Showing posts with label embun. Show all posts
Showing posts with label embun. Show all posts
November 19, 2012
Kambing Hitam dalam Kelompok
Ada yang mengatakan, saat hati begitu keras hingga air mata tak lagi dapat menetes, diindikasikan keimananmu sedang sakit. Ketika saat itu tiba, kunjungilah saudara seimanmu. Maka kau akan dapatkan energi positif penyembuh sakit itu. Kau akan kembali sanggup menangis.
Nasihat di atas berupaya melunakkan kerasnya hati dengan silaturahmi; karena pada setiap perjalanan ada pelajaran untuk diambil hikmah. Pada tiap sapa dan rangkulan ukhuwah terdapat kasih yang lantas berbenih. Menggetarkan hati hingga aliran lembut menetes menyadari lemahnya iman.
Kunjungan selalu penuh dengan obrolan. Cerita perjalanan dan pengalaman penuh hikmah. Mereka yang pemula belajar pada pilot dengan jam terbang tinggi. Mereka yang umat berguru pada umara. Lantas kisah-kisah teladan diuraikan sebagai pemantik rasa malu pada Pencipta. Untuk hanya berdiam diri. Untuk hanya mempertanyakan konsep. Untuk tidak sehebat mereka. Dan tujuan menangis pun tercapai dalam sujud-sujud doa setelah perpisahan.
Tetapi terkadang tidak selalu tangis keimanan yang tercipta paska-kunjungan. Bukan berarti tak ada tangis yang meluluhkan hati dengan bertemu dengan para ikhwah. Tetapi yang diharapkan tentu bukan tangis karena perbedaan dan jeda panjang yang senantiasa memisahkan hati. Pada setiap pertemuan, tiap insan mencoba melompati jeda itu. Namun selalu saja keduanya terjatuh dalam jurang di tengahnya. Dan untuk kesadaran pada lemahnya ikatan, perbedaan yang tertutup tampilan, dan keyakinan yang melindungi kegalauan; Pada tiap kunjungan, selalu tersedia air mata.
Menjadi kolektivis tidaklah mudah. Jika identitasmu bukanlah ideal mainstream, kau harus melebur. Kecuali kau sudah di tangga teratas. Karena bagi kolektivis, identitas individu adalah refleksi identitas kelompok.
Islam sangat sensitif dalam konsep kelompok. Menjadi Islam berarti menjadi bagian kelompok, sama seperti saat kau memutuskan menjadi bagian agama lain. Orang-orang kemudian merumuskan identitas Islam: memakai peci dan baju koko, berjenggot, memiliki tanda hitam di dahi, berjilbab, lemah lembut. Mereka di luar identitas itu bukanlah muslim ideal. Dalam kelompok, ia adalah kambing hitam di tengah putihnya domba.
Idealnya, kelompok ini tidak akan menjadikan kambing hitam sebagai pemimpin koloni. Penerimaan domba atasnya pun sebatas tanggung jawab moral menyelamatkan kambing yang tersesat dalam perjalanan merumput. Kebetulan tujuan mereka sama, dan tenaga kambing hitam dapat dimanfaatkan bagi kelompok itu. Maka jadilah kambing hitam bagian kelompok domba, karena tujuan dan perasaan sebagai sejenis bernasib yang sama.
Tetapi memilih untuk tetap menjadi kambing hitam di antara domba tentunya tidak mudah, bahkan dengan gencarnya kampanye posmodernisme yang menjunjung identitas minoritas: you are you; you are what mainstream has no talks about. Di atas tingginya semangat kolektivitas, kambing hitam harus membunuh kebutuhan aktualisasi dirinya di tengah kelompok. Terlebih dengan ancaman “terbunuh serigala dengan paling mudah” karena perbedaan mencoloknya dalam kelompok. Maka melebur menjadi domba pun dilaksanakan atas nama pertahanan diri.
Apakah Umar berusaha menjadi Abu Bakar setelah keputusannya memasuki koloni? Iya, dalam hal sedekah harta (yang pada kenyataannya dilarang Rasulullah). Tetapi tidak dalam hal identitas. Semangat kolektivitas pada zaman Nabi tidak serta merta mencetak generasi kloning Rasulullah. Itulah mengapa dalam kisah-kisah kita kemudian mengenal sebutan-sebutan identik para sahabat. Bahkan sejarah yang sering dinilai subyektif pun mengamini, bahwa mereka yang berbeda tetap tercatat. Bukan sebagai nama, tetapi identitas perbuatan. Mereka yang tetap berani menjadi kambing hitam dalam koloni pun masih mampu memberi kemanfaatan tanpa harus menjelma domba.
