Showing posts with label belief. Show all posts
Showing posts with label belief. Show all posts
April 9, 2013
Merajut Tanpa Benang dan Jarum (Bagian 2)
Dia ciptakan suara-suara, dan tidak semua yang Dia ciptakan membantu dengan nyata. Seperti game developer yang ciptakan banyak ghost untuk dapatkan reward. Dan seringkali mereka tidak membantu.
Kalau mencari dan mengusahakan benang dan jarum itu (saja) masih begitu sulit, masih bisakah saya merajut? Saya pikir mungkin merajut bukanlah profesi yang paling tepat untuk saya.
Mereka bilang: seharusnya kau tidak boleh tertekan dengan pencapaian sejauh ini. They think (that) they know me, seperti menganggap kotoran luwak sebagai biji termahal di dunia atau tumpukan liur sebagai aset berharga. Those come from (sorry) shit.
Apa jadinya seseorang yang tumbuh dengan sosialisasi tidak sempurna, orang yang cacat secara sosial? Jiwa mereka juga cacat. Mungkin sama riskannya dengan kupu-kupu yang dipaksa bangun dari kehangatan kepompongnya oleh anak-anak kecil yang ingin tahu. Poor it.
After a long thinking… rasanya semua masih sama: hitam – abu-abu. Dan mereka (sekali lagi) pikir saya tidak berpikir. Terserah mo ngomong apa toh gue yang… #Wrong Way, Bondan-fade2black#
Menenggelamkan diri dalam pecahan kaca murahan yang menyayat kulit. Merusak wajah yang tidak sempurna. Menyakiti diri sendiri. And the story goes back… what a suck!
#np SS501: Because I’m Stupid.
Yeah, maybe like that… berhubung saya selalu berpikir dan merenungi kejadian lingkaran: tanpa pernah tahu titik awal dan akhir. Saat terdiam pun, gema di otak saya hanya menyuarakan semua kejadian-kejadian lingkaran.
Mencari Benang
Even though yang paling berantakan, ruwet, dan gak jelas… selama itu benang-benang yang punya awal dan akhir. Bukan roda, gelang, tutup botol, kincir angin. Dan hal-hal melingkar lain yang jika terus mellingkar dan merapat akan menyesakkan dan tewaskan saya.
Menguraikannya
Dengan tersenyum dan berpikir untuk sesuatu yang lebih jelas, lebih bermakna. Someone said: sepayah apapun itu, pasti bermakna. Okay, maybe yes -menurut mereka. Tapi apakah pantas saya pakai standar mereka yang bahkan bukan SNI? Sialnya, saya tidak suka standar mata, apalagi hati mereka. Karena semuanya hanya akan memantul ke otak mereka.
Tuhan yang tahu kucinta Kau… BCL sang.
Everything’s back to The Only Gave It to Me.
Bukan Anda, kamu, dia, mereka, juga kalian. No matter how precious your degree is.
Sebenarnya saya tidak peduli. Tapi otak (ditambah hati) saya begitu jahat dengan terus memaksa saya memikirkan kalian. Menyebalkan.
Kapasitas otak saya masih kecil, tapi sudah 18 tahun Dia biarkan saya rusak bumiNya. Padahal saya ingin kembali, tapi saya harus terus ke depan. Menyapa mereka dari podium dan memaksakan senyum palsu tanda terima kasih dan mengoceh banyak hal untuk menyenangkan mereka. Setelah itu menangis.
Poor me? No, that’s stupid. Dan menangis lagi, tapi bukan untuk sesuatu yang cukup tinggi dan sulit untuk ditangisi. Lantas, masih mulia kah air mata yang terus menetes keluar itu?
Saat hati tak lagi beku, ia menjadi cair untuk apa dan karena apa? Bukannya semua itu tangisan? Dan bertanya pun menjadi attitude orang bodoh: karena mereka tidak mau berpikir.
Ya, benar. Saya jadi egois tanpa sosok penjaga benang dan jarum yang dulu saya buang. Tapi saya masih punya sosok Yang Maha Memberi.
Padahal Undang Undang sudah mencatat saya sebagai orang dewasa secara yuridis. Sayang sekali. Seandainya bisa ditunda… padahal saya masih ingin berteriak kencang atas kekecewaan, bukan menangis dalam pemikiran yang terabaikan.
Padahal keong racun dirilis tahun 2008, tapi baru tahun 2010 hati saya bergejolak? *tulisan apa ini? analoginya terlalu menyesakkan dada!!*
Mungkin karena saat menerima gift-Nya saya belum paham dan berpikir semua ini akan berlangsung seperti mengikuti acara konser Justin Bieber di MTV: berteriak histeris dan terharu (?) menatap teman sebaya (saat itu) menyandang status dan peran seperti itu. Dan pastinya karena otak saya belum terpakai lebih dari 0,5 persen saat itu. Arrrgh!!
Saat kau tahu kau nyaman berjalan kaki tapi kau harus naik bus untuk sampai ke tujuanmu dengan alasan waktu. Dan ini paksaan dalam bahasa nasihat.
Debater itu munafik. Sometimes. Maybe yes. Maybe no. Saya ingin katakana “No” dan mengangguk, lalu katakan semua dengan jujur.
In my way…
Merajut Tanpa Benang dan Jarum (Bagian 1)
Saat saya berpikir cahaya saya akan benar-benar menyinari tingkatan ini, kembali saya dipersalahkan oleh ego yang sebenarnya bukan otoritas saya.
Saya pernah buang semua benang dan jarum yang dulu bantu saya hasilkan beberapa helai rajutan (yang masih cacat).
Tapi sekarang, tanpa benang dan jarum itu, masih bisakah saya merajut? Apapun jawabnya, saya harus tetap merajut. Sebagai professional: merajut pola mereka.
Saat bertemu merak di taman (bagian gersang mana di kota itu yang menyimpan keindahan merak?) saya pikir tak apalah jadi feminim yang benar-benar mempesona sepertinya. Anggun yang totalitas, feminis kuno.
Saat melihat ke atas: rasanya terbang bebas seperti elang menyenangkan sekali~~ tapi saya tidak terlahir perkasa seperti elang. Yah… paling tidak saya menyukai sayapnya. Apapun nama mereka, saya kagum pada bulu-bulu yang dirajutNya itu, menerbangkan mereka pada langit yang begitu bijak.
Haaah… tapi saat pada akhirnya saya dapatkan sayap itu, saya “tersesat” dan terkurung dalam sangkar emas yang saya bangun dengan liur saya (sekarang ini saya seekor wallet).
Mereka lihat sarang saya sebagai peti emas atau kebun buah yang siap mereka panen. Tapi bagi saya, sangkar ini tak lebih dari tumpukan liur yang begitu memuakkan.
Untitled
Takdir menetapkan kelahiranku pada keluarga yang mengesakan Allah dalam ajaran tauhidNya; menjadikanku terbiasa menjalankan titah tanpa banyak kata. Bagiku, tak ada yang lebih aman dan nyaman selain menjadi patuh. Patuh berarti bebas dari kemarahan dan hukuman. Diam, dengar, dan taat berarti kebebasan, begitu pikirku dulu. Konsep aneh tentang kebebasan yang kujalani selama lebih dari sepuluh tahun sejak perkenalanku dengan ilmu agama, sebelum kemudian lingkunganlah yang mengubahku.
Keikutsertaanku pada klub debat di SMA menuntutku berpikir ‘kritis’ atas semua permasalahan –yang sebenarnya tidak memiliki koneksi langsung denganku, dan komitmen untuk memaksimalkan otakku sepertinya menampakkan hasil. Aku, yang dengan semangat pencarian jati diri remaja tertarik mengikuti Kerohanian Islam, mulai mempertanyakan konsep ketuhanan secara totalitas –Islam kaffah, seperti yang selalu disebut dalam kajian Rohis kami.
Mengapa setiap muslimah harus memakai rok dan berjilbab besar? Toh, memakai celana panjang longgar dan berpakaian rapi tanpa mengundang syahwat lawan jenis sepertiku juga bukan tidak baik? Menngapa harus menunduk dan melembutkan suara saat berbicara? Sementara Khalifah Umar ra. tetap luarbiasa tanpa menjadi Abu Bakar ra. yang lemah lembut. Mengapa menatap tidak senang pada persahabatan orang lain yang begitu solid, dan mengatakan itu adalah kumpulan maksiat, sedang ukhuwah yang diagung-agungkan justru berantakan? Mengapa sibuk menasihati orang lain sementara diri sendiri banyak dosa? Para ikhwan dan akhwat itu pun terlihat hanya sebagai kumpulan orang sok suci yang ekslusif di mataku.
“Ideologi itu sistem. Kau tahu bagaimana system bekerja, kan? Totalitas, atau tidak samasekali,” seseorang mengingatkanku. Sisi pemberontak tanpa ilmu dalam diriku terus membantah selama pembicaraan itu. Agama itu tentang aku dan Tuhan, tanpa perlu melibatkan kalian atau mereka, pikirku. Dan sekarang, agama yang selama kehidupanku selalu ada di setiap lembar kartu identitas dan istilah-istilah yang kugunakan sebagai identitas, kini mulai menggangguku dengan meminta perhatian lebihku untuknya, tetapi pemikiran-pemikiran tanpa ilmuku tentangnya justru semakin membawaku pada pertanyaan tak terjawab yang lain. Aku semakin menolak konsep totalitas dalam beragama.
Pelajaran Kewarganegaraan –studi yang bagi sebagian orang merupakan akar sekulerisme- justru menamparku dari keraguan tanpa ilmu selama ini. Aku selalu bertanya untuk kembali bertanya, tanpa memahami setiap kata dan keadaan yang keluar sebagai jawaban. Aku tak pernah mau belajar, tetapi kemudian menolak segala konsep hanya karena tidak sesuai dengan ‘keyakinanku’ –jika masih bisa disebut keyakinan. Aku mengakui dan meyakini eksistensi Dzat penuh Maha di atas sana sebagai pencipta dan pengatur semesta, yang kepadaNya masih aku mengadu dan meminta, bahkan mencaci keadaan yang sebenarnya tercipta olehku. Dan keyakinan ini lah yang menamparku, sekali lagi menjatuhkan kesombongan seorang angkuh tak berilmu sepertiku.
Jika aku masih meyakini keesaan Tuhan yang bersemayam di Arsy, membaca firmanNya, memohon, mengadu, dan berterima kasih untuk setiap nafas yang Dia izinkan untukku hidup dengannya, Dia yang kuyakini sebagai penghidup yang mematikanku untuk kemudian membangkitkanku kembali pada kehidupan lain yang juga kuyakini –lantas apakah pantas jika kemudain aku berbalik mempertanyakan sistemNya, konsep hidup yang dikehendaki Dzat yang padaNya masih aku mengemis kasih di setiap detik kehidupanku? Rasanya aku tidak lebih dari seorang munafik. Mungkin, jenis sepertiku inilah yang sering tertulis dalam setiap firman peringatanNya.
Aku pasti sudah dicuci otak. kalau beragama jangan fanatik, yang biasa-biasa sajalah.. sekali lagi pikiranku terganggu dengan kalimat yang sengaja kuciptakan untuk kembali menolak konsep. Bukankah perbedaan fanatik dan totalitas sangat tipis? Dia meyuruh, bukan menyarankan, manusia untuk memasuki sistemNya secara keseluruhan melalui ayat ke dua ratus delapan dalam surat ke dua di kitabNya. Perintah yang begitu jelas tanpa analogi, yang anak kecilpun bisa menafsirkannya. Aku ingin masuk surga –tempat indah tak terdefinisi indera manusia yang kuyakini ada pada kehidupan selanjutnya, dan aku cukup sadar diri tifak dapat ke sana tanpa ‘sesuatu’. Sholat lima waktu yang tidak tepat waktu tanpa diiringi rowatibnya, sholat malam tidak bermutu penuh kantuk dengan muhasabah yang sering dipaksakan, puasa sunah dengan masih berprasangka, dan di atas semua itu – ketakutan atas penilaian orang lain, tentu menjadikanNya memiliki sangat banyak alasan untuk menolakku dari pintu surga terendahnya.
Bukankah Muhammad bin Abdullah, manusia pilihan yang kuyakini berfungsi sebagai pembawa risalah, juga tidak biasa-biasa saja dalam beribadah? Sisi pemberontak buta ilmu agama dalam diriku seketika bereaksi: sungguh tidak pantas membandingkan diri dengan Rasulullah. Lalu, pada siapa aku harus bercermin? Bukankah padanya lah terdapat teladan yang baik untuk semua umat? Aku memang tidak akan pernah bisa seperti sosok mulianya, tetapi aku sadar, dengan menjadi baik dan biasa saja belum bisa memenangkan surgaNya.
