Showing posts with label fiksi. Show all posts
Showing posts with label fiksi. Show all posts

April 9, 2013

GJ


Para sesepuh sering menasihatinya untuk alon-alon waton kelakon pada tiap pertemuan keluarga, karena ketergesaan mendekatkan seseorang pada lalai yang disebabkan gangguan setan. Menurutnya perkataan para simbah itu berlebihan; orang-orang yang senantiasa pelan lah yang sedang dalam pengaruh setan. “Kan nggak cak-cek,” pikirnya. Lagipula manusia sudah terlalu sering menyalahkan setan dalam kelalaian mereka. Dia ingin sedikit bijak untuk menyalahkan keteledoran hari ini pada dirinya. Benar-benar utuh karenanya.

Aturan itu menyuruhnya untuk tidak memikirkan dunia saat jiwa dikembalikan pada tubuh di pagi hari mata terbuka dan kesadaran nafas pertama kali berhembus. Namun data ratusan megabyte yang menghilang semalam memaksanya menghubungi nomer itu. Bukan untuk menelepon, karena dia tidak suka perbincangan tidak langsung, terlebih dengan lawan jenis. Dua pesan tak berbalas. Padahal dia sangat yakin orang itu adalah pelakunya: penjahat akademik yang tega menghapus data kuliah di laptop temannya hanya karena gagal mendapatkan gosip terbaru tentang gebetan. Terlalu kekanakan.

Pukul sembilan lewat sepuluh menit saat akhirnya pesan-pesan itu berbalas. Bahkan perlu beberapa pesan untuk membawa kembali data-data yang menginap di flashdisk tersangka. Setelah menit-menit menyebalkan dengan sosok dingin itu, delapan ratus lima puluh tiga megabyte data kuliah terselamatkan. Pikirnya, larangan merisaukan dunia di saat bangun tidur tidaklah benar.

“Kaan, Dia nggak benar-benar niat berantakin urusan duniaku?” batinnya terkekeh. Dia melupakan nasihat lain para sesepuh. Untuk tidak sombong, terlebih dalam bahasa menantang Pencipta.

Satu tulisan selesai dalam dua jam, tepat saat ajakan makan ramen terdengar olehnya. Ada diskon dua puluh persen untuk promo minggu awal pembukaan resto Jepang di daerah Manahan. Bagi mahasiswa dengan keuangan akhir minggu, momen seperti ini sangat penting. Dengan senyum kepuasan memandang tulisan di laptop, dia menuju kamar mandi. Pukul sebelas lewat tujuh menit menjadi awal petualangan ramen. Sebenarnya jika bisa dia enggan meninggalkan kos saat matahari berada pada jadwal menyombongkan diri yang teramat. Tiduran di atas lantai porselin jauh lebih nyaman daripada motoran sepajang Kentingan-Manahan di siang panas demi semangkuk ramen diskon dua puluh persen yang panas.

“Dua puluh persen!” tiba-tiba semangat juang mahasiswa angkatan 98 terpatri di dadanya. Toh mereka sama-sama berjuang untuk menanggulangi kelaparan rakyat.

Lampu merah pertama. Sayangnya angka tujuh puluh dua berkedip dengan genit menyertainya. Ditengoklah ponsel dari saku roknya, kebetulan – yang dikarenakan kondisi bahan bakar – kali ini dia hanya membonceng. Meskipun selalu sebal pada mereka yang bermain ponsel saat berkendara – dengan hak khusus bagi para pembonceng –dia jauh lebih sebal membaca empat pesan masuk di ponselnya. Semua bernada tipikal: menagih tulisan untuk majalah, karya tulis, diskusi, dan tugas kuliah. Perbedaan penguasaan linguistik pengirim yang menjadikan sensasi membaca yang berbeda pada tiap pesan. Tetapi efek kebahasaan itu tidak merangsangnya menemukan ide tulisan. Otaknya sedang tidak encer, bahkan dengan dipanggang terik surya seperti itu.

“Sepertinya kita tersesat” adalah pikiran buruk yang menjelma kenyataan. Dia dan dua teman kosnya bukanlah penjelajah Solo yang baik. Anak rumahan seperti mereka akan sangat mudah tersesat dengan percabangan jalan kota kecil ini. Tiba-tiba dia membenci mereka yang gemar menggelar acara hajatan di tengah jalan kompleks seolah antero jalan adalah warisan leluhurnya. Tanpa penghalang seperti itu, seharusnya mereka tidak perlu berputar-putar dalam temperatur tinggi sebelum mendapati rumah mungil berhiaskan lampion-lampion merah bertuliskan kanji Jepang. Dia tidak bisa membaca kanji Jepang, tetapi pasti tulisan itu tidak terlalu jauh dengan kata ‘ramen’, menetapi fungsinya sebagai penghias resto ramen.

Suara-suara panggilan dari kedua temannya baru disadarinya ketika matanya tertuju pada kertas HVS terlaminating bertuliskan satu kata yang paling dihindarinya siang ini: TUTUP. Rasanya seluruh cairan di tubuhnya meminta pengganti ekstra secepatnya. Anggukan lemas dipersembahkannya dengan manis pada setiap tawaran tempat makan yang diajukan kedua temannya. “Hari ini geje sekali,” batinnya kesal.

Dua warung makan pertama memutuskan menolak rejeki akhir pekan dengan menutup diri sebelum akhirnya dua motor itu melaju ke tempat yang seharusnya bisa ditempuh lima menit dari kos mereka. Dengan hawa panas, tubuh berkeringat, dan kepala pusing, dia menambah penderitaan dengan kesalahan pilihan menu. Nihilnya nametag di tiap menu membuatnya memilih oseng-oseng kikil yang sangat pedas dan mengharuskannya merasakan lidah serta perutnya terbakar. Kondisi tidak menyenangkan muncul saat rombongan wanita keluar dari bangunan di depan tempat makan mereka.

Merasa tidak enak karena sempat menolak memberi bantuan pada salah satu wanita itu, dia berusaha bersembunyi di balik kawannya. Untungnya rombongan itu tidak menetapkan tempat makan itu sebagai pemberhentian mereka. Untungnya lagi, dia mendapatkan hiburan merakyat di sana: musik melayu, yang katanya menghianati musikalitas anak bangsa karena nggak banget, tetapi justru mampu menciptakan tawa kelegaan setelah pusingnya berpanas-panasan dalam ketidakjelasan hari ini.

