Showing posts with label galau. Show all posts
Showing posts with label galau. Show all posts

April 9, 2013

Merajut Tanpa Benang dan Jarum (Bagian 2)


Dia ciptakan suara-suara, dan tidak semua yang Dia ciptakan membantu dengan nyata. Seperti game developer yang ciptakan banyak ghost untuk dapatkan reward. Dan seringkali mereka tidak membantu.

Kalau mencari dan mengusahakan benang dan jarum itu (saja) masih begitu sulit, masih bisakah saya merajut? Saya pikir mungkin merajut bukanlah profesi yang paling tepat untuk saya.

Mereka bilang: seharusnya kau tidak boleh tertekan dengan pencapaian sejauh ini. They think (that) they know me, seperti menganggap kotoran luwak sebagai biji termahal di dunia atau tumpukan liur sebagai aset berharga. Those come from (sorry) shit.

Apa jadinya seseorang yang tumbuh dengan sosialisasi tidak sempurna, orang yang cacat secara sosial? Jiwa mereka juga cacat. Mungkin sama riskannya dengan kupu-kupu yang dipaksa bangun dari kehangatan kepompongnya oleh anak-anak kecil yang ingin tahu. Poor it.

After a long thinking… rasanya semua masih sama: hitam – abu-abu. Dan mereka (sekali lagi) pikir saya tidak berpikir. Terserah mo ngomong apa toh gue yang… #Wrong Way, Bondan-fade2black#

Menenggelamkan diri dalam pecahan kaca murahan yang menyayat kulit. Merusak wajah yang tidak sempurna. Menyakiti diri sendiri. And the story goes back… what a suck!

#np SS501: Because I’m Stupid.

Yeah, maybe like that… berhubung saya selalu berpikir dan merenungi kejadian lingkaran: tanpa pernah tahu titik awal dan akhir. Saat terdiam pun, gema di otak saya hanya menyuarakan semua kejadian-kejadian lingkaran.

Mencari Benang

Even though yang paling berantakan, ruwet, dan gak jelas… selama itu benang-benang yang punya awal dan akhir. Bukan roda, gelang, tutup botol, kincir angin. Dan hal-hal melingkar lain yang jika terus mellingkar dan merapat akan menyesakkan dan tewaskan saya.

Menguraikannya

Dengan tersenyum dan berpikir untuk sesuatu yang lebih jelas, lebih bermakna. Someone said: sepayah apapun itu, pasti bermakna. Okay, maybe yes -menurut mereka. Tapi apakah pantas saya pakai standar mereka yang bahkan bukan SNI? Sialnya, saya tidak suka standar mata, apalagi hati mereka. Karena semuanya hanya akan memantul ke otak mereka.

Tuhan yang tahu kucinta Kau… BCL sang.

Everything’s back to The Only Gave It to Me.

Bukan Anda, kamu, dia, mereka, juga kalian. No matter how precious your degree is.

Sebenarnya saya tidak peduli. Tapi otak (ditambah hati) saya begitu jahat dengan terus memaksa saya memikirkan kalian. Menyebalkan.

Kapasitas otak saya masih kecil, tapi sudah 18 tahun Dia biarkan saya rusak bumiNya. Padahal saya ingin kembali, tapi saya harus terus ke depan. Menyapa mereka dari podium dan memaksakan senyum palsu tanda terima kasih dan mengoceh banyak hal untuk menyenangkan mereka. Setelah itu menangis.

Poor me? No, that’s stupid. Dan menangis lagi, tapi bukan untuk sesuatu yang cukup tinggi dan sulit untuk ditangisi. Lantas, masih mulia kah air mata yang terus menetes keluar itu?

Saat hati tak lagi beku, ia menjadi cair untuk apa dan karena apa? Bukannya semua itu tangisan? Dan bertanya pun menjadi attitude orang bodoh: karena mereka tidak mau berpikir.

Ya, benar. Saya jadi egois tanpa sosok penjaga benang dan jarum yang dulu saya buang. Tapi saya masih punya sosok Yang Maha Memberi.

Padahal Undang Undang sudah mencatat saya sebagai orang dewasa secara yuridis. Sayang sekali. Seandainya bisa ditunda… padahal saya masih ingin berteriak kencang atas kekecewaan, bukan menangis dalam pemikiran yang terabaikan.

Padahal keong racun dirilis tahun 2008, tapi baru tahun 2010 hati saya bergejolak? *tulisan apa ini? analoginya terlalu menyesakkan dada!!*

Mungkin karena saat menerima gift-Nya saya belum paham dan berpikir semua ini akan berlangsung seperti mengikuti acara konser Justin Bieber di MTV: berteriak histeris dan terharu (?) menatap teman sebaya (saat itu) menyandang status dan peran seperti itu. Dan pastinya karena otak saya belum terpakai lebih dari 0,5 persen saat itu. Arrrgh!!

Saat kau tahu kau nyaman berjalan kaki tapi kau harus naik bus untuk sampai ke tujuanmu dengan alasan waktu. Dan ini paksaan dalam bahasa nasihat.

Debater itu munafik. Sometimes. Maybe yes. Maybe no. Saya ingin katakana “No” dan mengangguk, lalu katakan semua dengan jujur.