Selama ini aku mengaku diri Islam dalam lumpur kejahiliyahan, dengan menjalankan perintah yang kumaui dan menolak yang lain. Sepertinya Islam menjadi sangat mudah di jalanku: pilih ajaran yang sesuai dengan keinginanmu, lalu sampaikanlah pada penerima ajaran itu. Sesederhana itu kah? Rasanya berdosa sekali mengubah keagungan sebuah ideoloogi menjadi begitu remeh. Mengutip kalimat sakti ilmuwan penemu teori relativitas yang diagungkan: segala sesuatu harus dibuat sesederhana mungkin, tetapi tidak lebih sederhana; seperti mempersingkat perjalanan darat Jakarta-Surabaya dengan beralih dari jalur pegunungan ke dataran rendah, bukan mengubah jalur menjadi Jakarta-Bandung hanya agar lebih cepat mencapai tujuan. Jangan mempersulit hal mudah, tapi jangan menjadikannya sepele.
Beragama itu pilihan, seperti saat pertama kali aku dilahirkan dalam keadaan suci. Saat pada akhirnya aku memilih Islam sebagai jalan hidupku, aku tahu pasti konsekuensinya, dan itu sangat tidak sepele. Para ahli kitab yang dalam firmanNya dituliskan menyembunyikan kebenaran untuk menunda keislaman mereka, menurutku, karena mereka tahu pasti konsekuensi di balik ‘dua kalimat persaksian’. Bukan sekedar mengakui Allah dan RasulNya untuk kemudian kembali melakukan persaksian setelah bermaksiat.
Saat aku berkata, “Kan ku genggam hidayah ini erat-erat selamanya” bukan berarti seseorang telah memberi cahaya padaku. Aku meyakini hidayah sebagai pencerahan –cahaya matahari yang mengharuskan kita keluar gua untuk mendapatkannya, meskipun pada akhirnya Dia adalah penentu dari setiap ketentuan.
Ideologi itu jalan dan pandangan hidup, begitu penjelasan yang kupahami dari pelajaran Kewarganegaraan sejak SMP. Aku pernah menyangsikan keberadaan Tuhan, menolak sistemNya, dan begitu sombong seperti seorang atheis sok religius. Saat aku memutuskan untuk meyakininya, aku telah siap dan tahu pasti pilihannya: totalitas atau tidak sama sekali. Surga atau neraka, wallahu’alam.
Keikutsertaanku pada klub debat di SMA menuntutku berpikir ‘kritis’ atas semua permasalahan –yang sebenarnya tidak memiliki koneksi langsung denganku, dan komitmen untuk memaksimalkan otakku sepertinya menampakkan hasil. Aku, yang dengan semangat pencarian jati diri remaja tertarik mengikuti Kerohanian Islam, mulai mempertanyakan konsep ketuhanan secara totalitas –Islam kaffah, seperti yang selalu disebut dalam kajian Rohis kami.
Mengapa setiap muslimah harus memakai rok dan berjilbab besar? Toh, memakai celana panjang longgar dan berpakaian rapi tanpa mengundang syahwat lawan jenis sepertiku juga bukan tidak baik? Menngapa harus menunduk dan melembutkan suara saat berbicara? Sementara Khalifah Umar ra. tetap luarbiasa tanpa menjadi Abu Bakar ra. yang lemah lembut. Mengapa menatap tidak senang pada persahabatan orang lain yang begitu solid, dan mengatakan itu adalah kumpulan maksiat, sedang ukhuwah yang diagung-agungkan justru berantakan? Mengapa sibuk menasihati orang lain sementara diri sendiri banyak dosa? Para ikhwan dan akhwat itu pun terlihat hanya sebagai kumpulan orang sok suci yang ekslusif di mataku.
“Ideologi itu sistem. Kau tahu bagaimana system bekerja, kan? Totalitas, atau tidak samasekali,” seseorang mengingatkanku. Sisi pemberontak tanpa ilmu dalam diriku terus membantah selama pembicaraan itu. Agama itu tentang aku dan Tuhan, tanpa perlu melibatkan kalian atau mereka, pikirku. Dan sekarang, agama yang selama kehidupanku selalu ada di setiap lembar kartu identitas dan istilah-istilah yang kugunakan sebagai identitas, kini mulai menggangguku dengan meminta perhatian lebihku untuknya, tetapi pemikiran-pemikiran tanpa ilmuku tentangnya justru semakin membawaku pada pertanyaan tak terjawab yang lain. Aku semakin menolak konsep totalitas dalam beragama.
Pelajaran Kewarganegaraan –studi yang bagi sebagian orang merupakan akar sekulerisme- justru menamparku dari keraguan tanpa ilmu selama ini. Aku selalu bertanya untuk kembali bertanya, tanpa memahami setiap kata dan keadaan yang keluar sebagai jawaban. Aku tak pernah mau belajar, tetapi kemudian menolak segala konsep hanya karena tidak sesuai dengan ‘keyakinanku’ –jika masih bisa disebut keyakinan. Aku mengakui dan meyakini eksistensi Dzat penuh Maha di atas sana sebagai pencipta dan pengatur semesta, yang kepadaNya masih aku mengadu dan meminta, bahkan mencaci keadaan yang sebenarnya tercipta olehku. Dan keyakinan ini lah yang menamparku, sekali lagi menjatuhkan kesombongan seorang angkuh tak berilmu sepertiku.
Jika aku masih meyakini keesaan Tuhan yang bersemayam di Arsy, membaca firmanNya, memohon, mengadu, dan berterima kasih untuk setiap nafas yang Dia izinkan untukku hidup dengannya, Dia yang kuyakini sebagai penghidup yang mematikanku untuk kemudian membangkitkanku kembali pada kehidupan lain yang juga kuyakini –lantas apakah pantas jika kemudain aku berbalik mempertanyakan sistemNya, konsep hidup yang dikehendaki Dzat yang padaNya masih aku mengemis kasih di setiap detik kehidupanku? Rasanya aku tidak lebih dari seorang munafik. Mungkin, jenis sepertiku inilah yang sering tertulis dalam setiap firman peringatanNya.
Aku pasti sudah dicuci otak. kalau beragama jangan fanatik, yang biasa-biasa sajalah.. sekali lagi pikiranku terganggu dengan kalimat yang sengaja kuciptakan untuk kembali menolak konsep. Bukankah perbedaan fanatik dan totalitas sangat tipis? Dia meyuruh, bukan menyarankan, manusia untuk memasuki sistemNya secara keseluruhan melalui ayat ke dua ratus delapan dalam surat ke dua di kitabNya. Perintah yang begitu jelas tanpa analogi, yang anak kecilpun bisa menafsirkannya. Aku ingin masuk surga –tempat indah tak terdefinisi indera manusia yang kuyakini ada pada kehidupan selanjutnya, dan aku cukup sadar diri tifak dapat ke sana tanpa ‘sesuatu’. Sholat lima waktu yang tidak tepat waktu tanpa diiringi rowatibnya, sholat malam tidak bermutu penuh kantuk dengan muhasabah yang sering dipaksakan, puasa sunah dengan masih berprasangka, dan di atas semua itu – ketakutan atas penilaian orang lain, tentu menjadikanNya memiliki sangat banyak alasan untuk menolakku dari pintu surga terendahnya.
Bukankah Muhammad bin Abdullah, manusia pilihan yang kuyakini berfungsi sebagai pembawa risalah, juga tidak biasa-biasa saja dalam beribadah? Sisi pemberontak buta ilmu agama dalam diriku seketika bereaksi: sungguh tidak pantas membandingkan diri dengan Rasulullah. Lalu, pada siapa aku harus bercermin? Bukankah padanya lah terdapat teladan yang baik untuk semua umat? Aku memang tidak akan pernah bisa seperti sosok mulianya, tetapi aku sadar, dengan menjadi baik dan biasa saja belum bisa memenangkan surgaNya.
Selama ini aku mengaku diri Islam dalam lumpur kejahiliyahan, dengan menjalankan perintah yang kumaui dan menolak yang lain. Sepertinya Islam menjadi sangat mudah di jalanku: pilih ajaran yang sesuai dengan keinginanmu, lalu sampaikanlah pada penerima ajaran itu. Sesederhana itu kah? Rasanya berdosa sekali mengubah keagungan sebuah ideoloogi menjadi begitu remeh. Mengutip kalimat sakti ilmuwan penemu teori relativitas yang diagungkan: segala sesuatu harus dibuat sesederhana mungkin, tetapi tidak lebih sederhana; seperti mempersingkat perjalanan darat Jakarta-Surabaya dengan beralih dari jalur pegunungan ke dataran rendah, bukan mengubah jalur menjadi Jakarta-Bandung hanya agar lebih cepat mencapai tujuan. Jangan mempersulit hal mudah, tapi jangan menjadikannya sepele.
Beragama itu pilihan, seperti saat pertama kali aku dilahirkan dalam keadaan suci. Saat pada akhirnya aku memilih Islam sebagai jalan hidupku, aku tahu pasti konsekuensinya, dan itu sangat tidak sepele. Para ahli kitab yang dalam firmanNya dituliskan menyembunyikan kebenaran untuk menunda keislaman mereka, menurutku, karena mereka tahu pasti konsekuensi di balik ‘dua kalimat persaksian’. Bukan sekedar mengakui Allah dan RasulNya untuk kemudian kembali melakukan persaksian setelah bermaksiat.
Saat aku berkata, “Kan ku genggam hidayah ini erat-erat selamanya” bukan berarti seseorang telah memberi cahaya padaku. Aku meyakini hidayah sebagai pencerahan –cahaya matahari yang mengharuskan kita keluar gua untuk mendapatkannya, meskipun pada akhirnya Dia adalah penentu dari setiap ketentuan.
Ideologi itu jalan dan pandangan hidup, begitu penjelasan yang kupahami dari pelajaran Kewarganegaraan sejak SMP. Aku pernah menyangsikan keberadaan Tuhan, menolak sistemNya, dan begitu sombong seperti seorang atheis sok religius. Saat aku memutuskan untuk meyakininya, aku telah siap dan tahu pasti pilihannya: totalitas atau tidak sama sekali. Surga atau neraka, wallahu’alam.
May 10, 2012
Memilih Rumah Sakit
Saya selalu percaya kunci semua hubungan terikat pada rasa bernama kepercayaan. Apapun itu. Hubungan orang tua-anak, suami-istri, atasan-bawahan, sahabat-sahabat. Termasuk hubungan hamba dengan Tuhannya. Bahkan kepercayaan (utamanya dalam romantisme) kemudian dipercayai sebagai salah satu simbol kasih sayang. Jika kau mencintaiku, maka percayalah padaku.
Tetapi, atas nama demokrasi, modernisasi, dan liberalisasi, kepercayaan seorang hamba pada Tuhannya ditampakkan tak bernilai: klise, klasik, kolot, dan simbol kemunduran suatu peradaban. Orang-orang beramai-ramai mempertanyakan kebenaran kitab suci. Memilah, menyeleksi, dan menetapkan kebenaran yang hanya menurut mereka itu benar. Selebihnya, salah. Fanatik. Ekstremis. Maka bukan tidak mungkin halaman kitab suci tidak akan setebal itu di rak buku mereka. Lantas usulan amandemen kitab suci oleh para pembuat undang-undang manusia pun digaungkan.
Di sisi lain, mereka (masih) meyakini kepercayaan. Dalam hubungan bisnis, keluarga, persahabatan, percintaan. Kata mereka, “Jangan terus bertanya kenapa aku pulang larut. Kau tahu kan, semua ini untuk keluarga kita? Kau percaya padaku, kan?” Lantas saat jawaban “Ya” diperoleh, penekanan lain diberikan sebagai bentuk superioritas. “Kalau kau mempercayaiku, tidak sepantasnya kau mempertanyakan apa yang kuperbuat.”
Dalam ikatan-ikatan duniawi tersebut, terkadang muncul keadaan seseorang sulit meletakkan kepercayaan pada pasangan/partner masing-masing. Mulai dipertanyakannya aktivitas dan kebijakan partner kemudian dinilai sebagai bentuk kecurigaan yang berarti pengkhianatan kepercayaan. Maka dalam ikatan-ikatan duniawi, kepercayaan berarti harmonisme keluarga, keberlangsungan keluarga, keberhasilan tander, dan kesuksesan percintaan.