Menurutnya kelalaian hari itu resmi berakhir dengan tiga kemenangan berturut-turut pada game komputer yang dimainkannya sesampainya di kos. Dia hanya belum menyadari waktu luang yang seharusnya digunakan menyelesaikan setumpuk tugas. Tepat saat masjid di samping kamarnya berkumandang, dia terlelap. Padahal, kata para simbah, tidur sehabis ashar itu tidak baik, bikin cepat pikun. Menurutnya pikun adalah kata yang kurang etis ditujukan bagi remaja sepertinya, karena meskipun terbangun oleh ingatan deadline tugas yang tinggal menghitung jam, toh dia masih bisa mengingat.

Sisa sore itu menjadikannya sadar bahwa membuat tulisan akademik tidak pernah mudah, terlebih saat membuatnya dengan mengganti tulisan tidak akademik untuk terlihat akademik. Dia lantas paham kenapa pekerjaan editor bisa menjadi sangat sulit sekaligus menyebalkan. Terlebih dengan intensitas cap sok tahu oleh penulis asli. Terlebih menjadi ‘editor’ tulisan dosen. Dengan selang waktu makan-minum-makan-game, revisi tulisan akademik diselesaikannya dalam tiga jam, menyisakan satu jam sebelum pintu e-mail dosen tercinta tertutup untuknya.

Dia berharap pertolongan langit menghampirinya dengan membersihkan tubuh untuk kedua kalinya sebelum kembali menyapa udara luar. Tetapi rupanya hujan ingin bermain-main dengannya sedikit lama. Sudah hampir setengah jam saat hujan yang dilema – dengan frekuensi rintik yang tidak jelas – akhirnya berhenti. Dia telah menenggelamkan diri dalam kesibukan modem-email-pulsa sebelum pada akhirnya memutuskan mengizinkan motornya menyapa dunia malam. Hujan tak lagi bertahan dengan rintik kecilnya saat dia melaju dalam semangat anti-che. Dia sempat meyakini dugaan bahwa dosen itu merupakan pengagum Che Guavera dengan kegemarannya melabuhkan bulan sabit (meskipun bukan bintang) di kartu hasil studi para mahasiswa.

DONE adalah kata terindah yang membuatnya mencintai Yahoo saat ini, meskipun hatinya masih terus berdoa agar Tuan Failure Daemon tidak mengunjungi kotak masuknya. Beberapa arsip harus diunduh dari e-mail seorang teman ketika kedua tangannya mendadak lemas. Tawa kecil spontan keluar dari bibirnya memikirkan deretan kelalaian yang membawanya pada ketidakjelasan hari ini. Seingatnya dia masih mendapati rakaat-rakaat sunnah fajar dan sepenggalah matahari, tetapi entah mengapa pertolongan langit tidak menyapanya hari ini. Dia lantas semakin terkekeh saat menyadari empat dan dua rakaat wajib yang justru terlewatkan olehnya di awal hari ini.

Tubuhnya yang lemas memaksa jari-jarinya menekan layar sentuh ponselnya yang low bat. Nada sambung yang cukup lama sebelum suara familiar siang ini didengarnya. “Mbak, tolong ke CoreNet. Uangku ketinggalan...”

Solo, 25 Februari 2012

Surat dari Negara

Title :Surat dari Negara
Tags : sosial, politik, pemilu, remaja, dilema
Character : siswa/i kelas 2 SMA, 17 tahun
Synopsis :

Tokoh aku cukup syok ketika mendapati dirinya terdaftar sebagai pemilih pada Pilpres 2014. Meskipun secara fakta usianya telah memenuhi kualifikasi pemilih, baginya umur tidak menentukan kedewasaan seseorang. Kebetulan saja takdir menjadikannya lebih tua dari teman-teman sebayanya. Dia merasa belum cukup bijak menggunakan hak pilih. Latar belakang politiknya nol, pengetahuan profil calegnya sangat jauh dari kurang, dan utamanya dia belum ingin mengemban tanggung jawab sebesar itu.

Baginya memilih presiden bukanlah sebatas soal partai mana yang paling populer atau visi-misi capres mana yang terbaik dan paling feasible dilaksanakan. Memilih presiden berarti ikut menentukan nasib bangsa lima tahun ke depan.

Dia tidak ingin asal pilih hanya karena kakak sulungnya sering berceramah ‘abstain itu dosa’ atau menjalankan amanat guru kewarganegaraannya ‘ikut berpastisipasi dalam pemilu berarti menyukseskan demokrasi’. Terlebih kawan-kawan seusianya tidak pernah serius memikirkan ini. Mungkin karena mereka belum pernah mendapat kartu pemilu, atau karena ‘urusan negara’ selamanya hanya menjadi kepentingan pihak-pihak tertentu.

Maka dia mulai memikirkan capres mana yang mewakili kepentingan-kepentingannya.

Sebagai pelajar pada umumnya, dia tidak suka pengadaan ujian nasional yang selalu menjadikan para guru dan kakak kelas overreacting. Dia juga tidak suka libur pendek saat bulan puasa yang membuatnya harus terserap hawa lemas teman-temannya. Dia tidak pernah bagus pada sains tetapi menonjol di kesenian, maka dia mengharapkan sistem pendidikan yang ‘mendalam’ sejak awal, agar mereka yang tidak dapat melanjutkan sekolah selepas SMP/SMA (seperti salah satu temannya) tidak bingung menggunakan banyaknya cabang ilmu yang terlalu dangkal.

Soal putus sekolah juga harus diatasi. Dia mengenal orang-orang berpola pikir pragmatis di desanya yang mencela sekolah akibat tujuan pembelajaran yang menurut mereka terlalu teoritis dan abstrak, maka sistem pendidikan yang mengutamakan life skill harus dioptimalkan.

Dia juga –meskipun benci perpolitikan– menginginkan capres yang benar-benar berani menjadi pemimpin, yang kata guru agamanya ‘bertanggung jawab dunia-akhirat atas umatnya’. Soal DPR apalagi. Dia ingin capres yang bisa menciptakan parlemen yang keren, yang apabila rapat tidak norak dan porno. Dia pernah mengidolakan kakak-kakak kelasnya yang menjuarai debat parlemen internasional. Menurutnya ‘yang seperti itu baru bisa dibilang mikir’.

Setelah mendaftar kriteria capres idaman, dia mencoba mengenal keempat profil capres melalui perantara Mbah Google yang melebihi oang pintar. Bahkan dengan mengulang pencarian itu selama satu minggu, dia harus menerima kenyataan figur capres idamannya tidak pernah muncul dalam surat suara.

Dia tidak mengikuti pemilu legislatif sebelumnya karena (kebetulan) sakit, sehingga tidak perlu bingung dengan ratusan nama yang menimbulkan peluang dosa tinggi (karena salah pilih anggota dewan). Tetapi hanya dengan empat nama sebagai ‘produk’ yang ditawarkan, kegalauannya tidak menipis. Pertimbangan-pertimbangan pengalaman politik, intelektualitas, spiritualitas, gender, bahkan perupaan semakin membingungkannya.