Namun menjadi kambing hitam di sepanjang perjalanan akan sangat melelahkan sekaligus menyesakkan. Menyadari perbedaan dan (terkadang) penerimaan yang tidak sama membuatnya membutuhkan ekstra oksigen untuk bernafas. Lantas kambing hitam memilih untuk menyendiri. Entah di depan, belakang, atau samping barisan. Setidaknya dengan sendiri ia akan punya waktu lebih untuk menjadi dirinya sendiri. Tentu saja para domba pun sering kesal demi menuruti perbedaannya. Sementara mereka berkoloni, kambing hitam tidak. Tentu rasa kesal yang mereka rasakan bersama berbeda dengannya yang sendirian.
Maka, saat kesendirian mulai menyakitkan hingga hati begitu keras untuk menangis, kambing hitam mendekat pada barisan. Mengadakan kunjungan. Mendengar cerita-cerita. Memuja keteladanan. Menyadari perbedaan. Untuk kembali menemukan, kesendirian tidak mengubahnya menjadi domba. Masih ada sakit saat bertatap. Resah saat mendekap. Prasangka saat tak dekat. Lalu parameter kelembutan hati pun tercipta: kambing hitam menangis saat kembali dalam penyendiriannya.
May 10, 2012
Memilih Rumah Sakit
Saya selalu percaya kunci semua hubungan terikat pada rasa bernama kepercayaan. Apapun itu. Hubungan orang tua-anak, suami-istri, atasan-bawahan, sahabat-sahabat. Termasuk hubungan hamba dengan Tuhannya. Bahkan kepercayaan (utamanya dalam romantisme) kemudian dipercayai sebagai salah satu simbol kasih sayang. Jika kau mencintaiku, maka percayalah padaku.
Tetapi, atas nama demokrasi, modernisasi, dan liberalisasi, kepercayaan seorang hamba pada Tuhannya ditampakkan tak bernilai: klise, klasik, kolot, dan simbol kemunduran suatu peradaban. Orang-orang beramai-ramai mempertanyakan kebenaran kitab suci. Memilah, menyeleksi, dan menetapkan kebenaran yang hanya menurut mereka itu benar. Selebihnya, salah. Fanatik. Ekstremis. Maka bukan tidak mungkin halaman kitab suci tidak akan setebal itu di rak buku mereka. Lantas usulan amandemen kitab suci oleh para pembuat undang-undang manusia pun digaungkan.
Di sisi lain, mereka (masih) meyakini kepercayaan. Dalam hubungan bisnis, keluarga, persahabatan, percintaan. Kata mereka, “Jangan terus bertanya kenapa aku pulang larut. Kau tahu kan, semua ini untuk keluarga kita? Kau percaya padaku, kan?” Lantas saat jawaban “Ya” diperoleh, penekanan lain diberikan sebagai bentuk superioritas. “Kalau kau mempercayaiku, tidak sepantasnya kau mempertanyakan apa yang kuperbuat.”
Dalam ikatan-ikatan duniawi tersebut, terkadang muncul keadaan seseorang sulit meletakkan kepercayaan pada pasangan/partner masing-masing. Mulai dipertanyakannya aktivitas dan kebijakan partner kemudian dinilai sebagai bentuk kecurigaan yang berarti pengkhianatan kepercayaan. Maka dalam ikatan-ikatan duniawi, kepercayaan berarti harmonisme keluarga, keberlangsungan keluarga, keberhasilan tander, dan kesuksesan percintaan.
“Anak Anda menderita sciatica dan harus segera dioperasi.” Jika saya adalah orang tua yang sedang berhadapan dengan dokter dengan kalimat tersebut untuk anak saya, deret pemikiran yang segera memenuhi otak saya adalah dana, kesehatan anak, dan kesembuhan. Ditambah beberapa permohonan dan pertanyaan –jika tak ingin disebut keluhan– pada Tuhan. Tidak ada waktu untuk mencari perpustakaan atau akses internet terdekat demi memahami sciatica sebelum memutuskan akan melakukan operasi. Saya pun tidak akan sempat berburuk sangka pada dokter tersebut, bagaimana karir kedokterannya selama ini, dan apakah vonis barusan bukan sekedar kepentingannya.
