Showing posts with label #1 Kiriman Kasih dari Langit. Show all posts
Showing posts with label #1 Kiriman Kasih dari Langit. Show all posts

April 8, 2013

#10 Karena Dia (Paling) Setia


10 Ramadhan 1433 H :: 29 Juli 2012 M

Apa yang menjadikan seseorang pada akhirnya luluh menerima Cinta?

Sosok yang lembut dan penyayang? Ketegasannya sebagai pemimpin? Kekayaan materinya? Jaminan kebahagiaan bersamanya? Atau hal-hal kecil seperti kiriman coklat dan seikat bunga (deposito) setiap hari? Perhatian tanpa putus melalui surat dan pesan ulang tahun setahun sekali, atau yang lebih kekinian: saat dia dengan setia megikuti perkembanganmu di timeline-nya meskipun sudah dua tahun tidak ada follback darimu?

Sosok seperti itu bukannya bodoh. Dia hanya terlampau baik. Mungkin kalau manusia, seorang akan sinis menyebut, “Soalnya, makin nggak ada peluang kalau sama yang lain.” Tapi jika sosok itu adalah Pencipta, saya lah yang akan mohon-mohon Dia kembali jika pernah Dia tinggalkan saya. Tetapi alhamdulillah skenario itu tidak pernah dimainkan. Dia sering ditinggal, di-nomorsekian-kan, bahkan dilupakan oleh saya yang merupakan salah satu dari sekian ciptaan-Nya yang biasa-biasa saja. Tetapi Dia tidak pernah meninggalkan saya atau meniadakan kebaikan untuk saya. Dengan banyaknya manusia yang jauh lebih baik dibandingkan saya, Dia masih mau menoleh dan meraih saya.

Dia selalu angkat saya setelah saya jatuh (oke, saya jatuh pun adalah skenario-Nya, tetapi Dia bisa memilih untuk tidak mengangkat saya, kan?). Ternyata setelah diangkat, Dia kembali jatuhkan saya untuk diangkat kembali. Begitu seterusnya. Memang tampak menyebalkan, tetapi akhirnya saya jadi kenyal. Karena saya adalah adonan donat. Bahkan setelah kenyal dan Dia bentuk sesukanya, saya dimasukkan ke minyak panas. Sakit? Tentu saja. Tetapi akhirnya ‘penderitaan’ saya berakhir dengan dijadikannya saya cantik oleh lumuran cokelat cair. Mungkin orang akan berkata “Penderitaanmu baru akan dimulai karena kamu akan dimakan!” Tetapi menurut saya, tidak juga.

Bagi yang sedang jatuh cinta, tentu mereka paham kebahagiaan yang dilahirkan oleh pertemuan dengan yang dicinta. Jika saya adonan donat, saat di mana saya berakhir di perut pencipta saya adalah saat terindah. Karena poin kemanfaatan saya sebagai donat baru dimulai saat itu. Mungkin analoginya aneh, tetapi mereka yang benar-benar mencintai Penciptanya bisa benar-benar merasakan rindu bertemu dengan Rabb mereka, kekasih mereka.

Ada yang saya syukuri dari kos baru saya. Letaknya yang hanya tiga meter dari nisan terdekat kuburan Cina memaksa saya memperbanyak dzikrul maut. Mengingatkan saya pada pertemuan yang dirindukan para pecinta Pencipta. Jujur, kalau ditanya, saat ini saya memang masih takut mati. Saya takut tidak termasuk barisan yang berkumpul bersama Rasulullah. Saya takut pada akhirnya Dia menunjukkan kejahatan-kejahatan saya selama ini, hingga mungkin kawan di neraka pun tak mau dekat-dekat. Saya takut kalau penyesalan saya begitu terlambat datang. Saya takut belum merasakan kecintaan dan kerinduan bertemu dengan-Nya saat waktu itu tiba.

Mungkin cokelat dan bunga dan pesan dan twit dan DM dan segala perhatian pengagum itu tidak seketika menjadikan seseorang tiba-tiba mencintainya. Tetapi orang itu akan berusaha membuka hati untuk pengagum itu. Tentu saja dengan fakta pengagum itu nggak payah-payah banget dan seseorang itu belum berpasangan. Saya percaya saya dapat belajar mencintai dan membenci orang, sekaligus menetralkan rasa pada orang-orang. Ini adalah konsep manajemen hati ala saya, dan selama 19 tahun saya hidup, konsep ini alhamdulillah berjalan sukses.

Satu pelajaran dari sekian drama apapun yang saya tonton tentang resep ‘jatuh hati’ tokoh utama adalah kesetiaan. Karakter apapun yang diciptakan penulis dan sineas dan musisi dan pekerja seni lain selalu jatuh dengan karakter lain yang setia. Dan demi semua janji dalam Kitab-Nya, bukankah Dia adalah sosok paling setia di semesta?
Saat sedang menghapus pesan-pesan di inbox ponsel yang sangat sempit, pesan itu terbaca lagi.

Abdullah bin Syaddad berkata: “Aku mendengar isak tangisan Umar, padahal aku berada di shaf terakhir. Umar membaca ayat, ‘Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku [12:86]’.”

Hasbunnallah wani’mal wakiil. Ni’mal maulaa wani’man nashiir. Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung [3:173]. Dialah sebaik-baik Pelindung dan Penolong [22:78]. Dia selalu setia mendengar keluh tanpa peluh saya, kan?

Hari ini adalah akhir dari sepuluh bagian pertama di bulan penuh Cinta-Nya. Alhamdulillah . Hari ini Dia masih menerbitkan matahari dari timur. Hari ini Dia masih beri saya kesempatan berbicara dan bercanda dengan keluarga saya. Hari ini Dia masih izinkan saya mengingat ayah saya. Hari ini Dia masih ada untuk saya. Dan seperti hari-hari kemarin, saya yakin Dia masih setia dalam hidup saya. Semoga saya dapat belajar kesetiaan dari-Nya, hingga hari terakhir saat Dia masih memperkenankan saya berterima kasih dalam nama-Nya. Bukan yang lain. Biidzinillah.

#9 Bukan Imajinasi


9 Ramadhan 1433 H :: 28 Juli 2012 M

Maaf kalau memulai catatan ini dengan excuse, tapi belakangan ini mata susah diajak kompromi sama layar #alasan1; plus beberapa hari terakhir sibuk persiapan pindah kos #alasan2; pulang-pergi Solo-Wonogiri juga bikin badan sedikit tidak fit #alasan(banget)3; dan yang jelas kalau di rumah hasrat jahilin keponakan lebih tinggi dari keinginan online #alasan4.

Selama ini, saya bisa terima logika keyakinan mereka yang beridentitas selain agama Ibrahim, maupun yang memilih tidak terikat meskipun mengakui eksistensi Sang Pencipta. Saya hanya belum bisa mengerti jalan pemikiran mereka yang samasekali tidak percaya dan berbangga sebagai atheis. Saya berharap tulisan ini tidak berkesan ofensif atau judgemental atau rasis. Saya hanya ingin berbagi cerita tentang kebutuhan saya akan sosok Tuhan. Sebenarnya tulisan ini mencampur fiktif dan realita yang diangkat dari teori perkembangan psikologi manusia (tapi saya nggak ‘sesakit’ ini, alhamdulillah).

Sejak kecil (sampai saat ini), saya membutuhkan sosok di luar diri saya yang saya percaya lebih. Bukan manusia, karena saya berkeyakinan mereka tidak sehebat itu. Saya yang kecil merasa ada kekuatan superior di luar tubuh saya yang membimbing saya selama ini. Saya hanya butuh akses untuk berkomunikasi dengannya. Di luar dunia yang saya jalani, ada dunia lain yang hanya saya dan sosok ini penghuninya. Kalau sekarang dunia ini populer disebut spiritualitas.

Saat kecil, saya bukan anak kuper yang tidak bisa bergaul. Teman dan mainan saya banyak. Tetapi di luar pertemanan dan permainan, saya memiliki dunia lain. Saya sering ‘ngobrol’ dengan sosok lain tentang hal-hal yang tidak bisa saya katakan pada manusia di sekitar saya. Semua hal yang menunjukkan sisi super saya: super aneh, super berbahaya, super menjijikkan, super jenius, super baik, super lemah, dan super-super lain. Saat itu, orang-orang menyebut sosok ini teman imajinasi.

Saat SMP, saya sibuk dengan organisasi. Berangkat pagi pulang sore. Saya punya teman-teman baik yang sudah seperti saudara. Meski begitu, saya masih punya dunia ‘spiritual’ itu. Terlepas dari betapa saya mempercayai teman-saudara saya, hal-hal super tadi masih menjadi rahasia saya dan teman imajinasi saya. Saat itu perkembangan psikologi saya membutuhkan lebih dari teman bermain seperti saat kecil, maka yang saya dapatkan adalah apa yang mereka sebut sahabat imajinasi.

Saat SMA, saya mulai medekat pada dunia religi. Sebenarnya saya tidak sengaja ‘tersesat’ karena pergaulan keluarga. Tapi saya bersyukur untuk itu, untuk perkenalan saya pada ukhuwah islamiyah yang sangat ‘hmmm’ dan berjasa sekali pada sekian perenungan saya. Di SMA saya juga mulai suka-sukaan sama manusia beda jenis kelamin, namanya the boy in the window. Meskipun sudah ada the boy in the window yang bukan tokoh fiktif ini, dunia ‘spiritual’ saya belum berakhir. Mungkin karena dari dulu perkembangan emosi saya tidak pernah maksimal, kisah spiritual saya berjalan lambat. Jika dulu saya membagi ‘hal-hal super’ dengan teman imajinasi dan sahabat imajinasi, kini saya membagi dunia ‘spiritual’ saya dengan sosok yang mereka sebut pacar imajinasi.

