Takdir menetapkan kelahiranku pada keluarga yang mengesakan Allah dalam ajaran tauhidNya; menjadikanku terbiasa menjalankan titah tanpa banyak kata. Bagiku, tak ada yang lebih aman dan nyaman selain menjadi patuh. Patuh berarti bebas dari kemarahan dan hukuman. Diam, dengar, dan taat berarti kebebasan, begitu pikirku dulu. Konsep aneh tentang kebebasan yang kujalani selama lebih dari sepuluh tahun sejak perkenalanku dengan ilmu agama, sebelum kemudian lingkunganlah yang mengubahku.
Keikutsertaanku pada klub debat di SMA menuntutku berpikir ‘kritis’ atas semua permasalahan –yang sebenarnya tidak memiliki koneksi langsung denganku, dan komitmen untuk memaksimalkan otakku sepertinya menampakkan hasil. Aku, yang dengan semangat pencarian jati diri remaja tertarik mengikuti Kerohanian Islam, mulai mempertanyakan konsep ketuhanan secara totalitas –Islam kaffah, seperti yang selalu disebut dalam kajian Rohis kami.
Mengapa setiap muslimah harus memakai rok dan berjilbab besar? Toh, memakai celana panjang longgar dan berpakaian rapi tanpa mengundang syahwat lawan jenis sepertiku juga bukan tidak baik? Menngapa harus menunduk dan melembutkan suara saat berbicara? Sementara Khalifah Umar ra. tetap luarbiasa tanpa menjadi Abu Bakar ra. yang lemah lembut. Mengapa menatap tidak senang pada persahabatan orang lain yang begitu solid, dan mengatakan itu adalah kumpulan maksiat, sedang ukhuwah yang diagung-agungkan justru berantakan? Mengapa sibuk menasihati orang lain sementara diri sendiri banyak dosa? Para ikhwan dan akhwat itu pun terlihat hanya sebagai kumpulan orang sok suci yang ekslusif di mataku.
“Ideologi itu sistem. Kau tahu bagaimana system bekerja, kan? Totalitas, atau tidak samasekali,” seseorang mengingatkanku. Sisi pemberontak tanpa ilmu dalam diriku terus membantah selama pembicaraan itu. Agama itu tentang aku dan Tuhan, tanpa perlu melibatkan kalian atau mereka, pikirku. Dan sekarang, agama yang selama kehidupanku selalu ada di setiap lembar kartu identitas dan istilah-istilah yang kugunakan sebagai identitas, kini mulai menggangguku dengan meminta perhatian lebihku untuknya, tetapi pemikiran-pemikiran tanpa ilmuku tentangnya justru semakin membawaku pada pertanyaan tak terjawab yang lain. Aku semakin menolak konsep totalitas dalam beragama.
Pelajaran Kewarganegaraan –studi yang bagi sebagian orang merupakan akar sekulerisme- justru menamparku dari keraguan tanpa ilmu selama ini. Aku selalu bertanya untuk kembali bertanya, tanpa memahami setiap kata dan keadaan yang keluar sebagai jawaban. Aku tak pernah mau belajar, tetapi kemudian menolak segala konsep hanya karena tidak sesuai dengan ‘keyakinanku’ –jika masih bisa disebut keyakinan. Aku mengakui dan meyakini eksistensi Dzat penuh Maha di atas sana sebagai pencipta dan pengatur semesta, yang kepadaNya masih aku mengadu dan meminta, bahkan mencaci keadaan yang sebenarnya tercipta olehku. Dan keyakinan ini lah yang menamparku, sekali lagi menjatuhkan kesombongan seorang angkuh tak berilmu sepertiku.
Jika aku masih meyakini keesaan Tuhan yang bersemayam di Arsy, membaca firmanNya, memohon, mengadu, dan berterima kasih untuk setiap nafas yang Dia izinkan untukku hidup dengannya, Dia yang kuyakini sebagai penghidup yang mematikanku untuk kemudian membangkitkanku kembali pada kehidupan lain yang juga kuyakini –lantas apakah pantas jika kemudain aku berbalik mempertanyakan sistemNya, konsep hidup yang dikehendaki Dzat yang padaNya masih aku mengemis kasih di setiap detik kehidupanku? Rasanya aku tidak lebih dari seorang munafik. Mungkin, jenis sepertiku inilah yang sering tertulis dalam setiap firman peringatanNya.
Aku pasti sudah dicuci otak. kalau beragama jangan fanatik, yang biasa-biasa sajalah.. sekali lagi pikiranku terganggu dengan kalimat yang sengaja kuciptakan untuk kembali menolak konsep. Bukankah perbedaan fanatik dan totalitas sangat tipis? Dia meyuruh, bukan menyarankan, manusia untuk memasuki sistemNya secara keseluruhan melalui ayat ke dua ratus delapan dalam surat ke dua di kitabNya. Perintah yang begitu jelas tanpa analogi, yang anak kecilpun bisa menafsirkannya. Aku ingin masuk surga –tempat indah tak terdefinisi indera manusia yang kuyakini ada pada kehidupan selanjutnya, dan aku cukup sadar diri tifak dapat ke sana tanpa ‘sesuatu’. Sholat lima waktu yang tidak tepat waktu tanpa diiringi rowatibnya, sholat malam tidak bermutu penuh kantuk dengan muhasabah yang sering dipaksakan, puasa sunah dengan masih berprasangka, dan di atas semua itu – ketakutan atas penilaian orang lain, tentu menjadikanNya memiliki sangat banyak alasan untuk menolakku dari pintu surga terendahnya.
Bukankah Muhammad bin Abdullah, manusia pilihan yang kuyakini berfungsi sebagai pembawa risalah, juga tidak biasa-biasa saja dalam beribadah? Sisi pemberontak buta ilmu agama dalam diriku seketika bereaksi: sungguh tidak pantas membandingkan diri dengan Rasulullah. Lalu, pada siapa aku harus bercermin? Bukankah padanya lah terdapat teladan yang baik untuk semua umat? Aku memang tidak akan pernah bisa seperti sosok mulianya, tetapi aku sadar, dengan menjadi baik dan biasa saja belum bisa memenangkan surgaNya.
Selama ini aku mengaku diri Islam dalam lumpur kejahiliyahan, dengan menjalankan perintah yang kumaui dan menolak yang lain. Sepertinya Islam menjadi sangat mudah di jalanku: pilih ajaran yang sesuai dengan keinginanmu, lalu sampaikanlah pada penerima ajaran itu. Sesederhana itu kah? Rasanya berdosa sekali mengubah keagungan sebuah ideoloogi menjadi begitu remeh. Mengutip kalimat sakti ilmuwan penemu teori relativitas yang diagungkan: segala sesuatu harus dibuat sesederhana mungkin, tetapi tidak lebih sederhana; seperti mempersingkat perjalanan darat Jakarta-Surabaya dengan beralih dari jalur pegunungan ke dataran rendah, bukan mengubah jalur menjadi Jakarta-Bandung hanya agar lebih cepat mencapai tujuan. Jangan mempersulit hal mudah, tapi jangan menjadikannya sepele.
Beragama itu pilihan, seperti saat pertama kali aku dilahirkan dalam keadaan suci. Saat pada akhirnya aku memilih Islam sebagai jalan hidupku, aku tahu pasti konsekuensinya, dan itu sangat tidak sepele. Para ahli kitab yang dalam firmanNya dituliskan menyembunyikan kebenaran untuk menunda keislaman mereka, menurutku, karena mereka tahu pasti konsekuensi di balik ‘dua kalimat persaksian’. Bukan sekedar mengakui Allah dan RasulNya untuk kemudian kembali melakukan persaksian setelah bermaksiat.
