January 20, 2012

koran dan kain



Suatu hari seorang teman memasang status di akun jejaring sosialnya: menulis adalah dakwahku. Beberapa komentar datang menyemangati niatan teman tersebut dalam rangka berdakwah melalui pena, sebelum satu kalimat muncul: dakwah tidak sekedar kata!

Woles. Jujur saya berulangkali menahan nafas demi menyelesaikan tulisan ini. Saya adalah golongan pengguna tinta sebagai senjata. Saat kawan saya dilempari komentar seperti itu sudah sewajarnya saya bereaksi sebagai sesama penggerak pena. Menurut komentator itu, berdakwah bukan sekedar kata atau tulisan, tapi tindak nyata atau perbuatan. Baik, anggaplah tulisan ini adalah counter proposal kami sebagai pejuang tinta.

Sampaikanlah, walau satu ayat. Rasanya tidak ada spesifikasi media khusus untuk digunakan dalam penyampaian ayat tersebut. Penyampai risalah saya begitu bijak dengan tidak mempermasalahkan jalan apa dan melalui apa kau sampai pada tujuan yang diajarkannya. Dia tidak banyak berkotbah melainkan bekerja sebagai teladan. Keterbukaan beliau pula yang memungkinkan lahirnya para ilmuwan dan sastrawan Islam masa itu. Jika kita digariskan meniti jalan sejarah yang sama dengannya, alangkah indahnya jika pengetahuan kita akan perintah ‘membaca dan menulis’ sebagai dasar pendidikan dalam Islam kembali kita ingat.

Bukankah sebuah pisau yang berlumuran darah tidak dapat serta merta dinyatakan berdosa? Alasan sampai darah itu membasahi pisau lah yang seharusnya kita pelajari. Bukan ketajaman pisau itu.

Bukankah dikatakan banyak jalan menuju Roma? Kita bahkan mengenal beberapa tempat pemberangkatan menuju Baitullah dalam ibadah haji. Bukankah perbedaan adalah sunatullah? Kita diberi banyak pilihan jalan bukan untuk saling berperang dan tercerai berai melainkan untuk mempelajari makna persaudaran. Sepertinya pengertian ukhuwah islamiyah kita benar-benar telah menyempit pada batas pintu organisasi. Semua di luar rumahmu adalah salah adanya. Kau lah yang terbenar. Lantas di mana letak kebenaran langit saat semua penduduk bumi saling meneriakkan kebenaran masing-masing?

Perbedaan cara memperkaya solusi, bukan mengoleksi masalah. Jika Umar ra adalah sosok petarung sejati sementara Abu Bakar ra adalah penasihat sejati dan Ali ra adalah ilmuwan sejati, haruskah perbedaan minat itu terpukul rata atas nama persatuan Islam? Dengan perspektif berbeda dalam payung tujuan yang sama, Rasul tentu bahagia memiliki banyak warna dalam kepemimpinannya. Bukan persamaan yang menguatkan persatuan. Perbedaan yang memahami dan meyakini lah yang menjaga persatuan. Bukankah telah nyata Dia ciptakan pelangi sebagai ayatNya?

Kita seringkali terjebak dalam fanatisme berbahaya yang melahirkan anggapan kebenaran mutlak berada di tangan mereka para ikhwah. Saat Muhammad dikenal sebagai pebisnis handal dan para ikhwah meniti jalan keberhasilan yang sama, parameter kesuksesan syar’I pun beralih menjadi mereka yang pandai berbisnis ala Rasul. Jika saat itu Muhammad bukanlah seorang ummi melainkan penulis nasihat bijak terbaik sepanjang masa, akankah parameter kesuksesan syar’I beralih?

Perang ego antarrumah seperti ini tidak akan memenangkan rumah-rumah dengan pemahaman tertinggi maupun penghuni terbanyak. Para penonton yang tidak menghuni rumah manapun yang akan berkuasa sebagai pemenang. Mendirikan apartemen-apartemen mewah di atas reruntuhan rumah, iman, ideologi, dan ukhuwah. Para outsider lah yang akan menang di atas perang keluarga ini.

Jika tujuan perjalanan keluarga ini adalah rumah orang tua kita, lantas kenapa sesama saudara tak henti kita bertikai? Fokus kita telah berubah, orientasi kita telah dibiaskan. Segenap prasangka dan senjata mengarah pada saudara-saudara kita. Hanya karena mereka tidak lahir dan hidup di bawah atap yang sama dengan kita. Sesubur apapun halaman mereka, tanah gersang kita lah yang terbaik. Sekuat apapun bangunan mereka, tembok keropos kita tetap yang terhebat. Pada akhirnya, sekali lagi, para kontraktor apartemen itu lah yang akan tertawa senang paska-hujan deras merobohkan perumahan keluarga kita.

Ada yang menggunakan koran basah untuk membersihkan jendela. Ada yang menggunakan kain basah untuk membersihkannya. Koran dan kain, manakah yang terbaik saat kita dapati kedua jendela sama-sama bersih?

Ada yang menggunakan lisan untuk menyampaikan. Ada yang menggunakan tulisan untuk menyampaikan. Saat kedua pesan sama-sama tersampaikan, manakah yang lebih baik?

Rumah orang tua kita semakin dekat sementara perang saudara masih terasa dingin. Kita tidak akan sampai kecuali pembunuhan saudara terjadi. Satu keluarga sebagai pemenang dan para kontraktor tersenyum bangga. Atau kita mencoba terbuka pada persaudaraan besar ini dan menjadi orang tua yang lebih demokratis untuk membiarkan koran dan kain bekerja beriringan.

No comments:

Post a Comment