Saat kuliah, saya tidak lagi butuh teman bermain untuk sekedar lari-larian sampai capek. Saya juga merasa kebutuhan saya akan sahabat tidak seekstrim itu, jika tugas mereka hanya untuk mendengar dan memberi saran. Apalagi soal pacar. Saya terlanjur percaya pada konsep jodoh langit, dan sepertinya bukan jalan saya untuk berkenalan lama-lama dengan calon pendamping lewat common way. Karena seperti kata kakak saya, “Beberapa bahasa dipelajari, tetapi yang lain sudah sesuai language acquisition.”

Perlahan tapi pasti, teman, sahabat, dan pacar imajinasi saya mati. Bukan sosok, melainkan karakternya. Karena saya masih memiliki dunia ‘spiritual’ itu. Saya hanya tak lagi butuh perantara untuk menuju Sosok Superior yang selama ini mengetahui “hal-hal super” saya. Hubungan kami saat ini tak lagi horizontal. Hingga saya sadar selama ini orang-orang juga miliki sosok itu. Mereka menyebutnya Tuhan.


Jangan berhenti baca dan buru-buru cap saya gila atau sesat dengan analogi Tuhan imajinatif. Saya hanya ingin bercerita mengenai kebutuhan akan sosok lain di luar manusia. Yang dalam keadaan tertentu, yang tak tahu pada siapa, terkadang manusia mengeluarkan keluhan, terima kasih, tangisan, dan luapan emosi lain. Tanpa tahu kepada siapa sesungguhnya dia bercerita.

Saya tidak tahu, apakah saya terlalu lemah atau mereka yang terlalu sombong. Untuk mengakui ada sosok lain di luar mereka yang lebih superior. Bagaimanapun manusia menyebutnya: Allah, Tuhan, Yesus, Budha, Sang Hyang Widhi, Semesta, bahkan Mata Satu, sosok superior itu eksis di mata manusia yang percaya. Saya tidak habis pikir dengan mereka yang begitu kuat (atau sombong) tanpa superioritas semesta. Dalam hidup mereka, tidakkah pernah mereka, sekali saja, memohon?

Tuhan bukanlah reinkarnasi dari teman, sahabat, dan pacar imajinasi saya. Tuhan adalah kebutuhan saya, yang dalam bentuk dan nama apapun tetap saya butuhkan. Dia adalah tempat bergantung segala sesuatu, tempat meminta dan memohon pertolongan. Saya butuh Dzat Superior itu. Tuhan. Bukan manusia, yang saya yakini sama lemahnya dengan saya.

"Siapakah yang dapat menyelamatkanmu dari bencana di darat dan di laut, yang kamu berdoa kepada-Nya dengan rendah diri dengan suara yang lembut (dengan mengatakan: "Sesungguhnya jika Dia menyelamatkan kami dari (bencana) ini, tentulah kami menjadi orang-orang yang bersyukur"." [6:63]

#8 Cemburu


8 Ramadhan 1433 H :: 27 Juli 2012 M

Saya memang tidak pernah benar-benar suka atau benci sama manusia (sejauh ini), tapi tingkatan paling lumayan dari rasa suka saya sama orang-orang itu adalah saat saya bisa mencemburui orang lain yang lebih dekat atau didekatinya. Dulu saat saya belum mengalami sendiri perasaan ini, menurut saya apaan banget sih, cemburu-cemburuan. Tapi akhirnya saya tahu bahwa emosi bernama cemburu ini wajar hadir saat seorang yang kita cintai memiliki porsi cinta yang lebih pada orang lain. Poinnya adalah: bukan saya.

Saat kecil, saya suka cemburu pada kasih sayang orang tua yang sepertinya lebih banyak untuk kakak, bukan saya. Kakak lebih sering mendapat barang baru karena barang lamanya yang masih bagus akan secara otomatis menjadi hak milik saya. Kakak lebih sering diajak kalau ayah dinas ke luar kota. Ibu saya bahkan dipanggil “Mama Siti” (Siti nama kakak saya), bukan “Mama Esty”. Saya yang childish dan penuh cemburu segera berpikir kalau saya anak pungut dan seterusnya (yang hobi lihat sinetron pasti tahu jalan pikiran saya yang sering dinarasikan para sineas).

Saat mulai mengenal pertemanan, terkadang saya juga cemburu. Pada teman baru yang menjadikan saya dilupakan. Pada kedekatan lebih si K yang menurut saya seharusnya lebih dekat ke saya, dan seterusnya. Bahkan saat saya berkenalan dengan ikatan bernama ukhuwah islamiyah pun, saya kadang cemburu dengan perlakuan berbeda para ikhwah. Ukhti A lebih ramah sama B karena B mengemban amanah yang lebih penting. Akhi H lebih bermanfaat sama Akhi T karena mereka satu amanah penting.

Saat naksir lawan jenis, saya juga pernah cemburu. Hanya dua kali sih, tetapi dengan alasan yang sama: karena kedekatan dia yang lebih pada perempuan lain, kebaikannya yang lebih pada perempuan lain, dan eksistensi perempuan lain yang lebih di matanya. Maaf kalau saya pernah manusiawi. Tapi saat itu saya rasa saya cemburu, dan kecemburuan saya melahirkan dua energi.

Energi positif menjadikan saya ingin lebih bermanfaat dan berarti untuk orang tua, teman, saudara, dan dia. Energi negatif membuat saya sebal pada orang tua, teman, saudara, dan perempuan tak bersalah itu. In the name of love, saya bisa melakukan apa saja kalau cemburu (both positive and negative). Sayangnya, saya tidak pernah cemburu pada-Nya dan merasa dicemburui oleh-Nya.

Alhamdulillah, saya bisa merasakan hawa kompetisi putih di sekitar saya. Banyak orang berlomba dalam kebaikan. Terlepas dari penglihatan siapa yang ingin mereka capai, mereka tampak berkejaran menuju tangga Cinta-Nya. Tapi saya tidak cemburu. Saya justru duduk-duduk dalam dalih “tidak mau kelihatan”. Padahal saya hanya manja dan berharap Dia yang mendatangi saya. Padahal saat perempuan lain tampak mendekatinya saja saya pasang kuda-kuda dari jauh, kenapa dengan rombongan pelari menuju hati-Nya saya tidak tergerak?

Jika mereka yang rela bangun tiap dini hari dalam dingin angin dan air demi bertemu Kekasihnya itu menerima lebih dari saya, pantaskah saya cemburu? Jika mereka yang berbicara dalam kesopanan pada-Nya, senantiasa mengingat Cinta mereka dalam duduk, diam, bahkan tidur itu lebih dulu doanya dijawab daripada saya, pantaskah saya cemburu? Tentu tidak. Tapi sayangnya saya tidak cemburu bukan karena tahu diri, tetapi karena ternyata saya tidak pernah secinta itu.

Oke, saya mungkin belum secinta itu pada Dia. Tapi mempertanyakan Cinta-Nya sungguh tidak pantas. Katanya, cinta itu memberi tanpa mengharap dibalas. Cinta itu tersenyum meski telah tersakiti. Cinta itu menunggu meski telah dikhianati. Cinta itu percaya meski telah banyak dusta. Dia juga begitu pada saya, kan? Dia masih memberi rezeki, meskipun saya jarang bersedekah dengannya. Dia masih menunggu kebaikan saya di bumi-Nya meskipun saya tidak pernah berniat melakukannya. Dia masih percaya saya bisa menjadi khalifah fil aard meskipun bahkan memimpin diri saya saja masih payah. Dia masih terus beri saya kekuatan untuk mencintai-Nya meski saya sering selingkuh dan menyekiankannya. Poinnya adalah: Dia masih.

Untuk semua itu (bahkan lebih), bukankah Dia pantas cemburu? Sebenarnya, harusnya saya tidak pantas merasa dicemburui. Tapi rasanya menyeramkan sekali memiliki Cinta sebesar itu tanpa ada secuilpun rasa cemburu. Setelah berulang kali memanggil dari TOA yang berbeda, pada masjid ke berapa saya akhirnya beranjak dari TV di depan saya saat adzan? Padahal satu kali panggilan SMS si dia segera menyedot perhatian saya. Belakangan saya bahkan lebih percaya pada kata motivator mahal dan politisi pengusung isme modern daripada tulisan dalam kitab-Nya yang kata mereka “perlu diamandemen”. Dia yang memberi saya semua, bahkan tanpa saya minta, tetapi saya justru meninggalkannya. Ibarat drama-drama, Dia adalah tokoh protagonis yang selalu diabaikan saat bahagia dan menjadi pelarian saat duka.

Tokoh-tokoh itu, dalam semua cerita, memiliki kecemburuan, meskipun tidak semua ditampakkan. Saya percaya tulisan dalam buku-Nya yang menunjukkan betapa Dia memiliki potensi cemburu. Seharusnya sebagai bagian ummat ini, saya harus lebih was-was dan setia karena kecemburuan-Nya tidak segera ditampakkan di dunia ini. Tidak seperti ummat Nabi yang lain, yang dapat segera merasakan kecemburuan-Nya ketika Dia diduakan atau diabaikan.