Sudah lima menit dia berdiri dalam bilik suara, tetapi tangannya belum menyentuh alat contreng tersedia. Dia bisa merasakan pandangan sebal dan pemikiran negatif orang-orang yang mengantri nyontreng di luar bilik. Tidak ada suara selama lima belas menit, hingga sosok itu jatuh dan dikerumuni panwaslu.

Surat suara yang hampir terlipat itu tidak meninggalkan contrengan apapun kecuali kotak tambahan di bawah keempat capres. Sebuah silhuet tanpa nama, gelar, partai. Tambahnya di bawah silhuet itu ‘DICARI: pemimpin beriman, cerdas, dan merakyat’.

KTP (cerpen)


Katakanlah kamu seorang WNI. Saat lahir, tinjauan ius soli dan ius sanguinis mendukung keberadaanmu sebagai WNI. Tetapi tanpa mendaftarkan diri sebagai penduduk, akankah kewarganegaraanmu diakui? Lantas, jika kelak kamu mendapatkan masalah, masihkah pemerintah wajib membelamu tanpa kejelasan identitas?

Sebenarnya dia tidak berharap mendapatkan masalah tentang keberadaannya di kemudian hari. Tetapi pada akhirnya dia membuat KTP di tahun keduapuluhtiganya menjalani hidup.

“Bikin KTP kan nggak bikin kamu rugi. Malah banyak sekali manfaatnya buat kamu. Bisa milih di Pemilu, bisa jalan-jalan ke luar negeri, dan yang paling penting bisa nikah!” nasihat ayahnya, mencoba mempengaruhi.

Dia masih terdiam di balik komputer, mengetik artikel untuk zine komunitas kebudayaannya. Dia sama sekali tidak tertarik mengikuti Pemilu. Hanya akan menambah daftar dosa karena turut menghancurkan negeri dengan kepemimpinan busuk, pikirnya. Apalagi ke luar negeri. Menurutnya berlibur ke luar negeri berpuluh kali tanpa sekalipun mengunjungi pojok-pojok eksotisme negara sendiri tidak menambah gengsi apapun. Menikah? Sepertinya dia akan mulai memikirkan ini. Tetapi sesungguhnya, bukan itu penyebabnya melangkah ke Balai Desa untuk mengurus kartu identitas kewaranegaraan pertamanya.

Kakaknya yang penulis pernah mencaci cerpennya. Menurut orang itu, dia memang cukup lihai bermain teknis dan diksi, tetapi sangat bermasalah dengan jati diri. Identitas kepenulisan. Dalam esai-esai budaya pada zine-nya selama ini, dia hanya mangumpulkan teori-teori dan menganalisisnya dalam kesempitan cakrawala. Dia tidak cukup mengenal dirinya, bagaimana dia bisa menulis sesuatu yang mewakili dirinya? Tidak ada kesadaran lokal, terlebih internalisasi nilai-nilai yang diyakini.

Mungkin membuat KTP akan membantunya mengenali diri.

“Mas, saya mau bikin KTP,” katanya pada petugas Balai Desa yang terlihat sibuk memanfaatkan akses internet kantor dengan mengakses jejaring sosial siang itu.

“Perpanjang?”

“Bukan, bikin baru.”

Petugas itu tampak kaget dan meragukan kalimatnya. Dia pun cukup sadar diri dengan tidak memiliki wajah yang awet muda.

“Umur saya baru dua puluh tiga tahun. Telat enam tahun nggak papa, kan?” katanya buru-buru.

“Oh, iya. Mau dipakai buat daftar nikah ya?”

Sialan. Petugas ini mulai sok akrab. Tetapi jauh lebih baik daripada bersikap sok sangar dengan berbagai ketentuan birokrasi desa yang dibuat terlihat penting.

“Nggih, Mas. Sampun wayahe,” jawabnya berbohong sambil terkekeh. Juga berusaha sok akrab.

“Silahkan diisi formulirnya. Kalau sudah, nanti dimintakan cap ke Mbak di pojok itu. Habis itu diserahkan ke kantor Kecamatan,” jelas petugas itu cukup cepat dan kembali sibuk dengan internetnya. Dia segera menuju kursi panjang dan mulai menulis.

Nama : Muhammad Al Fatah

Namanya memang tertulis seperti itu, tetapi dia lebih menyukai panggilan Cungkring dari teman-teman zine-nya. Menurutnya lebih bernafaskan kekeluargaan, dan dengan sederhana lebih mewakili dirinya yang kurus dan jangkung. Dia terkadang justru malu jika ditanyai nama ‘sebenarnya’. Dirinya tidak semulia kandungan makna Muhammad Al Fatah untuk menyandang ‘gelar seumur hidup’ seperti itu. Terkadang dia berpikir untuk mengganti namanya.

Tempat, tanggal lahir : Yapen Waropen, 13 Maret 1989

Dia memang terlahir di pojok timur negaranya. Lima belas tahun pertama hidupnya dihabiskan di tanah multikultural itu, sebelum keluarganya yang merasa sudah cukup ‘menabung’ memutuskan kembali ke Jawa. Tetapi kehidupannya di pulau masyarakat ‘berwarna’ itu tidak menyisakan sedikitpun kepribadian daerah yang mewakili tanah kelahirannya. Ingatannya tentang Papua hanya sebatas enaknya papeda, indahnya pantai Aromarea di Yapen, murahnya berbelanja di pasar ikan, dan seringnya bentrok pribumi dan pendatang. Poin terakhir pula yang semakin mempercepat kepulangan keluarga mereka.

Sebenarnya dia tidak menyukai tanah kelahirannya itu. Dengan mengaku orang kelahiran Papua, teman-temannya akan langsung mendekatinya sebagai manusia primitif untuk diwawancarai. Apakah dia berpakaian selama di sana. Apakah semua penduduk Papua berwarna gelap. Apakah di sana ada televisi dan internet, dan pertanyaan bodoh lain yang menunjukkan derajat pengetahuan mereka. Dengan mencantumkan identitasnya sebagai putra Papua, tatapan kawan-kawannya seolah menyiratkan ada kertas bertuliskan ‘Orang Papua’ menempel di punggungnya. Tetapi pada akhirnya dia menuliskan kata itu sambil berharap suatu saat dapat kembali bermain pasir putih di pantai-pantainya.