“Anak Anda menderita sciatica dan harus segera dioperasi.” Jika saya adalah orang tua yang sedang berhadapan dengan dokter dengan kalimat tersebut untuk anak saya, deret pemikiran yang segera memenuhi otak saya adalah dana, kesehatan anak, dan kesembuhan. Ditambah beberapa permohonan dan pertanyaan –jika tak ingin disebut keluhan– pada Tuhan. Tidak ada waktu untuk mencari perpustakaan atau akses internet terdekat demi memahami sciatica sebelum memutuskan akan melakukan operasi. Saya pun tidak akan sempat berburuk sangka pada dokter tersebut, bagaimana karir kedokterannya selama ini, dan apakah vonis barusan bukan sekedar kepentingannya.
Saya mempercayai rumah sakit tersebut, maka saya memeriksakan anak saya di sana. Lebih jauh, saya akan mencoba mendapat akses pada dokter tertentu yang telah saya yakini kemampuan dan track record karirnya. Maka, saat dokter tersebut menyatakan vonis dan anjurannya, saya hanya perlu berpikir mendapatkan dana operasi tanpa bersibuk diri mempertanyakan kebenaran informasi. Karena bagi saya, keselamatan dan kehidupan anak saya jauh lebih penting dari semua rasa ingin tahu saya.
Lantas, apakah agama tidak sepenting nyawa seseorang?
Dalam sistem agama, kepercayaan memainkan peran Tuhan dengan hamba-Nya. Namun, kehidupan modern dengan sejumlah isme menjadikan konsep kepercayaan ini tidak sepenting kepercayaan pasien pada dokter.
Bukankah saat memilih agama, saya telah mempercayai ajarannya? Atau sebenarnya saya tidak pernah memilih agama ini. Lantas, kapan saya benar-benar bersyahadat untuk memilihnya? Saat saya memilih Allah sebagai Tuhan saya, bukankah saya telah memahami dan meyakini kuasa-Nya? Maka seperti apapun vonis dan anjuran yang Dia berikan akan saya patuhi. Bahkan ketika sesuatu yang difirmankan begitu abstrak dalam pengetahuan saya, bukankah seharusnya saya tidak perlu bersusah payah menenggelamkan diri dalam pertanyaan-pertanyaan?
Saya hanya harus menelan obat sesuai instruksi yang diberikan. Tidak perlu bertanya kenapa tablet ini tiga kali sedangkan kapsul ini satu kali, karena saya percaya pada tanda bahaya jika saya salah meminum obat.
Namun terkadang agama tidak sepenting kesehatan bagi saya. Tidak mematuhi nasihat Dokter Kehidupan yang telah saya pilih toh tidak akan membuat saya meninggal. Bagi saya kematian adalah saat nafas berhenti berhembus. Karena jika ada kematian jiwa, kini saya tentu sudah memiliki satu kuburan. Bagi saya bertanya sebanyak-banyaknya tidak akan membahayakan nyawa. Karena saya tidak diburu waktu operasi. Karena bahkan satu kitab medis dipertanyakanpun, para dokter bersedia menunggu saya. Padahal saya hanya tidak tahu kapan ruang operasi ditutup dan lampu dinyalakan.
Saya bukanlah korban kecelakaan yang tidak bisa memilih di mana dia akan dirawat. Saya hanya merasakan sesuatu tidak bekerja dengan baik di tubuh saya, ada sesuatu yang terus menyakiti raga saya. Maka saya berjalan, memilih rumah sakit dan dokter terbaik untuk memeriksa dan merawat saya. Apapun vonis dokter, saya terima, apapun nasihatnya, saya jalani. Tanpa banyak bertanya. Karena saya percaya dan telah memilihnya.
**gambarnya dari sini :)
March 11, 2012
Bermain-main dengan Iman

“Kenapa Tuhan merasa perlu menciptakan manusia?”
Pesan singkat yang dikirim teman pagi itu sukses menggalaukan hari saya. Kalau dijawab ‘untuk menjadi khalifah di bumi’ dan seterusnya saya rasa tidak begitu sesuai karena akan melahirkan pertanyaan senada, “Kenapa Tuhan merasa perlu menjadikan manusia khalifah di bumi?”
Pertanyaan ini menjadi sulit karena selama ini manusia belajar mengenai hal abstrak seperti ini melalui pendekatan mereka; pola pikir manusia sebagai ciptaan. Bukan dari sudut pandang Tuhan sebagai pencipta. Saya lalu mencari jawaban dari beberapa teman sebagai bahan pengayaan pemahaman.
Karena Tuhan kesepian. Jawaban absurd pertama yang saya terima dan menjadikan saya melongo. Bukan karena saya tidak pernah berpikir serupa, melainkan karena jawaban-jawaban sebelumnya selalu bermuara pada kolam kerahasiaan ilmu langit.
Jawaban lain menyatakan Tuhan sebagai Mahaguru. Untuk menjadi guru, seseorang harus mempunyai murid. Jawaban ini sedikit ‘lebih’ religius karena dalam kitab-Nya saya menemukan ayat yang menceritakan bagaimana Dia mengajari manusia banyak hal.
Tuhan hidup karena disembah. Jawaban ini adalah bentuk tafsir bebas yang merujuk pada tujuan penciptaan jin dan manusia: untuk menyembah Tuhan. Saya tentu tidak berharap lebih banyak orang berpikir mmengenai konsep ini karena pada akhirnya mereka akan berhenti pada pertanyaan baru: kenapa Tuhan bermain-main dengan kehidupan? Kenapa pula Dia ciptakan skenario besar dengan dua opsi sebagai titik akhir permainan? Konsep surga dan neraka menjadi sangat menyebalkan pada titik ini.
Dalam tulisan seorang teman terlihat jelas bagaimana dia sangat memuja Tuhan dengan agama yang tidak memerlukan manusia untuk melindunginya dan seterusnya. Maka, dengan pemikiran seperi itu Tuhan nampaknya benar-benar tidak membutuhkan manusia. Manusia lah yang membutuhkannya. Lantas kenapa Tuhan menciptakan makhluk yang tidak Dia butuhkan?
Setelah menghabiskan pagi dengan beberapa diskusi, pada akhirnya saya kembali pada aturan main yang telah Dia tetapkan dalam kitab. Ada pertanyaan-pertanyaan yang tidak perlu dijawab (bahkan diajukan) karena akan merusak keimanan. Tentu jika pertanyaan-pertanyaan itu muncul sebelum Qur’an sepenuhnya diturunkan, Dia akan menjawab melalui firman-Nya.
Dahsyatnya kepercayaan umat terdahulu tampak pada keyakinan atas konsep penciptaan dalam Qur’an Surat Al Alaqah. Pada saat itu, ilmu kandungan belum diperkenalkan sementara Eropa masih berada dalam masa kegelapan mereka dan para ilmuwan Islam pun belum lahir. Namun keimanan para sahabat pada Rasul mengantar kita pada penemuan ilmu tersebut saat ini.
Derajat keimanan kita pada ayat tersebut (setelah adanya bukti ilmiah) tentu berbeda dengan para sahabat. Karena kepercayaan pertama yang sesungguhnya adalah saat seseorang mempercayai tanpa bisa menjelaskan alasan dan buktinya.
Kalau sahabatmu dituduh mencuri sementara kau tidak mengetahui buktinya dan kau mempercayainya begitu saja, itulah kepercayaan. Tetapi kalau kau baru mempercayainya saat semua bukti tidak mengarah padanya, kau ‘boleh’ sebut itu percaya.
Seorang teman berkata senada. “Kamu tahu orang tua kamu adalah orang tua kandungmu?” Iya, jawabku yakin. “Tidak, kamu hanya percaya sebelum benar-benar tes DNA”.
Rasul telah membaca hadirnya masa ini; zaman di mana iman (keyakinan) benar-benar mahal. Bahkan beliau menyatakan ‘kehebatan’ kaum yang masih mempercayai dan bersungguh-sungguh berjuang menegakkan kalimat-Nya di saat dirinya tak lagi hadir secara fisik di bumi. Saat tak ada lagi contoh hidup yang benar-benar dapat diteladani karena para ulama sibuk berlomba antar-firqoh.
Agama ini telah memberikan sarana kebebasan berpikir dan mengeja Tuhan. Sejarah mencatat bagaimana Ibrahim membutuhkan waktu untuk mencari dan belajar mencintai tuhannya. Terlebih manusia. Dia mengizinkan kita mengenal-Nya melalui ciptaan agar kita merenunginya. Karena sebagai ciptaan, akal manusia seyogyanya mampu memahami ciptaan. Bukan Pencipta.
Terkadang saya begitu tergoda untuk bermain-main dengan keimanan. Aturannya gampang: cukup percayai sebuah konsep, lalu mulailah pencarian kebenaran konsep itu secara logis, dan kembali percaya pada konsep awal dengan pendekatan yang bertambah. Kalau jawaban logis tak didapat, kembali pasrah pada kepercayaan awal. Dosakah? Allahu ‘alam. Tetapi saya sadar penuh bahaya yang menyapa di balik permainan ini.
Saya paham bagaimana Dia berkehendak membolak-balikkan hati seorang hamba. Tidak ada yang dapat menjamin seorang ahli agama pagi ini akan tetap menjadi ahli agama di malam hari, dan sebaliknya. Kadang manusia merasa terlalu maha untuk menjadi takabur. Pada saat itu, konsep kebenaran yang seharusnya diyakini begitu saja akan tampak kabur dan selalu mengendapkan tumpukan pertanyaan.
*btw saya juga bingung mau ngasih gambar apa soal beginian. next time hunting foto dulu lah #sok2an
January 20, 2012
Para Pemula

“Saya mau menjilbabi hati saya dulu.”
Jawaban senada dalam komposisi kalimat berbeda sering saya temui saat bertanya soal komitmen menutup aurat pada sesama muslimah. Tidak ada penolakan dalam benak saya saat itu. Saya justru mempertanyakan kepribadian yang melekat pada banyak muslimah yang menutup kepalanya atas nama tren. Daripada kayak gitu, demikian mereka yang enggan menutup aurat kemudian berkilah.
Mereka yang menunda kewajiban aas nama persiapan kemudian menjadi lebih keren di mata saya. Saya pun merasa sangat berdosa telah membandingkan mereka yang secara akhlak jauh lebih baik tetapi terlihat buruk hanya karena mereka menunda penetapan salah satu kewajibannya. Lantas saya menyadari lubang besar dalam prinsip baru penerimaan ini.
Hal yang ditunda tersebut adalah kewajiban, dengan derajat pahala dan dosa yang senada dengan kewajiban-kewajiban lain dalam sistem keagamaan. Dan sekali lagi, berbincang mengenai sistem keagamaan berarti berbicara mengenai konsep utuh layaknya sebuah sistem yang sehat.
Tidak ada pembedaan kewajiban dalam sistem yang saya kenal ini. Konsep wajib, sunnah, mubah, dan haram yang saya dapatkan sejak pertama kali belajar agama pun masih belum berubah hingga detik ini. Sesuau yang dinamakan wajib akan menemui pahala saat dipenuhi dan menimba dosa saat dihindari, bahkan ditunda – karena itu berarti tidak ada pelaksanaan. Termasuk dalam hal yang menurut beberapa orang bisa ditunda ini, meskipun nyata ayatnya tercetak dalam kitab yang masih mereka percayai sebagai pedoman hidup.
“Saya nggak mungkin mikirin perubahan kalau saya belum mencoba berubah,” kata seseorang sangat mengejutkan. Dia baru saja menetapi kewajibannya sebagai muslimah.
Secara logika, pendapat ini sangat masuk akal. Kain penutup itu seharusnya menjaga sikap seseorang yang menggunakannya – jika benar dia memaknai pemakaiannya. Penjagaan itu berupa pikiran-pikiran penolakan saat pengguna hendak melakukan sesuatu yang bertentangan dengan aturan. Setipis apapun kain itu, sekecil apapun dia menutupi, setidaknya dia telah mencoba menutupi. Terlebih beberapa orang tergerak melakukan perubahan-perubahan besar setelah sebelumnya mengusahakan perubahan kecil. Maka saat hisab itu dimulai, dari mereka telah tercipta usaha bumi untuk penilaian langit.
Saya tentu tidak bermaksud mewarnai lukisan ‘mereka yang menunda’ dengan sepenuhnya warna-warna suram yang tidak menjual. Saya hanya ingin mengapresiasi mereka yang memulai. Para pioneer, sekecil apapun yang telah mereka usahakan, karena sejatinya mereka mencoba meniti jalan yang telah dicontohkan pemimpin mereka.
Ajaran wajib lain yang kini ke-wajib-annya mulai terbiaskan adalah perihal menyampaikan. Banyak yang beranggapan perbaikan diri sendiri menempati prioritas terdepan untuk dilaksanakan, tanpa perlu berpusing diri untuk perbaikan orang lain. Maka, konsep kebenaran dan kebaikan untuk diri sendiri kian populer dewasa ini. Jangan sok menasihati orang lain jika diri sendiri belum benar.