Seperti pernyataan Yusuf Mansyur, bahwa ummat Muhammad adalah yang paling lengkap maksiatnya karena akumulasi dari maksiat ummat-ummat dulu. Beliau menyebutkan kejahatan ummat Nabi Syuaib yang gemar korupsi serta umat Nabi Luth yang mendukung hubungan sejenis. Entah apa yang dijadikan parameter dosa bangsa ini, tetapi saya yakin cerita pada Al Qur’an tentang adzab pada dua bangsa itu bukanlah dongeng ciptaan Muhammad.

Saya hidup sebagai ummat Muhammad di tengah kaum Nabi Syuaib dan Nabi Luth, dengan adzab yang ditangguhkan, dengan Cinta yang terus tercurah dalam kesetiaan yang tergadaikan. Bagaimana saya yakin Dia tidak akan cemburu?

#7 Anti-bohong


7 Ramadhan 1433 H :: 26 Juli 2012 M

Berhubung saya mau pindah kos, agenda liburan di rantau belakangan ini adalah 3B: bongkar, beres, bersih. Agenda 3B ini berlaku di dua tempat, mantan kos dan kos baru, dan saya sengaja menyediakan waktu khusus untuk kegiatan bersih-bersih ini, terutama beres-beres kos baru. Paska direnovasi, kami bersih-bersih kos baru biar nantinya lebih nyaman. Plus, saat beres-beres kami jadi lebih memahami kondisi fisik kos –yang nantinya pengetahuan ini penting untuk kebijakan penempatan barang dan lain-lain. Agenda beres-beres yang mungkin tidak penting (untuk kalian) ini saya tuliskan karena 3B mengingatkan saya pada konsep tazkiyat an nafs.

Kalau tidak salah mengingat, saya pertama dengar konsep ini saat SMA. Intinya tentang pembersihan jiwa. Kalau kata kakak teman saya, “Kosongkan dulu cawannya.” Saat itu saya yang ABG sedang on fire menanyainya soal isu seputar ajaran golongannya. Karena saya yang dulu adalah ABG yang gampang termakan gosip dan suka lebay kalau cari informasi, niat saya untuk menginterogasinya jadi ketahuan. Sambil tertawa, katanya, ”Kalau memang niat belajar, kosongkan dulu cawannya. Biar tidak tumpah sia-sia air yang saya tuangkan.” Sekak. Akhirnya cawan saya kosongkan (isinya disimpan) agar air darinya dapat masuk. Setelah itu, filterisasi dimulai.

Sebenarnya saya bukan ingin menulis tentang tazkiyat an nafs hari ini, tapi saya ambil poinnya saja: sebagaimana saya harus beres-beres di tiap hunian baru, saya harus beres-beres hati tiap menerima ajaran baru. Kalau kata Dia, hanya hati yang bersih yang bisa lapang menerima ajaran-Nya. Kalau kata saya, hanya kos bersih dan lapang yang bisa nyaman terima furnitur dan penghuni baru.

Belakangan ini saya mendapat banyak keajaiban dari Dia. Teman-teman di sekitar saya selalu sebal melihat saya: santai, nggak ngapa-ngapain, tiba-tiba nilainya A, tiba-tiba dapat uang, tiba-tiba menang lomba. Padahal kerjaannya cuma tidur, main, baca buku non-kuliah atau komik, dan ketidakjelasan lain. Tapi sebenarnya saya tidak seajaib itu. Saya bukannya tidak melakukan apa-apa dan mendadak dapat anugerah sebanyak itu. Pikir saya, semua pemberian ini adalah balasan dari perbuatan positif masa lalu saya yang baru bisa saya dapatkan balasannya saat ini.

Dia sangat adil, kan? Dia berjanji akan balas semua kebaikan dengan kebaikan, sekecil zarah pun. Oh ya, teman saya (dari Ustadz-nya) pernah menginfokan kalau zarrah lebih kecil dari bunga sawi, yakni butir-butir debu (?) yang terlihat dari celah superkecil saat sinar matahari menerobos melaluinya. Sekecil itu, seadil itu. Dia bukan tak menepati janji. Saya hanya tidak tahu kapan janji itu berlaku, kapan doa-doa itu dijawab, juga hukuman itu terlaksana.

Saya percaya ada janji-janji yang ditangguhkan dan disegerakan. Tapi tidak ada yang diingkari. Saya mau curhat tentang waktu dan anugerah. Beberapa bulan lalu saya berniat ikut LKTI tentang MDGs (waktu baca pengumumannya, saya bahkan tidak tahu apa MDGs). Saya terlalu ribet persiapan materi dan partner, cari info tentang juri (nggak penting) dan aktivitas gaje lain. Tapi tidak segera menulis hingga deadline menyapa #kebiasaan.
Akhirnya, saya memutuskan batal ikut. Tapi mendadak tiga hari sebelum deadline saya dapat topik baru. Sebenarnya itu topik yang tidak sengaja saya temukan untuk kegiatan lain. Tapi kata kakak saya, “Buat MDGs saja.” Dalam 2 malam, kami kerja rodi. Tapi pikiran saya bercabang saat saya tiba-tiba harus ke Malang lomba debat. Saya mau fokus LKTI, tapi teman saya yang kecelakaan benar-benar tidak bisa berangkat. Berbekal bismillah dan pasrah (karena sudah 6 bulan nggak debat dan no matter search), saya berangkat. Saat itu janji-Nya terlaksana: dengan tim-tim monster tua sebagai lawan, tim kami alhamdulillah masuk top ten. Kalau di parliamentary debate, it’s really something. Apalagi dapat jackpot menang LKTI.

Kejaiban kedua hampir tipikal. Pada hari di saat kami seharusnya sudah KHS-an, seorang dosen menugaskan kami membuat individual paper dalam satu minggu. Padahal satu minggu itu sudah saya niatkan untuk persiapan debat PIMNAS. Mengingat perkuliahan seharusnya berakhir seminggu lalu dan baru kemarin saya meminta tanda tangan dosen tersebut untuk proposal PIMNAS (yang berarti beliau tahu saya mungkin akan fokus persiapan itu) saya benar-benar speechless.

Sekali lagi saya rempong. Idealisme saya menyuruh saya analisis film tentang keluarga lesbian, meskipun masih bingung mau fokus ke konstruksi keluarga yang ‘luarbiasa’, peran gender pasangan, atau efek pada psikologi anak. Belasan e-book sudah terdaftar di endnote saya, tetapi baru baca tiga, saya sudah capek. Karena saya masih mengurus proposal PIMNAS yang dananya belum cair (sampai sekarang), belum pesan hotel, belum cek pendaftaran dan keribetan pra-lomba lain. Bacaan saya mental semua. Alasan saya, “Udah waktu liburan, baca teori juga mental” padahal saya hanya sibuk mengeluh. Tidak benar-benar membaca.

Malam sebelum berangkat PIMNAS, saya memutuskan ganti topik paper. Analisis psikologi karakter dalam cerpen menjadi pilihan saya. Tapi saya curang. Sebenarnya saya berniat tidak mengumpulkan paper dan mengulang mata kuliah ini tahun depan. Tapi mengingat huruf E dalam KHS akan sangat dipertanyakan, akhirnya saya sak-sakan bikin tulisan. Oke, ralat, saya tidak benar-benar menulis karena inti paper saya sudah ada sejak satu tahun lalu. Saya pakai tugas analisis prosa di semester satu dengan hanya membagi esai tersebut sesuai sistematika paper. Saya bahkan tidak membacanya lagi untuk sekedar edit ketikan. Niatnya sih, diperbaiki pas PIMNAS karena deadline masih dua hari lagi.

Das solen dan das sein sering tidak akur di hidup saya. Dengan alasan kondisi yang tidak fit dan suasana yang tidak kondusif, saya batal memperbaiki ‘paper’ saya. Seharusnya, kalau tahu saya selalu pusing di atas jam 12 siang, saya akan memaksimalkan waktu subuh sebelum lomba untuk menulis. Kalau tahu saya tidak bisa ikut diskusi atau sekedar main di malam hari, seharusnya saya segera tidur biar besok benar-benar sehat. Tapi saya tidak begitu, kan? Dengan hanya menambah kutipan, saya mengirimkan ‘paper’ itu ke email teman saya untuk dikumpulkan.

Saya hanya bisa bersyukur mendapati tim kami menjadi quarter-finalist PIMNAS dengan tanpa persiapan seperti itu. Tetapi saya hampir memaki saat ternyata hanya 7 paper yang diterima dosen saya sebagai ‘calon nilai B’, yang lain revisi. Saya pun kembali berkutat dengan laptop di saat teman-teman sudah dua minggu libur dengan KHS tercetak. Sebenarnya saya hanya harus dipaksa. Dipaksa membaca referensi, menulis yang benar, tidak mengopi (bahkan tulisan sendiri), dan tidak mengeluh. Paper yang mendingan pun jadi. Submitted dengan alhamdulillah hasil A. Tanpa revisi itu, mungkin saya bahkan tidak pantas berharap mendapat D untuk paper ‘jiplakan’ tanpa introduction.