Jenis kelamin :

Dia berhenti sejenak. Sebenarnya dia tidak menyukai kolom ini disertakan dalam kartu identitas. Dia mengenal seorang teman yang kesulitan menentukan identitas kelaminnya. Meskipun teman itu secara fisik hanya memiliki satu alat kelamin yang mengharuskannya mengaku sebagai golongan tertentu, temannya merasa tidak mewakili golongan tersebut.
Menurut teman itu, “Manusia ya manusia. Aku tidak mau disebut laki-laki. Bukan juga perempuan. Aku ya... manusia. Sudah.”

Dia sempat meragukan identitas kelaminnya saat berkenalan dengan orang itu. Penjelasan manusiawi yang memukau dari kawan itu membuatnya semakin yakin kolom jenis kelamin diadakan dalam rangka ‘mengkhianati’ perasaan kelompok-kelompok seperti temannya.
Tetapi dia pernah membaca perihal kemutlakan jenis manusia dalam buku kakaknya yang religius. Dan entah mengapa, dia lebih menyukai konsep itu. Pada titik tertentu terkadang dia merasa manusia terlalu rumit dengan menyusahkan diri mereka dalam perumusan golongan-golongan tertentu berdasar isme-isme ciptaan mereka. Perlahan, dituliskannya ‘laki-laki’ pada kertas di hadapannya.

Alamat : Bulusari, RT 07 RW 09 Bulusulur, Wonogiri, Jawa Tengah

Sinyal putus-putus internet yang selama ini membuka horison pengetahuannya di luar daerah ini. Pertama kali pindah ke Jawa, dia selalu protes atas pemilihan tempat tinggal yang terlalu ke dalam tersebut. Saat itu bahkan jalan menuju rumahnya masih berupa telasahan yang rusak di berbagai tempat. Tetapi ayahnya selalu berkeyakinan lingkungan yang asri akan mempengaruhi perkembangan jiwa seseorang. Beliau yang mengetahui hobi menulisnya bahkan menambahkan manfaat tinggal di daerah bagi karir kepenulisan seseorang.

Dibandingkan dengan tempat tinggalnya sekarang, jujur dia lebih nyaman bermukim di Papua. Masyarakat yang katanya guyub itu lebih sering kompak dalam bergosip tentang tetangga. Saat di Papua, keluarganya dan masyarakat Jawa lain terhubung dalam ikatan persaudaraan dan rasa senasib sepenanggungan yang kuat dan abstrak. Meskipun mereka tidak tercatat sebagai keluarga dalam ikatan darah, kekeluargaan yang dirasa sangat besar. Terkadang dia merasa harus kembali menjadi minoritas untuk merasakan kuatnya ikatan tanpa hubungan darah.

Agama :

Sekali lagi dia terhenti. Hampir satu jam dia mengisi formulir itu, tetapi baru empat kolom yang berhasil dilengkapinya. Menulis di atas titik-titik itu seperti menguras energinya. Dia merasakan tatapan mencurigakan para pegawai Balai Desa yang seolah mengisyaratkan tawaran bantuan. Tetapi tentu saja dia tidak akan menerimanya. Ini kan tentang dirinya, akan lebih menyedihkan saat orang lain lebih memahami dirimu dibandingkan pemahamanmu.

“Masih lama, Mas?” tanya petugas yang sama di balik komputernya.

“Ng, tidak, Mas. Sebentar lagi. Maaf. Ngapunten,” tambahnya buru-buru, dengan nada yang diusahakan mengandung penyesalan. Penggunaan bahasa daerah seperti itu bukanlah kesadaran lokal baginya. Dia hanya merasa lebih sopan dan enak saat meminta maaf dengan gaya njawani.

Matanya kembali menatap kolom di hadapannya: Agama. Saat SMA dia pernah mengikuti diskusi-diskusi yang mempertanyakan eksistensi agama. Sama seperti jenis kelamin, menurutnya ini adalah hal sensitif yang seharusnya tidak perlu dicantumkan dalam kartu identitas. Jika sesuatu diciptakan hanya untuk menciptakan kebencian dan permusuhan, sebaiknya sesuatu itu dilupakan atau dimusnahkan saja. Tetapi kakaknya sekali lagi membantahnya habis-habisan.

“Namanya saja agama. A artinya tidak, gama artinya kacau. Tujuan agama ya biar nggak ada kekacauan. Kalau orang-orang ngaku beragama tapi justru bikin kacau, jangan salahkan lembaganya. Itu kan urusan oknum. Personal!”

Dia sempat menyetujui itu dan kemudian kembali yakin dengan pilihan beragamanya selama ini. Tetapi ternyata bagi kakaknya dia tidak benar-benar serius menjadikan agama sebagai bagian identitasnya. Parameternya tentu saja dalam nilai-nilai ‘kering’ pada setiap tulisannya. Dia seperti menjadi orang lain dalam setiap esai dan cerpennya. Pikiran, perkataan, dan perbuatannya bertemu dalam hubungan kontradiktif yang sangat kontras. Bahkan tidak dapat dikategorikan abangan seperti tuduhan kakaknya selama ini.

“Mas kalau minggu ke gereja?” tanya petugas yang sama, tiba-tiba telah duduk di sampingnya.

Dia menggeleng. “Aneh,” pikirnya. “Dia kan bisa baca namaku.”

“Kalau jumat ke masjid?” tanyanya lagi.

Dia mengangguk. Sebenarnya dia ingin menjawab “jarang” tetapi dia yakin tatapan lebih menyebalkan yang akan diterima dari pria di hadapannya.

“Ya sudah, ditulis itu.” Petugas di sampingnya bahkan mengulurkan telunjuknya pada kolom kosong tempat pengisian ‘agama’ sebagai identitas.

Perlahan, dia menuliskan kata yang dianjurkan. Ada rasa bersalah dan ketakutan luar biasa seiring tinta-tinta dalam bolpoin di tangannya menjelma menjadi satu kata sakral. Dia bukan tipe orang yang ingin mewarisi keyakinan nenek moyang begitu saja. Dia yakin, pengetahuan agamanya saat ini akan kalah dengan menyedihkan jika disandingkan dengan pencari keyakinan yang sebenarnya.

Pekerjaan : Penulis

“Mas nulis buku?” tanya petugas itu, masih dengan jarak teramat dekat dan dengan pandangan mengawasi khas satpam toko swalayan tidak laku. Menyebalkan.

“Enggak. Belum, ding,” ralatnya buru-buru.

“Nulis di koran?”

“Nggak juga. Isinya politik terus sih, saya nggak minat,” jawabnya mencoba ramah.

“Nulis di majalah, pasti, ya?”

“Semacam itulah, namanya zine. Z-I-N-E,” ejanya.

“Ditulis wiraswasta aja, Mas.”

“Lho kenapa? Kan saya nulis, bukan dagang.”