In my way…

Merajut Tanpa Benang dan Jarum (Bagian 1)


Saat saya berpikir cahaya saya akan benar-benar menyinari tingkatan ini, kembali saya dipersalahkan oleh ego yang sebenarnya bukan otoritas saya.

Saya pernah buang semua benang dan jarum yang dulu bantu saya hasilkan beberapa helai rajutan (yang masih cacat).

Tapi sekarang, tanpa benang dan jarum itu, masih bisakah saya merajut? Apapun jawabnya, saya harus tetap merajut. Sebagai professional: merajut pola mereka.

Saat bertemu merak di taman (bagian gersang mana di kota itu yang menyimpan keindahan merak?) saya pikir tak apalah jadi feminim yang benar-benar mempesona sepertinya. Anggun yang totalitas, feminis kuno.

Saat melihat ke atas: rasanya terbang bebas seperti elang menyenangkan sekali~~ tapi saya tidak terlahir perkasa seperti elang. Yah… paling tidak saya menyukai sayapnya. Apapun nama mereka, saya kagum pada bulu-bulu yang dirajutNya itu, menerbangkan mereka pada langit yang begitu bijak.

Haaah… tapi saat pada akhirnya saya dapatkan sayap itu, saya “tersesat” dan terkurung dalam sangkar emas yang saya bangun dengan liur saya (sekarang ini saya seekor wallet).

Mereka lihat sarang saya sebagai peti emas atau kebun buah yang siap mereka panen. Tapi bagi saya, sangkar ini tak lebih dari tumpukan liur yang begitu memuakkan.

GJ


Para sesepuh sering menasihatinya untuk alon-alon waton kelakon pada tiap pertemuan keluarga, karena ketergesaan mendekatkan seseorang pada lalai yang disebabkan gangguan setan. Menurutnya perkataan para simbah itu berlebihan; orang-orang yang senantiasa pelan lah yang sedang dalam pengaruh setan. “Kan nggak cak-cek,” pikirnya. Lagipula manusia sudah terlalu sering menyalahkan setan dalam kelalaian mereka. Dia ingin sedikit bijak untuk menyalahkan keteledoran hari ini pada dirinya. Benar-benar utuh karenanya.

Aturan itu menyuruhnya untuk tidak memikirkan dunia saat jiwa dikembalikan pada tubuh di pagi hari mata terbuka dan kesadaran nafas pertama kali berhembus. Namun data ratusan megabyte yang menghilang semalam memaksanya menghubungi nomer itu. Bukan untuk menelepon, karena dia tidak suka perbincangan tidak langsung, terlebih dengan lawan jenis. Dua pesan tak berbalas. Padahal dia sangat yakin orang itu adalah pelakunya: penjahat akademik yang tega menghapus data kuliah di laptop temannya hanya karena gagal mendapatkan gosip terbaru tentang gebetan. Terlalu kekanakan.

Pukul sembilan lewat sepuluh menit saat akhirnya pesan-pesan itu berbalas. Bahkan perlu beberapa pesan untuk membawa kembali data-data yang menginap di flashdisk tersangka. Setelah menit-menit menyebalkan dengan sosok dingin itu, delapan ratus lima puluh tiga megabyte data kuliah terselamatkan. Pikirnya, larangan merisaukan dunia di saat bangun tidur tidaklah benar.

“Kaan, Dia nggak benar-benar niat berantakin urusan duniaku?” batinnya terkekeh. Dia melupakan nasihat lain para sesepuh. Untuk tidak sombong, terlebih dalam bahasa menantang Pencipta.

Satu tulisan selesai dalam dua jam, tepat saat ajakan makan ramen terdengar olehnya. Ada diskon dua puluh persen untuk promo minggu awal pembukaan resto Jepang di daerah Manahan. Bagi mahasiswa dengan keuangan akhir minggu, momen seperti ini sangat penting. Dengan senyum kepuasan memandang tulisan di laptop, dia menuju kamar mandi. Pukul sebelas lewat tujuh menit menjadi awal petualangan ramen. Sebenarnya jika bisa dia enggan meninggalkan kos saat matahari berada pada jadwal menyombongkan diri yang teramat. Tiduran di atas lantai porselin jauh lebih nyaman daripada motoran sepajang Kentingan-Manahan di siang panas demi semangkuk ramen diskon dua puluh persen yang panas.

“Dua puluh persen!” tiba-tiba semangat juang mahasiswa angkatan 98 terpatri di dadanya. Toh mereka sama-sama berjuang untuk menanggulangi kelaparan rakyat.

Lampu merah pertama. Sayangnya angka tujuh puluh dua berkedip dengan genit menyertainya. Ditengoklah ponsel dari saku roknya, kebetulan – yang dikarenakan kondisi bahan bakar – kali ini dia hanya membonceng. Meskipun selalu sebal pada mereka yang bermain ponsel saat berkendara – dengan hak khusus bagi para pembonceng –dia jauh lebih sebal membaca empat pesan masuk di ponselnya. Semua bernada tipikal: menagih tulisan untuk majalah, karya tulis, diskusi, dan tugas kuliah. Perbedaan penguasaan linguistik pengirim yang menjadikan sensasi membaca yang berbeda pada tiap pesan. Tetapi efek kebahasaan itu tidak merangsangnya menemukan ide tulisan. Otaknya sedang tidak encer, bahkan dengan dipanggang terik surya seperti itu.