Then, which favors of Your Lord will you deny? Saya hanya kurang bersyukur karena waktu saya habis untuk mengeluh, karena saya sibuk melihat dari sisi negatif daripada positif. Saya pernah memilih untuk tidak terlalu khusnudzon, tetapi seorang kakak mengingatkan. “Allah itu sesuai prasangka hamba-Nya.” Tetapi saya merasa terlalu khusnudzon tidak baik, pun dalam rangka kebaikan. Saya pikir itu siasah, agar tidak berkhusnudzon terhadap musuh-Nya. Tetapi apakah Muhammad berburuk sangka pada para pejabat yang memusuhinya? Tanpa khusnudzon dalam doa, Rasulullah tidak akan mampu mendoakan mereka menerima ajaran Allah, hingga mereka benar-benar menerimanya.

Dia mencintai saya seperti orang tua saya. Mereka (parents) sering berjanji “nanti” pada setiap keinginan saya. Saya sempat berpikir mereka pembohong yang ingkar janji sebelum saya paham konsep mereka. Jika itu baik untuk saya, tanpa meminta pun akan diberi. Tetapi kalau itu tidak baik (atau tidak begitu penting saat ini), sampai menangis gulung-gulung pun tidak akan diberikan. Mungkin nanti, atau tidak sama sekali. Tapi mereka tidak pernah ingkar janji.

Saya percaya ada janji-janji yang ditangguhkan dan disegerakan. Tapi tidak ada yang diingkari. Untuk semua perbuatan, ada anugerah dan musibah sebagai balasan. Dan sebagai ummat Muhammad yang adzabnya ditangguhkan dalam janji-Nya, bukannya seharusnya saya lebih waspada? Astaghfirullah.

#6 Bukan Same Sex Relationship


6 Ramadhan 1433 H :: 25 Juli 2012 M

Dia tidak berjenis kelamin. Bukan androgini. Tapi konsep lain di luar citraan manusia. Dia tidak maskulin. Tidak juga feminin. Dia punya keduanya. Dia tidak hanya Maha Mengatur dengan segenap hukum dan sanksi tegas. Dia (juga) sangat lembut, pemaaf, penuh rahmat, ampunan.

Dari buku-buku Islam berlabel liberal yang saya baca, banyak dari mereka yang kecewa pada Islam saat ini karena pengunggulan satu sisi ketuhanan. Maskulin saja. Tapi menurut saya, mereka juga tidak akan mencapai keadilan ketuhanan jika yang mereka inginkan adalah citraan Tuhan yang feminin saja. Buku yang saya baca bercerita tentang proses pencarian iman beberapa tokoh (yang mostly pekerja seni budaya) hingga mereka ‘berhasil’ mendesain agama mereka masing-masing. Saya sampai pada titik temu pengalaman orang-orang itu; mereka yang berontak biasanya lahir dan besar dalam lingkungan agama yang mengikat. Konsep ketuhanan yang maskulin saja.

Dalam lingkungan Tuhan yang Maskulin, seseorang disuntik dogma ancaman-ancaman Tuhan, konsep neraka yang menyeramkan, adzab Tuhan, dahsyatnya kemurkaan Tuhan, dan ajaran lain yang mengerucut pada pemahaman ‘aplikasi agama secara menyeluruh berarti ekstremis’. Tanpa prolog, ajaran jihad yang disampaikan pada anak kecil tentu akan mental. Bukannya patuh, anak itu justru akan berlari dan menganggap Tuhannya menyeramkan sekali.

Tetapi proposal yang mereka ajukan juga –menurut saya– tidak benar-benar merepresentasikan citraan Tuhan. Mereka percaya dan ingin mengunggulkan sisi Tuhan sebagai pemaaf, yang memaklumi ketidaksiapan mereka (jika tak ingin dibilang enggan) melakukan ajaran-Nya. Mereka mengampanyekan Ar Rahman Ar Rahim sebagai Tuhan yang tidak menyusahkan hamba-Nya, yang berarti membolehkan mereka customize agama yang mereka pilih. Ibarat pasar, agama bagi mereka adalah pasar tradisional yang mereka bebas pilih sendiri barang-barang untuk dimasukkan ke keranjang, dengan harga yang bahkan melalui proses tawar-menawar terlebih dahulu. Well, niaga memang dipercaya sebagai jalur rezeki dengan pintu terbanyak dalam ajaran-Nya. Tetapi saya tidak menyangka keyakinan berniaga mereka bisa sampai sejauh ini.

Tuhan tidak berjenis kelamin atau gender. Saya tidak menyukai kedua golongan (sebenarnya banyak, tapi saya generalisasikan soal pengerucutan gender saja) yang masing-masing vote for Tuhan maskulin atau Tuhan feminine saja. Tuhan memang tidak punya gender, tetapi kalaupun harus mengisi daftar kepantasan yang manusia ciptakan, Tuhan tidak berat sebelah untuk menjadi Penyiksa saja atau Penyayang saja. Al Qur’an sebagai representasi ajaran-Nya telah dibumikan dengan baik oleh Muhammad, utusan-Nya. Melalui Rasulullah pula saya belajar, Islam tidak Maskulin atau Feminin saja.

Jika Barat mengenal Islam sebagai Teroris (maskulin saja), saya rasa media benar-benar tidak adil soal pencitraan golongan tertentu. Atau mungkin golongan-golongan Islam (yang sengaja mengunggulkan satu sisi) yang semakin berbangga dengan jaket mereka lah yang mempermudah media menggambar citraan Islam atas kepentingan mereka. Padahal menurut saya, seharusnya Islam tidak begitu. Islam itu tegas sekaligus penyayang. Kepribadian Tuhan dalam ayat-Nya yang dibumikan Rasulullah yang seharusnya dijadikan tolak ukur, bukan harokah garis keras A atau organisasi liberal B.

Islam bukan hanya tentang perintah memerangi mereka yang menghina agama Allah. Islam lah yang mengakhiri praktik perbudakan, yang menghilangkan rasis kulit dan kebangsaan, yang menjamin kehidupan orang miskin. Abu Bakar terkenal lembut sementara Umar bin Khatab dikenal tegas. Jika saya kesulitan menemukan sisi tegas Abu Bakar atau kelembutan Umar, kenapa saya tidak belajar pada paket lengkap Muhammad? Apakah karena Muhammad bukanlah pejabat Quraisy yang bahkan buta huruf, maka saya tidak mau menerima kebenarannya?

Belakangan saya belajar sedikit tentang same sex marriage, dan pasangan sejenis ini mostly lahir dari kekecewaan atas stigma gender. Maka, bagi mereka yang lesbian, mereka tidak butuh sosok maskulin dalam keluarga mereka. Beberapa yang ekstrim bahkan mengecam eksistensi “femme” dan “butch” dalam keluarga lesbian. Menurut mereka, jika sudah berkomitmen untuk being a lesbian family, dua stereotip gender itu tak lagi dibutuhkan. Begitu juga pada keluarga homoseksual. Tapi saya bukan pendukung –kalau saya boleh memakai istilah Qur’an– kaum Nabi Luth ini.

Saat saya menerima Islam sebagai agama saya, yang saya harapkan darinya adalah paket lengkap ajaran tegas sekaligus penyayang. Jika Islam adalah keluarga tempat saya tumbuh dan berkembang, yang saya inginkan adalah figur Ayah dan Ibu, bukan ibu saja atau ayah saja. Saya akan tumbuh sebagai anak manja jika dua ibu saya terlalu menyayangi saya tanpa aturan. Tetapi hidup dengan hanya aturan tanpa kasih sayang pun menjadikan saya hadir sebagai pribadi pemberontak. Karena Islam bukanlah keluarga dengan same sex marriage, saya inginkan Tuhan sebagai sosok maskulin sekaligus feminin.

Ajaran-ajaran yang di-customize itu, menurut saya apalah. Tuhan bukan pedagang di pasar tradisional yang ajarannya bebas dipilih pakai harga tawar menawar. Saat mereka berkata, “Yang penting pakaian taqwa, yang penting menjilbabi hati dulu,” saya tidak lagi akan tanya ‘sampai kapan?’ atau pertanyakan pengetahuan mereka tentang batas taubat dan kedatangan maut. Saya hanya tidak habis pikir, dengan konsep ‘hati’ itu, kenapa mereka tidak “Yang penting puasa hati dulu, yang penting sholat hati dulu, yang penting haji hati dulu?” Dalam kehidupan manusia, apa yang dapat dilihat manusia menjadi penentu kesungguhan keyakinan seseorang.

“Keyakinan saja tidak cukup,” kata seseorang. Iya banget, kata saya. Mengaku yakin atas kebaikan ajaran-ajaran tanpa pernah melakukannya, untuk apa? Mungkin karena saya hidup di zaman ketika berislam tidak mendapat ancaman kematian, maka semua menjadi terlalu santai dan biasa bagi saya. To be honest, saya mungkin tidak pernah bersyukur atas keimanan ini. Apakah saya harus dikembalikan pada zaman di saat belajar agama dianggap berbahaya? Karena dengan begitu saya mungkin akan hargai keimanan. Dan pada saat itu pula, lidah yang mengaku Islam tanpa merealisasikannya akan menunjukkan derajat saya sebagai pengecut. Hanya mengaku beriman, tapi tidak bergerak.