Saya mempercayai rumah sakit tersebut, maka saya memeriksakan anak saya di sana. Lebih jauh, saya akan mencoba mendapat akses pada dokter tertentu yang telah saya yakini kemampuan dan track record karirnya. Maka, saat dokter tersebut menyatakan vonis dan anjurannya, saya hanya perlu berpikir mendapatkan dana operasi tanpa bersibuk diri mempertanyakan kebenaran informasi. Karena bagi saya, keselamatan dan kehidupan anak saya jauh lebih penting dari semua rasa ingin tahu saya.
Lantas, apakah agama tidak sepenting nyawa seseorang?
Dalam sistem agama, kepercayaan memainkan peran Tuhan dengan hamba-Nya. Namun, kehidupan modern dengan sejumlah isme menjadikan konsep kepercayaan ini tidak sepenting kepercayaan pasien pada dokter.
Bukankah saat memilih agama, saya telah mempercayai ajarannya? Atau sebenarnya saya tidak pernah memilih agama ini. Lantas, kapan saya benar-benar bersyahadat untuk memilihnya? Saat saya memilih Allah sebagai Tuhan saya, bukankah saya telah memahami dan meyakini kuasa-Nya? Maka seperti apapun vonis dan anjuran yang Dia berikan akan saya patuhi. Bahkan ketika sesuatu yang difirmankan begitu abstrak dalam pengetahuan saya, bukankah seharusnya saya tidak perlu bersusah payah menenggelamkan diri dalam pertanyaan-pertanyaan?
Saya hanya harus menelan obat sesuai instruksi yang diberikan. Tidak perlu bertanya kenapa tablet ini tiga kali sedangkan kapsul ini satu kali, karena saya percaya pada tanda bahaya jika saya salah meminum obat.
Namun terkadang agama tidak sepenting kesehatan bagi saya. Tidak mematuhi nasihat Dokter Kehidupan yang telah saya pilih toh tidak akan membuat saya meninggal. Bagi saya kematian adalah saat nafas berhenti berhembus. Karena jika ada kematian jiwa, kini saya tentu sudah memiliki satu kuburan. Bagi saya bertanya sebanyak-banyaknya tidak akan membahayakan nyawa. Karena saya tidak diburu waktu operasi. Karena bahkan satu kitab medis dipertanyakanpun, para dokter bersedia menunggu saya. Padahal saya hanya tidak tahu kapan ruang operasi ditutup dan lampu dinyalakan.
Saya bukanlah korban kecelakaan yang tidak bisa memilih di mana dia akan dirawat. Saya hanya merasakan sesuatu tidak bekerja dengan baik di tubuh saya, ada sesuatu yang terus menyakiti raga saya. Maka saya berjalan, memilih rumah sakit dan dokter terbaik untuk memeriksa dan merawat saya. Apapun vonis dokter, saya terima, apapun nasihatnya, saya jalani. Tanpa banyak bertanya. Karena saya percaya dan telah memilihnya.
**gambarnya dari sini :)
March 11, 2012
Bermain-main dengan Iman

“Kenapa Tuhan merasa perlu menciptakan manusia?”
Pesan singkat yang dikirim teman pagi itu sukses menggalaukan hari saya. Kalau dijawab ‘untuk menjadi khalifah di bumi’ dan seterusnya saya rasa tidak begitu sesuai karena akan melahirkan pertanyaan senada, “Kenapa Tuhan merasa perlu menjadikan manusia khalifah di bumi?”
Pertanyaan ini menjadi sulit karena selama ini manusia belajar mengenai hal abstrak seperti ini melalui pendekatan mereka; pola pikir manusia sebagai ciptaan. Bukan dari sudut pandang Tuhan sebagai pencipta. Saya lalu mencari jawaban dari beberapa teman sebagai bahan pengayaan pemahaman.
Karena Tuhan kesepian. Jawaban absurd pertama yang saya terima dan menjadikan saya melongo. Bukan karena saya tidak pernah berpikir serupa, melainkan karena jawaban-jawaban sebelumnya selalu bermuara pada kolam kerahasiaan ilmu langit.