Saat aku berkata, “Kan ku genggam hidayah ini erat-erat selamanya” bukan berarti seseorang telah memberi cahaya padaku. Aku meyakini hidayah sebagai pencerahan –cahaya matahari yang mengharuskan kita keluar gua untuk mendapatkannya, meskipun pada akhirnya Dia adalah penentu dari setiap ketentuan.
Ideologi itu jalan dan pandangan hidup, begitu penjelasan yang kupahami dari pelajaran Kewarganegaraan sejak SMP. Aku pernah menyangsikan keberadaan Tuhan, menolak sistemNya, dan begitu sombong seperti seorang atheis sok religius. Saat aku memutuskan untuk meyakininya, aku telah siap dan tahu pasti pilihannya: totalitas atau tidak sama sekali. Surga atau neraka, wallahu’alam.
Showing posts with label thinking. Show all posts
Showing posts with label thinking. Show all posts
April 9, 2013
January 20, 2012
koran dan kain

Suatu hari seorang teman memasang status di akun jejaring sosialnya: menulis adalah dakwahku. Beberapa komentar datang menyemangati niatan teman tersebut dalam rangka berdakwah melalui pena, sebelum satu kalimat muncul: dakwah tidak sekedar kata!
Woles. Jujur saya berulangkali menahan nafas demi menyelesaikan tulisan ini. Saya adalah golongan pengguna tinta sebagai senjata. Saat kawan saya dilempari komentar seperti itu sudah sewajarnya saya bereaksi sebagai sesama penggerak pena. Menurut komentator itu, berdakwah bukan sekedar kata atau tulisan, tapi tindak nyata atau perbuatan. Baik, anggaplah tulisan ini adalah counter proposal kami sebagai pejuang tinta.
Sampaikanlah, walau satu ayat. Rasanya tidak ada spesifikasi media khusus untuk digunakan dalam penyampaian ayat tersebut. Penyampai risalah saya begitu bijak dengan tidak mempermasalahkan jalan apa dan melalui apa kau sampai pada tujuan yang diajarkannya. Dia tidak banyak berkotbah melainkan bekerja sebagai teladan. Keterbukaan beliau pula yang memungkinkan lahirnya para ilmuwan dan sastrawan Islam masa itu. Jika kita digariskan meniti jalan sejarah yang sama dengannya, alangkah indahnya jika pengetahuan kita akan perintah ‘membaca dan menulis’ sebagai dasar pendidikan dalam Islam kembali kita ingat.
Bukankah sebuah pisau yang berlumuran darah tidak dapat serta merta dinyatakan berdosa? Alasan sampai darah itu membasahi pisau lah yang seharusnya kita pelajari. Bukan ketajaman pisau itu.
Bukankah dikatakan banyak jalan menuju Roma? Kita bahkan mengenal beberapa tempat pemberangkatan menuju Baitullah dalam ibadah haji. Bukankah perbedaan adalah sunatullah? Kita diberi banyak pilihan jalan bukan untuk saling berperang dan tercerai berai melainkan untuk mempelajari makna persaudaran. Sepertinya pengertian ukhuwah islamiyah kita benar-benar telah menyempit pada batas pintu organisasi. Semua di luar rumahmu adalah salah adanya. Kau lah yang terbenar. Lantas di mana letak kebenaran langit saat semua penduduk bumi saling meneriakkan kebenaran masing-masing?
Perbedaan cara memperkaya solusi, bukan mengoleksi masalah. Jika Umar ra adalah sosok petarung sejati sementara Abu Bakar ra adalah penasihat sejati dan Ali ra adalah ilmuwan sejati, haruskah perbedaan minat itu terpukul rata atas nama persatuan Islam? Dengan perspektif berbeda dalam payung tujuan yang sama, Rasul tentu bahagia memiliki banyak warna dalam kepemimpinannya. Bukan persamaan yang menguatkan persatuan. Perbedaan yang memahami dan meyakini lah yang menjaga persatuan. Bukankah telah nyata Dia ciptakan pelangi sebagai ayatNya?
Kita seringkali terjebak dalam fanatisme berbahaya yang melahirkan anggapan kebenaran mutlak berada di tangan mereka para ikhwah. Saat Muhammad dikenal sebagai pebisnis handal dan para ikhwah meniti jalan keberhasilan yang sama, parameter kesuksesan syar’I pun beralih menjadi mereka yang pandai berbisnis ala Rasul. Jika saat itu Muhammad bukanlah seorang ummi melainkan penulis nasihat bijak terbaik sepanjang masa, akankah parameter kesuksesan syar’I beralih?
Perang ego antarrumah seperti ini tidak akan memenangkan rumah-rumah dengan pemahaman tertinggi maupun penghuni terbanyak. Para penonton yang tidak menghuni rumah manapun yang akan berkuasa sebagai pemenang. Mendirikan apartemen-apartemen mewah di atas reruntuhan rumah, iman, ideologi, dan ukhuwah. Para outsider lah yang akan menang di atas perang keluarga ini.
Jika tujuan perjalanan keluarga ini adalah rumah orang tua kita, lantas kenapa sesama saudara tak henti kita bertikai? Fokus kita telah berubah, orientasi kita telah dibiaskan. Segenap prasangka dan senjata mengarah pada saudara-saudara kita. Hanya karena mereka tidak lahir dan hidup di bawah atap yang sama dengan kita. Sesubur apapun halaman mereka, tanah gersang kita lah yang terbaik. Sekuat apapun bangunan mereka, tembok keropos kita tetap yang terhebat. Pada akhirnya, sekali lagi, para kontraktor apartemen itu lah yang akan tertawa senang paska-hujan deras merobohkan perumahan keluarga kita.
Ada yang menggunakan koran basah untuk membersihkan jendela. Ada yang menggunakan kain basah untuk membersihkannya. Koran dan kain, manakah yang terbaik saat kita dapati kedua jendela sama-sama bersih?
Ada yang menggunakan lisan untuk menyampaikan. Ada yang menggunakan tulisan untuk menyampaikan. Saat kedua pesan sama-sama tersampaikan, manakah yang lebih baik?
Rumah orang tua kita semakin dekat sementara perang saudara masih terasa dingin. Kita tidak akan sampai kecuali pembunuhan saudara terjadi. Satu keluarga sebagai pemenang dan para kontraktor tersenyum bangga. Atau kita mencoba terbuka pada persaudaraan besar ini dan menjadi orang tua yang lebih demokratis untuk membiarkan koran dan kain bekerja beriringan.
nomaden

“Kenapa Anda Islam?”
Saat saya berusaha menutup celah pemikiran dengan berkata bahwa keislaman saya semata-mata karena takdir dan keturunan, saya tahu ada lubang besar di hati saya. Islam kemudian hanyalah menjadi sebuah kebenaran yang kebetulan bagi saya, bukan sesuatu yang dengan sadar saya peroleh dan perjuangkan. Bahkan jika kemudian pengetahuan keagamaan saya dibandingkan dengan para mualaf Amerika, bukan tidak mungkin angka yang lebih kecil menjadi milik saya dalam skala perbandingan kami.
Ada perasaan lega mendapati fakta bahwa saya terlahir dari keluarga penganut ajaran ini. Bukan karena mayoritas selalu ‘berkuasa’, tetapi setidaknya saya tidak perlu berpusing ria untuk mencari. Cukup mendalaminya jika berminat, pikir saya. Tetapi kemudian ada banyak alasan untuk tidak melakukan pendalaman itu, karena pada awalnya saya tidak pernah benar-benar meyakini kebenaran ajaran ini sebagai sesuatu yang mutlak.
Meyakini sesuatu yang tidak disampaikan secara langsung oleh perintis keyakinan tentu tidak mudah bagi saya. Seperti halnya meyakini sejarah di mana kita tidak terlibat di dalamnya, sementara kita tahu terkadang kepentingan golongan memegang peran dalam penyusunan cerita. Jika saya hidup di zaman nabi tentu akan berbeda keadaannya. Saya yang melihat aplikasi ajaran mulia pada sosoknya tentu tidak akan ragu akan keberadaan manusia pilihan. Tetapi bukan tidak mungkin saya justru takut untuk mengenal ajarannya, mengingat konsekuensi berat yang akan langsung mengakhiri kehidupan saya jika identitas muslim saya terungkap saat itu.