“Kan saya nggak nyuruh sampeyan nulis pedagang. Nggak ada daftar pekerjaan ‘penulis’ kalau di KTP, Mas.” Petugas itu beranjak dan kembali dengan tipp-ex di tangannya.

“Pemerintah bisa ribet Mas, kalau harus nerima semua pekerjaan ditulis di KTP. Susah bikin statistiknya. Kemarin malah saya baca isu katanya ada orang homo mau bikin identitas di KTP. Lha yo rusak negarane nek carane ngono.”

Dia hanya mengangguk dan segera menuliskan kata wiraswasta di kolom pekerjaan. Berbicara dengan orang ini soal hak asasi rasanya tidak akan efektif.

“Mas tahu soal yang begituan?” tanya petugas itu penasaran. Mungkin wajahnya terlihat cukup berpengetahuan luas, jika tidak petugas itu menduganya sebagai homo.

“Homo?”

“Iya. Teman Facebook saya ada yang begitu lho, Mas. Begitu saya nyadar dia nggak beres, langsung saya remove. Ndak nulari-nulari. Kalau Indonesia tambah penuh sama yang begituan, saya mau ikut demo anti-mereka saja lah Mas. Biarpun capek, paling tidak saya kontribusi, gitu,” kata petugas Balai Desa itu bersemangat.

“Ya kan orang banyak, Mas. Anaknya orang banyak juga. Beda-beda, lah.” Dia mencoba netral dengan tidak terlibat jauh dalam obrolan itu. Masih ada beberapa formulir yang harus dilengkapinya, dan dia mulai terusik dengan obrolan sensitif ini. Statistiknya selalu menunjukkan akhir yang tidak baik dalam setiap diskusi tema-tema ini.

“Tapi lak yo nggak boleh egois to, Mas? Harus menghormati yang lain juga. Yang hidup di Indonesia kan nggak cuma mereka itu. Kita-kita yang normal ini juga mau hidup nyaman,” tandasnya. Raut wajah arogan berbalut nada sok tahu petugas itu semakin membuatnya muak.

“Nah, itu Mas. Yang hidup di Indonesia kan nggak cuma kita. Mereka juga mau hidup nyaman. Mas pernah dengar soal multikulturalisme?” katanya membalik keadaan. Berusaha tenang, merasa akan menang.

“Pernah. Lukisan coreng-moreng, kan?” jawab petugas itu, kembali menyulut sekam di hatinya.

“Maksudnya?” tanyanya berusaha menahan emosi.

“Banyak warna dan disatukan. Kalau diibaratkan Mas lagi melukis wajah orang dan Mas bingung harus diwarnai apa karena karakternya terlalu banyak, akhirnya semua warna dipakai. Hasilnya ya coreng-moreng nggak jelas,” kata pria itu kalem tetapi sangat sukses mengesalkannya.

BUK!

Refleks tangannya meninju petugas Balai Desa di hadapannya. Entah mengapa ucapan wajah coreng-moreng itu begitu melukai hatinya. Seolah kegagalannya memahami identitas diri yang selalu ditutupinya dengan idealisme multi menjadi begitu hina di mata petugas Balai Desa. Diambilnya kembali formulir-formulir yang hampir terisi penuh.

“Nggak jadi bikin KTP aja, Mas.”

Kertas-kertas itu kemudian berakhir dalam tong biru plastik bertuliskan ‘sampah organik’ di depan kantor Balai Desa.

-0-

Surakarta, 15 Maret 2012

*cerpen ini alhamdulillah masuk antologi cerpen Joglo 7 Taman Budaya Jawa Tengah. sebenarnya, nulis ini karena motivasi tugas creative writing dan kebanyakan mengonsumsi isu politik identitas. haha

Topeng (cerpen)


Kepada Tuhan di atas sana.
Entah di istana mana Engkau berada,
Entah dalam bahasa apa Engkau berbicara.

Tuhan, belakangan ini kurasa jenuh dan maluku merangkak memuncak. Tentu ianya malu tertuju pada-Mu, karena bagiku, tiada alasan bermalu pada sesama ciptaan-Mu. Hari-hari terakhir mereka bahkan tenggelam memujiku. Untuk semua capaian prestasi, torehan pengabdian, berikut nama baik yang kuberikan. Bagi mereka aku ini orang baik seperti ulama, sebagaimana penggerak bijak laiknya umara. Kau tahu, aku justru malu dibuatnya.

Sebagai dalang, para wayang dan penonton takjub pada lihainya tanganku berkelibat membelah bayangan. Kata mereka, lakon yang kumainkan selalu lebih bagus dari versi aslinya. Mereka lantas melabeliku dengan sebutan-sebutan langit. Aku bukan tak girang, tapi merasa belum pantas. Dibanding dengan-Mu, aku tak ada nilai. Sebagai dalang yang memainkan wayang terbanyak di bumi, peran-Mu begitu menakjubkan. Pun Kau diakui dalam berbagai bentuk dan sebutan. Sementara aku, tiada satu pun gelar itu benar-benar menjelaskan siapa aku.

Kau tentu paham, aku seperti itu bukan tiak ada apa-apa. Selama ini kupakai agama, keluarga, ras, bangsa, bahkan negara sebagai legitimasi lakon-lakon itu. Mereka kemudian menyebutku dalang religius, sholeh, nasionalis, dan seterusnya. Padahal Kau tentu paham, ada semburat-semburat lain mewarnai kanvas perjuanganku. Mereka sebut itu aktualisasi diri.

Abraham Maslow bahkan menempatkan aktualisasi diri pada lapisan atas teori piramida kebutuhannya. Sesuatu yang cukup sulit dan berharga untuk diraih, bukan? Tak heran jika kemudian banyak tangga digunakan demi mencapai titik ini.

Aku tahu, bukanlah aku pejuang bertopeng pertama yang melayangkan tulisan bernada sama pada-Mu. Kawanku banyak berjuang di luar sana atas nama ini-itu demi pada akhirnya terbentur capaian aktualisasi diri masing-masing. Dosa kah? Kurasa tidak. Menjadi aku tidaklah semudah mengimitasi dia atau mengkloning dirinya. Sama sulitnya dengan mencerna manusia being I dan becoming I. Ketika aktualisasi diri yang disarikan cukup kental demi menghimpun unsur aku pada diriku, segala cara akan kulakukan untuk mendapatkan bentukan terbaik. Termasuk dengan membeli banyak topeng untuk mendukung ke’aku’anku.