Jika Muhammad masih dipercaya sebagai pengemban risalah sekaligus contoh terbaik hingga saat ini, ada baiknya kitab sejarah putra Abdullah itu terbuka kembali pada halaman awal penerimaan wahyunya. Sebagai seorang yang buta aksara, akan banyak alasan untuk Muhammad tidak menyampaikan pesan Tuhan melalui Jibril tersebut. Dia tentu memilih untuk belajar membaca dan menulis terlebih dahulu hingga mahir untuk kemudian menyampaikan pesan besar yang dibebankan padanya. Tetapi kita semua tahu dia tidak memilih berhenti untuk belajar, melainkan belajar seraya menyampaikan pembelajaran.
Sampaikanlah, meskipun hanya satu ayat. Sepenting itu penyampaian kalimatNya hingga bahkan satu ayat pun memiliki hak untuk tersampaikan. Jika memang agama masih diyakini sebagai pedoman hidup yang ajarannya layak untuk disampaikan, maka sesulit apapun jalan ditempuh dan sehina apapun diri untuk menyampaikan, lakukanlah. Apa yang dibebankan pada lisan kita terlampau penting untuk sebuah penundaan. Bukan tidak mungkin agama ini berhenti pada usaha Jibril di Gua Hira jika Muhammad menunda – bahkan tidak melanjutkan – penyebaranya.
Tulisan ini dibuat bukan dalam rangka menolak ayat yang melarang penyampaian tanpa pelaksanaan. Karena penekanan kewaiban ini berada pada dua kata tersebut. Karena bahkan Muhammad menjadi teladan yang baik karena aplikasinya, bukan semata kata-katanya. Pun saya tidak berusaha munafik dengan menyegerakan siapapun memaksakan diri membumikan ayatNya meskipun separuh lebih isi bumi meragukan keimanannya.
Saya hanya ingin menghargai para pemula. Tentu mereka paham keberadaan Tuhan sebagai penjaga tunggal ajaran langit. Dalam kitab yang diyakini itu pun tertulis, dengan atau pun tanpa para pemula ini, Dia akan memenangkan ajaran langit. Namun, manusia menetapi hakikatnya untuk memperjuangkan apa yang mereka yakini dan cintai. Pada titik ini, perbedaan orang sukses dan gagal nyata terurai. Mereka yang sukses merencanakan dan bergerak meskipun satu langkah kecil. Mereka yang gagal sibuk merencanakan langkah-langkah besar tanpa pernah benar-benar melangkah.
Saat hati dan lisan meyakini ajaran ini tetapi langkah terhenti untuk berbagi, rasanya bukan sebuah dosa untuk bertanya pada hati: apakah saya benar-benar meyakininya?
koran dan kain

Suatu hari seorang teman memasang status di akun jejaring sosialnya: menulis adalah dakwahku. Beberapa komentar datang menyemangati niatan teman tersebut dalam rangka berdakwah melalui pena, sebelum satu kalimat muncul: dakwah tidak sekedar kata!
Woles. Jujur saya berulangkali menahan nafas demi menyelesaikan tulisan ini. Saya adalah golongan pengguna tinta sebagai senjata. Saat kawan saya dilempari komentar seperti itu sudah sewajarnya saya bereaksi sebagai sesama penggerak pena. Menurut komentator itu, berdakwah bukan sekedar kata atau tulisan, tapi tindak nyata atau perbuatan. Baik, anggaplah tulisan ini adalah counter proposal kami sebagai pejuang tinta.
Sampaikanlah, walau satu ayat. Rasanya tidak ada spesifikasi media khusus untuk digunakan dalam penyampaian ayat tersebut. Penyampai risalah saya begitu bijak dengan tidak mempermasalahkan jalan apa dan melalui apa kau sampai pada tujuan yang diajarkannya. Dia tidak banyak berkotbah melainkan bekerja sebagai teladan. Keterbukaan beliau pula yang memungkinkan lahirnya para ilmuwan dan sastrawan Islam masa itu. Jika kita digariskan meniti jalan sejarah yang sama dengannya, alangkah indahnya jika pengetahuan kita akan perintah ‘membaca dan menulis’ sebagai dasar pendidikan dalam Islam kembali kita ingat.
Bukankah sebuah pisau yang berlumuran darah tidak dapat serta merta dinyatakan berdosa? Alasan sampai darah itu membasahi pisau lah yang seharusnya kita pelajari. Bukan ketajaman pisau itu.
Bukankah dikatakan banyak jalan menuju Roma? Kita bahkan mengenal beberapa tempat pemberangkatan menuju Baitullah dalam ibadah haji. Bukankah perbedaan adalah sunatullah? Kita diberi banyak pilihan jalan bukan untuk saling berperang dan tercerai berai melainkan untuk mempelajari makna persaudaran. Sepertinya pengertian ukhuwah islamiyah kita benar-benar telah menyempit pada batas pintu organisasi. Semua di luar rumahmu adalah salah adanya. Kau lah yang terbenar. Lantas di mana letak kebenaran langit saat semua penduduk bumi saling meneriakkan kebenaran masing-masing?
Perbedaan cara memperkaya solusi, bukan mengoleksi masalah. Jika Umar ra adalah sosok petarung sejati sementara Abu Bakar ra adalah penasihat sejati dan Ali ra adalah ilmuwan sejati, haruskah perbedaan minat itu terpukul rata atas nama persatuan Islam? Dengan perspektif berbeda dalam payung tujuan yang sama, Rasul tentu bahagia memiliki banyak warna dalam kepemimpinannya. Bukan persamaan yang menguatkan persatuan. Perbedaan yang memahami dan meyakini lah yang menjaga persatuan. Bukankah telah nyata Dia ciptakan pelangi sebagai ayatNya?
Kita seringkali terjebak dalam fanatisme berbahaya yang melahirkan anggapan kebenaran mutlak berada di tangan mereka para ikhwah. Saat Muhammad dikenal sebagai pebisnis handal dan para ikhwah meniti jalan keberhasilan yang sama, parameter kesuksesan syar’I pun beralih menjadi mereka yang pandai berbisnis ala Rasul. Jika saat itu Muhammad bukanlah seorang ummi melainkan penulis nasihat bijak terbaik sepanjang masa, akankah parameter kesuksesan syar’I beralih?
Perang ego antarrumah seperti ini tidak akan memenangkan rumah-rumah dengan pemahaman tertinggi maupun penghuni terbanyak. Para penonton yang tidak menghuni rumah manapun yang akan berkuasa sebagai pemenang. Mendirikan apartemen-apartemen mewah di atas reruntuhan rumah, iman, ideologi, dan ukhuwah. Para outsider lah yang akan menang di atas perang keluarga ini.
Jika tujuan perjalanan keluarga ini adalah rumah orang tua kita, lantas kenapa sesama saudara tak henti kita bertikai? Fokus kita telah berubah, orientasi kita telah dibiaskan. Segenap prasangka dan senjata mengarah pada saudara-saudara kita. Hanya karena mereka tidak lahir dan hidup di bawah atap yang sama dengan kita. Sesubur apapun halaman mereka, tanah gersang kita lah yang terbaik. Sekuat apapun bangunan mereka, tembok keropos kita tetap yang terhebat. Pada akhirnya, sekali lagi, para kontraktor apartemen itu lah yang akan tertawa senang paska-hujan deras merobohkan perumahan keluarga kita.
Ada yang menggunakan koran basah untuk membersihkan jendela. Ada yang menggunakan kain basah untuk membersihkannya. Koran dan kain, manakah yang terbaik saat kita dapati kedua jendela sama-sama bersih?
Ada yang menggunakan lisan untuk menyampaikan. Ada yang menggunakan tulisan untuk menyampaikan. Saat kedua pesan sama-sama tersampaikan, manakah yang lebih baik?
Rumah orang tua kita semakin dekat sementara perang saudara masih terasa dingin. Kita tidak akan sampai kecuali pembunuhan saudara terjadi. Satu keluarga sebagai pemenang dan para kontraktor tersenyum bangga. Atau kita mencoba terbuka pada persaudaraan besar ini dan menjadi orang tua yang lebih demokratis untuk membiarkan koran dan kain bekerja beriringan.
Buku yang Berbeda

“Kenapa harus lalat?” tanya seorang mahasiswa pada suatu siang dalam sebuah diskusi di kelas sastra. Saat itu kelas sedang mendiskusikan bagaimana plot berkontribusi dalam penentuan kualitas sebuah karya sastra. Pertanyaan-pertanyaan lain kemudian menyusul: kenapa tidak lebah? Bukankah lebah lebih bermanfaat bagi manusia?
Dalam hitungan menit, kualitas diskusi di kelas tersebut meluncur tajam, dan dapat dipastikan tidak adanya titik temu sebagai acuan diskusi. Mahasiswa tersebut lalu ditugaskan menulis paper tentang analisis lalat dan lebah dalam kepantasannya sebagai karakter yang dimunculkan dalam cerpen The Fly karya Katherine Mansfield. Tentu saja penugasan tersebut lebih bermaksud untuk mengakhiri perdebatan beda pendekatan itu.
Konsep obrolan tidak menyenangkan di atas semakin terasa mewarnai kehidupan saat ini. Kehadirannya serupa bunglon yang menyatu dengan warna yang ditempatinya. Begitu lembut hingga eksistensi dan serangannya tidak terdeteksi. Berbagai ragam komunikasi jenis ini perlahan mengikis nilai persatuan (unity) dan toleransi atas nama kebebasan dan demokrasi. Hal ini akan mencapai titik bahaya puncak saat hasil komunikasi justru menjauhkan simbol dari esensi, mengaburkan pemahaman, mengacaukan konsep dasar, bahkan memecah belah umat dalam batas yang kadang tak terjamah. Ironisnya, bentuk komunikasi berupa perdebatan beda pendekatan ini tidak jarang terjadi dalam ranah wacana religiusitas.
Beberapa waktu lalu sempat populer tayangan debat tanpa payung bahasan yang jelas dengan perbedaan pendekatan yang digunakan. Jadilah acara tersebut kacau oleh teriakan dalam nada bermuatan emosoi dari para narasumber yang notabene para public figure, bahkan tokoh keagamaan itu. Tak sedikit penonton yang juga merupakan pendukung masing-masing kelompok kemudian terseret arus kemarahan yang hanya akan teredam setelah pembawa acara membunyikan lonceng saktinya.
Kemampuan berkomunikasi dalam nada tinggi dan gestur penyalur emosi juga terlihat cukup jelas pada rapat-rapat pemakan anggaran akbar yang diadakan di gedung hijau Senayan. Seringkali perdebatan yang berakhir dengan aksi gebrak dan banting tersebut disebabkan perbedaan pendekatan maupun dusut pandang yang digunakan bersamaan dalam menyelesaikan suatu masalah.
Saat para ulama dengan berbagai pendekatan berdebat tentang penetapan Idul Fitri pada waktu bersamaan untuk kemudian menyatukan begitu saja bagaimana Idul Adha ditetapkan, adalah masyarakat awam sebagai korbannya. Perdebatan-perdebatan tak berujung mengenai tokoh-tokoh keagamaan paling berpengaruh dan terpercaya hingga pertanyaan saling menjatuhkan mengenai kebenaran dan kesesatan suatu ajaran justru semakin menambah nominal spasi antargolongan di dalam kelompok besar ini.
“Hindarilah perdebatan sekalipun engkau tahu kebenaran menyertaimu,” sabda Rasulullah. Dengan pemahaman pada konsep awal perdebatan seperti ini, kondisi ideal yang kemudian diharapkan hadir adalah kedamaian tanpa perdebatan. Damai bukan berarti tanpa berpikir, tanpa menganalisa. Karena pengikut tanpa ilmu tidak pernah dikisahkan dalam daftar cerita teladan. Kondisi di mana adanya pemikiran dan pertanyaan yang kemudian membawa kita pada pemahaman beralasan lah yang kemudian menjadikan otak dan hati kita sehat. Pemikiran untuk jiwa.
Namun bentuk kesehatan otak tersebut yang pada kondisi ideal tidak tertuang dalam gestur dan kalimat penuh emosi dengan visi dan misi penghancuran. Berdebat, terlebih dengan pendekatan yang samasekali tidak sama. Saat memecahkan masalah, akan lebih baik jika masing-masing kepala yang berada di ruang tersebut memiliki tiap pemikiran dan sudut pandang berbeda sebagai perwakilan pribadi mereka. Demi menghasilkan rumusan terbaik pemecahan masalah, sistem seperti ini tentu menjadi alternatif paling ideal sekaligus sulit untuk diterapkan: memiliki beberapa gagasan cemerlang sekaligus untuk penyelesaian satu masalah. Tetapi keberadaan gagasan-gagasan tersebut menjadi salah dalam waktu kelahirannya di dalam forum.