Tetapi pada kenyataannya, kita mempercayai ajaran, bukan penyampai ajaran. Saat seorang pemabuk mengatakan minuman keras dilarang dalam agama, terlepas dari keberadaannya sebagai pengingkaran, kita percaya bahwa segala sesuatu yang memabukkan dan mengantar kita pada maksiat adalah haram. Jika saya memilih ajaran ini karena terlahir dari orang tua dengan pemahaman religius tinggi, saat kemudian Dia membalikkan hati mereka, akan sangat mudah bagi saya untuk mengikuti jejak mereka. “Mereka yang keren saja seperti itu.” Maka, keberadaan siapapun sebagai penyampai kebenaran tidak menjadi fokus utama saya. Kalaupun di kemudian hari ada pemikiran gila bahwa nabi SAW tidak pernah ada, saya tetap meyakini kekuatan superior sebagai Pencipta saya dan nabi SAW pernah, masih, dan selalu ada. Sayangnya, selama ini saya terlalu nyaman dalam limpahan kebaikan ajaran ini, tanpa pernah mempertanyakan kenapa Dia menempatkan saya di koridor keyakinan ini. Apalagi untuk memikirkan ajaran lain.
Lingkungan yang kemudian memperluas pandangan saya. Bahwa ternyata memilih keyakinan menjadi opsi yang sangat terbuka dariNya, bahkan untuk tidak memillih. Rasanya sangat tidak pantas memandang rendah ajaran lain sementara saya tidak dapat menjelaskan alasan saya berdiri di jalur ini. Mereka yang kemudian memilih untuk tidak terikat mungkin masih menjadi nomaden dalam perjalanan batin mereka. Itu lebih baik, bagi saya, daripada tidak pernah memilih atau memikirkan pilihanNya.
Bagaimana jika saya tidak terlahir dari keluarga Islam? Akankah saya percaya pada jalan ini sebagai suatu kebenaran dan berminat mempelajarinya?
Saya bersyukur atas fitrah kebaikan ini. Tetapi sebagai nomaden keyakinan yang hanya berpindah dalam hati, saya akan merasa bersalah untuk begitu saja meyakini fitrah ini tanpa pernah mengetahui sebabnya. Perihal eksistensi Tuhan, saya menempatkan kenyataan kebutuhan atas kekuatan superior Pencipta sebagai dasar keyakinan. Kalau pun dalam perkembangannya banyak pihak yang menyebut kekuatan superior itu sebagai tuhan atau dewa dalam berbagai penamaan, fakta bahwa eksistensi kekuatan superior itu ada adalah yang terpenting.
Dapatkah kau melihat Tuhan? Tidak. Lantas, bagaimana kau yakin Dia benar-benar ada?
Saya percaya bahwa sesuatu tidak harus terlihat untuk menjadi ada. Sesuatu dianggap ada karena eksistensi ketiadaan. Maka, sesungguhnya ketiadaan itu telah ada bersamaan dengan konsep keberadaan. Saya tidak dapat melihat kesedihan sekalipun saya dapat menyaksikan air mata. Tetapi kita semua tahu bahwa air mata adalah partikel kesedihan, bukan kesedihan itu sendiri. Tetapi saya meyakini keberadaan kesedihan sebagai rasa yang menggerakkan. Jika saya harus menunggu Tuhan turun dari langit demi menampakkan sosokNya pada manusia peragu, rasanya saya sudah menyia-nyiakan otak dan hakikat manusia sebagai pemikir.
Jika keberadaan semesta diyakini sebagai sesuatu yang tercipta begitu saja, lantas anggapan mereka yang meyakini bahwa kesuksesan dicapai berdasar usaha dan bukan rencana Tuhan, menjadi tidak valid pada saat yang sama. Jika kehidupan manusia diyakini sebagai sesuatu yang dapat mereka atur sendiri, tentu kesepakatan sistem pengatur kehidupan telah kita dapatkan. Sesuatu terjadi bukan karena kebetulan atau terjadi begitu saja. Ada perencana dan pencipta di balik semua sistem kehidupan, terlebih semesta yang sangat rumit.
Para nomaden keyakinan itu, pada dasarnya memiliki kesepakatan akan adanya kekuatan superior di atas mereka. Tempat mereka meminta, sekalipun dalam pemikiran tak tersampaikan dan dalam ketidaksadaran yang terabaikan. Entah mengapa saya belum mengerti alasan mereka yang tidak mengakui kekuatan itu. Jika dulu saya sempat meragukan keberadaanNya, ada saat-saat yang kemudian mengharuskan saya secara naluriah untuk memohon. Bukan pada manusia. Tetapi pada sesuatu di luar sistem tubuh saya, yang saya yakini lebih kuat dari saya. Kalaupun sebagai nomaden saya berpindah dari sistem satu ke sistem yang lain, itu adalah proses panjang pencarian saya menuju cahayaNya. Masalahnya, para nomaden masih sering ditolak dalam dunia ‘kebenaran’.
“Kau cukup ceritakan ajaranmu padaku. Ajaranmu saja, tanpa membandingkannya dengan ajaran lain. Apalagi merendahkan. Biarkan Dia yang menuntunku untuk memilih. Dan terima kasih atas ilmunya, apapun yang akan menjadi pilihanku kemudian.”
Indah sekali jika keterbukaan seperti itu hadir dalam atmosfir kehidupan.
Bukankah tak perlu ada rahasia untuk kebaikan? Jika kita meyakini sesuatu sebagai kebenaran Tuhan, tentu tak perlu ragu mewarnai ajarannya dengan ketakutan kita. Selalu ada cara langit untuk melindungi pemikiran langit. Dia melindungi kita, bukan meminta kita untuk melindungiNya. Saat kemuliaan cahaya menjadi otoritas penuhnya, tugas kita hanyalah menceritakan peta. Bukan menentukan arah perpindahan.
Kotak Amal

“Tetanggaku murtad sekeluarga.”
Saya cukup shock mendengar penuturan itu di awal bulan unggulan umat Islam ini, meskipun alasan perpindahan itu sudah mulai terpetakan dalam benak saya : masalah ekonomi.
Memang miris, tapi begitulah kenyataannya. Banyak saudara kita yang ‘terpaksa’ menggadaikan keyakinan mereka demi kehidupan yang lebih layak di mata masyarakat. Mengunggulkan penilaian bumi di atas mulianya stigma manusia langit.
“Jadi orang jangan idealis. Realistis lah, Bung!” banyak kawan saya berkomentar santai menghadapi fenomena degradasi idealisme seperti ini. Pembenaran atas perpindahan keyakinan dengan latar belakang keterpaksaan menjadi pilihan yang cukup populer belakangan ini. Tentu saja, saya tidak akan terlalu banyak ‘berkomentar’ jika perpindahan tersebut dikarenakan perenungan panjang mereka tentang Tuhan –apapun hasilnya, saya percaya Dia memegang kendali penuh atas cahaya hidayahNya. Tetapi saat kondisi ekonomi menjadi penentu ideologi, terlebih kaitannya merujuk pada jaringan sistem agama tertentu, rasanya uang benar-benar memiliki hak suara lebih.
