sesuatu yang tercipta begitu saja, lantas anggapan mereka yang meyakini bahwa kesuksesan dicapai berdasar usaha dan bukan rencana Tuhan, menjadi tidak valid pada saat yang sama. Jika kehidupan manusia diyakini sebagai sesuatu yang dapat mereka atur sendiri, tentu kesepakatan sistem pengatur kehidupan telah kita dapatkan. Sesuatu terjadi bukan karena kebetulan atau terjadi begitu saja. Ada perencana dan pencipta di balik semua sistem kehidupan, terlebih semesta yang sangat rumit.

Para nomaden keyakinan itu, pada dasarnya memiliki kesepakatan akan adanya kekuatan superior di atas mereka. Tempat mereka meminta, sekalipun dalam pemikiran tak tersampaikan dan dalam ketidaksadaran yang terabaikan. Entah mengapa saya belum mengerti alasan mereka yang tidak mengakui kekuatan itu. Jika dulu saya sempat meragukan keberadaanNya, ada saat-saat yang kemudian mengharuskan saya secara naluriah untuk memohon. Bukan pada manusia. Tetapi pada sesuatu di luar sistem tubuh saya, yang saya yakini lebih kuat dari saya. Kalaupun sebagai nomaden saya berpindah dari sistem satu ke sistem yang lain, itu adalah proses panjang pencarian saya menuju cahayaNya. Masalahnya, para nomaden masih sering ditolak dalam dunia ‘kebenaran’.

“Kau cukup ceritakan ajaranmu padaku. Ajaranmu saja, tanpa membandingkannya dengan ajaran lain. Apalagi merendahkan. Biarkan Dia yang menuntunku untuk memilih. Dan terima kasih atas ilmunya, apapun yang akan menjadi pilihanku kemudian.”
Indah sekali jika keterbukaan seperti itu hadir dalam atmosfir kehidupan.

Bukankah tak perlu ada rahasia untuk kebaikan? Jika kita meyakini sesuatu sebagai kebenaran Tuhan, tentu tak perlu ragu mewarnai ajarannya dengan ketakutan kita. Selalu ada cara langit untuk melindungi pemikiran langit. Dia melindungi kita, bukan meminta kita untuk melindungiNya. Saat kemuliaan cahaya menjadi otoritas penuhnya, tugas kita hanyalah menceritakan peta. Bukan menentukan arah perpindahan.

Kompetisi Putih

Sungguh, penilaian manusia sangat berbahaya.

Fastabiqul khoirot. Berlomba-lomba dalam kebaikan. Awal bulan ini saya sering membaca kalimat itu, sebelum gemanya terus terulang di otak. Bukan untuk segera menyusun berbagai cara untuk memenangkannya, karena saya selalu takut untuk itu. Dan menjadi semakin takut di bulan kompetisi kebaikan ini.

Saya selalu ingin disibukkan di jalan Tuhan, mengisi kegiatan dengan kepadatan beraroma syar’i. Keinginan yang (masih) belum terlaksana. Melihat orang-orang itu begitu sibuk dengan setumpuk tugas keagamaan di pundak mereka justru membuat saya menjadi takut untuk menjadi seperti mereka.

Jujur, sebenarnya saya sungguh ingin seperti mereka yang sibuk dalam kehidupan religius, yang pasti bernilai baik di mata manusia. Saya sangat ingin disibukkan olehNya, tapi saya selalu berhenti pada keinginan. Setiap kali kaki ini melangkah, selalu ada suara dalam hati saya yang mempertanyakan keinginan itu:

“Kau ingin sibuk atau terlihat sibuk?”

Saya selalu mencerna kalimat itu berulang kali, menghabiskan menit-menit dalam pertimbangan.

“Saya ingin bermanfaat bagi agama saya!” teriak sisi lain hati saya. Tapi, bagaimana dengan penilaian orang lain? Akankah mereka berpikiran sama denganmu?