“Sepertinya kita tersesat” adalah pikiran buruk yang menjelma kenyataan. Dia dan dua teman kosnya bukanlah penjelajah Solo yang baik. Anak rumahan seperti mereka akan sangat mudah tersesat dengan percabangan jalan kota kecil ini. Tiba-tiba dia membenci mereka yang gemar menggelar acara hajatan di tengah jalan kompleks seolah antero jalan adalah warisan leluhurnya. Tanpa penghalang seperti itu, seharusnya mereka tidak perlu berputar-putar dalam temperatur tinggi sebelum mendapati rumah mungil berhiaskan lampion-lampion merah bertuliskan kanji Jepang. Dia tidak bisa membaca kanji Jepang, tetapi pasti tulisan itu tidak terlalu jauh dengan kata ‘ramen’, menetapi fungsinya sebagai penghias resto ramen.

Suara-suara panggilan dari kedua temannya baru disadarinya ketika matanya tertuju pada kertas HVS terlaminating bertuliskan satu kata yang paling dihindarinya siang ini: TUTUP. Rasanya seluruh cairan di tubuhnya meminta pengganti ekstra secepatnya. Anggukan lemas dipersembahkannya dengan manis pada setiap tawaran tempat makan yang diajukan kedua temannya. “Hari ini geje sekali,” batinnya kesal.

Dua warung makan pertama memutuskan menolak rejeki akhir pekan dengan menutup diri sebelum akhirnya dua motor itu melaju ke tempat yang seharusnya bisa ditempuh lima menit dari kos mereka. Dengan hawa panas, tubuh berkeringat, dan kepala pusing, dia menambah penderitaan dengan kesalahan pilihan menu. Nihilnya nametag di tiap menu membuatnya memilih oseng-oseng kikil yang sangat pedas dan mengharuskannya merasakan lidah serta perutnya terbakar. Kondisi tidak menyenangkan muncul saat rombongan wanita keluar dari bangunan di depan tempat makan mereka.

Merasa tidak enak karena sempat menolak memberi bantuan pada salah satu wanita itu, dia berusaha bersembunyi di balik kawannya. Untungnya rombongan itu tidak menetapkan tempat makan itu sebagai pemberhentian mereka. Untungnya lagi, dia mendapatkan hiburan merakyat di sana: musik melayu, yang katanya menghianati musikalitas anak bangsa karena nggak banget, tetapi justru mampu menciptakan tawa kelegaan setelah pusingnya berpanas-panasan dalam ketidakjelasan hari ini.

Menurutnya kelalaian hari itu resmi berakhir dengan tiga kemenangan berturut-turut pada game komputer yang dimainkannya sesampainya di kos. Dia hanya belum menyadari waktu luang yang seharusnya digunakan menyelesaikan setumpuk tugas. Tepat saat masjid di samping kamarnya berkumandang, dia terlelap. Padahal, kata para simbah, tidur sehabis ashar itu tidak baik, bikin cepat pikun. Menurutnya pikun adalah kata yang kurang etis ditujukan bagi remaja sepertinya, karena meskipun terbangun oleh ingatan deadline tugas yang tinggal menghitung jam, toh dia masih bisa mengingat.

Sisa sore itu menjadikannya sadar bahwa membuat tulisan akademik tidak pernah mudah, terlebih saat membuatnya dengan mengganti tulisan tidak akademik untuk terlihat akademik. Dia lantas paham kenapa pekerjaan editor bisa menjadi sangat sulit sekaligus menyebalkan. Terlebih dengan intensitas cap sok tahu oleh penulis asli. Terlebih menjadi ‘editor’ tulisan dosen. Dengan selang waktu makan-minum-makan-game, revisi tulisan akademik diselesaikannya dalam tiga jam, menyisakan satu jam sebelum pintu e-mail dosen tercinta tertutup untuknya.

Dia berharap pertolongan langit menghampirinya dengan membersihkan tubuh untuk kedua kalinya sebelum kembali menyapa udara luar. Tetapi rupanya hujan ingin bermain-main dengannya sedikit lama. Sudah hampir setengah jam saat hujan yang dilema – dengan frekuensi rintik yang tidak jelas – akhirnya berhenti. Dia telah menenggelamkan diri dalam kesibukan modem-email-pulsa sebelum pada akhirnya memutuskan mengizinkan motornya menyapa dunia malam. Hujan tak lagi bertahan dengan rintik kecilnya saat dia melaju dalam semangat anti-che. Dia sempat meyakini dugaan bahwa dosen itu merupakan pengagum Che Guavera dengan kegemarannya melabuhkan bulan sabit (meskipun bukan bintang) di kartu hasil studi para mahasiswa.

DONE adalah kata terindah yang membuatnya mencintai Yahoo saat ini, meskipun hatinya masih terus berdoa agar Tuan Failure Daemon tidak mengunjungi kotak masuknya. Beberapa arsip harus diunduh dari e-mail seorang teman ketika kedua tangannya mendadak lemas. Tawa kecil spontan keluar dari bibirnya memikirkan deretan kelalaian yang membawanya pada ketidakjelasan hari ini. Seingatnya dia masih mendapati rakaat-rakaat sunnah fajar dan sepenggalah matahari, tetapi entah mengapa pertolongan langit tidak menyapanya hari ini. Dia lantas semakin terkekeh saat menyadari empat dan dua rakaat wajib yang justru terlewatkan olehnya di awal hari ini.

