March 11, 2012

Berhenti Ikhlas!



“Nggak ikhlas,” kata seorang wanita pada pria yang mengaku berubah lebih baik agar dapat lebih dekat dengan wanita tersebut. Lelaki itu kemudian tidak melakukan satupun kebaikan karena takut semua yang diperbuatnya tidak berdasarkan keikhlasan.

Ikhlas menjelma dalam berbagai nasihat berbalut kata sabar dan rela dalam kalimat kehilangan dan penerimaan. Namun sejatinya makna ikhlas dan keberadaannya begitu abstrak hingga bahkan hati pun tidak dapat merasakannya. Konon jika seseorang merasakan – terlebih menyatakan – dirinya telah ikhlas maka sesungguhnya keikhlasan itu tidak menyertainya. Begitu tinggi dan sulit rasa ini terbentuk sehingga bahkan untuk menilainya pun kita tak akan mampu.

Ada yang menyarankan berlaku ikhlas dengan bercermin pada perasaan tidak terbebani saat kita (maaf) buang angin atau hajat. Tetapi bagi saya kedua hal tersebut tentu bukan perilaku ikhlas, karena perasaan tidak terbebani itu lahir sebagai wujud kelegaan karena dapat membuang sesuatu yang tidak ingin disimpan terlalu lama. Sedangkan saat seseorang diharuskan ikhlas dan dia rasakan kesulitan, biasanya dia tidak ingin melepaskan (mengikhlaskan) hal tersebut.

Lantas seperti apakah standar keikhlasan seseorang?

Ada yang meyakini segala sesuatu yang dilakukan tanpa maksud tertentu melainkan mencari keridhoan-Nya dapat disebut ikhlas. Namun apakah pencarian ridho tersebut benar-benar tidak termasuk sebuah tujuan? Manusia melakukan sesuatu, apapun itu, tentu didasari motif atau alasan khusus. Terlebih kadang kita memerlukan sikap realistis dengan menjadikan alasan tersebut sesuatu yang konkrit. Pada titik ini, sebuah perbuatan yang dinyatakan bermuatan ikhlas karena hanya mengharap penerimaan Tuhan menjadi ambigu. Bagaimana kemudian kita dapat mengetahui perbuatan kita berterima dengan kehendak Tuhan? Bahkan saat kita mulai mempertanyakan hal tersebut, muatan ikhlas dalam ‘pencarian ridho-Nya’ seketika terhapus.

Demi sesuatu bernama logika, manusia kemudian menyertakan pahala sebagai motif perbuatan seseorang dalam ‘pencarian ridho-Nya’. Meskipun poin kedua ini masih abstrak dalam wujud dan penghitungannya, opsi melakukan perbuatan yang berpahala sebagai bonus ‘keikhlasan’ cukup populer. Namun pertanyaan lain lahir, apakah sesuatu yang dilakukan untuk mendapatkan pahala dapat dinyatakan mengenal keikhlasan?

Ikhlas menjadi semakin ghaib seiring setiap motif yang menyertai suatu perbuatan dapat melukai esensinya. Maka apabila seluruh alasan manusia bertindak menjadikan perbuatan tersebut tidak bernilai (karena tidak ikhlas), tidak akan ada perbuatan karena mereka yang takut tidak ikhlas enggan melakukan sesuatu tanpa motif. Sementara setiap gerak memerlukan alasan.

Seseorang yang tuli melakukan kebaikan tanpa mendengar penilaian orang lain atas motif perbuatannya. Akibatnya dia tidak akan berhenti menjadi baik karena tidak teracuni pemikiran manusia yang mencoba menilai keikhlasan dalam perbuatannya. Dalam kasus ini, beberapa pihak bahkan menilai seorang tuli ini sebagai orang yang ikhlas, karena dia tetap melakukan sesuatu tanpa mengkhawatirkan penilaian manusia. Dia yang bahkan tidak peduli akan seperti apa penilaian Tuhan padanya menjadi leluasa berbuat baik.

Seperti anak kecil yang dengan senang hati membagi es krim pada kawannya, tanpa peduli penilaian para orang tua yang akan menyebutnya ‘anak baik’ atau Tuhan yang akan memberinya pahala kebaikan – karena bahkan dia belum paham kata sakral bernama agama.

Jika pada kasus teratas pemuda tersebut tetap melakukan proses menjadi baik karena mengetahui wanita yang disukainya berminat hanya pada pria baik, keadaan akan jauh lebih indah. Mereka yang memuja keikhlasan mungkin akan mencaci niat perubahan pemuda tersebut: mendekati kebaikan hanya karena cinta manusia. Tetapi bukankah kita sangat paham penilaian niat merupakan hak mutlak Tuhan? Dia bahkan sangat baik dengan memberikan kesempatan kedua.

Dinyatakan jika seseorang memasuki Islam karena harta maka ia dapatkan itu. Jika seseorang memasuki Islam karena jabatan akan ia dapatkan pula. Namun pada rentang terakhir tiap firman-Nya, Dia selalu baik dengan segala kalimat terbuka dalam kitabnya. Setiap perubahan motif dalam perbuatan akan mendapatkan perubahan penilaian langit kecuali sebelum detik terakhir nafas. Maka apabila seseorang yang menjadi baik karena lawan jenis dinilai tidak memiliki keikhlasan beriman sementara dia terus berusaha menjadi baik hingga pada akhirnya motif asmara itu berubah bahkan hilang, di sinilah kuasa langit berperan. Orang tersebut tidak kemudian menjadi selamanya berdosa karena ketidak-ikhlasan pada langkah awalnya.

Ikhlas bukanlah sebuah anugerah Tuhan pada orang-orang tertentu yang kepemilikannya bertahan hingga kematian. Dalam kehidupan, menjadi ikhlas adalah lingkaran proses pembelajaran tanpa titik pencapaian yang nyata. Menyadari abstrak ini begitu besar, maka rentang hidup seseorang akan menjadi terlalu sia untuk memikirkan keikhlasan di setiap lakunya. Akan lebih mudah bagi manusia dengan kapasitas rasa dan pikir minimal untuk terus bergerak. Dengan ataupun tanpa keikhlasan, perbuatan baik harus tetap mewarnai birunya bumi ini. Karena ikhlas tidak abadi dan penilaian mutlak berada pada Pemberi rasa tersebut, mari berhenti (mengeja) keikhlasan!

*btw saya bingung menggambarkan keikhlasan, jadi maaf kalau gambarnya sedikit gak nyambung. tapi kan pantai terkenal dengan 'pelepasan suntuk'nya, jadi ibaratnya kalau udah ikhlas tuh gak lagi suntuk. hehehe *maksaa

No comments:

Post a Comment