Saat kelompok mendiskusikan pengaruh buruk tayangan televisi bagi tumbuh kembang anak, sangat tidak tepat jika anggota forum mengusulkan pelarangan internet bagi anak dengan setumpuk analisis lanjutan. Kedua hal tersebut berada pada payung argumen yang sama, yakni pengaruh negatif teknologi terhadap tumbuh kembang anak. Namun penjelasan keburukan internet di saat pembahasan pengaruh tayangan televisi lah yang menjadikan perdebatan dalam perbedaan pendekatan terjadi.
Perkembangan perdebatan seperti ini yang kemudian menjadi tersangka bayangan atas perpecahan umat yang belakangan ini semakin dimaklumi di atas sunatullah. Namun, jika Allah telah menetapkan kematian seseorang sebagai rahasia yang pasti, akankah manusia tak merugi akan membiarkan hidupnya berakhir di meja judi dengan bersahabat dengan alkohol?
Mengijinkan diri membuat perubahan dengan meminimalisasi keadaan buruk bukan merupakan suatu aib. Saat ketetapan untuk membagi umat besar ini menjadi kelompok-kelompok kecil pengusung masing-masing kebenaran yang dinilaikan dalam ajaran mereka, berusaha mengurangi percikan-percikan yang akan semakin membakar jarak antargolongan masih menjadi tindakan mulia untuk dilakukan.
Jangan berdebat mengenai Saman dengan seseorang yang membaca Ayat-Ayat Cinta. Ini bukan mengenai usaha mendiskreditkan golongan tertentu, melainkan pencarian titik tolak dalam perjalanan diskusi. Saat forum berusaha mendiskusikan value (nilai moral) mana yang terbaik antara novel komunis dan atheis, relativitas menjadi mutlak di atas segalanya. Terlebih saat tiba-tiba seseorang memasukkan analisis penokohan dan setting sebagai bahan kajian pembanding pada waktu bersamaan. Memikirkan banyak hal secara bersamaan memang baik, tetapi menuangkannya dengan bersamaan bukanlah tindakan bijak.
nomaden

“Kenapa Anda Islam?”
Saat saya berusaha menutup celah pemikiran dengan berkata bahwa keislaman saya semata-mata karena takdir dan keturunan, saya tahu ada lubang besar di hati saya. Islam kemudian hanyalah menjadi sebuah kebenaran yang kebetulan bagi saya, bukan sesuatu yang dengan sadar saya peroleh dan perjuangkan. Bahkan jika kemudian pengetahuan keagamaan saya dibandingkan dengan para mualaf Amerika, bukan tidak mungkin angka yang lebih kecil menjadi milik saya dalam skala perbandingan kami.
Ada perasaan lega mendapati fakta bahwa saya terlahir dari keluarga penganut ajaran ini. Bukan karena mayoritas selalu ‘berkuasa’, tetapi setidaknya saya tidak perlu berpusing ria untuk mencari. Cukup mendalaminya jika berminat, pikir saya. Tetapi kemudian ada banyak alasan untuk tidak melakukan pendalaman itu, karena pada awalnya saya tidak pernah benar-benar meyakini kebenaran ajaran ini sebagai sesuatu yang mutlak.
Meyakini sesuatu yang tidak disampaikan secara langsung oleh perintis keyakinan tentu tidak mudah bagi saya. Seperti halnya meyakini sejarah di mana kita tidak terlibat di dalamnya, sementara kita tahu terkadang kepentingan golongan memegang peran dalam penyusunan cerita. Jika saya hidup di zaman nabi tentu akan berbeda keadaannya. Saya yang melihat aplikasi ajaran mulia pada sosoknya tentu tidak akan ragu akan keberadaan manusia pilihan. Tetapi bukan tidak mungkin saya justru takut untuk mengenal ajarannya, mengingat konsekuensi berat yang akan langsung mengakhiri kehidupan saya jika identitas muslim saya terungkap saat itu.
Tetapi pada kenyataannya, kita mempercayai ajaran, bukan penyampai ajaran. Saat seorang pemabuk mengatakan minuman keras dilarang dalam agama, terlepas dari keberadaannya sebagai pengingkaran, kita percaya bahwa segala sesuatu yang memabukkan dan mengantar kita pada maksiat adalah haram. Jika saya memilih ajaran ini karena terlahir dari orang tua dengan pemahaman religius tinggi, saat kemudian Dia membalikkan hati mereka, akan sangat mudah bagi saya untuk mengikuti jejak mereka. “Mereka yang keren saja seperti itu.” Maka, keberadaan siapapun sebagai penyampai kebenaran tidak menjadi fokus utama saya. Kalaupun di kemudian hari ada pemikiran gila bahwa nabi SAW tidak pernah ada, saya tetap meyakini kekuatan superior sebagai Pencipta saya dan nabi SAW pernah, masih, dan selalu ada. Sayangnya, selama ini saya terlalu nyaman dalam limpahan kebaikan ajaran ini, tanpa pernah mempertanyakan kenapa Dia menempatkan saya di koridor keyakinan ini. Apalagi untuk memikirkan ajaran lain.
Lingkungan yang kemudian memperluas pandangan saya. Bahwa ternyata memilih keyakinan menjadi opsi yang sangat terbuka dariNya, bahkan untuk tidak memillih. Rasanya sangat tidak pantas memandang rendah ajaran lain sementara saya tidak dapat menjelaskan alasan saya berdiri di jalur ini. Mereka yang kemudian memilih untuk tidak terikat mungkin masih menjadi nomaden dalam perjalanan batin mereka. Itu lebih baik, bagi saya, daripada tidak pernah memilih atau memikirkan pilihanNya.
Bagaimana jika saya tidak terlahir dari keluarga Islam? Akankah saya percaya pada jalan ini sebagai suatu kebenaran dan berminat mempelajarinya?
Saya bersyukur atas fitrah kebaikan ini. Tetapi sebagai nomaden keyakinan yang hanya berpindah dalam hati, saya akan merasa bersalah untuk begitu saja meyakini fitrah ini tanpa pernah mengetahui sebabnya. Perihal eksistensi Tuhan, saya menempatkan kenyataan kebutuhan atas kekuatan superior Pencipta sebagai dasar keyakinan. Kalau pun dalam perkembangannya banyak pihak yang menyebut kekuatan superior itu sebagai tuhan atau dewa dalam berbagai penamaan, fakta bahwa eksistensi kekuatan superior itu ada adalah yang terpenting.
Dapatkah kau melihat Tuhan? Tidak. Lantas, bagaimana kau yakin Dia benar-benar ada?
Saya percaya bahwa sesuatu tidak harus terlihat untuk menjadi ada. Sesuatu dianggap ada karena eksistensi ketiadaan. Maka, sesungguhnya ketiadaan itu telah ada bersamaan dengan konsep keberadaan. Saya tidak dapat melihat kesedihan sekalipun saya dapat menyaksikan air mata. Tetapi kita semua tahu bahwa air mata adalah partikel kesedihan, bukan kesedihan itu sendiri. Tetapi saya meyakini keberadaan kesedihan sebagai rasa yang menggerakkan. Jika saya harus menunggu Tuhan turun dari langit demi menampakkan sosokNya pada manusia peragu, rasanya saya sudah menyia-nyiakan otak dan hakikat manusia sebagai pemikir.
Jika keberadaan semesta diyakini sebagai sesuatu yang tercipta begitu saja, lantas anggapan mereka yang meyakini bahwa kesuksesan dicapai berdasar usaha dan bukan rencana Tuhan, menjadi tidak valid pada saat yang sama. Jika kehidupan manusia diyakini sebagai sesuatu yang dapat mereka atur sendiri, tentu kesepakatan sistem pengatur kehidupan telah kita dapatkan. Sesuatu terjadi bukan karena kebetulan atau terjadi begitu saja. Ada perencana dan pencipta di balik semua sistem kehidupan, terlebih semesta yang sangat rumit.
Para nomaden keyakinan itu, pada dasarnya memiliki kesepakatan akan adanya kekuatan superior di atas mereka. Tempat mereka meminta, sekalipun dalam pemikiran tak tersampaikan dan dalam ketidaksadaran yang terabaikan. Entah mengapa saya belum mengerti alasan mereka yang tidak mengakui kekuatan itu. Jika dulu saya sempat meragukan keberadaanNya, ada saat-saat yang kemudian mengharuskan saya secara naluriah untuk memohon. Bukan pada manusia. Tetapi pada sesuatu di luar sistem tubuh saya, yang saya yakini lebih kuat dari saya. Kalaupun sebagai nomaden saya berpindah dari sistem satu ke sistem yang lain, itu adalah proses panjang pencarian saya menuju cahayaNya. Masalahnya, para nomaden masih sering ditolak dalam dunia ‘kebenaran’.
“Kau cukup ceritakan ajaranmu padaku. Ajaranmu saja, tanpa membandingkannya dengan ajaran lain. Apalagi merendahkan. Biarkan Dia yang menuntunku untuk memilih. Dan terima kasih atas ilmunya, apapun yang akan menjadi pilihanku kemudian.”
Indah sekali jika keterbukaan seperti itu hadir dalam atmosfir kehidupan.
Bukankah tak perlu ada rahasia untuk kebaikan? Jika kita meyakini sesuatu sebagai kebenaran Tuhan, tentu tak perlu ragu mewarnai ajarannya dengan ketakutan kita. Selalu ada cara langit untuk melindungi pemikiran langit. Dia melindungi kita, bukan meminta kita untuk melindungiNya. Saat kemuliaan cahaya menjadi otoritas penuhnya, tugas kita hanyalah menceritakan peta. Bukan menentukan arah perpindahan.
Kotak Amal

“Tetanggaku murtad sekeluarga.”
Saya cukup shock mendengar penuturan itu di awal bulan unggulan umat Islam ini, meskipun alasan perpindahan itu sudah mulai terpetakan dalam benak saya : masalah ekonomi.
Memang miris, tapi begitulah kenyataannya. Banyak saudara kita yang ‘terpaksa’ menggadaikan keyakinan mereka demi kehidupan yang lebih layak di mata masyarakat. Mengunggulkan penilaian bumi di atas mulianya stigma manusia langit.
“Jadi orang jangan idealis. Realistis lah, Bung!” banyak kawan saya berkomentar santai menghadapi fenomena degradasi idealisme seperti ini. Pembenaran atas perpindahan keyakinan dengan latar belakang keterpaksaan menjadi pilihan yang cukup populer belakangan ini. Tentu saja, saya tidak akan terlalu banyak ‘berkomentar’ jika perpindahan tersebut dikarenakan perenungan panjang mereka tentang Tuhan –apapun hasilnya, saya percaya Dia memegang kendali penuh atas cahaya hidayahNya. Tetapi saat kondisi ekonomi menjadi penentu ideologi, terlebih kaitannya merujuk pada jaringan sistem agama tertentu, rasanya uang benar-benar memiliki hak suara lebih.
Jika dunia terlanjur menempatkan mayoritas umat Islam pada tangga bawah perekonomiannya, saya tidak akan repot berteriak menolak pernyataan tersebut, meskipun saya percaya paradoks besar menjadi latar belakang statistik ini. Banyak kaum muslim yang hidup jauh dari standar cukup mayoritas, sementara tidak sedikit pula kelompok dari umat ini menjadi saudagar di atas jalur bisnis yang diteladankan Rasul mereka. Faktanya, kondisi kesuksesan umat beda generasi ini membawa dampak berbeda pula pada tiap masanya. Pada zaman nabi dan khalifah penerusnya, sulit bagi para pemimpin untuk meneruskan infaq dari umatnya karena sistem dan kesadaran masyarakat yang tinggi telah mencukupi kebutuhan mereka. Kondisi ideal yang sangat sulit ditemukan saat ini.
Rasanya sangat tidak bijak dalam kemungkinan untuk membandingkan sistem dan pemerintahan dulu dan sekarang. Tetapi jika masyarakat Islam yang islami masih menjadi harapan ideal ideologi ini, penghancuran ‘kotak amal’ menjadi sangat urgen.