Pada akhirnya, saya kalah. Saya takut “terlihat baik” di mata orang lain. Ketakutan yang semakin menjadi itu melumpuhkan langkah saya pada setiap agenda berjenis perlombaan dalam kebaikan. Bukan berarti kemudian saya mantap melangkahkan kaki dalam setiap perlombaan keburukan –dalam standar yang diciptakan mayoritas, tentunya.

Saya benar-benar takut menjadi baik dan terlihat baik. Jika “jam terbang tinggi” menjadi parameter kebaikan seseorang, saya memilih untuk tidak terbang agar tidak terlihat. Saya bahkan pernah berpikir tentang hukum kekekalan amanah : “amanah tidak dapat diminta dan tidak dapat dipindah-tangankan (begitu saja).”

Maka, jika pada awalnya tugas tersebut bukanlah untuk saya, saya tidak akan memintanya. Bahkan untuk sekedar berbasa-basi menanyakan perkembangannya. Bagi saya, jika Dia menginginkan hal itu untuk saya, Dia akan memberikannya pada saya pada awal keberadaannya.

Ketakutan untuk terlihat tidak hanya berlaku dalam hal tugas keagamaan. Saya merasakan depresi luar biasa di bulan kompetisi ini. Menyadari tumpukan dosa yang semakin mencuat dari kotak hati saya membuat saya selalu ingin memaksimalkan kesempatan ini untuk mengumpulkan voucher discount dosa di kehidupan yang akan datang.

Opotunis kah? Toh, tidak ada salahnya memanfaatkan kesempatan untuk kebaikan, pikir saya. Tetapi, tentu saja saya tidak seberani itu untuk melakukannya. Memanfaatkan tiap detik dalam peribadatan untukNya. Selalu saja, rasa takut ini membunuh saya. Mulut saya terlalu berat untuk melafalkan ayatNya saat ada manusia lain di sekitar saya –yang kalaupun saya melakukan perbuatan berpahala itu, tidak akan ambil pusing. Kaki saya terlalu berat menambah kegiatan extraordinary lain saat ada nafas dari hidung lain berhembus di sekitar saya –yang bahkan mereka pun melakukan kegiatan-kegiatan extraordinary itu.

Tapi, itu dulu…

Lantas, saya mulai berpikir, mengenang semua alasan itu. Saya lalu teringat perkataan guru saya, “Alasan hanyalah pembenaran dari kemalasan!” Saya pun –dengan berat hati- mengakui bahwa semua paragraf di atas hanyalah pembenaran dari kemalasan saya untuk sibuk di jalan Tuhan.

Jika hati saya benar-benar bertekad untuk menjadi pelayan Tuhan yang baik, sesering apapun lisan berucap “Jangan!” tidak akan menghentikan langkah untuk bertindak.

Niat adalah amalan hati, yang tidak akan mampu seorang manusia pun untuk menilainya. Jika saya begitu yakin bahwa semua perbuatan itu saya tujukan untukNya dan bukan untuk penilaian makhlukNya, sangat konyol jika kemudian saya berhenti berbuat karena takut pada penilaian manusia.

Tugas saya hanyalah melakukan ajaranNya, bukan memikirkan (dengan sangat) bagaimana orang lain akan menilai perbuatan saya. Kalau pun pada akhirnya mereka menilai perbuatan saya sebagai kebaikan tulus atau sekedar aksi cari muka, bukanlah wewenang saya untuk berpusing atas tanggapan itu.

Apa yang Tuhan pikirkan atas saya lah, yang seharusnya menjadi fokus saya. Tujuan saya adalah ketenangan batin saat bisa melaksanakan ajaran yang saya yakini. Dia adalah titik merah panah saya. Dia adalah juri tunggal perlombaan ini. Bukan makhlukNya.
Mengingat nasihat seorang teman, “Jangan terlalu sibuk memikirkan apa yang harus dilakukan, sampai-sampai tidak melakukan apapun.”
Mari berlomba-lomba dalam kebaikan! 

(awal ramadhan, 2011)