Jika dunia terlanjur menempatkan mayoritas umat Islam pada tangga bawah perekonomiannya, saya tidak akan repot berteriak menolak pernyataan tersebut, meskipun saya percaya paradoks besar menjadi latar belakang statistik ini. Banyak kaum muslim yang hidup jauh dari standar cukup mayoritas, sementara tidak sedikit pula kelompok dari umat ini menjadi saudagar di atas jalur bisnis yang diteladankan Rasul mereka. Faktanya, kondisi kesuksesan umat beda generasi ini membawa dampak berbeda pula pada tiap masanya. Pada zaman nabi dan khalifah penerusnya, sulit bagi para pemimpin untuk meneruskan infaq dari umatnya karena sistem dan kesadaran masyarakat yang tinggi telah mencukupi kebutuhan mereka. Kondisi ideal yang sangat sulit ditemukan saat ini.
Rasanya sangat tidak bijak dalam kemungkinan untuk membandingkan sistem dan pemerintahan dulu dan sekarang. Tetapi jika masyarakat Islam yang islami masih menjadi harapan ideal ideologi ini, penghancuran ‘kotak amal’ menjadi sangat urgen.
Saya tidak menyangsikan kebaikan hati mereka yang baik untuk menginfakkan harta mereka di jalanNya. Jumlah mereka tentu tidak sedikit dalam kawasan sebar yang juga bukan tidak luas. Mereka banyak dan ada di mana-mana. Lantas, ke mana kah aliran pemakmur umat itu mengalir selama ini? Bukan saya ingin berburuk sangka, tetapi sepertinya fenomena (peng)kotak(an) amal saat ini masih sangat terasa. Labelisasi pada tiap kotak kaca antargolongan itu menjadi semakin tebal dan membentangkan jarak yang nyata. Kau tentu cenderung membantu seseorang yang berada di jalan yang sama denganmu, kan? Lebih cenderung lagi saat orang itu memiliki tujuan yang sama denganmu, dan berjalan dalam barisan yang sama denganmu. Brotherhood kita telah menyempit, ukhuwah islamiyah menjadi khusus bagi mereka yang berdiri di atas aqidah yang sama.

Islam itu rahmatan lil alamin, bukan rahmatan lil umat.
Saya selalu ingin meneriakkan hal itu pada mereka yang memiliki kecenderungan peng-kotak-an amal. Bukankah Muhammad sebagai contoh utama telah nyata memberikan teladan kebaikan? Dia berbuat baik pada semua makhluk, sekalipun ludah dan kotoran hewan didaratkan di kepalanya. Tentu saja daftar kebaikan tersebut wajib terlaksana dalam koridor hubungan antarmakhluk. Bukankah membantu kesulitan ekonomi saudara seiman sangat dicontohkan uswatun hasanah itu? Bukankah kebaikan ini masih dalam koridor muamalah? Ini bukan pencampuran aqidah seperti yang selalu ditakutkan dalam bahasa penolakan mereka.
Saat degradasi ideologi semakin menggerogoti pilar kemegahan ‘keyakinan mayoritas’ umat Islam, akankah kita tetap bangga dengan perlombaan antargolongan? Menjadi berbeda dalam kotak keyakinan yang berbeda telah menjadi sunatullah ajaran ini. Tetapi bukankah tujuan semua kotak ini sama?
Saya lalu berandai-andai –hal yang menyedihkan dan harus tetap ada dalam perencanaan masa depan. Seandainya umat ini tidak terlalu memilih dan berpikir terlalu lama untuk mengulurkan tangan mereka, mungkin keyakinan keluarga itu tidak akan berpindah. Jika semua umat tidak terkurung dalam ekslusivitas kotak amal dan merelakan tiap kehadiran saudara yang membutuhkan untuk pergi membawa sebagian hak mereka, tanpa peduli golongan mereka, mungkin akan lebih banyak keluarga lain terselamatkan. Bukankah kemanusiaan sudah menjadi isu yang sangat universal? Keberadaannya bahkan menjadi komoditas terlaris dalam transaksi kebaikan global. Jika umat ini masih (cukup) bangga dengan banyaknya jiwa penganut pada statistik kartu identitas, rasanya tidak berlebihan untuk menghitung mundur kehancuran bangunan besar ini.
Membanding-bandingkan diri dengan orang lain bukanlah pilihan bijak untuk menjadi lebih baik, tetapi saat cara itu dinilai cukup baik di atas urgensi, sudah saatnya umat ini menjadi besar. Tidak hanya dalam skala kuantitas. Peningkatan kualitas kebaikan lintas umat menjadi mutlak untuk menyembuhkan mereka yang dinilai semakin terpuruk dalam degradasi keyakinan.
Jika Islam masih diyakini sebagai rahmatan lil alamin, akankah kita terus merawat amal dalam kotak kita demi kebanggan intern rahmatan lil umat?
Hi, Dad
So cold here
How’s there?
-Dear Father, Sum41-
(remember the one burnt in the earth)
Ada saatnya ketika saya benar-benar ingin sendiri. Lebih dari sekedar keinginan untuk menyendiri mencari inspirasi atau melarikan diri dari hiruk pikuk duniawi.
Saya butuh kesendirian itu, untuk sebuah masa bernama penantian.
Kelak, suatu saat nanti saya akan benar-benar sendiri dalam kesendirian. Setelah dipendam, dibakar, atau bahkan tanpa semua upacara itu (semoga tidak).
Saya baru saja menyelesaikan sahur sebelum menyadari suhu pagi ini rendah sekali. Tidak ada angin, tapi hawa kedinginanan menyesapi tiap pori dengan sempurna. Bisa-bisa saya diare jika tetap terjaga.
Dua lembar selimut telah membungkus tubuh saya. Masih dingin. Bibir saya hampir menggerutu sebelum bayangan itu memenuhi otak saya. Gundukan tanah di atas bukit yang beberapa hari lalu saya kunjungi dalam senyap membatin permohonan.
Makam ayah.
Mungkin terlalu menyedihkan untuk (baru) menyadari makna kematian di usia setua ini. Rasanya teori keagamaan yang sering saya dengar di beberapa kajian baru meresapi hati dan otak saat saya merasakan sendiri keadaan itu.
Payah memang, tapi faktanya saya baru benar-benar akan memahami alasan Dia memerintahkan “Sabar” dalam tiap firmanNya saat saya mendapat sebuah kondisi untuk bersabar.
Rencana Tuhan pasti indah. Seperti melihat keruwetan proses menyulam dari sisi bawah dan mengagumi hasilnya dari sisi atas. Saya bersyukur untuk kehilangan yang saya alami saat ini.
Mungkin saya akan tertawa tanpa beban jika Dia mengambil ayah saya saat saya masih balita. Mungkin saya akan tenggelam dalam air mata penyesalan dan kehilangan jika Dia mengambil ayah saya sat saya masih belajar di sekolah menengah. Bahkan mungkin tanpa pengetahuan tentang mortalisme dari sudut pandang keagamaan, saya akan berbalik membenci Tuhan dalam cacian tak putus: Mengapa saya? Mengapa ayah? Mengapa sekarang? Dan seterusnya.
Tapi saya tahu, teori kematian tidak seperti itu. Semua adalah milikNya dan akan kembali padaNya. Perpisahan yang mungkin menjadikan dunia menangis bisa jadi merupakan pertemuan yang dinanti. Untuk bertemu Sang Kekasih, begitu kata mereka.
Pemahaman saya tentu belum mencapai titik kedamaian seperti itu. Setahu saya, pertemuan itu masih lama. Ada beberapa gerbang yang harus dibuka untuk menuju istanaNya, dan itu tidak mudah. Membuat saya sedih sekaligus takut –alasan mengapa air masih mengalir mengiring tiap permohonan.
Agama yang saya yakini mengajarkan adanya proses panjang menuju hari penghitungan. Sebelum masa di mana semua manusia dikumpulkan, ada masa yang mengharuskan saya menunggu. Sendiri, dalam kesendirian.
Dalam liang yang menyatukan saya dengan bumi itu, bagaimanakah kondisi saya nanti? Akankah tempat itu dingin, gelap, dan sempit? Ataukah hangat, luas, dan bercahaya? Bahkan ilmuwan terbaik pun tidak akan kuasa mencipta riset tentang kehidupan setelah kehidupan. Life afterlife.