Saya tidak menyangsikan kebaikan hati mereka yang baik untuk menginfakkan harta mereka di jalanNya. Jumlah mereka tentu tidak sedikit dalam kawasan sebar yang juga bukan tidak luas. Mereka banyak dan ada di mana-mana. Lantas, ke mana kah aliran pemakmur umat itu mengalir selama ini? Bukan saya ingin berburuk sangka, tetapi sepertinya fenomena (peng)kotak(an) amal saat ini masih sangat terasa. Labelisasi pada tiap kotak kaca antargolongan itu menjadi semakin tebal dan membentangkan jarak yang nyata. Kau tentu cenderung membantu seseorang yang berada di jalan yang sama denganmu, kan? Lebih cenderung lagi saat orang itu memiliki tujuan yang sama denganmu, dan berjalan dalam barisan yang sama denganmu. Brotherhood kita telah menyempit, ukhuwah islamiyah menjadi khusus bagi mereka yang berdiri di atas aqidah yang sama.

Islam itu rahmatan lil alamin, bukan rahmatan lil umat.
Saya selalu ingin meneriakkan hal itu pada mereka yang memiliki kecenderungan peng-kotak-an amal. Bukankah Muhammad sebagai contoh utama telah nyata memberikan teladan kebaikan? Dia berbuat baik pada semua makhluk, sekalipun ludah dan kotoran hewan didaratkan di kepalanya. Tentu saja daftar kebaikan tersebut wajib terlaksana dalam koridor hubungan antarmakhluk. Bukankah membantu kesulitan ekonomi saudara seiman sangat dicontohkan uswatun hasanah itu? Bukankah kebaikan ini masih dalam koridor muamalah? Ini bukan pencampuran aqidah seperti yang selalu ditakutkan dalam bahasa penolakan mereka.
Saat degradasi ideologi semakin menggerogoti pilar kemegahan ‘keyakinan mayoritas’ umat Islam, akankah kita tetap bangga dengan perlombaan antargolongan? Menjadi berbeda dalam kotak keyakinan yang berbeda telah menjadi sunatullah ajaran ini. Tetapi bukankah tujuan semua kotak ini sama?
Saya lalu berandai-andai –hal yang menyedihkan dan harus tetap ada dalam perencanaan masa depan. Seandainya umat ini tidak terlalu memilih dan berpikir terlalu lama untuk mengulurkan tangan mereka, mungkin keyakinan keluarga itu tidak akan berpindah. Jika semua umat tidak terkurung dalam ekslusivitas kotak amal dan merelakan tiap kehadiran saudara yang membutuhkan untuk pergi membawa sebagian hak mereka, tanpa peduli golongan mereka, mungkin akan lebih banyak keluarga lain terselamatkan. Bukankah kemanusiaan sudah menjadi isu yang sangat universal? Keberadaannya bahkan menjadi komoditas terlaris dalam transaksi kebaikan global. Jika umat ini masih (cukup) bangga dengan banyaknya jiwa penganut pada statistik kartu identitas, rasanya tidak berlebihan untuk menghitung mundur kehancuran bangunan besar ini.
Membanding-bandingkan diri dengan orang lain bukanlah pilihan bijak untuk menjadi lebih baik, tetapi saat cara itu dinilai cukup baik di atas urgensi, sudah saatnya umat ini menjadi besar. Tidak hanya dalam skala kuantitas. Peningkatan kualitas kebaikan lintas umat menjadi mutlak untuk menyembuhkan mereka yang dinilai semakin terpuruk dalam degradasi keyakinan.
Jika Islam masih diyakini sebagai rahmatan lil alamin, akankah kita terus merawat amal dalam kotak kita demi kebanggan intern rahmatan lil umat?
Kompetisi Putih
Sungguh, penilaian manusia sangat berbahaya.
Fastabiqul khoirot. Berlomba-lomba dalam kebaikan. Awal bulan ini saya sering membaca kalimat itu, sebelum gemanya terus terulang di otak. Bukan untuk segera menyusun berbagai cara untuk memenangkannya, karena saya selalu takut untuk itu. Dan menjadi semakin takut di bulan kompetisi kebaikan ini.
Saya selalu ingin disibukkan di jalan Tuhan, mengisi kegiatan dengan kepadatan beraroma syar’i. Keinginan yang (masih) belum terlaksana. Melihat orang-orang itu begitu sibuk dengan setumpuk tugas keagamaan di pundak mereka justru membuat saya menjadi takut untuk menjadi seperti mereka.
Jujur, sebenarnya saya sungguh ingin seperti mereka yang sibuk dalam kehidupan religius, yang pasti bernilai baik di mata manusia. Saya sangat ingin disibukkan olehNya, tapi saya selalu berhenti pada keinginan. Setiap kali kaki ini melangkah, selalu ada suara dalam hati saya yang mempertanyakan keinginan itu:
“Kau ingin sibuk atau terlihat sibuk?”
Saya selalu mencerna kalimat itu berulang kali, menghabiskan menit-menit dalam pertimbangan.
“Saya ingin bermanfaat bagi agama saya!” teriak sisi lain hati saya. Tapi, bagaimana dengan penilaian orang lain? Akankah mereka berpikiran sama denganmu?
Pada akhirnya, saya kalah. Saya takut “terlihat baik” di mata orang lain. Ketakutan yang semakin menjadi itu melumpuhkan langkah saya pada setiap agenda berjenis perlombaan dalam kebaikan. Bukan berarti kemudian saya mantap melangkahkan kaki dalam setiap perlombaan keburukan –dalam standar yang diciptakan mayoritas, tentunya.
Saya benar-benar takut menjadi baik dan terlihat baik. Jika “jam terbang tinggi” menjadi parameter kebaikan seseorang, saya memilih untuk tidak terbang agar tidak terlihat. Saya bahkan pernah berpikir tentang hukum kekekalan amanah : “amanah tidak dapat diminta dan tidak dapat dipindah-tangankan (begitu saja).”
Maka, jika pada awalnya tugas tersebut bukanlah untuk saya, saya tidak akan memintanya. Bahkan untuk sekedar berbasa-basi menanyakan perkembangannya. Bagi saya, jika Dia menginginkan hal itu untuk saya, Dia akan memberikannya pada saya pada awal keberadaannya.
Ketakutan untuk terlihat tidak hanya berlaku dalam hal tugas keagamaan. Saya merasakan depresi luar biasa di bulan kompetisi ini. Menyadari tumpukan dosa yang semakin mencuat dari kotak hati saya membuat saya selalu ingin memaksimalkan kesempatan ini untuk mengumpulkan voucher discount dosa di kehidupan yang akan datang.
Opotunis kah? Toh, tidak ada salahnya memanfaatkan kesempatan untuk kebaikan, pikir saya. Tetapi, tentu saja saya tidak seberani itu untuk melakukannya. Memanfaatkan tiap detik dalam peribadatan untukNya. Selalu saja, rasa takut ini membunuh saya. Mulut saya terlalu berat untuk melafalkan ayatNya saat ada manusia lain di sekitar saya –yang kalaupun saya melakukan perbuatan berpahala itu, tidak akan ambil pusing. Kaki saya terlalu berat menambah kegiatan extraordinary lain saat ada nafas dari hidung lain berhembus di sekitar saya –yang bahkan mereka pun melakukan kegiatan-kegiatan extraordinary itu.
Tapi, itu dulu…
Lantas, saya mulai berpikir, mengenang semua alasan itu. Saya lalu teringat perkataan guru saya, “Alasan hanyalah pembenaran dari kemalasan!” Saya pun –dengan berat hati- mengakui bahwa semua paragraf di atas hanyalah pembenaran dari kemalasan saya untuk sibuk di jalan Tuhan.
Jika hati saya benar-benar bertekad untuk menjadi pelayan Tuhan yang baik, sesering apapun lisan berucap “Jangan!” tidak akan menghentikan langkah untuk bertindak.
Niat adalah amalan hati, yang tidak akan mampu seorang manusia pun untuk menilainya. Jika saya begitu yakin bahwa semua perbuatan itu saya tujukan untukNya dan bukan untuk penilaian makhlukNya, sangat konyol jika kemudian saya berhenti berbuat karena takut pada penilaian manusia.
Tugas saya hanyalah melakukan ajaranNya, bukan memikirkan (dengan sangat) bagaimana orang lain akan menilai perbuatan saya. Kalau pun pada akhirnya mereka menilai perbuatan saya sebagai kebaikan tulus atau sekedar aksi cari muka, bukanlah wewenang saya untuk berpusing atas tanggapan itu.
Apa yang Tuhan pikirkan atas saya lah, yang seharusnya menjadi fokus saya. Tujuan saya adalah ketenangan batin saat bisa melaksanakan ajaran yang saya yakini. Dia adalah titik merah panah saya. Dia adalah juri tunggal perlombaan ini. Bukan makhlukNya.
Mengingat nasihat seorang teman, “Jangan terlalu sibuk memikirkan apa yang harus dilakukan, sampai-sampai tidak melakukan apapun.”
Mari berlomba-lomba dalam kebaikan!
(awal ramadhan, 2011)
Fastabiqul khoirot. Berlomba-lomba dalam kebaikan. Awal bulan ini saya sering membaca kalimat itu, sebelum gemanya terus terulang di otak. Bukan untuk segera menyusun berbagai cara untuk memenangkannya, karena saya selalu takut untuk itu. Dan menjadi semakin takut di bulan kompetisi kebaikan ini.
Saya selalu ingin disibukkan di jalan Tuhan, mengisi kegiatan dengan kepadatan beraroma syar’i. Keinginan yang (masih) belum terlaksana. Melihat orang-orang itu begitu sibuk dengan setumpuk tugas keagamaan di pundak mereka justru membuat saya menjadi takut untuk menjadi seperti mereka.
Jujur, sebenarnya saya sungguh ingin seperti mereka yang sibuk dalam kehidupan religius, yang pasti bernilai baik di mata manusia. Saya sangat ingin disibukkan olehNya, tapi saya selalu berhenti pada keinginan. Setiap kali kaki ini melangkah, selalu ada suara dalam hati saya yang mempertanyakan keinginan itu:
“Kau ingin sibuk atau terlihat sibuk?”
Saya selalu mencerna kalimat itu berulang kali, menghabiskan menit-menit dalam pertimbangan.
“Saya ingin bermanfaat bagi agama saya!” teriak sisi lain hati saya. Tapi, bagaimana dengan penilaian orang lain? Akankah mereka berpikiran sama denganmu?
Pada akhirnya, saya kalah. Saya takut “terlihat baik” di mata orang lain. Ketakutan yang semakin menjadi itu melumpuhkan langkah saya pada setiap agenda berjenis perlombaan dalam kebaikan. Bukan berarti kemudian saya mantap melangkahkan kaki dalam setiap perlombaan keburukan –dalam standar yang diciptakan mayoritas, tentunya.
Saya benar-benar takut menjadi baik dan terlihat baik. Jika “jam terbang tinggi” menjadi parameter kebaikan seseorang, saya memilih untuk tidak terbang agar tidak terlihat. Saya bahkan pernah berpikir tentang hukum kekekalan amanah : “amanah tidak dapat diminta dan tidak dapat dipindah-tangankan (begitu saja).”
Maka, jika pada awalnya tugas tersebut bukanlah untuk saya, saya tidak akan memintanya. Bahkan untuk sekedar berbasa-basi menanyakan perkembangannya. Bagi saya, jika Dia menginginkan hal itu untuk saya, Dia akan memberikannya pada saya pada awal keberadaannya.
Ketakutan untuk terlihat tidak hanya berlaku dalam hal tugas keagamaan. Saya merasakan depresi luar biasa di bulan kompetisi ini. Menyadari tumpukan dosa yang semakin mencuat dari kotak hati saya membuat saya selalu ingin memaksimalkan kesempatan ini untuk mengumpulkan voucher discount dosa di kehidupan yang akan datang.
Opotunis kah? Toh, tidak ada salahnya memanfaatkan kesempatan untuk kebaikan, pikir saya. Tetapi, tentu saja saya tidak seberani itu untuk melakukannya. Memanfaatkan tiap detik dalam peribadatan untukNya. Selalu saja, rasa takut ini membunuh saya. Mulut saya terlalu berat untuk melafalkan ayatNya saat ada manusia lain di sekitar saya –yang kalaupun saya melakukan perbuatan berpahala itu, tidak akan ambil pusing. Kaki saya terlalu berat menambah kegiatan extraordinary lain saat ada nafas dari hidung lain berhembus di sekitar saya –yang bahkan mereka pun melakukan kegiatan-kegiatan extraordinary itu.
Tapi, itu dulu…
Lantas, saya mulai berpikir, mengenang semua alasan itu. Saya lalu teringat perkataan guru saya, “Alasan hanyalah pembenaran dari kemalasan!” Saya pun –dengan berat hati- mengakui bahwa semua paragraf di atas hanyalah pembenaran dari kemalasan saya untuk sibuk di jalan Tuhan.
Jika hati saya benar-benar bertekad untuk menjadi pelayan Tuhan yang baik, sesering apapun lisan berucap “Jangan!” tidak akan menghentikan langkah untuk bertindak.