Atau mungkin sebenarnya kondisi itu masih berlaku saat ini. Karena setiap mengajak teman belajar agama, saya sering ditolak. Karena menurut mereka, apa lagi yang harus dipelajari? Karena mereka bahkan tertawa pada para pejuang keyakinan. Karena bagi mereka, setelah Muhammad tiada, “Apa lagi yang mau dibela?” Karena mereka mengaku yakin pada ajaran-Nya, tapi tidak melakukan apa-apa untuk itu. Dan saya terbawa arus. Termakan headline media. Terlanjur percaya bahwa belajar agama harusnya biasa-biasa saja. Karena berislam di KTP tanpa ingat kapan menyatakan Islam saja sudah cukup.

Kalau kata Spongebob, “No free rides”. Tetapi doktrin “yang biasa-biasa saja” sudah merasuki saya. Padahal saya sadar, saat ingin dapat capaian bagus di kuliah, di lomba debat, di menulis, di organisasi, semua yang biasa-biasa saja tidak pernah cukup. Dan mungkin saya lupa, Dia tidak ciptakan surga untuk orang yang biasa-biasa saja. Astaghfirullah.

#5 Pemimpin terbaik


5 Ramadhan 1433 H :: 24 Juli 2012 M

Ada yang so sweet dari drama elektronik siang kemarin. Film televisi itu menceritakan proses pencarian cinta sejati dua anak manusia setelah berulang kali dikecewakan(sounds so FTV). Dalam sebuah dialog hati, tokoh perempuan berkata, “Ternyata cinta sejati memang ada. Jika telah menemukannya, cinta sehati akan mengaliri tiap nadi untuk memberi kehidupan.”

Sebenarnya saya tidak terbiasa mengikuti permainan emosi FTV, tetapi karena saya sedang (mengusahakan) Cinta, saya mengamini konsep itu, meskipun nggak nangis-nangis kayak pemainnya. Cinta sejati bekerja seperti air dan zat hara pada tiap xylem dan floem untuk berproses dalam fotosintesis tumbuhan. Tanpa berfotosintesis tumbuhan akan mati. Dan dalam FTV itu tokoh perempuan dan laki-laki nyaris ‘mati’ karena overthinking cinta sejati mereka saat berpisah. I’m not saying this is a romantic film, though. Tetapi saya jadi malu sama sineas FTV.

Mereka saja bisa sedalam itu memaknai cinta makhluk: sebagai penggerak dan sumber kehidupan, yang tanpa cinta semua akan berakhir. Saya sih nggak mau seperti itu untuk cinta makhluk, tapi saya ingin Cinta Pencipta saya bisa sedalam itu. Yang mengaliri nadi saya dan melandasi setiap perbuatan saya. Konsekuensinya, ada kesatuan kemauan saya dan Dia. Jangan suudzon, ini bukan ajaran manunggaing kawula lan Gusti, yang tanpa pemahaman ekstra sangat mudah menyesatkan, tetapi ini bentuk kecintaan yang sederhana.

Logikanya, seperti kata Afghan, saat seorang jatuh cinta, dia akan mengusahakan yang terbaik untuk cintanya. Seharusnya, jika saya sudah berkomitmen untuk mencintai-Nya dengan sebenar-benar cinta (yang bigger daripada cinta fans dan FTV), seluruh hidup ini akan saya dedikasikan pada pengabdian untuk-Nya. Alhamdulillah saja tidak akan cukup sebagai wujud syukur.

Salah satu pengabdian tercermin dalam penyerahan diri. Tadi saya baca status temannya teman (pas lagi kepo) tentang dialog pengantin baru. Mempelai wanita menyatakan penyerahan diri seutuhnya pada suami dengan basmallah, cinta di atas iman. Penyerahan diri istri tersebut tidak hanya secara fisik tetapi juga non-fisik. Seorang istri yang baik, dengan cinta di atas Cinta (pinjam istilah seseorang), berusaha mengabdi seutuhnya. Menjadikan perintah suami sebagai kewajiban, mengambil pemikiran dan nasihat suami sebagai masukan, menjauhi larangan suami dengan tulus dan lapang hati. Seorang yang mencintai kekasihnya akan percaya seutuhnya pada kebijakan pasangannya. Sebagai istri yang baik, saat berkomitmen menjadikan suami sebagai pemimpin, ia akan hidup di atas sistem keluarga pimpinan suaminya.

Berhubung saya belum memiliki pemimpin yang itu serta pemimpin keluarga kami sudah berpulang satu tahun lalu, saya merasa ada kekosongan dalam diri saya. Istilah organisasinya, vacuum of power. Sebenarnya sih, kalau mau jujur kekosongan pemimpin itu tidak pernah ada. Saya hanya enggan berkomitmen dengan kepemimpinan terbesar dalam hidup saya, yakni untuk bergabung di istana cinta-Nya. Ternyata selama ini saya hanyalah warga tidak tahu diri yang setiap saat menerima santunan dan fasilitas negara tanpa pernah mau membayar pajak. Padahal, di istana cinta-Nya, tidak akan ada pajak yang dikorupsi. Karena petugas pencatatnya adalah makhluk bersayap tanpa nafsu Gayus.

Seharusnya, jika saya benar-benar cinta pada Dia, saya harus mau hidup dalam aturan-Nya, kan? Seperti cinta sejati yang mengaliri nadi. Semua perbuatan didedikasikan dalam rangka ketundukan pada-Nya. Dalam hubungan manusia, tentu saja saya hanya akan mengabdi jika saya; 1) benar-benar cinta, 2) ingin serius berkomitmen menjalani cinta, 3) percaya pada cinta, dan 4) mau diatur atas nama cinta. Jika ada yang mempertanyakan eksistensi kebebasan, saya katakan ‘Kebebasan itu omong kosong’, mengutip kata-kata ‘inspiring’ di iklan provider 3.

Think again. Apakah hidup saya dapat berjalan oke tanpa adanya aturan? Saat hidup saya sibuk dengan kegiatan, lomba, dan organisasi saja, saya harus buat to do list atau matrikulasi spesifik hari per hari. Ada usaha untuk mengatur diri agar tujuan tercapai. Ajaran-Nya pun diturunkan untuk mengatur manusia, agar tidak ada kekacauan karena benturan nafsu manusia. Siapa yang bisa menjamin konsep hak asasi tidak akan saling berbenturan tanpa hukum yang jelas? Bahkan dalam negara liberal pun ada konstitusi yang berlaku. Masalahnya, saya terlalu sombong dan sering mempersulit diri sendiri.

Mengapa ku selalu mengatur yang telah teratur? Apakah aku merasa hina jika Dia yang mengaturnya?
(lirik lagunya Gigi, lupa judulnya, salah satu soundtrack serial Para Pencari Tuhan).

That’s it. Jika saya benar-benar telah menerima Cinta-Nya dan mengakui kebenaran tulisan-Nya serta bersedia untuk berada dalam sistem-Nya, kenapa saya masih terlalu sering mengatur apa-apa yang secara nyata telah diatur-Nya? Seolah keyakinan dan pengakuan Cinta saya selama ini tidak bernilai, bahwa semua air yang pernah menetes dalam sujud saya hanyalah –kalau kata sinetron– air mata buaya.

Bahkan konsep Cinta saya adalah Cinta Tebang Pilih. Meskipun Dia mau menerima saya apa busuknya –bahkan menutupi busuk itu– saya begitu sombong dengan tidak mau menerima-Nya seutuhnya. Kalau cocok dengan kesukaan saya, take it. Kalau tidak, saya berusaha keras cari pembenaran untuk menghindarinya. Dalilnya apa? Shohih nggak? Tafsirnya, yakin, begitu? Ini zaman modern, yang begituan mana mungkin bisa jalan? Kenapa begitu? Bukannya begini?

Menurut saya, 3 Lambang Cinta dan ketundukan yang selama ini dinilai ‘surat biasa’ karena paling memasyarakat adalah Al Faatihah dan An Naas, tulisan pembuka dan penutup kitab-Nya, juga Al Ikhlash. Mungkin saya tidak sadar konsekuensi besar yang ada di balik ayat-ayat yang begitu fasih saya lafalkan dalam sholat itu. Padahal saya sudah mengakui-Nya sebagai Tuhan Semesta Alam, Satu-satunya, Raja Manusia, Tidak Terbandingkan, Satu-satunya tempat bergantung dan memohon pertolongan, tetapi praktiknya: nihil. Astaghfirullah.

Saya masih belajar, dan saya berada dalam proses pemahaman #meyakinkan diri sendiri. Seperti konsep-konsep berpikir positif Semesta-nya The Secret dan You are what you think-nya artikel-artikel posmodernisme, Dia menjanjikan Allah sesuai prasangka hamba-Nya. Saya hanya harus sabar dan ber-khusnudzon atas Cinta-Nya. Pada lawan jenis dalam bahasa manusia saja saya butuh belajar untuk memahami, apalagi pada Pencipta makhluk dalam bahasa langit? Katanya, salah satu attitude orang sukses adalah mau belajar. Dan saya mau itu.

Seperti kata-kata bagus yang saya dapat dari tumblr temannya kakak saya sore ini, “Courage doesn’t always roar. Sometimes courage is the quiet voice at the end of the day saying, ‘i will try again tomorrow’.” Superb sekali :)

#4 Konsekuensi Idola


4 Ramadhan 1433 H :: 23 Juli 2012 M

Saya pernah membaca tulisan bernada negatif, ‘Tuhan itu melindungi, bukan yang dilindungi. Yang menolong, bukan yang ditolong.’ Dalam Islam, Dia menolong dan melindungi sekaligus memberi jackpot kepada penolong dan pelindung ajaran-Nya. Tetapi bukan karena lemah Dia dibela. Bukan karena rapuh agama-Nya dijaga.