Jawaban lain menyatakan Tuhan sebagai Mahaguru. Untuk menjadi guru, seseorang harus mempunyai murid. Jawaban ini sedikit ‘lebih’ religius karena dalam kitab-Nya saya menemukan ayat yang menceritakan bagaimana Dia mengajari manusia banyak hal.
Tuhan hidup karena disembah. Jawaban ini adalah bentuk tafsir bebas yang merujuk pada tujuan penciptaan jin dan manusia: untuk menyembah Tuhan. Saya tentu tidak berharap lebih banyak orang berpikir mmengenai konsep ini karena pada akhirnya mereka akan berhenti pada pertanyaan baru: kenapa Tuhan bermain-main dengan kehidupan? Kenapa pula Dia ciptakan skenario besar dengan dua opsi sebagai titik akhir permainan? Konsep surga dan neraka menjadi sangat menyebalkan pada titik ini.
Dalam tulisan seorang teman terlihat jelas bagaimana dia sangat memuja Tuhan dengan agama yang tidak memerlukan manusia untuk melindunginya dan seterusnya. Maka, dengan pemikiran seperi itu Tuhan nampaknya benar-benar tidak membutuhkan manusia. Manusia lah yang membutuhkannya. Lantas kenapa Tuhan menciptakan makhluk yang tidak Dia butuhkan?
Setelah menghabiskan pagi dengan beberapa diskusi, pada akhirnya saya kembali pada aturan main yang telah Dia tetapkan dalam kitab. Ada pertanyaan-pertanyaan yang tidak perlu dijawab (bahkan diajukan) karena akan merusak keimanan. Tentu jika pertanyaan-pertanyaan itu muncul sebelum Qur’an sepenuhnya diturunkan, Dia akan menjawab melalui firman-Nya.
Dahsyatnya kepercayaan umat terdahulu tampak pada keyakinan atas konsep penciptaan dalam Qur’an Surat Al Alaqah. Pada saat itu, ilmu kandungan belum diperkenalkan sementara Eropa masih berada dalam masa kegelapan mereka dan para ilmuwan Islam pun belum lahir. Namun keimanan para sahabat pada Rasul mengantar kita pada penemuan ilmu tersebut saat ini.
Derajat keimanan kita pada ayat tersebut (setelah adanya bukti ilmiah) tentu berbeda dengan para sahabat. Karena kepercayaan pertama yang sesungguhnya adalah saat seseorang mempercayai tanpa bisa menjelaskan alasan dan buktinya.
Kalau sahabatmu dituduh mencuri sementara kau tidak mengetahui buktinya dan kau mempercayainya begitu saja, itulah kepercayaan. Tetapi kalau kau baru mempercayainya saat semua bukti tidak mengarah padanya, kau ‘boleh’ sebut itu percaya.
Seorang teman berkata senada. “Kamu tahu orang tua kamu adalah orang tua kandungmu?” Iya, jawabku yakin. “Tidak, kamu hanya percaya sebelum benar-benar tes DNA”.
Rasul telah membaca hadirnya masa ini; zaman di mana iman (keyakinan) benar-benar mahal. Bahkan beliau menyatakan ‘kehebatan’ kaum yang masih mempercayai dan bersungguh-sungguh berjuang menegakkan kalimat-Nya di saat dirinya tak lagi hadir secara fisik di bumi. Saat tak ada lagi contoh hidup yang benar-benar dapat diteladani karena para ulama sibuk berlomba antar-firqoh.
Agama ini telah memberikan sarana kebebasan berpikir dan mengeja Tuhan. Sejarah mencatat bagaimana Ibrahim membutuhkan waktu untuk mencari dan belajar mencintai tuhannya. Terlebih manusia. Dia mengizinkan kita mengenal-Nya melalui ciptaan agar kita merenunginya. Karena sebagai ciptaan, akal manusia seyogyanya mampu memahami ciptaan. Bukan Pencipta.
Terkadang saya begitu tergoda untuk bermain-main dengan keimanan. Aturannya gampang: cukup percayai sebuah konsep, lalu mulailah pencarian kebenaran konsep itu secara logis, dan kembali percaya pada konsep awal dengan pendekatan yang bertambah. Kalau jawaban logis tak didapat, kembali pasrah pada kepercayaan awal. Dosakah? Allahu ‘alam. Tetapi saya sadar penuh bahaya yang menyapa di balik permainan ini.