Membeli? Mungkin Kau tiada berharap –pun jika Tuhan Yang Maha diperbolehkan merajut harap– kugunakan cara kapitalis pada hal-hal yang sering dikaitkan pada-Mu: kepercayaan, agama, pemerintahan, kepemimpinan. Namun ajaran hidup mengharuskanku keluarkan modal besar demi mendapatkan topeng terbaik. Semakin tinggi harga kubayar, semakin tebal dan berkilau topeng kudapat. Maka, semakin sempurna warna ‘aku’ yang kulukis. Pada titik ini kuyakini kalimat “Jer basuki mawa beya” diciptakan bukan sekadar sebagai baris pelengkap buku Kawruh Basa Jawa anakku.

Akhir-akhir ini aku merasa tergelincir. Hanya karena beberapa baris dalam daftar centangku terlewat. Beberapa jadwal penting terabai. Beberapa target pupus tercapai. Hingga akhirnya aku berhenti tanpa kata, karya, dan kuasa. Tetapi topeng-topeng itu sekali lagi selamatkanku. Kala ini kupilih topeng hitam berhias abjad kuning emas. Pendidikan. Bagi mereka, wajar bila orang macam aku lewatkan acara-acara yang tiada mendukung pendidikan di saat karir akademik sedang kuperjuangkan. Aku tersenyum dan mengelak halus. Mereka bilang low profile. Padahal tentu Kau sangat paham. Aku hanya tidak becus mengatur dua puluh empat jam keseharianku.

Sebelumnya mereka bahkan menghalangi karir akademikku. Bagi mereka, tak perlu bersusah payah menanti gelar Guru Besar. Mainkan saja lakon “Jadi Pemimpin” seperti mereka usulkan. Ketika kau menjabat, segala gelar akan mendekat. Tetapi Kau paham nilai yang kuberlakukan, bukan? Topeng politik belum begitu menyilaukan layang pandangku saat ini. Tiada pikir kata-kata mereka, bilang semua berpolitik dan semuanya adalah politik.

Mungkin aku harus ciptakan gradasi-gradasi baru biar warnanya kembali cantik. Para pengrajin topeng politik tak lagi kreatif di mataku. Sentuhan kasar nama-Mu bahkan akrab bermain palu dan sabit. Ngawur sekali. Kalaupun ingin berbagi warna, setidaknya jangan terlalu kontras. Tapi aku toh tidak akan tahu, kan, jika ternyata para pembuat topeng politik adalah penggemar fashion Harajuku? Yang semakin nggak nyambung, semakin keren dan fashionable.

Oh ya, terkait topeng politik tadi, belakang ini rumahku jadi ramai dikunjungi warna-warna. Pikirku mereka kesulitan ekonomi, meninjau topeng-topeng yang tak cukup tebal pun berkilau guna sembunyikan warna asli mereka. Dalam pergaulan sosialita tentu mereka tak tampak kesulitan ekonomi, dengan banyaknya tumpukan topeng di wajah. Tapi saat lebih dekat mengamati, kusadari banyak lubang dan goresan di sana-sini. Nyata setelah kuperhatikan, banyak mengendap helai tanpa kualitas melapisi warna asli.

Ya. Mereka memakai sekaligus banyak topeng tipis tanpa karakter kuat. Masing-masing pelanggan topeng berlapis itu menawariku menjadi bagian mereka. Tentu saja dengan pujian atas prestasiku selama ini. Seorang yang sukses memimpin keluarga, agama, yayasan, lingkungan, organisasi, dan tentu saja... mereka. Tetapi aku masih meragu akan benar-benar sukses hanya dengan dukungan topeng-topeng lapisan seperti itu.

Menurutmu, apakah aku berubah pikiran?

Sedikit banyak, kuakui, iya. Tampaknya menciptakan warna baru di sistem rapuh itu cukup menyenangkan sekaligus menyulitkan. Kau tahu, bukan, aku tidak pernah sungguh-sungguh dengan niat menghancurkan mereka di atas semua topeng ini. Aku hanya ingin mainkan lakon baru dengan keindahan topeng-topeng buatanku. Mungkin, suatu saat aku tak lagi butuh topeng-topeng ini. Tetapi terkadang kita harus berbohong demi kebaikan, kan? Semacam white lies yang saat ini penggunaannya semakin bias.

Maka kuputuskan memasuki bangunan mereka. Membangun pentas besar di atasnya dengan aku sebagai dalang tunggal. Aku sudah meninjau lapangan sebelumnya; hanya ada beberapa retak kecil dan kemiringan gedung beberapa derajat. Bukan masalah besar dibandingkan penghuni-penghuninya. Aku berencana mengerahkan teman-teman sesama pelanggan topeng berkualitas untuk merombak penuh tempat itu. Tampaknya mereka akan sangat tertarik membuka stand topeng masing-masing setelahnya.

Tapi Tuhan, untuk tujuan besar itu, kali ini aku sedikit memohon bantuan-Mu. Bukan aku selama ini menafikkan keberadaanmu sehingga jarang meminta, tapi jadwal dalang akhir-akhir ini membuatku overload. Walau begitu aku yakin, sebesar keyakinanku pada keberadaan-Mu, Kau pasti akan membantuku. Kau sangat baik dalam multi peran selama ini. Direktur, Manajer, sekaligus Supervisor padepokan pewayanganmu. Menurutku sangat keren. Dan sebagaimana Kau paham tingginya anak tangga terakhir yang akan kupijak, bagaimana kalau kita sedikit berbisnis?

Belakangan ini kembaraku mencapai titik jenuh. Sudah kutemui pengrajin topeng terbaik di dunia ini. Beberapa yang oleh anak-anak remajaku disebut pakar konspirasi dunia kemudian menawarkan alamat ini padaku. Alamat-Mu. Menurut mereka, jika ingin bermain, jangan hanya mengamati dari tangga terbawah yang bahkan begitu sering dilewatkan dalam langkah terburu. Sesekali keluar dari balik layar menurut mereka akan sehat untuk mata. Meskipun pada akhirnya aku harus kembali bekerja sebagai dalang.

Sebagai dalang, aku ingin pentas ini menjadi pagelaran pamungkasku. Kata sulungku, “Ayah sudah cukup tua dan berpengaruh untuk mencoba mempengaruhi kebijakan negara. Terlebih memimpinnya.” Baginya, itu adalah pelarangan untukku meraih plat mobil “RI 1” atas kendaraan dinas negeri ini. Bagiku, itu adalah bukti nyata peluang kesuksesanku. Aku jenuh pada garis batas dalang tua yang hanya dikenal para wayang dan tim karawitan berikut bagian kecil kelompok orang tua pengagum kebudayaan. Sesekali, sebelum dunia wayang mati, aku hendak tampilkan sesuatu yang berbeda. Di atas panggung, dengan menghadap penonton, tanpa kain penutup.