Tubuhnya yang lemas memaksa jari-jarinya menekan layar sentuh ponselnya yang low bat. Nada sambung yang cukup lama sebelum suara familiar siang ini didengarnya. “Mbak, tolong ke CoreNet. Uangku ketinggalan...”

Solo, 25 Februari 2012

Surat dari Negara

Title :Surat dari Negara
Tags : sosial, politik, pemilu, remaja, dilema
Character : siswa/i kelas 2 SMA, 17 tahun
Synopsis :

Tokoh aku cukup syok ketika mendapati dirinya terdaftar sebagai pemilih pada Pilpres 2014. Meskipun secara fakta usianya telah memenuhi kualifikasi pemilih, baginya umur tidak menentukan kedewasaan seseorang. Kebetulan saja takdir menjadikannya lebih tua dari teman-teman sebayanya. Dia merasa belum cukup bijak menggunakan hak pilih. Latar belakang politiknya nol, pengetahuan profil calegnya sangat jauh dari kurang, dan utamanya dia belum ingin mengemban tanggung jawab sebesar itu.

Baginya memilih presiden bukanlah sebatas soal partai mana yang paling populer atau visi-misi capres mana yang terbaik dan paling feasible dilaksanakan. Memilih presiden berarti ikut menentukan nasib bangsa lima tahun ke depan.

Dia tidak ingin asal pilih hanya karena kakak sulungnya sering berceramah ‘abstain itu dosa’ atau menjalankan amanat guru kewarganegaraannya ‘ikut berpastisipasi dalam pemilu berarti menyukseskan demokrasi’. Terlebih kawan-kawan seusianya tidak pernah serius memikirkan ini. Mungkin karena mereka belum pernah mendapat kartu pemilu, atau karena ‘urusan negara’ selamanya hanya menjadi kepentingan pihak-pihak tertentu.

Maka dia mulai memikirkan capres mana yang mewakili kepentingan-kepentingannya.

Sebagai pelajar pada umumnya, dia tidak suka pengadaan ujian nasional yang selalu menjadikan para guru dan kakak kelas overreacting. Dia juga tidak suka libur pendek saat bulan puasa yang membuatnya harus terserap hawa lemas teman-temannya. Dia tidak pernah bagus pada sains tetapi menonjol di kesenian, maka dia mengharapkan sistem pendidikan yang ‘mendalam’ sejak awal, agar mereka yang tidak dapat melanjutkan sekolah selepas SMP/SMA (seperti salah satu temannya) tidak bingung menggunakan banyaknya cabang ilmu yang terlalu dangkal.

Soal putus sekolah juga harus diatasi. Dia mengenal orang-orang berpola pikir pragmatis di desanya yang mencela sekolah akibat tujuan pembelajaran yang menurut mereka terlalu teoritis dan abstrak, maka sistem pendidikan yang mengutamakan life skill harus dioptimalkan.

Dia juga –meskipun benci perpolitikan– menginginkan capres yang benar-benar berani menjadi pemimpin, yang kata guru agamanya ‘bertanggung jawab dunia-akhirat atas umatnya’. Soal DPR apalagi. Dia ingin capres yang bisa menciptakan parlemen yang keren, yang apabila rapat tidak norak dan porno. Dia pernah mengidolakan kakak-kakak kelasnya yang menjuarai debat parlemen internasional. Menurutnya ‘yang seperti itu baru bisa dibilang mikir’.

Setelah mendaftar kriteria capres idaman, dia mencoba mengenal keempat profil capres melalui perantara Mbah Google yang melebihi oang pintar. Bahkan dengan mengulang pencarian itu selama satu minggu, dia harus menerima kenyataan figur capres idamannya tidak pernah muncul dalam surat suara.

Dia tidak mengikuti pemilu legislatif sebelumnya karena (kebetulan) sakit, sehingga tidak perlu bingung dengan ratusan nama yang menimbulkan peluang dosa tinggi (karena salah pilih anggota dewan). Tetapi hanya dengan empat nama sebagai ‘produk’ yang ditawarkan, kegalauannya tidak menipis. Pertimbangan-pertimbangan pengalaman politik, intelektualitas, spiritualitas, gender, bahkan perupaan semakin membingungkannya.

Sudah lima menit dia berdiri dalam bilik suara, tetapi tangannya belum menyentuh alat contreng tersedia. Dia bisa merasakan pandangan sebal dan pemikiran negatif orang-orang yang mengantri nyontreng di luar bilik. Tidak ada suara selama lima belas menit, hingga sosok itu jatuh dan dikerumuni panwaslu.

Surat suara yang hampir terlipat itu tidak meninggalkan contrengan apapun kecuali kotak tambahan di bawah keempat capres. Sebuah silhuet tanpa nama, gelar, partai. Tambahnya di bawah silhuet itu ‘DICARI: pemimpin beriman, cerdas, dan merakyat’.

March 11, 2012

Bermain-main dengan Iman




“Kenapa Tuhan merasa perlu menciptakan manusia?”

