January 20, 2012

Asasi

Dunia menganugerahi kita sebuah konsep yang memungkinkan kita mendapat dan mengusahakan keinginan kita dengannya. Konsep yang biasa dikenal dunia internasional sebagai “human right”. Indonesia, dengan bahasa nasionalnya, menerjemahkan konsep itu sebagai hak asasi manusia. Hak dasar untuk manusia.

Konsep ini dipercayai sebagai salah satu cara memanusiakan manusia, dengan mengakomodasi keinginan mereka dan menetapkannya sebagai dasar kebutuhan. Sehingga pemenuhannya menjadi keharusan dan peniadaannya akan menjadikan manusia tak lagi dianggap manusiawi.

Perbincangan lokal hingga internasional banyak meletakkan poin hak asasi manusia (HAM) dalam daftar masalah inti –yang kemudian menjadi laten. Masyarakat dunia yang menempatkan HAM sebagai syarat untama menjadi manusiawi merumuskan akar permasalahan pada ketiadaan penjunjungan HAM dan menetapkan pemenuhannya sebagai solusi.

Namun, tidak sejalan dengan tujuan perdamaian dunia yakni harmonisasai kehidupan internasional, akan selalu ada pertentangan dalam tiap kepentingan.

HAM dilahirkan sebagai kebutuhan dasar manusia untuk hidup dalam kondisi ekonomi, sosial, dan politik yang layak dalam standarnya. Keseluruhan hak ini boleh didapat setelah manusia memenuhi kewajiban, konsep lain yang mengharuskan mereka melakukan sesuatu untuk mendapatkan sesuatu.

Dalam aplikasinya, HAM memiliki turunan hak minor lain yang kemudian –atas nama kemanusiaan- harus dipenuhi, dalam turunan ke berapa pun. Di sinilah saya merasakannya bahaya –atau dalam bahasa dengan kesederhanaan lain, rawan. Hak seseorang, apapun istilah yang digunakan untuk menamakannya, pasti mewakili kepentingan orang tersebut. Namun dalam tingkatan apakah semua hak itu harus dan dapat terpenuhi?

Saat seseorang dibunuh, kita berbicara tentang hak orang itu untuk hidup. Lalu kita menghukum mati pembunuhnya untuk “mengembalikan” pencurian hak hidup. Ketika kasus ditutup, akankah hak kedua orang itu untuk hidup telah benar-benar terlindungi dengan HAM?

Saat seseorang merasa nyaman dengan sebuah keyakinan, dia merasa memiliki hak untuk memilih meyakininya. Namun saat keyakinannya dianggap mengancam mereka yang merasa hak atas rasa aman dan nyamannya terusik, hak siapakah yang akan diutamakan? Sedangkan ini adalah persoalan vertikal antara makhluk dan Pencipta.

Dalam kegiatan berpikir dan berbicara “bebas” yang saya ikuti (parliamentary debate), pada akhirnya debaters tidak menggunakan poin HAM sebagai kekuatan utama untuk menganalisa dan menyelesaikan kasus. Karena akan selalu ada negasi dari hak seseorang. Saat kita ingin membatasi hak, saat itulah kita menghancurkannya. Seminor apapun itu, dan sebesar apapun kewajiban untuk mendapatkannya.

HAM sebagai konsep (buatan) manusia berusaha memanusiakan manusia. Tetapi, sebagaimana ketidaksempurnaan manusia, pemikiran ciptaannya pun terasa rapuh. Pemenuhan hak seseorang sekaligus menjadi penghilangan hak sebagian yang lain. Maka, tidak akan pernah ada penggenapan hak, dalam turunan asasi apapun. Thus, saya mulai berpikir bahwa konsep ciptaan ini tidak cukup kuat.

Bagi saya, hak dan kewajiban mutlak hanyalah untuk Pencipta. Saat saya berkomitmen untuk konsep ini, mungkin masih ada pihak lain yang merasa haknya untuk tidak hidup bersama ekstermis pemuja Tuhan (jika dia menganggap saya seperti itu) terganggu. Tetapi ini akan lebih efektif karena inti konsep ini adalah hubungan bilateral antara hamba dan Tuan. Mereka yang bukan merupakan Tuan saya –dan tidak mungkin mau dihambakan- tentu tidak perlu memikirkan bagaimana saya berkomitmen untuk memenuhi kewajiban saya pada Tuhan sebelum Dia berikan hak saya. Tentu saja, dengan caraNya.

Jika kemudian dengan konsep ini saya terlihat hidup dalam kondisi politik, ekonomi, dan sosial yang tidak manusiawi menurut standar manusia, saya tahu pasti apa hak dan kewajiban saya. Bukan untuk meminta pergantian standar hidup pada sesama makhluk, karena transaksi saya adalah bilateral vertikal dengan Yang Maha Kuasa. Tentu cara langit akan jauh berbeda dengan cara bumi. Begitulah, kemudian saya akan tetap berjalan dengan konsep ini dan berusaha mengais untuk rasakan bahagia langit di kolong bumi. Semoga saja. Amin.

No comments:

Post a Comment