Kata siapa pertunjungan wayang harus tentang bayangan? Meskipun secara harfiah wayang berarti bayangan, aku percaya esensi pertunjukan masih mengendap pada filsafah yang disampaikannya. Sebagai pioneer pentas wayang tanpa bayangan, peranku akan lebih membumi. Tidak hanya bagi para wayang dan tim karawitan, melainkan penonton dunia.

Tetapi, untuk pentas terbesar sekaligus pamungkas ini, aku benar-benar membutuhkan bantuan-Mu. Kau tentu belum lupa, mula aku mendapatkan alamat hingga surat permohonan ini kutulis pada-Mu bukan karena apa-apa. Para pemimpin besar selalu berdiri di balik nama dan kekuatan-Mu. Entah dalam label penyembah Dewa, Budha, Allah, Yesus, Sang Hyang Widhi, bahkan Mata Satu. Tetapi saat ini boleh Kau akui jika aku sedikit lebih pintar dari para pemimpin itu.

Aku bermaksud membeli topeng-Mu.

Dengan begini, bahkan mereka pun akan menjadi wayangku, kan? Maka pentas besar yang kurencanakan dapat berlangsung spektakuler. Tentu saja aku tak akan gunakan topeng-Mu dalam waktu lama. Cukup hingga para penonton mengakui keberadaanku sebagai dalang legendaris. Setelah itu Kau boleh ambil seluruh topengku, termasuk ragaku jika perlu. Jika kau mengamini, bisa kupastikan ini menjadi permohonan terakhirku.

Untuk label tertinggi, aku sadar harga topeng ini akan sangat melangit. Namun berhubung mereka meyakini aku sangat dekat dengan-Mu, bagaimana jika Kau beri aku diskon hingga tujuh puluh persen? Atau, menetapi sebutan Maha Kaya, Pengasih, dan Penyayang yang diidentikkan dengan-Mu, bagaimana jika Kau berikan saja topeng-Mu padaku? Gratis. Maka aku tentu akan semakin meyakini kuasa-Mu.

Kata mereka, Kau akan memberi petunjuk balasan surat ini. Meskipun belakangan langit semakin sibuk dengan pertarungan doa politik menjelang pemilu, besar harapku surat ini mendapat prioritas balasan dari-Mu. Tetapi tolong pastikan pada kurir pengantar, jangan sampai balasan-Mu nyasar di bangunan sebelah. Mereka bilang, itu kantor lawan politikku. Padepokanku berwarna hijau-putih-biru, menetapi apa yang disimbolkan dengan ketenangan agama-agama-Mu.

Sebagai salam terakhir, terima kasih atas kerja sama ini. Semoga aku menjadi klien paling berkesan untuk-Mu hingga kiranya diperkenankan oleh-Mu perpanjangan kontrak ini.


Salam,
Aku yang meyakini kebaikan-Mu,

Calon Tuhan

--

Surakarta, 23 April 2012

*ini contoh cerpen yang terlalu banyak disentuh. jadi nggak jelas apa yang dibicarakan. tapi malah sejalan dengan temanya: birokrasi. biasa lah, ribet dan berbelit-belit. haha

Sebelum Gugur dan Berbuah


Zain menatap pot di hadapannya. Mawar putih dalam pot tanah itu kian layu meskipun satu liter air selalu disiramkan ke tubuhnya. Gadis itu mendekat. Tangannya memeluk erat pot itu sebelum jari-jari mungilnya lincah menelusuri tulang daun. Satu-satunya bunga tersisa di tangkai itu masih bertahan dalam putih yang semakin menguning. Kelopaknya berguguran dalam enggan yang membantunya mempertahankan senyum Zain.
Dia tahu, Zain akan sedih saat tak ada lagi kelopaknya tersisa. Terlebih saat seluruh bagian tubuhnya harus mengering. Dia selalu berharap kematiannya terjadi di malam hari saat gadis itu terlelap. Sehingga keberadaannya hanya akan seperti mimpi saat gadis itu terbangun.

“Zain, sebenta lagi hujan deras. Masuk, gih!”
Suara wanita berteriak dari balik pintu. Zain menoleh dan menyahut sebelum kembali sibuk dengan sahabat putihnya. Tangan-tangannya membelai tiap ruas tangkai dan daun sebelum meninggalkannya di beranda teras. Dia tidak berani menyentuh kelopak, karena perasaannya selalu melarangnya melakukan itu.

Lima langkah sepeninggal Zain sebelum satu kelopak putih menyentuh tanah dalam pot. Tiga kelopak tersisa sebelum pemandangan tak indah itu diakhiri ibu Zain. Tanpa ibu Zain pun, hujan lebat malam ini sanggup membawa pergi seluruh nyawanya meninggalkan sumber hara-nya selama ini.

“Ma, kenapa si putih tambah layu?”
Zain memutar-mutar cangkir berisi cokelat hangat di atas meja. Mama selalu membuatkannya segelas tiap sore, dan Zain selalu menikmatinya hingga tetes terakhir. Terlebih dengan hawa dingin gerimis seperti ini.

“Putih nggak bisa hidup lama kayak Zain. Hari ini si putih pergi, tapi besok pasti ada putih-putih yang lain. Kayak dulu waktu pertama kali putih lahir dengan saudara-saudaranya.”

Sejujurnya Zain tidak begitu paham maksud ibunya, tetapi dia mengangguk atas nama kesopanan. Dia juga tidak ingin ibunya merasa sedih memiliki anak gadis yang sepanjang hari menghabiskan waktu mengamati setangkai mawar putih yang sedang sakaratul maut.

“Besok ikut Aisyah ke Taman Baca yuk! Tadi sore umi¬-nya ngajak Mama, tapi kamu masih tidur.”

“Iya, Ma. Kecapekan ngurus si putih nih. Padahal udah aku siram terus tiap hari segayung, masih layu aja.”

Zain mengerucutkan bibirnya. Matanya menatap ke luar jendela. Dari sana dilihatnya hujan semakin deras membasahi bumi, termasuk petak tanah di pot rumah si putih.

“Jadi mau ya?”

Zain memahami pertanyaan kali ini lebih berdaya intimidasi dibanding tawaran pertama. Dia mengangguk. Baginya melihat si putih sepanjang hari adalah terapi kehilangan. Bagi ibunya, gejala pesakitan. Ibunya menganggap kegiatan itu sebagai wujud protes jiwa Zain atas kehilangan ayahnya dua minggu lalu.

Kedua bola mata gadis itu kembali tertanam pada pot tanah kecil di beranda rumah. Derasnya air hujan mengaburkan bayangan si putih di kaca. Zain hampir mendekat untuk membersihkan sebelum ibunya meraih tangannya dan mengajaknya mempersiapkan makan malam. Zain tahu itu adalah penolakan. Ibu tidak pernah benar-benar membutuhkan bantuannya di dapur.