Saya mempercayai fleksibilitas dalam hidup. Air mengalir, roda berputar, tangga kehidupan. Apapun konsepnya, saya meyakini keabadian perubahan sebagai keniscayaan. Tidak selamanya saya menjadi baik, sebagaimana kejahatan saya tidak akan abadi.
Ada hal-hal yang secara sadar menjadikan seseorang berubah, tetapi tidak sedikit kondisi yang menggiring manusia pada perubahan secara perlahan. Situasi terakhir biasa terjadi tanpa disadari hingga akhirnya mereka menyebut itu takdir.
Jika kondisi kematian manusia sudah tertulis dalam kitab takdir kehidupan dan mereka mengetahuinya, orang-orang picik tentu tidak akan berjuang dalam hidup. Mereka dengan akhir buruk boleh jadi pesimis untuk berbuat baik. Mereka dengan akhir baik boleh jadi akan mengisi dunia dengan kesenangan fana di atas asas kemanfaatan. Penyalahgunaan takdir.
Lantas, di mana esensi perjuangan?
Bukankah Dia menilai proses? Tuhan tidak akan mengubah nasib seseorang kecuali dia mengubahnya sendiri. Manusia berusaha, Tuhan menentukan.
Begitulah kemudian saya menjadi takut tiap kali bayangan itu datang. Di hari saat koneksi dunia saya benar-benar diputus, dalam kondisi apakah saya akan berakhir? Sekedar berhenti memasukkan oksigen dalam organ, atau ada kesan lain dalam catatanNya? Bukankah ending yang tidak menyebalkan menjadi penentu kebaikan cerita oleh pembaca?
Hidup masih diyakini sebagai misteri, dan sepertinya akhir yang baik masih menjadi favorit.
“Hwaiting!”
So cold here
How’s there?
-Dear Father, Sum41-
(remember the one burnt in the earth)
Ada saatnya ketika saya benar-benar ingin sendiri. Lebih dari sekedar keinginan untuk menyendiri mencari inspirasi atau melarikan diri dari hiruk pikuk duniawi.
Saya butuh kesendirian itu, untuk sebuah masa bernama penantian.
Kelak, suatu saat nanti saya akan benar-benar sendiri dalam kesendirian. Setelah dipendam, dibakar, atau bahkan tanpa semua upacara itu (semoga tidak).
Saya baru saja menyelesaikan sahur sebelum menyadari suhu pagi ini rendah sekali. Tidak ada angin, tapi hawa kedinginanan menyesapi tiap pori dengan sempurna. Bisa-bisa saya diare jika tetap terjaga.
Dua lembar selimut telah membungkus tubuh saya. Masih dingin. Bibir saya hampir menggerutu sebelum bayangan itu memenuhi otak saya. Gundukan tanah di atas bukit yang beberapa hari lalu saya kunjungi dalam senyap membatin permohonan.
Makam ayah.
Mungkin terlalu menyedihkan untuk (baru) menyadari makna kematian di usia setua ini. Rasanya teori keagamaan yang sering saya dengar di beberapa kajian baru meresapi hati dan otak saat saya merasakan sendiri keadaan itu.
Payah memang, tapi faktanya saya baru benar-benar akan memahami alasan Dia memerintahkan “Sabar” dalam tiap firmanNya saat saya mendapat sebuah kondisi untuk bersabar.
Rencana Tuhan pasti indah. Seperti melihat keruwetan proses menyulam dari sisi bawah dan mengagumi hasilnya dari sisi atas. Saya bersyukur untuk kehilangan yang saya alami saat ini.
Mungkin saya akan tertawa tanpa beban jika Dia mengambil ayah saya saat saya masih balita. Mungkin saya akan tenggelam dalam air mata penyesalan dan kehilangan jika Dia mengambil ayah saya sat saya masih belajar di sekolah menengah. Bahkan mungkin tanpa pengetahuan tentang mortalisme dari sudut pandang keagamaan, saya akan berbalik membenci Tuhan dalam cacian tak putus: Mengapa saya? Mengapa ayah? Mengapa sekarang? Dan seterusnya.
Tapi saya tahu, teori kematian tidak seperti itu. Semua adalah milikNya dan akan kembali padaNya. Perpisahan yang mungkin menjadikan dunia menangis bisa jadi merupakan pertemuan yang dinanti. Untuk bertemu Sang Kekasih, begitu kata mereka.
Pemahaman saya tentu belum mencapai titik kedamaian seperti itu. Setahu saya, pertemuan itu masih lama. Ada beberapa gerbang yang harus dibuka untuk menuju istanaNya, dan itu tidak mudah. Membuat saya sedih sekaligus takut –alasan mengapa air masih mengalir mengiring tiap permohonan.
Agama yang saya yakini mengajarkan adanya proses panjang menuju hari penghitungan. Sebelum masa di mana semua manusia dikumpulkan, ada masa yang mengharuskan saya menunggu. Sendiri, dalam kesendirian.
Dalam liang yang menyatukan saya dengan bumi itu, bagaimanakah kondisi saya nanti? Akankah tempat itu dingin, gelap, dan sempit? Ataukah hangat, luas, dan bercahaya? Bahkan ilmuwan terbaik pun tidak akan kuasa mencipta riset tentang kehidupan setelah kehidupan. Life afterlife.
Saya mempercayai fleksibilitas dalam hidup. Air mengalir, roda berputar, tangga kehidupan. Apapun konsepnya, saya meyakini keabadian perubahan sebagai keniscayaan. Tidak selamanya saya menjadi baik, sebagaimana kejahatan saya tidak akan abadi.
Ada hal-hal yang secara sadar menjadikan seseorang berubah, tetapi tidak sedikit kondisi yang menggiring manusia pada perubahan secara perlahan. Situasi terakhir biasa terjadi tanpa disadari hingga akhirnya mereka menyebut itu takdir.
Jika kondisi kematian manusia sudah tertulis dalam kitab takdir kehidupan dan mereka mengetahuinya, orang-orang picik tentu tidak akan berjuang dalam hidup. Mereka dengan akhir buruk boleh jadi pesimis untuk berbuat baik. Mereka dengan akhir baik boleh jadi akan mengisi dunia dengan kesenangan fana di atas asas kemanfaatan. Penyalahgunaan takdir.
Lantas, di mana esensi perjuangan?
Bukankah Dia menilai proses? Tuhan tidak akan mengubah nasib seseorang kecuali dia mengubahnya sendiri. Manusia berusaha, Tuhan menentukan.
Begitulah kemudian saya menjadi takut tiap kali bayangan itu datang. Di hari saat koneksi dunia saya benar-benar diputus, dalam kondisi apakah saya akan berakhir? Sekedar berhenti memasukkan oksigen dalam organ, atau ada kesan lain dalam catatanNya? Bukankah ending yang tidak menyebalkan menjadi penentu kebaikan cerita oleh pembaca?
Hidup masih diyakini sebagai misteri, dan sepertinya akhir yang baik masih menjadi favorit.
“Hwaiting!”
Gamelan Padang Pasir
Akhir-akhir ini sebuah bisikan terdengar lebih keras di otak saya: “Apakah Islam (memang) seperti ini?”
Anggota komunitas pasti ingin menjadi refleksi komunitas mereka, dengan selalu menyertakan identitas dalam kata dan perbuatan mereka. Begitulah yang saya lihat dari mayoritas mahasiswa yang bergerak di bidang organisasi, termasuk gerakan keagamaan. Mereka (kebetulan saya mengamati mereka yang beridentitas sama dengan saya) selalu menambahkan istilah bahasa Arab dalam ucapan mereka. Bahkan kemudian terbentuk stigma bahwa semakin tinggi tingkatan seseorang, akan semakin banyak istilah “keagamaan” disertakan dalam kalimat mereka. Apakah ini Islamisasi, atau Arabisasi?
Sebagian besar mereka (mungkin) memandang rendah saya yang menyukai irama dalam harmoni yang tidak mereka sukai. Saya pernah mendengar mereka menyebut rangkaian melodi itu sebagai “musik setan” karena diciptakan oleh mereka yang berada di “jalan yang salah”. Tidak seperti apa yang selalu mereka dengarkan, alunan syahdu penuh kelembutan dalam nada-nada yang tidak saya sukai. Menurut saya, ini tentang selera. Toh apresiasi saya tidak terlepas dari bagaimana saya merasa dan mendengar kalimat dalam nada-nada itu, bukan sekedar tampilan fisik dalam video menyegarkan dari boyband Korea.
Bagaimana seseorang menggunakan dan berpikir dengan musik lah yang menjadi fokus saya. Gambus dan kesenian padang pasir lainnya (masih) belum sesuai dengan telinga dan otak saya. Mungkin mereka akan mempertajam tatapan mereka saat saya berteriak frustasi untuk mendengarkan punk rock daripada nasyid. I swear. Sejauh ini saya lebih banyak terinspirasi dari nada-nada seperti itu, lantas salahkah saya? Untuk menjadi totalitas, haruskah saya mencintai alunan padang pasir? Apakah ini Islamisasi, atau Arabisasi?
Dalam taraf lain mereka bahkan mengatakan kebudayaan sebagai salah satu jalan menuju penggandaan keyakinan. Ini gila, pikir saya. Meskipun saya bukan budayawan ataupun penikmat budaya yang menilai karya dalam bahasa langit, saya cukup menyukai budaya yang saya kenal. Saya hidup di Jawa dengan setumpuk kebudayaan di sekitar saya. Sementara saya –dalam kewajaran seorang hamba- menginkan kedekatan tertentu dengan Tuhan, beberapa sisi dalam ajaran saya menilai budaya sebagai bahaya. “Ada lorong-lorong yang justru menjauhkanmu dari rumah Tuhan jika kau terlalu lama mendekam dalam gelapnya,” kata mereka.
Kebudayaan lahir dari pembiasaan pikiran yang tervisualisasi dalam kata dan perbuatan, begitu yang saya pelajari dalam Sosiologi. Untuk merubah peradaban sebuah masyarakat, pembiasaan dalam pemikiran-pemikiran baru mutlak menjadi suatu keniscayaan. Lantas, saat saya ingin menyeluruh dalam mendekati Tuhan di jalan yang telah Dia pilihkan, saya sadar akan sebuah kewajiban membumikan budaya baru itu. Tapi, apakah sesuatu yang baru itu benar-benar merupakan unsur dari inti totalitas yang saya inginkan? Ataukah hanya karena lokasi keberadaan yang sama menjadikan sesuatu mutlak menjadi bagian sebuah sistem? Bukankah seorang pembantu rumah tangga, setinggi apapun kebaikan majikannya, tidak akan pernah bisa tercatat sebagai bagian keluarga inti majikannya begitu saja, hanya karena mereka hidup di bawah atap yang sama?
Di akhir semua kekesalan dengan sapaan dan perbincangan yang penuh dengan kosakata “keagamaan” diiringi hiburan “keagamaan” bersama mereka yang dianggap mewakili aura dan kharisma “keagamaan”, bisikan di dalam otak saya justru semakin sering terdengar. Sebagai remaja yang labil, saya menjadi lebih berhati-hati dalam menyaring semua cairan itu.
Mereka berkata, “Inilah Islam.” Tapi, sekali lagi, bisikan itu terdengar, “Apakah Islam (memang) seperti ini?” Jika agama ini pertama kali diturunkan di tanah Jawa, akankah mereka kemudian berlomba-lomba mencipta nada lewat gamelan seperti para penyampai terdahulu? Ataukah mereka akan menggunakan keseluruhan krama inggil dalam sapa dan kata mereka? Lantas, akankah ini menjadi Islamisasi, atau Jawaisasi?
Anggota komunitas pasti ingin menjadi refleksi komunitas mereka, dengan selalu menyertakan identitas dalam kata dan perbuatan mereka. Begitulah yang saya lihat dari mayoritas mahasiswa yang bergerak di bidang organisasi, termasuk gerakan keagamaan. Mereka (kebetulan saya mengamati mereka yang beridentitas sama dengan saya) selalu menambahkan istilah bahasa Arab dalam ucapan mereka. Bahkan kemudian terbentuk stigma bahwa semakin tinggi tingkatan seseorang, akan semakin banyak istilah “keagamaan” disertakan dalam kalimat mereka. Apakah ini Islamisasi, atau Arabisasi?
Sebagian besar mereka (mungkin) memandang rendah saya yang menyukai irama dalam harmoni yang tidak mereka sukai. Saya pernah mendengar mereka menyebut rangkaian melodi itu sebagai “musik setan” karena diciptakan oleh mereka yang berada di “jalan yang salah”. Tidak seperti apa yang selalu mereka dengarkan, alunan syahdu penuh kelembutan dalam nada-nada yang tidak saya sukai. Menurut saya, ini tentang selera. Toh apresiasi saya tidak terlepas dari bagaimana saya merasa dan mendengar kalimat dalam nada-nada itu, bukan sekedar tampilan fisik dalam video menyegarkan dari boyband Korea.
Bagaimana seseorang menggunakan dan berpikir dengan musik lah yang menjadi fokus saya. Gambus dan kesenian padang pasir lainnya (masih) belum sesuai dengan telinga dan otak saya. Mungkin mereka akan mempertajam tatapan mereka saat saya berteriak frustasi untuk mendengarkan punk rock daripada nasyid. I swear. Sejauh ini saya lebih banyak terinspirasi dari nada-nada seperti itu, lantas salahkah saya? Untuk menjadi totalitas, haruskah saya mencintai alunan padang pasir? Apakah ini Islamisasi, atau Arabisasi?
Dalam taraf lain mereka bahkan mengatakan kebudayaan sebagai salah satu jalan menuju penggandaan keyakinan. Ini gila, pikir saya. Meskipun saya bukan budayawan ataupun penikmat budaya yang menilai karya dalam bahasa langit, saya cukup menyukai budaya yang saya kenal. Saya hidup di Jawa dengan setumpuk kebudayaan di sekitar saya. Sementara saya –dalam kewajaran seorang hamba- menginkan kedekatan tertentu dengan Tuhan, beberapa sisi dalam ajaran saya menilai budaya sebagai bahaya. “Ada lorong-lorong yang justru menjauhkanmu dari rumah Tuhan jika kau terlalu lama mendekam dalam gelapnya,” kata mereka.
Kebudayaan lahir dari pembiasaan pikiran yang tervisualisasi dalam kata dan perbuatan, begitu yang saya pelajari dalam Sosiologi. Untuk merubah peradaban sebuah masyarakat, pembiasaan dalam pemikiran-pemikiran baru mutlak menjadi suatu keniscayaan. Lantas, saat saya ingin menyeluruh dalam mendekati Tuhan di jalan yang telah Dia pilihkan, saya sadar akan sebuah kewajiban membumikan budaya baru itu. Tapi, apakah sesuatu yang baru itu benar-benar merupakan unsur dari inti totalitas yang saya inginkan? Ataukah hanya karena lokasi keberadaan yang sama menjadikan sesuatu mutlak menjadi bagian sebuah sistem? Bukankah seorang pembantu rumah tangga, setinggi apapun kebaikan majikannya, tidak akan pernah bisa tercatat sebagai bagian keluarga inti majikannya begitu saja, hanya karena mereka hidup di bawah atap yang sama?
Di akhir semua kekesalan dengan sapaan dan perbincangan yang penuh dengan kosakata “keagamaan” diiringi hiburan “keagamaan” bersama mereka yang dianggap mewakili aura dan kharisma “keagamaan”, bisikan di dalam otak saya justru semakin sering terdengar. Sebagai remaja yang labil, saya menjadi lebih berhati-hati dalam menyaring semua cairan itu.
Mereka berkata, “Inilah Islam.” Tapi, sekali lagi, bisikan itu terdengar, “Apakah Islam (memang) seperti ini?” Jika agama ini pertama kali diturunkan di tanah Jawa, akankah mereka kemudian berlomba-lomba mencipta nada lewat gamelan seperti para penyampai terdahulu? Ataukah mereka akan menggunakan keseluruhan krama inggil dalam sapa dan kata mereka? Lantas, akankah ini menjadi Islamisasi, atau Jawaisasi?
Menyapa Kebebasan
Setahu saya, bebas ya bebas. Tanpa batas, tanpa aturan. Saat kemudian ada tanda bintang yang mengisyaratkan “syarat dan ketentuan berlaku”, esensi bebas tak lagi ada. Lahirlah sesuatu yang mereka sebut kebebasan bersyarat.
Tulisan ini tentu tidak akan mengupas liberalisme pada titik pokok kebebasannya. Hanya dengan menyapa tentu tidak akan cukup untuk mengenal pribadi seseorang. Saya hanya ingin mengutarakan konsep kebebasan menurut pemahaman dan harapan saya. Subyektif, mungkin. Tapi inilah yang saya sebut “berbincang dengan bisikan”. Saya ingin menuliskan bisikan-bisikan yang menjadikan saya tetap manusia. Untuk tetap berpikir dan tidak serta merta menerima dogma.
Kata liberalisme dan definisinya sebagai suatu paham pertama kali saya baca saat SMP. Saat itu, beberapa tokoh dalam buku Pendidikan Kewarganegaraan menjelaskan liberalisme sebagai ideologi yang menjunjung kebebasan individu di atas segalanya, dengan memberi contoh Amerika Serikat sebagai negara penganuti ideologi itu.
Saat itu, sebagai remaja yang jauh lebih labil dari saat ini, saya mengiyakan penjelasan dari buku itu –dan buku-buku lain anjuran pemerintah. Kemudian saya teringat kondisi penganut ajaran minoritas di negeri itu. Mereka, seperti yang digambarkan media internasional, menemukan banyak hambatan dalam akses peribadatan mereka. Bahkan untuk merealisasikan eksistensi ajaran mereka dalam hal penampilan. Kaum mayor menolak mereka dengan jaket paranoid terhadap terorisme jihad –yang saya ragu mereka benar-benar paham tentang itu. Lantas, apakah permainan hak mayoritas dan minoritas masih berlaku dalam kebebasan liberalisme?
Setahu saya, kebebasan menjunjung hak tiap individu, siapa pun itu. Tidak ada prinsip “suara terbanyak lah yang menang” karena ini bukan demokrasi –yang bahkan mempersilahkan kaum minor bersuara. Sekecil apapun kelompok itu dan selemah apapun pengaruh mereka dalam konstruksi masyarakat, kebebasan memberi tempat mereka untuk hidup dengan menjabarkan keyakinan mereka dalam langkah di atas tanah. Bukan dengan hidup bersembunyi atas nama ideologi yang dianggap mati.
Saya lalu ragu dengan penetapan Amerika sebagai negara yang menjunjung tinggi hak tiap individu. Tidak ada kebebasan untuk berkeyakinan yang bisa saya yakini dari fakta yang ada. Dalam skala dunia, ketiadaan kebebasan itu juga saya rasakan. Bahkan, di tanah tempat saya berdiri saat ini.
Mereka berkata pada saya, “kebebasan beragama telah diatur dalam pasal dan ayat.” Faktanya, berapa jumlah keyakinan yang kemudian diyakini dan diterima mayoritas kita? Bagi saya, keyakinan –apapun bentuknya- adalah perniagaan ekslusif antara saya dan apa yang saya yakini. Tidak ada yang bisa –dalam jangkauan hak dan kemampuan- menentukan kebenaran absolut atas keyakinan seseorang.
Manusia berdebat bahkan berperang tentang sesuatu bernama keyakinan. Mencoba meletakkan kebenaran dengan skala ciptaan manusia. Berprasangka dan bebas bermain kata tentang kesesatan suatu ajaran. Lantas, saya berpikir : siapakah kita? Seberapa hebat dan muliakah manusia untuk menilai kebenaran suatu ajaran? Bukankah kebenaran dan keyakinan merupakan abstrak yang relatif?
Seorang teman pernah berkomentar, “Dia memiliki segalanya. Ketampanan, kecerdasan, kekayaan, kebahagiaan. Sayang, dia seorang muslim.” Tentu saja saya hanya diam dalam ekspresi yang dia pahami sebagai penolakan statement. Ketika manusia terbagi dalam keyakinan masing-masing, bukan porsi mereka sebagai makhluk untuk saling menilai. Jika seorang teman memilih untuk meyakini Budha sementara teman yang lain lebih nyaman dengan ajaran Kristus, bukan kewajiban saya untuk menilai kebenaran jalan mereka. Bahkan jika mereka kemudian memilih untuk tidak memilih ajaran apapun.
Saat ada perbincangan yang berakhir pada perpindahan keyakinan, saya percaya pada kuasa penuhNya untuk melakukan itu. Bukan karena siapa mempercayai apa lantas saya “terpengaruh” mengikutinya. Sekuat apapun seseorang mempengaruhi orang lain untuk percaya pada sesuatu yang ia yakini sebagai kebenaran, saat “sesuatu” itu tidak berkeinginan pada keinginan orang itu, saya percaya pada kenihilan sebagai hasilnya. Inilah konsep kebebasan yang ingin saya yakini : untuk tidak sok tahu dengan pilihan orang lain. Bukankah Tuhan memperkenalkan kebebasan dengan pintu fleksibel dalam berbagai jalan menuju rumahNya?
Tulisan ini tentu tidak akan mengupas liberalisme pada titik pokok kebebasannya. Hanya dengan menyapa tentu tidak akan cukup untuk mengenal pribadi seseorang. Saya hanya ingin mengutarakan konsep kebebasan menurut pemahaman dan harapan saya. Subyektif, mungkin. Tapi inilah yang saya sebut “berbincang dengan bisikan”. Saya ingin menuliskan bisikan-bisikan yang menjadikan saya tetap manusia. Untuk tetap berpikir dan tidak serta merta menerima dogma.
Kata liberalisme dan definisinya sebagai suatu paham pertama kali saya baca saat SMP. Saat itu, beberapa tokoh dalam buku Pendidikan Kewarganegaraan menjelaskan liberalisme sebagai ideologi yang menjunjung kebebasan individu di atas segalanya, dengan memberi contoh Amerika Serikat sebagai negara penganuti ideologi itu.
Saat itu, sebagai remaja yang jauh lebih labil dari saat ini, saya mengiyakan penjelasan dari buku itu –dan buku-buku lain anjuran pemerintah. Kemudian saya teringat kondisi penganut ajaran minoritas di negeri itu. Mereka, seperti yang digambarkan media internasional, menemukan banyak hambatan dalam akses peribadatan mereka. Bahkan untuk merealisasikan eksistensi ajaran mereka dalam hal penampilan. Kaum mayor menolak mereka dengan jaket paranoid terhadap terorisme jihad –yang saya ragu mereka benar-benar paham tentang itu. Lantas, apakah permainan hak mayoritas dan minoritas masih berlaku dalam kebebasan liberalisme?
Setahu saya, kebebasan menjunjung hak tiap individu, siapa pun itu. Tidak ada prinsip “suara terbanyak lah yang menang” karena ini bukan demokrasi –yang bahkan mempersilahkan kaum minor bersuara. Sekecil apapun kelompok itu dan selemah apapun pengaruh mereka dalam konstruksi masyarakat, kebebasan memberi tempat mereka untuk hidup dengan menjabarkan keyakinan mereka dalam langkah di atas tanah. Bukan dengan hidup bersembunyi atas nama ideologi yang dianggap mati.