Pesan singkat yang dikirim teman pagi itu sukses menggalaukan hari saya. Kalau dijawab ‘untuk menjadi khalifah di bumi’ dan seterusnya saya rasa tidak begitu sesuai karena akan melahirkan pertanyaan senada, “Kenapa Tuhan merasa perlu menjadikan manusia khalifah di bumi?”

Pertanyaan ini menjadi sulit karena selama ini manusia belajar mengenai hal abstrak seperti ini melalui pendekatan mereka; pola pikir manusia sebagai ciptaan. Bukan dari sudut pandang Tuhan sebagai pencipta. Saya lalu mencari jawaban dari beberapa teman sebagai bahan pengayaan pemahaman.

Karena Tuhan kesepian. Jawaban absurd pertama yang saya terima dan menjadikan saya melongo. Bukan karena saya tidak pernah berpikir serupa, melainkan karena jawaban-jawaban sebelumnya selalu bermuara pada kolam kerahasiaan ilmu langit.

Jawaban lain menyatakan Tuhan sebagai Mahaguru. Untuk menjadi guru, seseorang harus mempunyai murid. Jawaban ini sedikit ‘lebih’ religius karena dalam kitab-Nya saya menemukan ayat yang menceritakan bagaimana Dia mengajari manusia banyak hal.

Tuhan hidup karena disembah. Jawaban ini adalah bentuk tafsir bebas yang merujuk pada tujuan penciptaan jin dan manusia: untuk menyembah Tuhan. Saya tentu tidak berharap lebih banyak orang berpikir mmengenai konsep ini karena pada akhirnya mereka akan berhenti pada pertanyaan baru: kenapa Tuhan bermain-main dengan kehidupan? Kenapa pula Dia ciptakan skenario besar dengan dua opsi sebagai titik akhir permainan? Konsep surga dan neraka menjadi sangat menyebalkan pada titik ini.

Dalam tulisan seorang teman terlihat jelas bagaimana dia sangat memuja Tuhan dengan agama yang tidak memerlukan manusia untuk melindunginya dan seterusnya. Maka, dengan pemikiran seperi itu Tuhan nampaknya benar-benar tidak membutuhkan manusia. Manusia lah yang membutuhkannya. Lantas kenapa Tuhan menciptakan makhluk yang tidak Dia butuhkan?

Setelah menghabiskan pagi dengan beberapa diskusi, pada akhirnya saya kembali pada aturan main yang telah Dia tetapkan dalam kitab. Ada pertanyaan-pertanyaan yang tidak perlu dijawab (bahkan diajukan) karena akan merusak keimanan. Tentu jika pertanyaan-pertanyaan itu muncul sebelum Qur’an sepenuhnya diturunkan, Dia akan menjawab melalui firman-Nya.

Dahsyatnya kepercayaan umat terdahulu tampak pada keyakinan atas konsep penciptaan dalam Qur’an Surat Al Alaqah. Pada saat itu, ilmu kandungan belum diperkenalkan sementara Eropa masih berada dalam masa kegelapan mereka dan para ilmuwan Islam pun belum lahir. Namun keimanan para sahabat pada Rasul mengantar kita pada penemuan ilmu tersebut saat ini.

Derajat keimanan kita pada ayat tersebut (setelah adanya bukti ilmiah) tentu berbeda dengan para sahabat. Karena kepercayaan pertama yang sesungguhnya adalah saat seseorang mempercayai tanpa bisa menjelaskan alasan dan buktinya.

Kalau sahabatmu dituduh mencuri sementara kau tidak mengetahui buktinya dan kau mempercayainya begitu saja, itulah kepercayaan. Tetapi kalau kau baru mempercayainya saat semua bukti tidak mengarah padanya, kau ‘boleh’ sebut itu percaya.

Seorang teman berkata senada. “Kamu tahu orang tua kamu adalah orang tua kandungmu?” Iya, jawabku yakin. “Tidak, kamu hanya percaya sebelum benar-benar tes DNA”.

Rasul telah membaca hadirnya masa ini; zaman di mana iman (keyakinan) benar-benar mahal. Bahkan beliau menyatakan ‘kehebatan’ kaum yang masih mempercayai dan bersungguh-sungguh berjuang menegakkan kalimat-Nya di saat dirinya tak lagi hadir secara fisik di bumi. Saat tak ada lagi contoh hidup yang benar-benar dapat diteladani karena para ulama sibuk berlomba antar-firqoh.

Agama ini telah memberikan sarana kebebasan berpikir dan mengeja Tuhan. Sejarah mencatat bagaimana Ibrahim membutuhkan waktu untuk mencari dan belajar mencintai tuhannya. Terlebih manusia. Dia mengizinkan kita mengenal-Nya melalui ciptaan agar kita merenunginya. Karena sebagai ciptaan, akal manusia seyogyanya mampu memahami ciptaan. Bukan Pencipta.