Seseorang yang mengagumi idola akan berusaha menjaga kehebatan idola tersebut, sehebat apapun. Bukan karena dia pemimpin klub fans idola tersebut. Bukan karena keberadaannya sangat berpengaruh pada nama besar idolanya. Bukan karena tanpa dia idolanya akan hancur. Karena bahkan kepergiannya pun tidak berpengaruh signifikan bagi kehebatan idola tersebut.

Dalam dunia manusia, hubungan ini disebut loyalitas. Atas nama cinta, seseorang rela melakukan apa saja demi yang dicinta. Dalam salah satu lirik lagu Afghan yang tidak sengaja saya dengar pagi ini, dikatakan ‘Kan kuberikan yang terbaik tuk membuktikan cinta kepadamu.’ Untuk manusia saja bisa segitunya.

Hari ini saya banyak mengonsumsi berita kebebasan Ariel Peterpan. Puluhan penggemarnya rela datang dan menginap jauh-jauh hari dari luar pulau. Mereka bahkan menjual motor dan harta lain demi menutupi pengeluaran akomodasi di Bandung. Oke, secara bisnis orang-orang ini berpengaruh dalam karir Peterpan. Tetapi sebenarnya, Ariel tidak membutuhkan para fans itu untuk menyelesaikan kasus hukumnya, karena mereka bukan pengacara yang bisa bermain logika hukum untuk membantunya. Tetapi, saat diwawancarai, para fans mengaku mereka lah yang butuh Ariel. Mereka rindu karya-karyanya dan berharap ‘Ariel dapat kembali’.

Well, sebenarnya kasus loyalitas fans dan idola berada di bawah label simbiosis mutualisme. Tetapi hal yang ingin saya tekankan dalam fenomena ini adalah kecintaan Sahabat Peterpan. Seorang yang bahkan terbukti sesalah itu (meskipun yang dibahas selalu soal distribusi, bukan aksi) masih dibela dan ditunggu serta diberi loyallitas. Ada yang bilang loyalitas idola itu bodoh. Beberapa kasus yang diangkat adalah fanatisme Korean holic yang sanggup menangis heboh saat boyband idola mereka terancam bubar atau salah satu personilnya sakit atau bahkan gagal memenangkan festival tertentu. Mereka sangat sangar soal mengidolakan sesuatu, dan saya pernah baca kalau secara psikologis kondisi seperti ini justru memberi banyak hal positif.

Lantas, apakah mengidolakan seseorang masih salah? I don’t think so. Dalam hidup, seseorang membutuhkan public figure, role model. Ada beberapa orang yang benar-benar menginspirasi. Lewat kepribadian, karya, perkataan, juga pikiran mereka. Saya memang tidak pernah merasakan cinta pada idola sebesar para Korean holic yang kena hallyu. Tetapi jujur saya salut pada porsi cinta sebesar itu, dan saya percaya saya juga bisa memilikinya. Tetapi saya ingin alokasi cinta yang berbeda.

Saya ingin, pada Cinta baru saya ini, saya dapat memiliki Cinta sebesar para ELF, Shawol, Cassiopea, Sahabat Peterpan, dan fans club lain. Yang dapat bereaksi saat yang dicinta dilukai, yang rela belajar bahasa Korea agar paham lirik-lirik lagu sang idola, yang rela menabung bertahun-tahun agar dapat menghadiri konser idola. Saya ingin, pada Cinta baru ini, atas dasar Cinta saya belajar bahasa Arab agar komunikasi dalam sholat saya lebih bermakna, juga menabung sejak saat ini agar dapat mengunjungi rumahNya.

Seorang kakak menceritakan kecemburuannya pada tokoh idola yang bercita-cita mengobrol dengan para shahabiyah di surga. Beliau lantas membandingkan hafalan ayat dan hadistnya dengan para shahabiyah tersebut sebelum beristighfar. Saya hanya diam. Dalam hati saya berbisik, “I am so envy.” Memiliki mimpi seperti itu pun saya tak pernah. Orientasi saya sangat duniawi. Dengan alasan childish “Saya bukan Khodijah, Aisyah, Fatimah” saya menghindari keteladanan itu. Padahal saya hanya belum siap berubah. Padahal, bukannya jika seseorang benar-benar Cinta, dia akan rela berubah lebih baik?

Sisi lain saya lalu kembali protes “Berarti itu bukan cinta karena tidak mau terima saya apa adanya.” Namun rasanya ingin tertawa mengingat statement itu. Di dunia ini, tidak akan ada yang akan terima kamu apa adanya. Karena apa yang dilihat manusia tentangmu adalah kebaikan yang Dia tampakkan dan aib yang Dia tutupi.

Saya tidak perlu menuliskan semua aib saya karena mungkin setelah membaca tulisan ini daftar teman saya akan kosong. Intinya, demi kebaikan, berubah itu perlu. Semoga Ramadhan ini membantu perubahan saya, dan semoga kepo-an saya berubah ke arah lebih baik. Hehe.

Berjalanlah walau habis terang, ambil cahaya Cinta ‘tuk terangi jalanmu...

#3 Kepo


3 Ramadhan 1433 H :: 22 Juli 2012 M

Manusia yang sedang jatuh cinta, naksir, atau sekedar kagum sederhana pada seseorang akan mencari informasi sebanyak mungkin tentang idolanya. Menjadi seorang stalker, dan tiba-tiba sibuk –kalau kata remaja sekarang– kepo, mau tau banget. Sebagai manusia, saya juga pernah seperti itu. Terlebih teknologi semakin memudahkan saya untuk kepo.

Via facebook, twitter, personal blog, myspace, atau yang lebih purba, friendster (saya memang tidak terlalu banyak main social networking). Sebagai sesama stalker, saya yakin banyak manusia lain paham apa yang saya lakukan dengan situs-situs tersebut terkait seseorang yang saya idolakan.

Sayangnya selama ini saya belum melakukan hal yang sama dengan Cinta (baru) saya ini. Membaca komentar seorang teman di catatan kemarin, saya jadi sedih dan sadar selama ini saya tidak se-Cinta itu. ‘Kalau memang cinta, pasti nggak berat baca ayat-Nya tiap hari. Pasti nggak berat hapalinnya. Pasti nggak berat melaksanakannya.’ Dan dia meneruskannya dengan realita ‘hafalan lirik’ saya yang selama ini lebih oke. Padahal lirik-lirik lagu itu ditulis dalam bahasa Inggris, jika saya ingin beralasan ‘Arab bukan bahasa ibu saya’. Padahal both lirik lagu dan ayat-Nya mengandung kemanfaatan penggerak pribadi, jika saya ingin beralasan ‘ayat-Nya nggak membumi’. Sebenarnya, seperti kata guru saya, ‘Semua alasan hanyalah pembenaran kemalasan’. Astaghfirullah.

Tapi alhamdulillah, setelah disadarkan ceramah Ustadz tentang kenapa Ramadhan harus dimanfaatkan, belakangan saya mulai sedikit kepo tentang Dia. Kalau ada yang menilai saya alim musiman, karena ‘tiba-tiba’ rajin belajar agama karena terpengaruh tren Ramadhan, saya bilang “It’s okay.” Menurut saya mereka yang tergerak untuk mengikuti tren ‘alim’ saat Ramadhan lebih baik daripada yang sok cool dan tidak berubah dalam dalih ‘tidak mau termakan tren’. Kalau dalam setahun saja saya tidak bisa mengambil satu bulan demi menurunkan ego duniawi saya untuk sedikit lebih berpikir tentang akhirat, kapan saya akan mulai benar-benar mendekat pada-Nya? Saya tidak yakin ‘ketiba-tibaan’ itu dapat kembali hadir di saat lingkungan pergaulan saya tidak mendukung.

Oke, semua orang bilang ini tentang takdir, hidayah, yang ‘kalau Allah memang menghendaki saya baik, saya akan baik. Dan seterusnya’. Segampang itukah takdir bekerja? Kalau Abu Dzar Al Ghifary berserah pada takdirnya, tetap berdiam dalam kesuksesan dan popularitas keluarga perampok besar Al Ghiffar, akankah dia menjadi salah satu sahabat yang keteladanan anti-kapitalisnya dapat kita pelajari saat ini? Hingga seluruh kabilah perampok itu diislamkannya dan mengabdi penuh untuk Cinta mereka? Dia bahkan rela mendatangi Muhammad ke Mekkah demi mendapatkan ajaran itu. Saya percaya hidayah memang dari Dia, tapi saya harus mendekat untuk mendapatkannya.

Cinta juga begitu, kan? Rasa cinta datangnya dari Dia, tetapi saya tidak bisa tiba-tiba mencintai Dia tanpa pernah berusaha mendekat dan mengenal-Nya, kan? Kenal saja tidak, bagaimana bisa cinta? Mereka yang tidak pacaran pun punya sistem yang disebut taaruf. Jika cinta pada manusia yang tidak pernah benar-benar memberi saya kebahagiaan saja mampu menggerakkan saya ber-kepo ria tentangnya, kenapa pada Cinta ini saya tak pernah kepo? Jika bingkisan manis dari seorang pengagum rahasia saat ulang tahun saja mampu membuat saya penasaran dan mencari tahu tentangnya, kenapa Dia yang memberi hidup sehebat ini tidak cukup membuat saya penasaran atas-Nya?

Maka saya mulai kepo tentang-Nya. Lewat berbagai buku, situs, kelompok, personal, dan medium lain. Tetapi akhirnya kepo saya agak ribet, karena kebiasaan mencoba banyak jalan. Beda persepsi antar-ulama, haroqah, website, halaqoh, penulis, ideologi, dan tokoh mewarnai kepo saya. Hasilnya? Ababil. Saya dibilang netralis (?), liberalis, sekaligus ekstremis, bahkan teroris. Padahal beginilah saya apa adanya. Fakir ilmu yang sedang belajar mencintai Dia. Saya yang banyak tanya dibilang pembangkang. Saya yang diam dicap taqlid. Akhirnya saya sadar, memang tidak semua harus ditanyakan. Apakah saya kalah? I don’t think so. Saya hanya belum menemukan sosok yang bisa mengisi titik kecil dalam mozaik warna yang saya ciptakan #eaaa.

Sepertinya, saya hanya harus lebih kepo tentang Dia. Kata teman saya, ‘Tiap benda ibarat kartu memori.’ Seharusnya Dia adalah kartu memori paling haybat yang bisa saya miliki, karena seluruh benda di semesta memiliki koneksi memori pada-Nya. Tetapi saya terlalu lemah untuk menggunakannya. Ilmu-ilmu tentang Dia terlalu bermuatan besar, yang bukannya mencerahkan saya, justru melemahkan daya saya alias menjadikan program-program saya lemot. Melihat kondisi ini, sebenarnya tidak ada yang salah selain saya.

Mungkin ketidakpahaman saya selama ini hanya karena hati saya belum cukup berkualitas untuk menerima Cinta-Nya. Dan sekeras apapun saya kepo tentang kebaikan kartu memori untuk ponsel saya, kalau ponsel saya tidak memenuhi spek yang dibutuhkan, kartu memori itu tidak akan bekerja. Astaghfirullah. Okay, next target: servis ponsel! :)

#2 Penulis terhebat

2 Ramadhan 1433 H :: 21 Juli 2012 M

Prolog: Ini tulisan yang akan sangat subyektif, karena berkaitan dengan selera pasangan hidup seseorang. Thus, no offence, please :D

Di antara keajaiban Al Qur’an, bagi saya pribadi, untuk pertama kalinya saya jadi menganggap mencintai seorang penulis not that bad :D Jujur saya tidak berharap mendapatkan pasangan dari bidang profesi sejenis. Meskipun saya belum menjadi penulis beneran, saya masih berkeinginan tinggi menjadikan menulis sebagai bagian penting masa depan saya.

Menurut saya, pribadi gemar menulis seperti saya tidak akan klop berdampingan dengan lawan jenis berprofesi penulis sebagai pasangan hidup saya. Alasannya memang trivial dan silly: saya tidak suka laki-laki yang oke dalam hal tulis-menulis, utamanya fiksi. Karena akan menyaingi saya, kemungkinan perang soal pengetahuan sastra akan sangat tinggi, dan sangat tidak seru memiliki pasangan dari bidang serupa. Karena saya introvert, dengan suami penulis, potensi lingkungan pergaulan saya tidak bervariasi akan sangat tinggi.

Maaf maaf, tulisan ini memang berkesan sangat kacau dan tidak begitu esensial. Tapi ketakutan-ketakutan konyol tadi memang masih bertahan dalam impian saya. Sekaligus menguatkan paradigma saya mengenai penulis-penulis pria. Well, saya akui orang hebat pasti menulis. Atau setidaknya, ucapannya dijadikan tulisan. Tetapi tidak semua penulis pasti hebat untuk menjatuhkan hati saya #eaaa. Maaf-maaf, semakin gaje.

Saya tahu akan berdosa di hadapan manusia jika memposisikan Dia sebagai laki-laki atau perempuan. Tetapi kecenderungan saya yang sedang jatuh cinta pada Dia menjadikan saya memikirkan lebih banyak sisi maskulinitas hari ini. Saat baca Al Qur’an pagi tadi, saya tersadar kalau selama ini kitab di tangan saya memiliki bahasa langit yang tidak mungkin dapat disaingi penulis bestseller peraih nobel manapun. Pemilihan kata, perumpamaan yang digunakan, ‘permainan’ bahasa, tingkatan tafsir yang memungkinkan.

Segala teori sastra yang pernah saya dapat di kelas-kelas menulis tidak akan pernah cukup untuk menciptakan tandingan, pun satu surah-nya. Saya lantas berpikir, tulisan ini great dan Penulis ini cool. Oke, Dia memang tidak benar-benar menulis seperti manusia. Saya sedang membahas esensi kalimatillah yang dituliskan.

Mereka bilang, jika sedang jatuh cinta semua menjadi indah dan mungkin. Kali ini saya mengamini. Dulu saya melarang diri saya jatuh cinta pada penulis. Tetapi sekarang saya jatuh cinta pada Penulis terhebat sepanjang masa. Yang tidak ada satu pun yang dapat mencipta tulisan serupa milik-Nya. Pun jika titik kecil kemiripan itu tercipta, tidak ada satu pun tulisan yang memiliki kekuatan menggerakkan ummat sebesar Al Qur’an.

Tulisan-Nya sangat lengkap dan memenuhi kaidah logika teori filsafat apapun. Tetapi sebagaimana hakikat tulisan langit, tulisan dan pembuktian menemui proses yang sangat lama untuk mencapai kata kepastian. Tapi toh ini bukan buku ilmu pasti meskipun beberapa ilmu alam dijelaskan di dalamnya. Adalah keimanan, bukan rasa ingin menjatuhkan atau mencari kelemahan yang dibutuhkan untuk memahami tulisan-Nya.

Saya sadar selama ini masih ada sedikit riak dalam keimanan saya yang mengusik keyakinan saya atas tulisan-Nya. Tetapi kali ini saya mencoba lebih meresapi pesan-pesan yang berusaha Dia sampaikan melalui kata-kata ‘tinggi’ dan perumpamaan yang sebagiannya tidak membumi. Tak apa, karena penyampai risalah ada untuk membumikan Al Qur’an.

Sebagai muslim seharusnya saya tak perlu meragukan ajaran Al Qur’an. Karena usia saya tidak cukup panjang untul melakukan riset pribadi atas 114 surat cinta-Nya. Seharusnya jika saya benar-benar mencintai-Nya, saya akan baca dan mempercayainya. Tentu saya bukan orang yang seketika percaya ketika membaca. Tetapi setidaknya saya tidak perlu berepot menghabiskan seluruh hidup saya menyelidiki kebenaran Al Qur’an dengan sangat sedikit, atau bahkan tanpa melakukan satu pun ajaran-Nya. Seperti ceramah Ustadz saat tarawih hari ini, “Allah memberi ummat Muhammad ‘hadiah’ Ramadhan karena usia mereka tidak sepanjang ummat terdahulu. Diharapkan mereka dapat memaksimalkan amalan di bulan ini”.

See, adil sekali Dia. Ummat yang berusia paling singkat tetapi justru paling banyak merusak bumi-Nya, masih Dia beri keistimewaan dan kesempatan beribadah yang sama dengan ummat terdahulu. Bulan ini menjadi benar-benar lebih berharga. Jika ada yang katakan ‘tidak mau terjebak tren religius sesaat’, menurut saya dia akan merugi. Bukan ranah kita untuk menilai keikhlasan atau semangat beribadah seseorang. Sebelas bulan sangat cukup untuk ‘menimbun’ dosa, dan saya pribadi tidak yakin doa-doa ‘menyuruh’ saya cukup membantu menutupnya. Kita tentu tidak tahu seburuk apa aib seseorang yang Dia sembunyikan, sebagaimana keputihan hati seseorang yang selama ini (hanya) sedang tertutup debu. Dalam hal ini keberadaan Ramadhan sangat penting bagi mereka yang bersungguh-sungguh ingin berubah.

Sebagai bulan penanda turunnya ayat pertama-Nya, Ramadhan mengajarkan saya untuk berhemat waktu tidak mempertanyakan tulisan-Nya. Saya percaya Dia adalah Penulis terbaik, kurangnya pemaksimalan penggunaan otak saya untuk membaca ayat-ayat-Nya lah yang menyebabkan saya masih sering bertanya dan ‘menolak’. Terlebih hari ini –saat melarikan diri di Twitter siang tadi– saya menemukan tweet yang sesuai dengan kondisi ini: “Orang pintar belajar dari kesalahan orang lain, orang bodoh belajar dari kesalahan diri sendiri”. Kisah-kisah yang Dia tuliskan memuat pelajaran-pelajaran dari masa lalu. Jika saya pintar, saya tidak perlu menggunakan usia saya yang pendek ini dengan mencicipi semua kesalahan dan peluang azab tersebut, kan? Tetapi dulu saya memang terlampau sombong untuk mengakui kehebatan tulisan-Nya.

Sebenarnya saya mengagumi sosok penulis. Tapi penulis berita, pekerja media. Menurut saya yang korban media ini, mereka cooler daripada penulis buku cerita. Dibandingkan Dia, terkadang saya justru lebih percaya mereka. Dulu, sebelum saya membuka mata, saya tidak pernah menolak berita koran. Sementara setiap diceramahi mbak-mbak ROHIS, saya sering membantah berita mereka yang bersumber pada Qur’an. Sebelum belajar mengenal tulisan-Nya, dulu saya lebih memilih Koran (newspaper) daripada Koran (English of Qur’an). Ketika saya tersadar koran-koran itu menyampaikan berita menurut kepentingan masing-masing, saya jadi malas. Tetapi Koran tidak hanya untuk kepentingan golongan tertentu. Dia menulis bukan hanya untuk bangsa Arab keturunan Muhammad, tetapi seluruh ummat. Karena seharusnya aplikasi tulisan-Nya membawa rahmat bagi seluruh alam, bukan hanya golongan tertentu.

Ini (baru) tulisan kedua dari 30 catatan pencarian cinta saya. Mereka mungkin akan menilai rasio saya tergadaikan cinta ini. Cinta buta. Cinta tanpa logika. Tapi... tidak juga. Banyak tulisan-Nya yang dulu dijadikan olok-olok, disebut-sebut sebagai hanya dongeng raja-raja, dianggap kebohongan, dan kini terbukti kebenarannya secara ilmiah. Tentu setelah penyampai risalah telah tiada bersamaan dengan hilangnya kesempatan menjadi ‘orang-orang yang pertama kali percaya’. Sebagai seorang yang sedang mengupayakan Cintanya, saya ingin mencintai dengan baik. Saya ingin menjadi bagian mereka yang pertama kali percaya dan melaksanakan. Karena keyakinan saya berkata demikian. Bukan karena label bestseller dan blowing up media atas tulisan-Nya. Bukankah kepercayaan menjadi harga sebuah Cinta?

#1 Yang Mahabaik, Yang Terlupakan

Menjelang Ramadhan.. Tiba-tiba(?) pengen share tulisan tahun kemarin :)

1 Ramadhan 1433 H :: 20 Juli 2012 M

Prolog: Ini tulisan yang akan sangat subyektif, karena berkaitan dengan pencarian cinta sejati seseorang. Thus, no offence, please :D

Awal Ramadhan kemarin alhamdulillah saya diberi lagi rasa itu. Ralat. Mungkin untuk pertama kalinya saya jatuh cinta seperti ini. Ar Rahman, Ar Rahim. “Dia itu Maha Pemurah, bukan Maha Pemarah,” kata seorang teman mengawali curahan hatinya. “Selama ini saya kalau sholat cuma ritual. Nggak ada rasa. Sekedar menggugurkan kewajiban, karena saya yakin orang yang sholatnya nggak bener nantinya masuk neraka,” katanya lagi.

Ingatan saya berhenti pada masa kecil saya sebagai anak TPA. Kata Ustadz, di neraka, kepala orang yang tidak sholat akan dipukul dengan bola besi berduri sampai hancur. Lalu kepalanya akan kembali utuh untuk dihancurkan kembali, dan seterusnya.
Bagi anak SD seperti saya kala itu, bayangan kekejaman Tuhan membuat saya takut untuk meninggalkan sholat. Bahkan dulu saat kecil, saya tidak pernah bisa tidur tenang sebelum sholat atau terlambat. Pernah sekali dua kali saya berpura-pura kelupaan sholat. Tetapi saya tidak bisa tidur dan hanya gulung-gulung nggak jelas di kasur sebelum akhirnya saya ‘menyerah’ dan sholat. Tapi, itu dulu... Saat teman saya bercerita, hati saya mengamini dan berbisik ‘Gua banget...’ Bukan bermaksud bangga. Saya justru sedih kenapa saat ini bahkan ritual saya tidak berlandaskan ketakutan –hanya sesekali. Rasanya bisa merasakan ‘belaian Tuhan’ seperti kisah teman saya akan sangat mustahil.

Tapi, (alhamdulillah) itu dulu... Teman saya menjelaskan alasan pertama kali dia jatuh hati pada-Nya. Saya pikir ini konsep umum yang dapat berlaku bagi siapa saja, maka saya coba. Dan saya sadar, saya hanya tidak pernah menyadari selama ini ada yang benar-benar mencintai saya apa adanya. Pun saat saya tersadar, tidak ada usaha saya untuk mengenal Sosok itu. Terlebih membalas Cinta-Nya. Padahal selama ini Dia sudah berikan terlalu banyak untuk saya. Keluarga baik dan harmonis, lingkungan belajar dan bergaul yang kondusif, dipertemukan dengan orang-orang hebat, fisik tanpa cacat. Saya terlampau malas dan sering lupa untuk berterima kasih.

Untuk nafas hari ini, sahur hari ini, suasana pagi ini, agenda hari ini, tamu hari ini, sholat jamaah hari ini, kesehatan hari ini. Jika tidak ada lafal ‘alhamdulillah’ dalam bacaan sholat, mungkin saya akan lebih sering melewatkan kesempatan berterima kasih pada-Nya. Segenap kebaikan langit menjadi kecil di hadapan kesombongan saya. Saya bahkan menyebut mereka yang beradab dengan gemar berterima kasih sebagai orang lebay. Padahal saya selalu merasa terganggu saat tidak menjumpai senyum atau kata ‘terima kasih’ setelah berbaik hati pada orang lain.

Menurut saya ini bukan soal pamrih, tetapi adab sebagai manusia yang sopan. Tetapi kepada Dia yang memberi hidup, ternyata saya jauh lebih tidak sopan. Saya sebal saat seseorang meminta tolong pada saya tanpa menyebut kata ‘tolong’. Menurut saya itu perintah, bukan permintaan tolong. Menjadikan saya (seolah) inferior. Tetapi di lain sisi saya terlampau sering memerintah-Nya. Doa ‘layak’ saya sangat sedikit karena saya lebih sering memberi perintah mendadak untuk Dia. Saat sedih, tiba-tiba saya menyuruh Dia menghentikan masalah saya atau beri saya kekuatan. Padahal saya sedang bertamu di bumi-Nya. Dalam hukum manusia, tamu yang hanya datang untuk meminta dan mengeluh tetapi tidak pernah berkunjung untuk sekedar menyapa dan berterima kasih disepakati tidak sopan. That’s me.

Ayah saya meninggal satu tahun lalu. Kepergian beliau memaksa saya mendekat pada-Nya, untuk berdoa sebagai anak biasa (yang mungkin tidak cukup sholehah untuk dikabulkan). Saya menjadi cukup dekat dan mulai menyadari Cinta-Nya tidak pernah hilang dari hidup saya. Tetapi siklus permanen seolah hanya menjadikan magnet saya mendekat pada-Nya saat sedang berduka. Cerita-cerita kecil teman saya yang menjadikan saya sadar siapa Cinta Sejati itu.

Yang selalu menyaksikan tangis saya meskipun tidak pernah saya berbagi tawa dengan-Nya. Yang selalu memberi bahkan tanpa kata ‘tolong’ saya ucapkan. Yang sering saya nomor sekian-kan tetapi masih bersedia menoleh pada saya. Yang terus memberi kebaikan-kebaikan kecil meskipun tidak saya sadari. Dalam hubungan pasangan , detail-detail kecil seperti pesan penyemangat di kulkas, masakan istri setiap hari, rumah bersih setiap pulang kantor, kaos halus dan wangi untuk mancing, bahkan sekedar celotehan ringan pelepas suntuk, terkadang menjadi kenangan romantis untuk dikenang. Tetapi keteraturan menjadikannya hal biasa yang luput dari terima kasih. Kecuali bantuan orang terdekat itu diberikan pada momen spesial, tidak ada ucapan terima kasih untuknya.

Bagaimana dengan detail-detail kecil-Nya pada saya? Sebenarnya hal-hal yang menurut saya remeh temeh ini tidak pernah sesimpel itu. Nafas yang masih berhembus setiap bangun, matahari yang menerangi setiap hari, hujan yang membasahi bumi setiap turunnya. Saya tidak pernah berterima kasih untuk pemberiannya itu. Dan saya yakin saya akan game over tanpa mereka semua. Saya sangat suka pesan dari seorang teman: “Saat kau minta hujan dan Dia justru memberimu sinar surya yang sangat terik, kenapa kau marah? Bukankah matahari akan menguapkan air, menaikkannya ke atas, dan memrosesnya untuk kembali turun sebagai sesuatu yang kau sebut hujan?”

How could I be so blind? Dia bukan tidak pernah membalas pertanyaan dan ‘suruhan’ saya. Dia hanya punya cara yang ‘tidak manusiawi’ untuk menjawabnya. Dan jika ini drama Korea, saya akan menggumam ‘so sweet’ menghadapi sosok cool penuh kharisma seperti ini, berharap menemui sosok serupa dalam kehidupan. Padahal saya sudah memiliki-Nya. Saya hanya kurang pandai membaca bahasa kasih-Nya. Dan hari ini, alhamdulillah, saya rasa saya mulai merasakan belaian-Nya dalam sujud dan doa.

Saya tidak mau mendekat penuh ketakutan padanya. Takut akan kuasa dan kebesaran-Nya memang bagian dari iman. Tetapi ketakutan milik saya tidak sebaik itu, dan jika hanya bermodal ketakutan, saya tidak akan pernah menikmati peribadatan ini. Sujud saya hanya akan penuh ketakutan bayangan bola besi berduri, bukan kekhusyukan penuh bahagia bertemu Kekasih tercinta. Bukankah salah satu hakikat sholat adalah sebagai istirahatnya para mukmin? Di antara tumpukan kepalsuan dunia, saya ingin meyakini dan menjalani Cinta ini sepenuhnya. Bismillah.