Saya lalu ragu dengan penetapan Amerika sebagai negara yang menjunjung tinggi hak tiap individu. Tidak ada kebebasan untuk berkeyakinan yang bisa saya yakini dari fakta yang ada. Dalam skala dunia, ketiadaan kebebasan itu juga saya rasakan. Bahkan, di tanah tempat saya berdiri saat ini.
Mereka berkata pada saya, “kebebasan beragama telah diatur dalam pasal dan ayat.” Faktanya, berapa jumlah keyakinan yang kemudian diyakini dan diterima mayoritas kita? Bagi saya, keyakinan –apapun bentuknya- adalah perniagaan ekslusif antara saya dan apa yang saya yakini. Tidak ada yang bisa –dalam jangkauan hak dan kemampuan- menentukan kebenaran absolut atas keyakinan seseorang.
Manusia berdebat bahkan berperang tentang sesuatu bernama keyakinan. Mencoba meletakkan kebenaran dengan skala ciptaan manusia. Berprasangka dan bebas bermain kata tentang kesesatan suatu ajaran. Lantas, saya berpikir : siapakah kita? Seberapa hebat dan muliakah manusia untuk menilai kebenaran suatu ajaran? Bukankah kebenaran dan keyakinan merupakan abstrak yang relatif?
Seorang teman pernah berkomentar, “Dia memiliki segalanya. Ketampanan, kecerdasan, kekayaan, kebahagiaan. Sayang, dia seorang muslim.” Tentu saja saya hanya diam dalam ekspresi yang dia pahami sebagai penolakan statement. Ketika manusia terbagi dalam keyakinan masing-masing, bukan porsi mereka sebagai makhluk untuk saling menilai. Jika seorang teman memilih untuk meyakini Budha sementara teman yang lain lebih nyaman dengan ajaran Kristus, bukan kewajiban saya untuk menilai kebenaran jalan mereka. Bahkan jika mereka kemudian memilih untuk tidak memilih ajaran apapun.
Saat ada perbincangan yang berakhir pada perpindahan keyakinan, saya percaya pada kuasa penuhNya untuk melakukan itu. Bukan karena siapa mempercayai apa lantas saya “terpengaruh” mengikutinya. Sekuat apapun seseorang mempengaruhi orang lain untuk percaya pada sesuatu yang ia yakini sebagai kebenaran, saat “sesuatu” itu tidak berkeinginan pada keinginan orang itu, saya percaya pada kenihilan sebagai hasilnya. Inilah konsep kebebasan yang ingin saya yakini : untuk tidak sok tahu dengan pilihan orang lain. Bukankah Tuhan memperkenalkan kebebasan dengan pintu fleksibel dalam berbagai jalan menuju rumahNya?
an introduction
Para pembaca TEMPO pasti sudah akrab dengan caping (catatan pinggir) Goenawan Mohamad, tulisan yang pada awalnya dibuat untuk mengisi halaman kosong di majalah TEMPO. Sebuah pelengkap yang menurut saya sangat kuat. Saat ada yang berkata “Saya hanya pelengkap,” saat itu lah dia telah lupa bahwa sebuah sistem membutuhkan kelengkapan. Begitulah kemudian, saya selalu merasa tidak lengkap saat membaca majalah itu, sebelum menemukan (dan langsung menuntaskan) halaman pelengkap itu.
Terlalu jauh untuk membandingkan caping GM dengan capung saya. Capung atau catatan punggung ini bisa dikatakan sebagai jejak pemikiran saya sebagai remaja labil yang kata seorang teman “terkadang seperti cangkir menganga” –selalu menerima sesuatu begitu saja. Apa adanya, tanpa pernah mempertimbangkan negasi dengan berpikir ‘ada apanya’. Capung inilah yang kemudian menjadi tempat penuangan sementara saya untuk sedikit menelaah (dengan kapasitas remaja labil) cairan-cairan yang tertuang dalam cangkir saya sebelum kebekuan otak mengubah liquid itu menjadi solid tanpa endapan.
Kenapa punggung? To be honest, pada awalnya saya hanya bercanda mengenai penamaan catatan punggung. Tetapi punggung saya yang semakin bungkuk di usia muda ini yang kemudian menampar saya dengan sebuah (ehem) konsep. Punggung adalah penegak tubuh, dalam kondisi apapun. Keberadaannyalah yang kemudian memisahkan kepala dan kaki, menjadikan bawah dan atas nyata dalam batas.
Saat manusia merasa menderita dengan tumpukan beban, mereka menyebut bahu sebagai tempat penyangga derita. Meskipun pada kenyataannya, kapasitas beban itu akan tercermin pada kondisi punggung mereka. Berhubung saya bukan golongan pekerja fisik dengan beban luar biasa, saya kemudian meyakini bahwa bungkuk saya ini sebagai akibat beban perasaan (sebagai perempuan) dan pemikiran (sebagai remaja labil) yang tidak pernah saya sampaikan.
Ini adalah tulisan bebas. Maka kebebasan menjadi hak Anda untuk menilai catatan ini sebagai curahan hati remaja labil, pemberontak, liberalis, agamis, atau bahkan mungkin catatan galau, seperti tren saat ini. Bagi saya, kemerdekaan berkata masih ada di tangan manusia, meskipun otoritas penilaian tetap di tangan Tuhan. Thus, saya akan tetap menulis bisikan-bisikan pemikiran yang mengusik, dan biarkan Dia yang menilai dengan kewenangan seutuhnya.
Terlalu jauh untuk membandingkan caping GM dengan capung saya. Capung atau catatan punggung ini bisa dikatakan sebagai jejak pemikiran saya sebagai remaja labil yang kata seorang teman “terkadang seperti cangkir menganga” –selalu menerima sesuatu begitu saja. Apa adanya, tanpa pernah mempertimbangkan negasi dengan berpikir ‘ada apanya’. Capung inilah yang kemudian menjadi tempat penuangan sementara saya untuk sedikit menelaah (dengan kapasitas remaja labil) cairan-cairan yang tertuang dalam cangkir saya sebelum kebekuan otak mengubah liquid itu menjadi solid tanpa endapan.
Kenapa punggung? To be honest, pada awalnya saya hanya bercanda mengenai penamaan catatan punggung. Tetapi punggung saya yang semakin bungkuk di usia muda ini yang kemudian menampar saya dengan sebuah (ehem) konsep. Punggung adalah penegak tubuh, dalam kondisi apapun. Keberadaannyalah yang kemudian memisahkan kepala dan kaki, menjadikan bawah dan atas nyata dalam batas.
Saat manusia merasa menderita dengan tumpukan beban, mereka menyebut bahu sebagai tempat penyangga derita. Meskipun pada kenyataannya, kapasitas beban itu akan tercermin pada kondisi punggung mereka. Berhubung saya bukan golongan pekerja fisik dengan beban luar biasa, saya kemudian meyakini bahwa bungkuk saya ini sebagai akibat beban perasaan (sebagai perempuan) dan pemikiran (sebagai remaja labil) yang tidak pernah saya sampaikan.
Ini adalah tulisan bebas. Maka kebebasan menjadi hak Anda untuk menilai catatan ini sebagai curahan hati remaja labil, pemberontak, liberalis, agamis, atau bahkan mungkin catatan galau, seperti tren saat ini. Bagi saya, kemerdekaan berkata masih ada di tangan manusia, meskipun otoritas penilaian tetap di tangan Tuhan. Thus, saya akan tetap menulis bisikan-bisikan pemikiran yang mengusik, dan biarkan Dia yang menilai dengan kewenangan seutuhnya.
Subscribe to:
Posts (Atom)