Terkadang saya begitu tergoda untuk bermain-main dengan keimanan. Aturannya gampang: cukup percayai sebuah konsep, lalu mulailah pencarian kebenaran konsep itu secara logis, dan kembali percaya pada konsep awal dengan pendekatan yang bertambah. Kalau jawaban logis tak didapat, kembali pasrah pada kepercayaan awal. Dosakah? Allahu ‘alam. Tetapi saya sadar penuh bahaya yang menyapa di balik permainan ini.
Saya paham bagaimana Dia berkehendak membolak-balikkan hati seorang hamba. Tidak ada yang dapat menjamin seorang ahli agama pagi ini akan tetap menjadi ahli agama di malam hari, dan sebaliknya. Kadang manusia merasa terlalu maha untuk menjadi takabur. Pada saat itu, konsep kebenaran yang seharusnya diyakini begitu saja akan tampak kabur dan selalu mengendapkan tumpukan pertanyaan.

*btw saya juga bingung mau ngasih gambar apa soal beginian. next time hunting foto dulu lah #sok2an

January 20, 2012

Asasi

Dunia menganugerahi kita sebuah konsep yang memungkinkan kita mendapat dan mengusahakan keinginan kita dengannya. Konsep yang biasa dikenal dunia internasional sebagai “human right”. Indonesia, dengan bahasa nasionalnya, menerjemahkan konsep itu sebagai hak asasi manusia. Hak dasar untuk manusia.

Konsep ini dipercayai sebagai salah satu cara memanusiakan manusia, dengan mengakomodasi keinginan mereka dan menetapkannya sebagai dasar kebutuhan. Sehingga pemenuhannya menjadi keharusan dan peniadaannya akan menjadikan manusia tak lagi dianggap manusiawi.

Perbincangan lokal hingga internasional banyak meletakkan poin hak asasi manusia (HAM) dalam daftar masalah inti –yang kemudian menjadi laten. Masyarakat dunia yang menempatkan HAM sebagai syarat untama menjadi manusiawi merumuskan akar permasalahan pada ketiadaan penjunjungan HAM dan menetapkan pemenuhannya sebagai solusi.

Namun, tidak sejalan dengan tujuan perdamaian dunia yakni harmonisasai kehidupan internasional, akan selalu ada pertentangan dalam tiap kepentingan.

HAM dilahirkan sebagai kebutuhan dasar manusia untuk hidup dalam kondisi ekonomi, sosial, dan politik yang layak dalam standarnya. Keseluruhan hak ini boleh didapat setelah manusia memenuhi kewajiban, konsep lain yang mengharuskan mereka melakukan sesuatu untuk mendapatkan sesuatu.

Dalam aplikasinya, HAM memiliki turunan hak minor lain yang kemudian –atas nama kemanusiaan- harus dipenuhi, dalam turunan ke berapa pun. Di sinilah saya merasakannya bahaya –atau dalam bahasa dengan kesederhanaan lain, rawan. Hak seseorang, apapun istilah yang digunakan untuk menamakannya, pasti mewakili kepentingan orang tersebut. Namun dalam tingkatan apakah semua hak itu harus dan dapat terpenuhi?

Saat seseorang dibunuh, kita berbicara tentang hak orang itu untuk hidup. Lalu kita menghukum mati pembunuhnya untuk “mengembalikan” pencurian hak hidup. Ketika kasus ditutup, akankah hak kedua orang itu untuk hidup telah benar-benar terlindungi dengan HAM?

Saat seseorang merasa nyaman dengan sebuah keyakinan, dia merasa memiliki hak untuk memilih meyakininya. Namun saat keyakinannya dianggap mengancam mereka yang merasa hak atas rasa aman dan nyamannya terusik, hak siapakah yang akan diutamakan? Sedangkan ini adalah persoalan vertikal antara makhluk dan Pencipta.

Dalam kegiatan berpikir dan berbicara “bebas” yang saya ikuti (parliamentary debate), pada akhirnya debaters tidak menggunakan poin HAM sebagai kekuatan utama untuk menganalisa dan menyelesaikan kasus. Karena akan selalu ada negasi dari hak seseorang. Saat kita ingin membatasi hak, saat itulah kita menghancurkannya. Seminor apapun itu, dan sebesar apapun kewajiban untuk mendapatkannya.

HAM sebagai konsep (buatan) manusia berusaha memanusiakan manusia. Tetapi, sebagaimana ketidaksempurnaan manusia, pemikiran ciptaannya pun terasa rapuh. Pemenuhan hak seseorang sekaligus menjadi penghilangan hak sebagian yang lain. Maka, tidak akan pernah ada penggenapan hak, dalam turunan asasi apapun. Thus, saya mulai berpikir bahwa konsep ciptaan ini tidak cukup kuat.

Bagi saya, hak dan kewajiban mutlak hanyalah untuk Pencipta. Saat saya berkomitmen untuk konsep ini, mungkin masih ada pihak lain yang merasa haknya untuk tidak hidup bersama ekstermis pemuja Tuhan (jika dia menganggap saya seperti itu) terganggu. Tetapi ini akan lebih efektif karena inti konsep ini adalah hubungan bilateral antara hamba dan Tuan. Mereka yang bukan merupakan Tuan saya –dan tidak mungkin mau dihambakan- tentu tidak perlu memikirkan bagaimana saya berkomitmen untuk memenuhi kewajiban saya pada Tuhan sebelum Dia berikan hak saya. Tentu saja, dengan caraNya.

Jika kemudian dengan konsep ini saya terlihat hidup dalam kondisi politik, ekonomi, dan sosial yang tidak manusiawi menurut standar manusia, saya tahu pasti apa hak dan kewajiban saya. Bukan untuk meminta pergantian standar hidup pada sesama makhluk, karena transaksi saya adalah bilateral vertikal dengan Yang Maha Kuasa. Tentu cara langit akan jauh berbeda dengan cara bumi. Begitulah, kemudian saya akan tetap berjalan dengan konsep ini dan berusaha mengais untuk rasakan bahagia langit di kolong bumi. Semoga saja. Amin.

Gamelan Padang Pasir

Akhir-akhir ini sebuah bisikan terdengar lebih keras di otak saya: “Apakah Islam (memang) seperti ini?”

Anggota komunitas pasti ingin menjadi refleksi komunitas mereka, dengan selalu menyertakan identitas dalam kata dan perbuatan mereka. Begitulah yang saya lihat dari mayoritas mahasiswa yang bergerak di bidang organisasi, termasuk gerakan keagamaan. Mereka (kebetulan saya mengamati mereka yang beridentitas sama dengan saya) selalu menambahkan istilah bahasa Arab dalam ucapan mereka. Bahkan kemudian terbentuk stigma bahwa semakin tinggi tingkatan seseorang, akan semakin banyak istilah “keagamaan” disertakan dalam kalimat mereka. Apakah ini Islamisasi, atau Arabisasi?

Sebagian besar mereka (mungkin) memandang rendah saya yang menyukai irama dalam harmoni yang tidak mereka sukai. Saya pernah mendengar mereka menyebut rangkaian melodi itu sebagai “musik setan” karena diciptakan oleh mereka yang berada di “jalan yang salah”. Tidak seperti apa yang selalu mereka dengarkan, alunan syahdu penuh kelembutan dalam nada-nada yang tidak saya sukai. Menurut saya, ini tentang selera. Toh apresiasi saya tidak terlepas dari bagaimana saya merasa dan mendengar kalimat dalam nada-nada itu, bukan sekedar tampilan fisik dalam video menyegarkan dari boyband Korea.

Bagaimana seseorang menggunakan dan berpikir dengan musik lah yang menjadi fokus saya. Gambus dan kesenian padang pasir lainnya (masih) belum sesuai dengan telinga dan otak saya. Mungkin mereka akan mempertajam tatapan mereka saat saya berteriak frustasi untuk mendengarkan punk rock daripada nasyid. I swear. Sejauh ini saya lebih banyak terinspirasi dari nada-nada seperti itu, lantas salahkah saya? Untuk menjadi totalitas, haruskah saya mencintai alunan padang pasir? Apakah ini Islamisasi, atau Arabisasi?

Dalam taraf lain mereka bahkan mengatakan kebudayaan sebagai salah satu jalan menuju penggandaan keyakinan. Ini gila, pikir saya. Meskipun saya bukan budayawan ataupun penikmat budaya yang menilai karya dalam bahasa langit, saya cukup menyukai budaya yang saya kenal. Saya hidup di Jawa dengan setumpuk kebudayaan di sekitar saya. Sementara saya –dalam kewajaran seorang hamba- menginkan kedekatan tertentu dengan Tuhan, beberapa sisi dalam ajaran saya menilai budaya sebagai bahaya. “Ada lorong-lorong yang justru menjauhkanmu dari rumah Tuhan jika kau terlalu lama mendekam dalam gelapnya,” kata mereka.

Kebudayaan lahir dari pembiasaan pikiran yang tervisualisasi dalam kata dan perbuatan, begitu yang saya pelajari dalam Sosiologi. Untuk merubah peradaban sebuah masyarakat, pembiasaan dalam pemikiran-pemikiran baru mutlak menjadi suatu keniscayaan. Lantas, saat saya ingin menyeluruh dalam mendekati Tuhan di jalan yang telah Dia pilihkan, saya sadar akan sebuah kewajiban membumikan budaya baru itu. Tapi, apakah sesuatu yang baru itu benar-benar merupakan unsur dari inti totalitas yang saya inginkan? Ataukah hanya karena lokasi keberadaan yang sama menjadikan sesuatu mutlak menjadi bagian sebuah sistem? Bukankah seorang pembantu rumah tangga, setinggi apapun kebaikan majikannya, tidak akan pernah bisa tercatat sebagai bagian keluarga inti majikannya begitu saja, hanya karena mereka hidup di bawah atap yang sama?

Di akhir semua kekesalan dengan sapaan dan perbincangan yang penuh dengan kosakata “keagamaan” diiringi hiburan “keagamaan” bersama mereka yang dianggap mewakili aura dan kharisma “keagamaan”, bisikan di dalam otak saya justru semakin sering terdengar. Sebagai remaja yang labil, saya menjadi lebih berhati-hati dalam menyaring semua cairan itu.

Mereka berkata, “Inilah Islam.” Tapi, sekali lagi, bisikan itu terdengar, “Apakah Islam (memang) seperti ini?” Jika agama ini pertama kali diturunkan di tanah Jawa, akankah mereka kemudian berlomba-lomba mencipta nada lewat gamelan seperti para penyampai terdahulu? Ataukah mereka akan menggunakan keseluruhan krama inggil dalam sapa dan kata mereka? Lantas, akankah ini menjadi Islamisasi, atau Jawaisasi?

Menyapa Kebebasan

Setahu saya, bebas ya bebas. Tanpa batas, tanpa aturan. Saat kemudian ada tanda bintang yang mengisyaratkan “syarat dan ketentuan berlaku”, esensi bebas tak lagi ada. Lahirlah sesuatu yang mereka sebut kebebasan bersyarat.

Tulisan ini tentu tidak akan mengupas liberalisme pada titik pokok kebebasannya. Hanya dengan menyapa tentu tidak akan cukup untuk mengenal pribadi seseorang. Saya hanya ingin mengutarakan konsep kebebasan menurut pemahaman dan harapan saya. Subyektif, mungkin. Tapi inilah yang saya sebut “berbincang dengan bisikan”. Saya ingin menuliskan bisikan-bisikan yang menjadikan saya tetap manusia. Untuk tetap berpikir dan tidak serta merta menerima dogma.

Kata liberalisme dan definisinya sebagai suatu paham pertama kali saya baca saat SMP. Saat itu, beberapa tokoh dalam buku Pendidikan Kewarganegaraan menjelaskan liberalisme sebagai ideologi yang menjunjung kebebasan individu di atas segalanya, dengan memberi contoh Amerika Serikat sebagai negara penganuti ideologi itu.

Saat itu, sebagai remaja yang jauh lebih labil dari saat ini, saya mengiyakan penjelasan dari buku itu –dan buku-buku lain anjuran pemerintah. Kemudian saya teringat kondisi penganut ajaran minoritas di negeri itu. Mereka, seperti yang digambarkan media internasional, menemukan banyak hambatan dalam akses peribadatan mereka. Bahkan untuk merealisasikan eksistensi ajaran mereka dalam hal penampilan. Kaum mayor menolak mereka dengan jaket paranoid terhadap terorisme jihad –yang saya ragu mereka benar-benar paham tentang itu. Lantas, apakah permainan hak mayoritas dan minoritas masih berlaku dalam kebebasan liberalisme?

Setahu saya, kebebasan menjunjung hak tiap individu, siapa pun itu. Tidak ada prinsip “suara terbanyak lah yang menang” karena ini bukan demokrasi –yang bahkan mempersilahkan kaum minor bersuara. Sekecil apapun kelompok itu dan selemah apapun pengaruh mereka dalam konstruksi masyarakat, kebebasan memberi tempat mereka untuk hidup dengan menjabarkan keyakinan mereka dalam langkah di atas tanah. Bukan dengan hidup bersembunyi atas nama ideologi yang dianggap mati.

Saya lalu ragu dengan penetapan Amerika sebagai negara yang menjunjung tinggi hak tiap individu. Tidak ada kebebasan untuk berkeyakinan yang bisa saya yakini dari fakta yang ada. Dalam skala dunia, ketiadaan kebebasan itu juga saya rasakan. Bahkan, di tanah tempat saya berdiri saat ini.

Mereka berkata pada saya, “kebebasan beragama telah diatur dalam pasal dan ayat.” Faktanya, berapa jumlah keyakinan yang kemudian diyakini dan diterima mayoritas kita? Bagi saya, keyakinan –apapun bentuknya- adalah perniagaan ekslusif antara saya dan apa yang saya yakini. Tidak ada yang bisa –dalam jangkauan hak dan kemampuan- menentukan kebenaran absolut atas keyakinan seseorang.

Manusia berdebat bahkan berperang tentang sesuatu bernama keyakinan. Mencoba meletakkan kebenaran dengan skala ciptaan manusia. Berprasangka dan bebas bermain kata tentang kesesatan suatu ajaran. Lantas, saya berpikir : siapakah kita? Seberapa hebat dan muliakah manusia untuk menilai kebenaran suatu ajaran? Bukankah kebenaran dan keyakinan merupakan abstrak yang relatif?

Seorang teman pernah berkomentar, “Dia memiliki segalanya. Ketampanan, kecerdasan, kekayaan, kebahagiaan. Sayang, dia seorang muslim.” Tentu saja saya hanya diam dalam ekspresi yang dia pahami sebagai penolakan statement. Ketika manusia terbagi dalam keyakinan masing-masing, bukan porsi mereka sebagai makhluk untuk saling menilai. Jika seorang teman memilih untuk meyakini Budha sementara teman yang lain lebih nyaman dengan ajaran Kristus, bukan kewajiban saya untuk menilai kebenaran jalan mereka. Bahkan jika mereka kemudian memilih untuk tidak memilih ajaran apapun.

Saat ada perbincangan yang berakhir pada perpindahan keyakinan, saya percaya pada kuasa penuhNya untuk melakukan itu. Bukan karena siapa mempercayai apa lantas saya “terpengaruh” mengikutinya. Sekuat apapun seseorang mempengaruhi orang lain untuk percaya pada sesuatu yang ia yakini sebagai kebenaran, saat “sesuatu” itu tidak berkeinginan pada keinginan orang itu, saya percaya pada kenihilan sebagai hasilnya. Inilah konsep kebebasan yang ingin saya yakini : untuk tidak sok tahu dengan pilihan orang lain. Bukankah Tuhan memperkenalkan kebebasan dengan pintu fleksibel dalam berbagai jalan menuju rumahNya?