Saya paham bagaimana Dia berkehendak membolak-balikkan hati seorang hamba. Tidak ada yang dapat menjamin seorang ahli agama pagi ini akan tetap menjadi ahli agama di malam hari, dan sebaliknya. Kadang manusia merasa terlalu maha untuk menjadi takabur. Pada saat itu, konsep kebenaran yang seharusnya diyakini begitu saja akan tampak kabur dan selalu mengendapkan tumpukan pertanyaan.
*btw saya juga bingung mau ngasih gambar apa soal beginian. next time hunting foto dulu lah #sok2an
Barter!
Seseorang tampak tenang ketika delapan flashdisk bermuatan 24 gigabytes diserahkan padanya. Namun perasaan ‘biasa saja’ itu berubah ketika didapatinya kedelapan flashdisk itu kosong. Artinya, tidak ada barter seperti perjanjian. Dia hanya akan memberi banyak film tanpa mendapatkan sesuatu selain kemungkinan pahala jika berhasil ikhlas.
Tentu saja konsep keikhlasan itu gagal diraihnya dengan kalimat-kalimat balas budi yang diajukan pada peminta film itu kemudian. Peminta bahkan tidak merasa bersalah saat kolektor film itu berulang kali menyebut ‘barter’ sebagai aturan main transaksi. Sebagai peminta, dia tidak merasa kolektor itu butuh film-film darinya. Toh, selama ini dia yang selalu meminta. Toh, sebagai pemilik –dengan derajat koleksi yang lebih– kolektor itu tentu memiliki semua yang diberikan pada peminta. Secara ekstrim, jika kolektor itu Maha dan peminta itu hamba, maka tidak sepantasnya Sang Maha meminta pada hamba, pikirnya. Peminta itu lupa, dalam bentuk kehidupan paling primitif pun konsep balas budi telah lama diterapkan.
Barter dikenal sebagai bentuk perniagaan pertama yang sederhana; pertukaran barang dengan barang. Untuk dapat melakukannya, pihak yang terlibat harus membutuhkan barang dari pihak lain sekaligus memiliki barang yang dibutuhkan pihak lain. Kondisi semacam ini dapat disebut simbiosis mutualisme, hal yang sering tidak disadari keberadaannya dalam kehidupan berislam.
Sebagai peminta, seorang hamba seringkali merasa tidak perlu berbarter dengan Tuhannya. Dia hanya menerima tanpa memberi. Konsep lain bahkan menyebut Tuhan yang membutuhkan sesuatu dari hambanya tidak pantas dituankan; maka carilah Tuhan yang baru. Kaum ini mungkin lupa bagaimana bersikap sebagai hamba yang baik. Sebagai manusia mereka bahkan terus menagih jawaban atas pertanyaan-pertanyaan menjebak yang mereka berikan. Mereka kemudian menyebut kaum di luar mereka tidak berilmu jika jawaban tidak memuaskan yang didapat. Jika menjadi hamba berarti menjadi peminta sejati, konsep hak-kewajiban sudah pasti mati pada titik ini.
Dia mencintai perniagaan sebagai bentuk ajaran mulia yang dikenal dunia sebagai balas budi. Dia tidak mengharap balasan dari mereka yang tidak berbudi, tetapi Dia memberikan kebaikan pada semua makhluk. Maka hanya mereka yang memiliki rasa malu pada konsep kemanusiaan yang berusaha mengeja kehidupan langit. Jika pada manusia tak pernah terbersit keinginan seseorang untuk membalas kebaikan, maka tak perlu berusaha meyakinkannya membalas kebaikan Tuhannya, karena selamanya perhitungan langit dan bumi tidak akan bertemu.
Kebaikan-kebaikan bumi, dalam titik kecil zarah pun akan mendapatkan balasan (tidak hanya penilaian) langit. Sebaliknya, keberadaan bumi seisinya masih tak menggerakkan penghuninya membalas kasih Pencipta. Saya tentu tidak sedang membicarakan mereka yang berpikir konsep penciptaan mereka tidak berkaitan dengan Pencipta yang mengatur, meskipun kaum ini sangat mengenal sistem barter dalam kehidupan dunia mereka. Saya ingin bercerita tentang mereka –dan mungkin saya– yang meyakini keberadaanNya, mengakuiNya sebagai Pencipta yang mengatur, begitu percaya diri mencintaiNya, tetapi berhenti pada hati. Tak ada bekas pada lisan, terlebih perbuatan.
Pada masa di mana keseriusan beragama dinilai berbahaya, orang-orang sebisa mungkin menyembunyikan identitas keislamannya. Tidak ada jilbab, yang penting pakaian rapi. Tidak ada kajian agama, yang penting berkegiatan sosial. Tidak ada hukum Islam, yang penting hukum islami. Tidak ingin dianggap kolot dengan penerapan kitab dan sunnah. Tidak melakukan sesuatu yang tertulis sebagai barter untuk Tuannya, tetapi terus mengais kasih lalu menutup mata pada jawaban doa dariNya.
Dalam peradaban manusia modern, seorang akan dihargai saat dia bersedia menghargai orang lain. Seseorang akan dinilai bermartabat saat dia mau memberi, tidak sekedar menampung pemberian. Konsep ini dikenal Islam dalam beberapa ayatnya perihal perniagaan yang berbuah tak hanya kehidupan surga melainkan kemuliaan hidup. Dalam 2:245, 4:86, 9:111, 47:7, 62:10-14, dan 99:7-8, misalnya, Dia mengajarkan bagaimana sebuah kebaikan selayaknya berbalas kebaikan. Bagi saya, berbakti kepada Pencipta bukanlah perihal ‘siapa yang Maha maka dia yang memberi’ melainkan usaha memanusiakan manusia.
Tanpa memberi, manusia tak lebih dari pengemis muda di ujung jalan yang berdiam menunggu seorang dermawan mendatanginya dengan kotak makanan atau segepok uang. Banyak orang memandang rendah kaum ini (peminta, muda, tanpa usaha) dengan tidak menyadari bentuk lain kaum ini yang terinternalisasi dalam diri masing-masing. Tanpa kebaikan untuk Pencipta, berdiam dalam keluhan, dan terus meminta. Tanpa barter.
btw gambarnya dari sini
kalau dilihat dari tumpukannya sih ga terlalu banyak gitu =3=
Berhenti Ikhlas!

“Nggak ikhlas,” kata seorang wanita pada pria yang mengaku berubah lebih baik agar dapat lebih dekat dengan wanita tersebut. Lelaki itu kemudian tidak melakukan satupun kebaikan karena takut semua yang diperbuatnya tidak berdasarkan keikhlasan.
Ikhlas menjelma dalam berbagai nasihat berbalut kata sabar dan rela dalam kalimat kehilangan dan penerimaan. Namun sejatinya makna ikhlas dan keberadaannya begitu abstrak hingga bahkan hati pun tidak dapat merasakannya. Konon jika seseorang merasakan – terlebih menyatakan – dirinya telah ikhlas maka sesungguhnya keikhlasan itu tidak menyertainya. Begitu tinggi dan sulit rasa ini terbentuk sehingga bahkan untuk menilainya pun kita tak akan mampu.
Ada yang menyarankan berlaku ikhlas dengan bercermin pada perasaan tidak terbebani saat kita (maaf) buang angin atau hajat. Tetapi bagi saya kedua hal tersebut tentu bukan perilaku ikhlas, karena perasaan tidak terbebani itu lahir sebagai wujud kelegaan karena dapat membuang sesuatu yang tidak ingin disimpan terlalu lama. Sedangkan saat seseorang diharuskan ikhlas dan dia rasakan kesulitan, biasanya dia tidak ingin melepaskan (mengikhlaskan) hal tersebut.
Lantas seperti apakah standar keikhlasan seseorang?
Ada yang meyakini segala sesuatu yang dilakukan tanpa maksud tertentu melainkan mencari keridhoan-Nya dapat disebut ikhlas. Namun apakah pencarian ridho tersebut benar-benar tidak termasuk sebuah tujuan? Manusia melakukan sesuatu, apapun itu, tentu didasari motif atau alasan khusus. Terlebih kadang kita memerlukan sikap realistis dengan menjadikan alasan tersebut sesuatu yang konkrit. Pada titik ini, sebuah perbuatan yang dinyatakan bermuatan ikhlas karena hanya mengharap penerimaan Tuhan menjadi ambigu. Bagaimana kemudian kita dapat mengetahui perbuatan kita berterima dengan kehendak Tuhan? Bahkan saat kita mulai mempertanyakan hal tersebut, muatan ikhlas dalam ‘pencarian ridho-Nya’ seketika terhapus.
Demi sesuatu bernama logika, manusia kemudian menyertakan pahala sebagai motif perbuatan seseorang dalam ‘pencarian ridho-Nya’. Meskipun poin kedua ini masih abstrak dalam wujud dan penghitungannya, opsi melakukan perbuatan yang berpahala sebagai bonus ‘keikhlasan’ cukup populer. Namun pertanyaan lain lahir, apakah sesuatu yang dilakukan untuk mendapatkan pahala dapat dinyatakan mengenal keikhlasan?
Ikhlas menjadi semakin ghaib seiring setiap motif yang menyertai suatu perbuatan dapat melukai esensinya. Maka apabila seluruh alasan manusia bertindak menjadikan perbuatan tersebut tidak bernilai (karena tidak ikhlas), tidak akan ada perbuatan karena mereka yang takut tidak ikhlas enggan melakukan sesuatu tanpa motif. Sementara setiap gerak memerlukan alasan.
Seseorang yang tuli melakukan kebaikan tanpa mendengar penilaian orang lain atas motif perbuatannya. Akibatnya dia tidak akan berhenti menjadi baik karena tidak teracuni pemikiran manusia yang mencoba menilai keikhlasan dalam perbuatannya. Dalam kasus ini, beberapa pihak bahkan menilai seorang tuli ini sebagai orang yang ikhlas, karena dia tetap melakukan sesuatu tanpa mengkhawatirkan penilaian manusia. Dia yang bahkan tidak peduli akan seperti apa penilaian Tuhan padanya menjadi leluasa berbuat baik.
Seperti anak kecil yang dengan senang hati membagi es krim pada kawannya, tanpa peduli penilaian para orang tua yang akan menyebutnya ‘anak baik’ atau Tuhan yang akan memberinya pahala kebaikan – karena bahkan dia belum paham kata sakral bernama agama.
Jika pada kasus teratas pemuda tersebut tetap melakukan proses menjadi baik karena mengetahui wanita yang disukainya berminat hanya pada pria baik, keadaan akan jauh lebih indah. Mereka yang memuja keikhlasan mungkin akan mencaci niat perubahan pemuda tersebut: mendekati kebaikan hanya karena cinta manusia. Tetapi bukankah kita sangat paham penilaian niat merupakan hak mutlak Tuhan? Dia bahkan sangat baik dengan memberikan kesempatan kedua.
Dinyatakan jika seseorang memasuki Islam karena harta maka ia dapatkan itu. Jika seseorang memasuki Islam karena jabatan akan ia dapatkan pula. Namun pada rentang terakhir tiap firman-Nya, Dia selalu baik dengan segala kalimat terbuka dalam kitabnya. Setiap perubahan motif dalam perbuatan akan mendapatkan perubahan penilaian langit kecuali sebelum detik terakhir nafas. Maka apabila seseorang yang menjadi baik karena lawan jenis dinilai tidak memiliki keikhlasan beriman sementara dia terus berusaha menjadi baik hingga pada akhirnya motif asmara itu berubah bahkan hilang, di sinilah kuasa langit berperan. Orang tersebut tidak kemudian menjadi selamanya berdosa karena ketidak-ikhlasan pada langkah awalnya.
Ikhlas bukanlah sebuah anugerah Tuhan pada orang-orang tertentu yang kepemilikannya bertahan hingga kematian. Dalam kehidupan, menjadi ikhlas adalah lingkaran proses pembelajaran tanpa titik pencapaian yang nyata. Menyadari abstrak ini begitu besar, maka rentang hidup seseorang akan menjadi terlalu sia untuk memikirkan keikhlasan di setiap lakunya. Akan lebih mudah bagi manusia dengan kapasitas rasa dan pikir minimal untuk terus bergerak. Dengan ataupun tanpa keikhlasan, perbuatan baik harus tetap mewarnai birunya bumi ini. Karena ikhlas tidak abadi dan penilaian mutlak berada pada Pemberi rasa tersebut, mari berhenti (mengeja) keikhlasan!
*btw saya bingung menggambarkan keikhlasan, jadi maaf kalau gambarnya sedikit gak nyambung. tapi kan pantai terkenal dengan 'pelepasan suntuk'nya, jadi ibaratnya kalau udah ikhlas tuh gak lagi suntuk. hehehe *maksaa
Subscribe to:
Posts (Atom)