Niat adalah amalan hati, yang tidak akan mampu seorang manusia pun untuk menilainya. Jika saya begitu yakin bahwa semua perbuatan itu saya tujukan untukNya dan bukan untuk penilaian makhlukNya, sangat konyol jika kemudian saya berhenti berbuat karena takut pada penilaian manusia.
Tugas saya hanyalah melakukan ajaranNya, bukan memikirkan (dengan sangat) bagaimana orang lain akan menilai perbuatan saya. Kalau pun pada akhirnya mereka menilai perbuatan saya sebagai kebaikan tulus atau sekedar aksi cari muka, bukanlah wewenang saya untuk berpusing atas tanggapan itu.
Apa yang Tuhan pikirkan atas saya lah, yang seharusnya menjadi fokus saya. Tujuan saya adalah ketenangan batin saat bisa melaksanakan ajaran yang saya yakini. Dia adalah titik merah panah saya. Dia adalah juri tunggal perlombaan ini. Bukan makhlukNya.
Mengingat nasihat seorang teman, “Jangan terlalu sibuk memikirkan apa yang harus dilakukan, sampai-sampai tidak melakukan apapun.”
Mari berlomba-lomba dalam kebaikan!
(awal ramadhan, 2011)
Gamelan Padang Pasir
Akhir-akhir ini sebuah bisikan terdengar lebih keras di otak saya: “Apakah Islam (memang) seperti ini?”
Anggota komunitas pasti ingin menjadi refleksi komunitas mereka, dengan selalu menyertakan identitas dalam kata dan perbuatan mereka. Begitulah yang saya lihat dari mayoritas mahasiswa yang bergerak di bidang organisasi, termasuk gerakan keagamaan. Mereka (kebetulan saya mengamati mereka yang beridentitas sama dengan saya) selalu menambahkan istilah bahasa Arab dalam ucapan mereka. Bahkan kemudian terbentuk stigma bahwa semakin tinggi tingkatan seseorang, akan semakin banyak istilah “keagamaan” disertakan dalam kalimat mereka. Apakah ini Islamisasi, atau Arabisasi?
Sebagian besar mereka (mungkin) memandang rendah saya yang menyukai irama dalam harmoni yang tidak mereka sukai. Saya pernah mendengar mereka menyebut rangkaian melodi itu sebagai “musik setan” karena diciptakan oleh mereka yang berada di “jalan yang salah”. Tidak seperti apa yang selalu mereka dengarkan, alunan syahdu penuh kelembutan dalam nada-nada yang tidak saya sukai. Menurut saya, ini tentang selera. Toh apresiasi saya tidak terlepas dari bagaimana saya merasa dan mendengar kalimat dalam nada-nada itu, bukan sekedar tampilan fisik dalam video menyegarkan dari boyband Korea.
Bagaimana seseorang menggunakan dan berpikir dengan musik lah yang menjadi fokus saya. Gambus dan kesenian padang pasir lainnya (masih) belum sesuai dengan telinga dan otak saya. Mungkin mereka akan mempertajam tatapan mereka saat saya berteriak frustasi untuk mendengarkan punk rock daripada nasyid. I swear. Sejauh ini saya lebih banyak terinspirasi dari nada-nada seperti itu, lantas salahkah saya? Untuk menjadi totalitas, haruskah saya mencintai alunan padang pasir? Apakah ini Islamisasi, atau Arabisasi?
Dalam taraf lain mereka bahkan mengatakan kebudayaan sebagai salah satu jalan menuju penggandaan keyakinan. Ini gila, pikir saya. Meskipun saya bukan budayawan ataupun penikmat budaya yang menilai karya dalam bahasa langit, saya cukup menyukai budaya yang saya kenal. Saya hidup di Jawa dengan setumpuk kebudayaan di sekitar saya. Sementara saya –dalam kewajaran seorang hamba- menginkan kedekatan tertentu dengan Tuhan, beberapa sisi dalam ajaran saya menilai budaya sebagai bahaya. “Ada lorong-lorong yang justru menjauhkanmu dari rumah Tuhan jika kau terlalu lama mendekam dalam gelapnya,” kata mereka.
Kebudayaan lahir dari pembiasaan pikiran yang tervisualisasi dalam kata dan perbuatan, begitu yang saya pelajari dalam Sosiologi. Untuk merubah peradaban sebuah masyarakat, pembiasaan dalam pemikiran-pemikiran baru mutlak menjadi suatu keniscayaan. Lantas, saat saya ingin menyeluruh dalam mendekati Tuhan di jalan yang telah Dia pilihkan, saya sadar akan sebuah kewajiban membumikan budaya baru itu. Tapi, apakah sesuatu yang baru itu benar-benar merupakan unsur dari inti totalitas yang saya inginkan? Ataukah hanya karena lokasi keberadaan yang sama menjadikan sesuatu mutlak menjadi bagian sebuah sistem? Bukankah seorang pembantu rumah tangga, setinggi apapun kebaikan majikannya, tidak akan pernah bisa tercatat sebagai bagian keluarga inti majikannya begitu saja, hanya karena mereka hidup di bawah atap yang sama?
Di akhir semua kekesalan dengan sapaan dan perbincangan yang penuh dengan kosakata “keagamaan” diiringi hiburan “keagamaan” bersama mereka yang dianggap mewakili aura dan kharisma “keagamaan”, bisikan di dalam otak saya justru semakin sering terdengar. Sebagai remaja yang labil, saya menjadi lebih berhati-hati dalam menyaring semua cairan itu.
Mereka berkata, “Inilah Islam.” Tapi, sekali lagi, bisikan itu terdengar, “Apakah Islam (memang) seperti ini?” Jika agama ini pertama kali diturunkan di tanah Jawa, akankah mereka kemudian berlomba-lomba mencipta nada lewat gamelan seperti para penyampai terdahulu? Ataukah mereka akan menggunakan keseluruhan krama inggil dalam sapa dan kata mereka? Lantas, akankah ini menjadi Islamisasi, atau Jawaisasi?
Anggota komunitas pasti ingin menjadi refleksi komunitas mereka, dengan selalu menyertakan identitas dalam kata dan perbuatan mereka. Begitulah yang saya lihat dari mayoritas mahasiswa yang bergerak di bidang organisasi, termasuk gerakan keagamaan. Mereka (kebetulan saya mengamati mereka yang beridentitas sama dengan saya) selalu menambahkan istilah bahasa Arab dalam ucapan mereka. Bahkan kemudian terbentuk stigma bahwa semakin tinggi tingkatan seseorang, akan semakin banyak istilah “keagamaan” disertakan dalam kalimat mereka. Apakah ini Islamisasi, atau Arabisasi?
Sebagian besar mereka (mungkin) memandang rendah saya yang menyukai irama dalam harmoni yang tidak mereka sukai. Saya pernah mendengar mereka menyebut rangkaian melodi itu sebagai “musik setan” karena diciptakan oleh mereka yang berada di “jalan yang salah”. Tidak seperti apa yang selalu mereka dengarkan, alunan syahdu penuh kelembutan dalam nada-nada yang tidak saya sukai. Menurut saya, ini tentang selera. Toh apresiasi saya tidak terlepas dari bagaimana saya merasa dan mendengar kalimat dalam nada-nada itu, bukan sekedar tampilan fisik dalam video menyegarkan dari boyband Korea.
Bagaimana seseorang menggunakan dan berpikir dengan musik lah yang menjadi fokus saya. Gambus dan kesenian padang pasir lainnya (masih) belum sesuai dengan telinga dan otak saya. Mungkin mereka akan mempertajam tatapan mereka saat saya berteriak frustasi untuk mendengarkan punk rock daripada nasyid. I swear. Sejauh ini saya lebih banyak terinspirasi dari nada-nada seperti itu, lantas salahkah saya? Untuk menjadi totalitas, haruskah saya mencintai alunan padang pasir? Apakah ini Islamisasi, atau Arabisasi?
Dalam taraf lain mereka bahkan mengatakan kebudayaan sebagai salah satu jalan menuju penggandaan keyakinan. Ini gila, pikir saya. Meskipun saya bukan budayawan ataupun penikmat budaya yang menilai karya dalam bahasa langit, saya cukup menyukai budaya yang saya kenal. Saya hidup di Jawa dengan setumpuk kebudayaan di sekitar saya. Sementara saya –dalam kewajaran seorang hamba- menginkan kedekatan tertentu dengan Tuhan, beberapa sisi dalam ajaran saya menilai budaya sebagai bahaya. “Ada lorong-lorong yang justru menjauhkanmu dari rumah Tuhan jika kau terlalu lama mendekam dalam gelapnya,” kata mereka.
Kebudayaan lahir dari pembiasaan pikiran yang tervisualisasi dalam kata dan perbuatan, begitu yang saya pelajari dalam Sosiologi. Untuk merubah peradaban sebuah masyarakat, pembiasaan dalam pemikiran-pemikiran baru mutlak menjadi suatu keniscayaan. Lantas, saat saya ingin menyeluruh dalam mendekati Tuhan di jalan yang telah Dia pilihkan, saya sadar akan sebuah kewajiban membumikan budaya baru itu. Tapi, apakah sesuatu yang baru itu benar-benar merupakan unsur dari inti totalitas yang saya inginkan? Ataukah hanya karena lokasi keberadaan yang sama menjadikan sesuatu mutlak menjadi bagian sebuah sistem? Bukankah seorang pembantu rumah tangga, setinggi apapun kebaikan majikannya, tidak akan pernah bisa tercatat sebagai bagian keluarga inti majikannya begitu saja, hanya karena mereka hidup di bawah atap yang sama?
Di akhir semua kekesalan dengan sapaan dan perbincangan yang penuh dengan kosakata “keagamaan” diiringi hiburan “keagamaan” bersama mereka yang dianggap mewakili aura dan kharisma “keagamaan”, bisikan di dalam otak saya justru semakin sering terdengar. Sebagai remaja yang labil, saya menjadi lebih berhati-hati dalam menyaring semua cairan itu.
Mereka berkata, “Inilah Islam.” Tapi, sekali lagi, bisikan itu terdengar, “Apakah Islam (memang) seperti ini?” Jika agama ini pertama kali diturunkan di tanah Jawa, akankah mereka kemudian berlomba-lomba mencipta nada lewat gamelan seperti para penyampai terdahulu? Ataukah mereka akan menggunakan keseluruhan krama inggil dalam sapa dan kata mereka? Lantas, akankah ini menjadi Islamisasi, atau Jawaisasi?
Menyapa Kebebasan
Setahu saya, bebas ya bebas. Tanpa batas, tanpa aturan. Saat kemudian ada tanda bintang yang mengisyaratkan “syarat dan ketentuan berlaku”, esensi bebas tak lagi ada. Lahirlah sesuatu yang mereka sebut kebebasan bersyarat.
Tulisan ini tentu tidak akan mengupas liberalisme pada titik pokok kebebasannya. Hanya dengan menyapa tentu tidak akan cukup untuk mengenal pribadi seseorang. Saya hanya ingin mengutarakan konsep kebebasan menurut pemahaman dan harapan saya. Subyektif, mungkin. Tapi inilah yang saya sebut “berbincang dengan bisikan”. Saya ingin menuliskan bisikan-bisikan yang menjadikan saya tetap manusia. Untuk tetap berpikir dan tidak serta merta menerima dogma.
Kata liberalisme dan definisinya sebagai suatu paham pertama kali saya baca saat SMP. Saat itu, beberapa tokoh dalam buku Pendidikan Kewarganegaraan menjelaskan liberalisme sebagai ideologi yang menjunjung kebebasan individu di atas segalanya, dengan memberi contoh Amerika Serikat sebagai negara penganuti ideologi itu.
Saat itu, sebagai remaja yang jauh lebih labil dari saat ini, saya mengiyakan penjelasan dari buku itu –dan buku-buku lain anjuran pemerintah. Kemudian saya teringat kondisi penganut ajaran minoritas di negeri itu. Mereka, seperti yang digambarkan media internasional, menemukan banyak hambatan dalam akses peribadatan mereka. Bahkan untuk merealisasikan eksistensi ajaran mereka dalam hal penampilan. Kaum mayor menolak mereka dengan jaket paranoid terhadap terorisme jihad –yang saya ragu mereka benar-benar paham tentang itu. Lantas, apakah permainan hak mayoritas dan minoritas masih berlaku dalam kebebasan liberalisme?
Setahu saya, kebebasan menjunjung hak tiap individu, siapa pun itu. Tidak ada prinsip “suara terbanyak lah yang menang” karena ini bukan demokrasi –yang bahkan mempersilahkan kaum minor bersuara. Sekecil apapun kelompok itu dan selemah apapun pengaruh mereka dalam konstruksi masyarakat, kebebasan memberi tempat mereka untuk hidup dengan menjabarkan keyakinan mereka dalam langkah di atas tanah. Bukan dengan hidup bersembunyi atas nama ideologi yang dianggap mati.
Saya lalu ragu dengan penetapan Amerika sebagai negara yang menjunjung tinggi hak tiap individu. Tidak ada kebebasan untuk berkeyakinan yang bisa saya yakini dari fakta yang ada. Dalam skala dunia, ketiadaan kebebasan itu juga saya rasakan. Bahkan, di tanah tempat saya berdiri saat ini.
Mereka berkata pada saya, “kebebasan beragama telah diatur dalam pasal dan ayat.” Faktanya, berapa jumlah keyakinan yang kemudian diyakini dan diterima mayoritas kita? Bagi saya, keyakinan –apapun bentuknya- adalah perniagaan ekslusif antara saya dan apa yang saya yakini. Tidak ada yang bisa –dalam jangkauan hak dan kemampuan- menentukan kebenaran absolut atas keyakinan seseorang.
Manusia berdebat bahkan berperang tentang sesuatu bernama keyakinan. Mencoba meletakkan kebenaran dengan skala ciptaan manusia. Berprasangka dan bebas bermain kata tentang kesesatan suatu ajaran. Lantas, saya berpikir : siapakah kita? Seberapa hebat dan muliakah manusia untuk menilai kebenaran suatu ajaran? Bukankah kebenaran dan keyakinan merupakan abstrak yang relatif?
Seorang teman pernah berkomentar, “Dia memiliki segalanya. Ketampanan, kecerdasan, kekayaan, kebahagiaan. Sayang, dia seorang muslim.” Tentu saja saya hanya diam dalam ekspresi yang dia pahami sebagai penolakan statement. Ketika manusia terbagi dalam keyakinan masing-masing, bukan porsi mereka sebagai makhluk untuk saling menilai. Jika seorang teman memilih untuk meyakini Budha sementara teman yang lain lebih nyaman dengan ajaran Kristus, bukan kewajiban saya untuk menilai kebenaran jalan mereka. Bahkan jika mereka kemudian memilih untuk tidak memilih ajaran apapun.
Saat ada perbincangan yang berakhir pada perpindahan keyakinan, saya percaya pada kuasa penuhNya untuk melakukan itu. Bukan karena siapa mempercayai apa lantas saya “terpengaruh” mengikutinya. Sekuat apapun seseorang mempengaruhi orang lain untuk percaya pada sesuatu yang ia yakini sebagai kebenaran, saat “sesuatu” itu tidak berkeinginan pada keinginan orang itu, saya percaya pada kenihilan sebagai hasilnya. Inilah konsep kebebasan yang ingin saya yakini : untuk tidak sok tahu dengan pilihan orang lain. Bukankah Tuhan memperkenalkan kebebasan dengan pintu fleksibel dalam berbagai jalan menuju rumahNya?
Tulisan ini tentu tidak akan mengupas liberalisme pada titik pokok kebebasannya. Hanya dengan menyapa tentu tidak akan cukup untuk mengenal pribadi seseorang. Saya hanya ingin mengutarakan konsep kebebasan menurut pemahaman dan harapan saya. Subyektif, mungkin. Tapi inilah yang saya sebut “berbincang dengan bisikan”. Saya ingin menuliskan bisikan-bisikan yang menjadikan saya tetap manusia. Untuk tetap berpikir dan tidak serta merta menerima dogma.
Kata liberalisme dan definisinya sebagai suatu paham pertama kali saya baca saat SMP. Saat itu, beberapa tokoh dalam buku Pendidikan Kewarganegaraan menjelaskan liberalisme sebagai ideologi yang menjunjung kebebasan individu di atas segalanya, dengan memberi contoh Amerika Serikat sebagai negara penganuti ideologi itu.
Saat itu, sebagai remaja yang jauh lebih labil dari saat ini, saya mengiyakan penjelasan dari buku itu –dan buku-buku lain anjuran pemerintah. Kemudian saya teringat kondisi penganut ajaran minoritas di negeri itu. Mereka, seperti yang digambarkan media internasional, menemukan banyak hambatan dalam akses peribadatan mereka. Bahkan untuk merealisasikan eksistensi ajaran mereka dalam hal penampilan. Kaum mayor menolak mereka dengan jaket paranoid terhadap terorisme jihad –yang saya ragu mereka benar-benar paham tentang itu. Lantas, apakah permainan hak mayoritas dan minoritas masih berlaku dalam kebebasan liberalisme?
Setahu saya, kebebasan menjunjung hak tiap individu, siapa pun itu. Tidak ada prinsip “suara terbanyak lah yang menang” karena ini bukan demokrasi –yang bahkan mempersilahkan kaum minor bersuara. Sekecil apapun kelompok itu dan selemah apapun pengaruh mereka dalam konstruksi masyarakat, kebebasan memberi tempat mereka untuk hidup dengan menjabarkan keyakinan mereka dalam langkah di atas tanah. Bukan dengan hidup bersembunyi atas nama ideologi yang dianggap mati.
Saya lalu ragu dengan penetapan Amerika sebagai negara yang menjunjung tinggi hak tiap individu. Tidak ada kebebasan untuk berkeyakinan yang bisa saya yakini dari fakta yang ada. Dalam skala dunia, ketiadaan kebebasan itu juga saya rasakan. Bahkan, di tanah tempat saya berdiri saat ini.
Mereka berkata pada saya, “kebebasan beragama telah diatur dalam pasal dan ayat.” Faktanya, berapa jumlah keyakinan yang kemudian diyakini dan diterima mayoritas kita? Bagi saya, keyakinan –apapun bentuknya- adalah perniagaan ekslusif antara saya dan apa yang saya yakini. Tidak ada yang bisa –dalam jangkauan hak dan kemampuan- menentukan kebenaran absolut atas keyakinan seseorang.
Manusia berdebat bahkan berperang tentang sesuatu bernama keyakinan. Mencoba meletakkan kebenaran dengan skala ciptaan manusia. Berprasangka dan bebas bermain kata tentang kesesatan suatu ajaran. Lantas, saya berpikir : siapakah kita? Seberapa hebat dan muliakah manusia untuk menilai kebenaran suatu ajaran? Bukankah kebenaran dan keyakinan merupakan abstrak yang relatif?
Seorang teman pernah berkomentar, “Dia memiliki segalanya. Ketampanan, kecerdasan, kekayaan, kebahagiaan. Sayang, dia seorang muslim.” Tentu saja saya hanya diam dalam ekspresi yang dia pahami sebagai penolakan statement. Ketika manusia terbagi dalam keyakinan masing-masing, bukan porsi mereka sebagai makhluk untuk saling menilai. Jika seorang teman memilih untuk meyakini Budha sementara teman yang lain lebih nyaman dengan ajaran Kristus, bukan kewajiban saya untuk menilai kebenaran jalan mereka. Bahkan jika mereka kemudian memilih untuk tidak memilih ajaran apapun.
Saat ada perbincangan yang berakhir pada perpindahan keyakinan, saya percaya pada kuasa penuhNya untuk melakukan itu. Bukan karena siapa mempercayai apa lantas saya “terpengaruh” mengikutinya. Sekuat apapun seseorang mempengaruhi orang lain untuk percaya pada sesuatu yang ia yakini sebagai kebenaran, saat “sesuatu” itu tidak berkeinginan pada keinginan orang itu, saya percaya pada kenihilan sebagai hasilnya. Inilah konsep kebebasan yang ingin saya yakini : untuk tidak sok tahu dengan pilihan orang lain. Bukankah Tuhan memperkenalkan kebebasan dengan pintu fleksibel dalam berbagai jalan menuju rumahNya?
an introduction
Para pembaca TEMPO pasti sudah akrab dengan caping (catatan pinggir) Goenawan Mohamad, tulisan yang pada awalnya dibuat untuk mengisi halaman kosong di majalah TEMPO. Sebuah pelengkap yang menurut saya sangat kuat. Saat ada yang berkata “Saya hanya pelengkap,” saat itu lah dia telah lupa bahwa sebuah sistem membutuhkan kelengkapan. Begitulah kemudian, saya selalu merasa tidak lengkap saat membaca majalah itu, sebelum menemukan (dan langsung menuntaskan) halaman pelengkap itu.
Terlalu jauh untuk membandingkan caping GM dengan capung saya. Capung atau catatan punggung ini bisa dikatakan sebagai jejak pemikiran saya sebagai remaja labil yang kata seorang teman “terkadang seperti cangkir menganga” –selalu menerima sesuatu begitu saja. Apa adanya, tanpa pernah mempertimbangkan negasi dengan berpikir ‘ada apanya’. Capung inilah yang kemudian menjadi tempat penuangan sementara saya untuk sedikit menelaah (dengan kapasitas remaja labil) cairan-cairan yang tertuang dalam cangkir saya sebelum kebekuan otak mengubah liquid itu menjadi solid tanpa endapan.
Kenapa punggung? To be honest, pada awalnya saya hanya bercanda mengenai penamaan catatan punggung. Tetapi punggung saya yang semakin bungkuk di usia muda ini yang kemudian menampar saya dengan sebuah (ehem) konsep. Punggung adalah penegak tubuh, dalam kondisi apapun. Keberadaannyalah yang kemudian memisahkan kepala dan kaki, menjadikan bawah dan atas nyata dalam batas.
Saat manusia merasa menderita dengan tumpukan beban, mereka menyebut bahu sebagai tempat penyangga derita. Meskipun pada kenyataannya, kapasitas beban itu akan tercermin pada kondisi punggung mereka. Berhubung saya bukan golongan pekerja fisik dengan beban luar biasa, saya kemudian meyakini bahwa bungkuk saya ini sebagai akibat beban perasaan (sebagai perempuan) dan pemikiran (sebagai remaja labil) yang tidak pernah saya sampaikan.
Ini adalah tulisan bebas. Maka kebebasan menjadi hak Anda untuk menilai catatan ini sebagai curahan hati remaja labil, pemberontak, liberalis, agamis, atau bahkan mungkin catatan galau, seperti tren saat ini. Bagi saya, kemerdekaan berkata masih ada di tangan manusia, meskipun otoritas penilaian tetap di tangan Tuhan. Thus, saya akan tetap menulis bisikan-bisikan pemikiran yang mengusik, dan biarkan Dia yang menilai dengan kewenangan seutuhnya.
Terlalu jauh untuk membandingkan caping GM dengan capung saya. Capung atau catatan punggung ini bisa dikatakan sebagai jejak pemikiran saya sebagai remaja labil yang kata seorang teman “terkadang seperti cangkir menganga” –selalu menerima sesuatu begitu saja. Apa adanya, tanpa pernah mempertimbangkan negasi dengan berpikir ‘ada apanya’. Capung inilah yang kemudian menjadi tempat penuangan sementara saya untuk sedikit menelaah (dengan kapasitas remaja labil) cairan-cairan yang tertuang dalam cangkir saya sebelum kebekuan otak mengubah liquid itu menjadi solid tanpa endapan.
Kenapa punggung? To be honest, pada awalnya saya hanya bercanda mengenai penamaan catatan punggung. Tetapi punggung saya yang semakin bungkuk di usia muda ini yang kemudian menampar saya dengan sebuah (ehem) konsep. Punggung adalah penegak tubuh, dalam kondisi apapun. Keberadaannyalah yang kemudian memisahkan kepala dan kaki, menjadikan bawah dan atas nyata dalam batas.
Saat manusia merasa menderita dengan tumpukan beban, mereka menyebut bahu sebagai tempat penyangga derita. Meskipun pada kenyataannya, kapasitas beban itu akan tercermin pada kondisi punggung mereka. Berhubung saya bukan golongan pekerja fisik dengan beban luar biasa, saya kemudian meyakini bahwa bungkuk saya ini sebagai akibat beban perasaan (sebagai perempuan) dan pemikiran (sebagai remaja labil) yang tidak pernah saya sampaikan.
Ini adalah tulisan bebas. Maka kebebasan menjadi hak Anda untuk menilai catatan ini sebagai curahan hati remaja labil, pemberontak, liberalis, agamis, atau bahkan mungkin catatan galau, seperti tren saat ini. Bagi saya, kemerdekaan berkata masih ada di tangan manusia, meskipun otoritas penilaian tetap di tangan Tuhan. Thus, saya akan tetap menulis bisikan-bisikan pemikiran yang mengusik, dan biarkan Dia yang menilai dengan kewenangan seutuhnya.
Subscribe to:
Posts (Atom)