--

Aisyah tampak lebih normal untuk gadis seusianya. Berlari menuju antrian peminjaman, berdesakan memilih buku favorit, berbagi kisah dalam bacaan di tangan dengan para gadis kecil di sekitarnya. Sementara umi Aisyah berusaha menjaga perasaan ibu Zain dengan tidak menatap haru pada putrinya, gadis kecil lain yang diharapkan berbagi cerita bersama Aisyah berdiri beberapa meter dari mereka.

Zain masih mendongak tanpa lelah setelah hampir sepuluh menit berdiri dengan wajah menatap langit seperti itu. Pandangannya tertuju pada rerimbun bunga mangga di atasnya, tetapi pikirannya masih dikuasai bayangan si putih.

Mawar putih itu resmi menyerahkan dirinya pada hujan yang menarik keyakinannya pada tanah merah dalam pot. Zain tidak menduga perjuangan si putih sesingkat ini. Menurutnya mawar itu seharusnya bisa lebih menghargai persahabatan mereka dengan bertahan lebih lama. Setidaknya, sampai dirinya sanggup menyapa kelopak-kelopak terakhir si putih pagi ini.

Pikirannya tentang si putih mulai terganggu dengan kehadiran bunga lain yang lebih mewah pada cabang tinggi di atasnya. Bunga-bunga kecil yang berkumpul membentuk bunga lain yang lebih besar ini tampak lebih menjanjikan. Setidaknya, ada lebih banyak bunga di sana. Jadi Zain tidak akan merasakan kecewa yang begitu cepat dibanding gugurnya tiap kelopak si putih.

Suara panggilan Mama memaksa Zain bersikap lebih kekanakan dengan berlari mendekati Aisyah dan menatap takjub pada buku bergambar di tangannya. Dia lalu menanyakan keberadaan buku-buku tanaman bergambar sebelum Aisyah menggandeng tangannya menuju mobil buku. Beberapa meter dari mereka, dua wanita mulai tersenyum dalam harap masing-masing.

“Kak Sila, Zain mau pinjam buku tanaman. Tolong dicariin ya!” Aisyah berkata lantang dengan semangat ‘saya-bisa-bantu-teman’ yang diajarkan Pramuka sekolah.

“Yang ada gambar bunga mangga,” tambah Zain.

“Kamu beneran suka bunga ya? Anak tanteku ada yang suka tanaman juga. Dia sekolah khusus tanaman di Bogor sekarang.”

“Oh.”

“Kalau mau liatin bunga mangga, di taman yang sebelah belakang aja. Pohonnya lebih pendek, jadi lehermu nggak bakal capek.”

“Oke deh. Makasih ya, Aisyah.” Benar kata Mama, kamu ini anak baik. Zain masih membatin saat seorang remaja perempuan akhir mendekati mereka.

“Ini bukunya, Zain. Hari kamis dikembalikan ya!” katanya tersenyum menyerahkan buku berjudul ‘Budidaya Mangga’.

“Terima kasih, Kak!”

Zain berlari menuju pohon mangga yang dimaksud Aisyah dan segera membaca buku pemberian Kak Sila. Banyak kata-kata yang tidak dimengertinya, tetapi sebaran gambar di buku itu memudahkannya mengenali bunga besar yang tampak jelas sebagai kumpulan bunga berukuran kecil.

--

“Ma, kenapa bunga mangga kecil banget? Padahal pohonnya besar. Nggak kayak si putih.” Zain menyodorkan halaman terbuka pada foto-foto bunga mangga pada awal persemiannya. Sudah diputuskannya, ‘si imut gendut’ akan menjadi nama bunga mangga di taman baca.

Ibunya terdiam sebelum menjawab. Ada rasa kecewa menatap buah hatinya masih hidup dalam trauma kehilangan. Setelah ayahnya, si putih, dan kini pada bunga-bunga mangga itu. Dia bahkan belum memahami tanaman ini untuk menyusun ceramah kehilangan jika suatu hari nanti bunga-bunga itu gugur tak bersisa.

“Mama punya cerita bagus. Dahulu kala, ada anak yang berpikiran seperti itu. Dia duduk di bawah pohon beringin dan mengeluh pada Tuhan kenapa buah pohon beringin kecil sedangkan semangka besar? Padahal pohon beringin jauh lebih kokoh dan besar dari pohon semangka. Kamu tahu apa jawaban Tuhan?”

Zain menggeleng. Aksi penghormatan. Sebenarnya gurunya pernah menceritakan versi lain cerita ini, tetapi semangat wanita muda di depannya membuatnya memilih diam.

“Tuhan lalu menjawab pertanyaannya dengan menjatuhkan buah beringin tepat di atas kepala anak itu. Kamu tahu apa yang dia pikirkan selanjutnya?”

“Tuhan Maha Adil,” kata Zain singkat.

Ibunya tersenyum sebelum melanjutkan penjelasan yang sebenarnya sudah dihafal Zain. Jika saja Tuhan menciptakan buah beringin sebesar semangka saja, anak itu pasti tidak akan selamat.

“Kapan Tuhan ambil si imut gendut dari Zain ya, Ma?”

Wanita itu tak kuasa menahan emosi yang menyesakkan dadanya. Diraihnya tubuh mungil di hadapannya dan didekapnya penuh kasih. Cukuplah bahasa hatinya menjawab kegelisahan hati Zain.

--

Gadis itu semakin mendekat pada rumpun bunga di hadapannya. Beberapa bunga telah menjelma buah kecil yang hijau. Zain kecil menatap takjub pada tiap perubahan yang dituangkannya dalam sketch book di tangannya.

“Ma, kenapa bunga mangga harus layu dulu sebelum jadi buah?” Zain menunjuk bunga-bunga layu pada rumpun di hadapannya. Mata beningnya menanti jawaban bijak ibunya. Wanita itu tersenyum. Ada aliran panas yang menampar pipinya demi mendengar dan menjawab pertanyaan anaknya.

“Seperti manusia, ada yang layu sebelum menjadi lebih baik. Ada pula yang layu sebelum gugur.”

Mata wanita itu panas menahan air yang menggenang di kelopaknya. Menatap gadis di hadapannya mengangguk paham membuatnya semakin sakit. Dalam menghadapi kehilangan, sebenarnya Zain lah bunga mangga itu. Dia adalah setangkai mawar yang semakin layu di atas tanah kehidupan. Tetapi dia tidak mau seperti si putih. Tidak untuk menciptakan kehilangan lain bagi Zain.

Solo, 21 Desember 2011

#repost cerita lama (: